
Hari itu di kantin sekolah aku memberitahu sahabat-sahabatku soal hubunganku dengan Dara. Aku duduk bersebelahan dengan Dara sedangkan yasmin, Nayyala dan juga Abi duduk di hadapanku.
"Omo omo. Sebentar! sebelum kamu memberitahu kami kabar baik itu. Ada apa dengan wajahmu? Kamu bertengkar lagi Dallas?" tanya Yasmin khawatir.
Aku bingung ingin menjawab apa. Lalu Dara menjawab pertanyaan Yasmin.
"Yas. Semalam Dallas dipukuli preman di jalan." Jawab Dara pelan.
"APA! Aigooo. Lain kali hati-hati Dallas." Cetus Yasmin dengan kata-kata yang selalu ia gunakan ketika dia terkejut.
Lalu tiba-tiba Abiyan ingin berbicara denganku empat mata.
"Las gue mau ngomong sama lo sebentar bisa?"
"Ya tentu." jawabku yang sedikit bingung. Kenapa tiba-tiba Abiyan se'serius itu?
Aku berbicara dengan Abiyan di ditoilet.
"Dallas, apa yang di katakan Dara itu benar?"
"Bi. Maafin gue, gue ga bisa ajak lo sama Yasmin buat nonton pertandingan MMA gue. Karena disana di selenggarakan secara privat. Gue lupa ga kasih tahu lo sama Yasmin."
"Tunggu bukannya nanti malam-kan pertandingannya?"
"Ya, seharunya nanti malam, mereka memajukan jadwalnya lebih awal. Jadi sebenarnya gue bohong sama Dara. Gue ga mau dia tahu kalo gue selalu ikut pelatihan MMA bahkan bertarung di atas ring. Gue harap kalian juga merahasiakannya. Karna cuman lo, Yasmin, Nayyala dan juga Jonathan yang tahu gue suka MMA."
Sebenarnya Aku ingin memberitahu Abiyan juga soal MMA ilegal itu. Tapi aku tak ingin dia juga dalam bahaya seperti Dara. Jadi aku merahasiakannya.
"Oke. Ga papa, tapi lain kali lo harus kasih tau gue, kalo mau tanding lagi oke. Gue bakalan ada disamping lo dan dukung lo Dallas, lo kan temen gue." Ucap Abiyan sembari merangkul pundak-ku.
Lalu kami berdua kembali kekantin.
"Tunggu?! Apa kalian berpacaran?" Tanya Yasmin tiba-tiba dengan jari telunjuknya yang terus menunjuk kearahku dan juga Dara.
"Ya. Aku dan Dara berpacaran dan aku ingin kalian berteman dengannya juga."
Aaa!!!
Tiba-tiba Yasmin berteriak sambil berdiri dan membuat semua orang terkejut. Lalu dengan cepat Abiyan menarik tangannya agar Yasmin kembali duduk.
"Yas! Lo ngapain? Duduk!" Geram Abiyan.
"Tenang aja Las Dara bakalan jadi teman kita juga, kamu jangan khawatir, selamat ya!" sambung Nayyala.
"Terima kasih kalian mau jadi temanku."
"Ra kamu tahu engga sih, saat Dallas mulai mengenalmu, Dallas banyak berubah dia tak sedingin dan tak secuek dulu. Sekarang dia mulai mau berbicara seperti ini." Ucap Yasmin serius kepada Dara.
Dara hanya melirik-ku dengan tatapan yang membuatku tersipu malu. Lalu aku menundukan kepalaku.
"Oh iya Ra, Dallas juga suka main MM-"
"Dallas!" Pangkas Crystal.
tiba-tiba Yasmin keceplosan dan Hampir saja Yasmin mengatakan pada Dara bahwa aku menyukai MMA. Tapi ucapannya terpotong karena tiba-tiba Crystal memanggilku.
Ketika Dara melirik ke arah Crystal, aku langsung menatap tajam Yasmin dan menggelengkan kepalaku. Agar dia tak sampai keceplosan lagi, untung saja Yasmin mengerti maksudku. Lalu Yasmin pun menganggukan kepalanya.
"Dallas, aku mencarimu dari tadi, cepat kita harus berkumpul dengan para Osis. Untuk Acara nanti." Seru Crystal dengan muka juteknya.
"Dara, aku pergi dulu kamu tunggu saja disini dengan mereka." Seruku lembut pada Dara. Dara hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum.
"Tunggu! Kenapa kamu harus meminta izin dulu sama Dara?" tanya crystal.
"Bukan urusanmu." jawabku.
Ketika aku berkumpul bersama para osis di aula. Aku melihat Crystal dekat dengan Jonathan, Bintang dan juga Barbara.
"Sejak kapan Crystal dekat dengan mereka bertiga?" Tanyaku batinku.
****
Sebenarnya aku ingin keluar dari sana dan mencari tempat baru, namun aku tak bisa melanggar janjiku dengan pak Harris. Jika aku melanggarnya pasti pak Harris akan melakukan hal yang buruk pada Dara.
Ketika aku tiba di tempat pelatihan MMA coach Bimo. Aku terkejut karena disana ada pak Harris, dan aku sudah tahu apa maksud dia datang kesini, pasti ada pertarungan MMA ilegal lagi.
"Dallas, cepat kemari." panggil pak Harris.
"Dallas besok malam akan ada pertandingan lagi ditempat biasa kamu harus datang. Ingat jika kamu melanggar janji, kamu akan tahu akibatnya."
"Tapi boleh aku bertanya sesuatu?" tiba-tiba saja saat itu aku ingin bertanya pada pak Harris kenapa dia tahu jika aku menyukai Dara.
"Tanyakan di lain hari saja, saya ada keperluan malam ini. Ingat datang tepat waktu."
Namun sayang Pak Harris sibuk dan tak bisa menjawab pertanyaanku.
Setelah itu aku langsung berlatih dengan sangat keras, untuk pertandingan MMA ilegal besok. Selepas latihan aku mencoba mengunjungi rumah Dara kekasihku.
Tok! Tok! Tok!
"Dallas, kenapa tak mengabariku terlebih dulu? Jika kamu akan datang, aku pasti akan menyiapkan makanan untukmu." ucap Dara padaku yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Dara, siapa yang datang?" tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar dari lantai atas.
"Dia Dallas bu! apa ibu ingin bertemu dengannya?" Jawab Dara dengan sahutannya yang lembut dan senyumannya yang manis.
"Dallas, duduklah aku akan membawakan makanan untukmu."
"Dara apa ibumu sudah sehat?" .
"Ya Dallas, semenjak ayahku mengirimkan psikiater kerumah setiap hari. Ibuku sudah mulai membaik."
Lalu ibu Dara menuruni anak tangga dengan pelan, untuk menghampiriku yang ada di ruang tamu. Dengan rambut yang terikat kendur dan penampilannya yang tampak sederhana, walaupun hidupnya selalu terpenuhi. Ketika aku melihat ibunya Dara, aku seperti melihat Dara dalam dirinya, Mereka berdua sama-sama wanita yang sangat sederhana.
"Apa ini Dallas?" Tanya ibu Dara sembari berjalan bergandengan tangan dengan Dara menuruni anak tangga.
Aku tersenyum lebar begitu pula ibu Dara. Ibu Dara juga sangat murah senyum. Aku bersalaman dan menperkenalkan diriku padanya,
"Iya tante, saya Dallas, tante terlihat segar dan sehat." seruku. Lalu Ibu Dara hanya tersenyum padaku mendengar perkataanku. Ibu Dara bernama Muna Danuardara. Dan kini aku memanggilnya Tante Muna.
"Ini minumlah Dallas, aku membawakan coklat panas untukkmu." Dara menyimpan secangkir coklat panas di atas meja.
"Ah ini sudah sangat larut, aku bahkan sangat mengantuk. kenapa kamu berkunjung begitu larut Dallas? Jadi tante tidak bisa mengobrol denganmu karena tante sangat mengantuk"
"Maafkan aku tante, lain kali aku tidak akan berkunjung selarut ini." .
Ibu Dara kembali ke kamarnya untuk tidur.
Lalu aku mengobrol dengan Dara di sofa berdua.
"Dallas, ada apa? kenapa kamu berkunjung selarut ini?" tanya Dara yang duduk di sampingku dengan baju tidurnya yang berwarna putih dan rambutnya yang terurai rapih.
"Aku datang ke sini, karena aku ingin meminta maaf soal kencan malam itu."
"Tak masalah Dallas, kita bisa melakukan itu di lain waktu."
"Dallas, kenapa kamu memakai sepatu olahraga? Apa kamu sudah olahraga?"
Tiba-tiba Dara melihatku memakai sepatu olahraga. Aku lupa tidak menggantinya terlebih dahulu usai pergi dari tempat latihan MMA tadi.
"Oh a-aku, aku salah menggunkan sepatu tadi." Jawabku tergagap-gagap.
"Ya ampun kamu tak perlu gugup sepeti itu Dallas." ucap Dara dengan tawanya.
"Dara maafkan aku, aku bukan kekasih yang romantis dan aku juga jarang ada di sisimu. Walaupun aku begitu aku sangat peduli padamu."
Lalu Dara tersenyum dan tiba-tiba ia memelukku dari samping. Seketika aku terkejut ketika melihat sisi lain Dara yang begitu penyayang. Bahkan Dara memelukku dengan erat. Pelukan Dara menyembuhkan semua luka dihatiku.
Aku membalas pelukannya, dengan memeluknya juga begitu erat. Padahal baru beberapa hari tapi aku sudah merasakan jika Dara begitu mencintaiku.
Ketika aku dalam keadaan bahagia bisa mendapatkan Dara, di sisi lain aku merasa cemas dan takut akan pertandingan ilegal itu karena jika aku berhenti Dara yang akan menjadi korbannya.