DALLAS

DALLAS
CHAPTER 14



Seketika hatiku hancur mendengar Dara yang ingin mengakhiri hubungan ini, hubungan yang baru saja berjalan dalam beberapa hari. Dara pergi meninggalkanku tanpa berkata-kata lagi. Tapi aku juga salah, telah berbohong padanya. Bahkan sekarang Dara tahu bahwa aku dan Jonathan pernah taruhan untuk memperebutkan dirinya.


"Apa semua ini karena Jonathan. Apa panggilan telepon yang Dara angkat tadi dari Jonathan? Ya pasti Jonathan, siapa lagi kalo bukan dia?" tanya batinku yang penuh amarah.


Hari itu aku benar-benar marah, amat sangat marah. Bahkan satu sekolah kini tahu bahwa aku seorang petarung MMA. Saat upacara berlangsung, aku melohat Jonathan, aku sangat marah pada Jonathan saat itu. Lalu aku menghampiri dia di barisan kelasnya. Dan memukulnya sekeras mungkin hingga ia terjatuh di lapangan.


Seketika upacara bendera yang tengah berlangsung dengan serius dan tenang, kini kacau karena ulahku. Abiyan mencoba menenangkanku tapi aku tak bisa menahan amarahku saat itu pada Jonathan.


Saat itu Jonathan yang juga seorang petarung MMA sepertiku, berpura-pura di hadapan para murid. Dia berpura-pura tak bisa melawanku. Dia tak mencoba melawanku seperti tempo hari.


"Aaa!"


Teriak Jonatahan yang terus aku pukul di bagian wajahnya.


"Apa salah gue sama lo hah?!" Teriak Jonathan.


Namun teriakan itu tak membuatku berhenti untuk terus memukulnya.


"Lo kan yang bongkar semua ini, lo yang ngasih tau Dara soal taruhan itu! Dan juga foto-foto itu." ucapku pelan di depan wajah Jonathan sembari memegang kedua kerah bajunya.


"Ya! gue yang kasih tau Dara setelah foto di mading itu tersebar. Ga nyangka lo bakalan tarung ilegal." jawab Jonathan dengan senyum smirk nya.


"Jadi lo yang sebar foto itu?"


"Kalo soal itu gue ga tau! Lepasin gue!"


Ya. Saat itu aku masih sangat yakin, semua itu adalah ulah Jonathan. Aku langsung memukulinya dan akhirnya sebuah pertarungan hebat, di tengah lapangan yang di saksikan seluruh murid terjadi. Pertarungan antara diriku dan Jonathan.


ada beberapa guru yang mencoba memisahkan namun guru itu malah terkena pukulanku, para murid yang menyaksikan hanya terus bersorak asik menonton.


Tapi Dara dia berlari memisahkanku dan juga Jonathan.


"BERHENTI! DALLAS! JONATHAN!" teriak Dara sembari berlari mendekatiku dan Jonathan yang tengah bertarung.


"Hentikan apa yang kalian lakukan?! Dallas ada apa dengamu? Kenapa kamu memulai semua ini. Hentikan!" Teriak Dara di hadapan wajahku.


Namun aku hanya menatap pada Dara dengan penuh kemarahan. Aku membuang muka pada Dara dan membalikan badanku, namun pak kepala sekolah berteriak memanggil namaku.


"DALLAS! JONATHAN! sekarang juga kalian masuk ruang BK!"


Aku menurut lalu aku langsung pergi keruang BK. Ketika aku melihat kebelakang, Dara kembali ke barisannya, untuk melanjutkan upacara bendera.


Ketika masuk ruang BK aku dan Jonathan di skor selama 3 hari. Setelah itu aku masuk kelas untuk mengambil tasku. Aku melihat Abiyan sendirian di kelas padahal seharusnya Abiyan ada di lapangan. Abi terlihat duduk di kursiku dengan satu fotoku yang tadi tertempel di mading


"Abiyan..." gumamku.


"Dallas. Jadi pertarungan MMA yang lo mainkan itu ilegal? Lo ga mau gue dan Yasmin nonton pertandingan MMA lo karena itu pertarungan MMA ilegal? Kenapa Jonathan tahu semua tentang lo sedangkan gue sahabat lo kenapa lo rahasian-in semuanya dari gue?!"


"Bi gue minta maaf. Sebenernya gue pengen kasih tau kalian berdua, tapi gue ga berani dan itu juga bisa membahayakan kalian."


"Kepercayaan gue udah ilang sama lo Las. Maafin gue."


Satu persatu orang terdekatku menjauh setelah aku berbohong pada mereka, padahal mereka sudah percaya padaku tapi aku menghilangkan kepercayaan mereka. Aku pikir Abiyan tak akan marah tapi ternyata dia juga marah padaku.


Sebelum aku pulang kerumah. Aku di panggil oleh Pak Harris untuk masuk keruangannya.


"Pak bisakah kita bicarakan ini nanti. Saya sangat lelah, saya mau menangakan pikiran saya dulu."


****


Aku keluar dari  ruangan kepala sekolah dan dengan cepat berjalan menuju area parkir. Ketika aku akan masuk ke dalam mobil, Jonathan menghampiriku.


"Ahh... Akhirnya gue bisa bebas dan ga perlu sekolah tiga hari." gumamnya sembari berjalan ke arahku.


"Gila Lo, ngapain lo ikutan MMA ilegal? Lo tuh orang kaya kan? duit banyak, mobil keren, sekolah di sekolah elit pula. Ngapain lo ikutan MMA ilegal? Di bayar berapa lo?" Cetus Jonathan dengan badan yang di senderkan di pintu mobilku.


Namun aku mengabaikannya, dan langsung pergi dengan mobilku, meninggalkan Jonathan di tempat parkir.


Sesampainya di rumah aku benar-benar terkejut ketika membuka pintu.


"Ibu, Ayah."


Aku sangat terkjut karena tiba-tiba ibu dan ayahku ada di.rumah. Mereka tak memberiku kabar jika mereka akan pulang ke Indonesia.


"Ya ampun! Dallas! Ada apa dengan wajahmu? Apa kamu bertengkar? Oh ya ini baru jam setengah sembilan kenapa kamu sudah pulang?" tanya ibuku yang cemas melihat wajah anaknya yang lebam.


"Kamu tak lihat itu Elga? Lihat dia punya sandsack di rumah pasti dia sudah bertengkar. Tak masalah itu berarti dia cocok jadi petarung nanti di atas ring."


Ketika aku bingung harus menjawab apa pada ibuku, Ayahku sudah menjawab pertanyaan ibu dengan candaanya seketika suasan jadi ceria. Aku juga tak memberitahu surat peringatan skors dari sekolah dan juga masalah yang tengah aku hadapi.


Karena aku tak ingin membuat mereka berdua cemas. Jika mereka cemas padaku pasti mereka akan membawaku ke Kanada dan menyuruhku untuk tinggal disana.


"Tunggu. Kenapa kalian tak mengabariku?" Tanyaku bingung dengan senyuman di wajahku.


"Kami sengaja datang karena kami merindukanmu. Tapi sangat di sayangkan kami hanya bisa tinggal disini selama 2 hari." Jawab ibuku sembari memeluk erat tubuhku.


"Tak masalah yang penting kalian tak pernah lupa padaku."


"Bagaimana bisa kami melupakanmu? Kamu anak satu-satunya yang kami sayang." Sambung Ayahku yang bernama pak Brian itu.


"Baiklah ayo kita makan kue, ibu membuatkan kue matcha ke sukaanmu Dallas." seru ibuku.


"Oh ya Dallas. Apa kamu suka boxing?"


"Iya Ayah aku suka boxing, sampai-sampai aku membeli sandsack untuk berlatih dirumah."


"Itu keren, sangat keren."


Ketika hari yang melelahkan dan menyedihkan di luar sana membuatku frustasi, aku merasa lebih baik ketika bisa mengobrol dengan kedua orang tuaku, walaupun aku jarang bertemu mereka.


Hari itu aku mengborol banyak tentang MMA tapi aku tak memberitahu mereka soal MMA ilegal itu.


Malam Ketika aku, ayah dan ibuku makan bersama dalam satu meja yang sama. Tiba-tiba ayahku mendapatkan telepon dari Kanada untuk urusan bisnisnya. Sungguh dia pria yang sangat sibuk, itulah mengapa ibuku selalu ada di.sampingnya. Karena ayahku yang tak bisa mengurus dirinya sendiri ia terlalu sibuk, dan peran ibuku sebagai istrinya harus selalu ada di sampingnya untuk mengurus segala keperluannya.


...Bantu like, vote dan saran di komentar....


...teriama kasih...