
Aku membuka mataku, ketika aku terbangun aku sudah berada di dalam ruangan. Yang tak lain ruangan itu adalah ruangan rumah sakit yang mempunyai bau yang khas.
Aku membuka mataku ketika aku terbangun tak ada seorang pun di sisiku. Namun ada begitu banyak rangkaian bunga dan juga buah-buahan disamping tempat tidurku.
Lalu seseorang tiba-tiba saja membuka pintu dan masuk ke dalam kamarku.
"Dallas... Kamu sudah bangun?" orang yang masuk itu ternyata Yasmin bersama kedua orang tuanya.
"Om... Tante..." kataku sembari mencoba duduk diatas ranjang rumah sakit yang tak ku sukai.
"Dallas! Jangan bangun tetaplah berbaring!" Kata Yasmin sambil berlari menghampiriku dengan sebuah rangkaian bunga mawar ditangan-nya.
"Dallas, bagaimana kamu sudah lebih baik? Kamu tahu kamu tak sadarkan diri hampir 48jam." ucap tante Tiyas ibu Yasmin.
"Memangnya, berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyaku bingung sembari memegang kepalaku yang di perban dan selang infusan ditanganku.
"48 jjam kalo ga salah." Jawab Yasmin.
Aku, Yasmin dan kedua orang tuanya mengobrol bersama saat itu tentang keadaanku dan kenapa aku bisa terluka seperti ini.
Bahkan aku hampir memberitahu soal pertandingan MMA ilegal pada kedua orang tua Yasmin. Namun sebelum aku memberitahunya, ternyata Yasmin sudah memberitahu mereka.
"Yasmin bilang kamu terjatuh dari motor yang baru kamu beli saat itu, apa itu benar Dallas, kamu terjatuh sehingga melukai kepalamu." Tanya tante Tiyas.
Aku hampir saja marah pada Yasmin saat itu, karena aku pikir Yasmin memberitahu kebenarannya tapi ternyata Yasmin berbohong pada kedua orang tuanya. Dan tak memberitahu rahasiaku pada mereka.
"I-iya tante, aku tak hati-hati saat itu. Tunggu bukannya kalian lagi liburan ya di Hawai?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kami segera kembali setelah tahu bahwa kamu dirawat dirumah sakit. Kami khawatir padamu Dallas, kamu sudah tante anggap seperti anak tante."
Perkataan tante Tiyas membuatku merasa nyaman. Seperti aku mempunyai keluarga lagi.
Ayah dan Ibu Yasmin kembali ke rumah setelah beberapa jam menemaniku. Kini di kamar rumah sakit yang mempunyai bau khas itu hanya ada aku dan Yasmin. Lalu aku bertanya padanya kejadiaan apa yang telah aku lewatkan setelah aku bertanding dan tak sadarkan diri selama hampir 48jam itu.
"Yas... Apa yang terjadi? Bisakah kamu menceritakan segalanya ketika aku tak sadarkan diri?" aku bertanya pada Yasmin agar Yasmin mau menceritakan segalanya. Tapi tiba-tiba Abiyan dan Grey masuk dengan begitu girangnya.
"Dallas... Lo udah bangun bro!" teriak Abiyan.
Karena suaranya terlalu keras Grey menutup mulutnya dengan tangannya.
"Berisik! Ini rumah sakit!" ucap Grey sembari menutup mulut Abiyan lalu melepaskannya.
"Tangan lo wangi juga ya Grey. Gue pikir tangan lo bau something gitu." cetus Abiyan sambil mengerutkan wajahnya seperti orang yang terkejut.
Grey dan Abiyan pun menghampiriku yang tengah duduk bersandar diranjang rumah sakit.
"Dallas, bagaimana keadaan lo? Udah mendingan kan?" tanya grey.
"Iya bagaimana keadaan lo Las?" tutur Abiyan.
"Gue udah mendingan."
"Syukur deh kalo gitu, soalnya lo lama banget sadarnya, gue takut lo kenapa-kenapa." kata Abiyan sembari memegang pundakku.
Saat itu aku terus memikirkan Dara, karena aku tak melihatnya. Aku ingin bertanya pada mereka tapi entah kenapa aku merasa canggung.
"Tunggu, Grey lo kenal Yasmin?" tanyaku bingung, kenapa tiba-tiba Grey akrab dengan Yasmin. Padahal aku tak pernah mengenalkan Yasmin padanya.
"Iya Dallas, selama lo ga sadar, kita berempat ada disini nunggu lo sampe sadar. Dan akhirnya gue akrab sama Yasmin." jelas Grey dengan sedikit senyum gugup diwajahnya.
Aku tersenyum setelah tahu Grey akrab dengan Yasmin. Aku berharap Grey dan Yasmin bisa bersama. Agar Yasmin juga punya pacar di real life dan tak terus-terusan halu pada Biasnya.
"Tunggu, berempat? Siapa satu orang itu?" tanyaku bingung ketika Grey mengatakan kami menunggu berempat ketika aku tak sadarkan diri.
"Oh iya aku lupa Dallas, aku lupa memberitahumu soal Dara!" seru Yasmin.
"Dara, dimana dia? terakhir aku melihatnya diatas ring bersamaku. Dan bagaimana aku bisa sudah ada disini?" tanyaku yang bingung. Karena ingin tahu apa yang terjadi ketika aku tak sadarkan diri. Dan akhirnya mereka bertiga menjelaskan semuanya.
"Jadi gini Las, Dara dan Coach Bimo yang membawamu kesini, setelah itu Dara menelpon Yasmin dan mengatakan kamu ada dirumah sakit. Dan Yasmin memberitahku lalu kami bertiga segera datang kesini malam itu."
Jelas Abiyan yang ada disebelahku.
"Iya Las, sebelum itu kami terus mencarimu. Karena kamu menghilang selama beberapa hari. Kami benar-benar mencemaskamu. Tapi kami tak berhasil menemukanmu." ucap Yasmin juga yang khawatir padaku ketika aku menghilang karena disekap oleh Jonathan.
"Lalu apa kalian tahu semuanya?" tanyaku.
"Iya, kami sudah tahu segalanya, Jonathan lah yang melakukan kejahatan padamu dan Dara. Dara yang menjelaskan semuanya pada kami." ucap Yasmin lagi.
"Lalu dimana Dara sekarang?"
"Sekarang Dara pergi. Tapi kamu tahu, Dara terus ada di sampingmu ketika kamu tak sadar Las. Ini lihat aku bahkan memotretnya dari pagi hingga malam dia terus ada disampingmu sembari bergumam meminta maaf padamu."
Yasmin memperlihatkan foto Dara yang terus ada disampingku saat aku tak sadarkan diri.
"Tapi kemana dia sekarang?" tanyaku lagi. Namun ketika aku bertanya raut wajah mereka bertiga tiba-tiba berubah entah apa yang membuat mereka seperti itu.
"Kenapa kalian diam saja? Bisakah kalian menjawab pertanyaanku?" aku terus bertanya sehingga membuat kepalaku kembali sakit.
"Akh!" aku bergumam kesakitan. Lalu Abiyan berlari memanggil dokter.
Setelah aku diperiksa oleh dokter, aku langsung memimum obat dan tertidur, pertanyaanku masih belum di jawab oleh mereka bertiga kemana perginya Dara.
****
Malam itu aku terbangun, terlihat Abiyan dan Grey tertidur disofa dengan beberapa pizza di meja, mungkin mereka sudah makan malam lalu tertidur karena lelah terus menjagaku. Sedangkan Yasmin mungkin dia pulang dan akan kembali esok hari.
Aku membuka laptopku karena saat itu aku menyuruh Yasmin untuk membawakannya kerumah sakit. Untuk belajar karena sebentar lagi ulangan kenaikan kelas.
Ketika aku membuka laptopku aku mengirimkan pesan pada Dara.
"Dara... Kamu dimana? Kenapa kamu pergi tanpa menungguku dulu untuk sadar?" tanyaku dalam ketikan pesan teks itu.
Namun sepertinya sosial media Dara tak aktif. Karena Dara orang yang cukup tertutup dan jarang main sosial media. Aku menutup laptopku dan tiba-tiba Abiyan terbangun.
"Oh... Dallas lo bangun? Ada yang bisa gue bantu? Lo mau makan atau... Minum barang kali?" tanya Abiyan dengan mata yang masih berat karena rasa kantuknya.
"Bi sini deh, gue mau tanya sama lo!" kataku sembari menyuruh Abiyan mendekatiku. Lalu aku bertanya pada Abiyan dengan pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Lo mau kan jelasin kenapa Dara pergi? dan dimana dia sekarang?" tanyaku. Abiyan pun dengan senang hati menceritakan segalanya padaku.