DALLAS

DALLAS
CHAPTER 22



Aku mengantarnya pulang dengan motorku. Ketika di dekat gerbang aku membangunkan Security agar ia mau membuka gerbangnya.


"Dara itu mobilmu, lebih baik kamu membawanya pulang, aku akan berada di belakangmu hingga depan rumahmu." ucapku dengan suara yang sedikit tidak jelas karena mesin motorku yang masih menyala.


"Baiklah." jawab Dara.


Aku mengantar Dara pulang malam itu. Dara membawa mobilnya sedangkan aku berada di belakang mengikutinya dengan motorku.


Ketika dalam perjalanan di tengah malam yang sepi, tiba-tiba aku mendengar suara mesin motor yang berisik, ketika aku melihat ke kaca spion motorku, ada empat motor sport mengejarku dan juga mobil Dara di belakang.


Aku mendekati Dara dan mengetuk kaca mobilnya. Dara membuka kaca mobil itu lalu aku berteriak padanya untuk membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi karena orang-orang yang mengejarnya itu kembali.


"DARA! CEPAT KEMBALI KERUMAHMU, MEREKA KEMBALI! MEREKA ADA DIBELAKANGKU! AKU AKAN URUS MEREKA. SEKARANG KAMU CEPAT PULANG!" ucapku dengan suara yang begitu lantang.


"T-tapi bagaimana denganmu?" tanya Dara khawatir.


"Tenanglah aku akan baik-baik saja. Cepat pergi!" ucapku lagi dengan Lantangnya.


Dara pergi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan aku menghalangi jalan keempat pemotor itu yang telah mengganggu Dara.


Citttt....


Suara decitan dari ban motor mereka dengan aspal terdengar begitu keras, mereka mencoba berhenti di hadapanku yang menghalangi jalan mereka. Aku membuka helmku dan turun dari motorku.


Ke empat pria asing bermotor itu pun berhenti  Ketika salah satu dari mereka membuka helmnya, aku sangat terkejut karena salah satu dari mereka adalah Jonathan. Sedangkan ketiganya aku tak mengenal mereka, karena mereka tak membuka helmnya. Mereka tetap duduk di motor mereka ketika Jonathan memerintahnya.


"Jonathan..." gumamaku.


Jonathan pun berjalan menghampiriku.


"Oh... Dallas, gue udah yakin pasti lo bakalan bantuin cewe yang lo suka itu!" cetusnya.


Aku berjalan mendekatinya dengan penuh amarah dan memukulnya di bagian wajahnya begitu keras. Lalu aku berteriak di hadapan wajahnya.


"Ngapain lo gangguin Dara HAH! gue ga takut ya sama lo, lo kalah diatas ring lawan gue. Dan sekarang gue bisa liat dalam diri lo. Kalo lo itu pecundang!" tegasku di hadapan wajahnya.


"Bresngsek!" teriak Jonathan.


Bluk! Pukulan terlontar begitu keras ke wajahku. Hingga aku tersungkur ke tanah.


"Gue udah bilang sama lo. Kalo gue masih punya dendam sama Dara, kakak dia bikin kakak gue mati. Dan lo harus tahu kalo Darah harus di bayar lagi dengan Darah!" ucap Jonathan penuh dengan kemarahan.


"Tapi lo tahu kan kakak Dara juga mati, mati lebih tragis di bandingkan kakak lo. Dia bunuh diri karena kehilangan sahabatnya. Kakak lo dan kakak Dara sama-sama udah ngeluarin Darah. Dan itu seharusnya impas." jawabku.


Aku melepaskan diriku dari pegangan tangan Jonathan yang begitu keras dikerah bajuku.


"Gue ingetin sama lo, jangan ganggu Dara!" Kataku pada Jonathan yang masih terdiam dengan tatapan kosong.


"Apa maksud lo? Lo pikir hidup gue ga ancur. Gue juga ancur Jo! Gue ga punya orang tua gue hidup sendiri, bahkan gue terpaksa ikutan MMA ilegal karena gue butuh uang demi kelanjutan hidup gue! Gue juga ancur!"


Ya tiba-tiba aku mengatkan hal itu dengan detail pada Jonathan.


"Lo masih bisa sekolah. Sedangakan gue, gue di keluarin dari sekolah gara-gara lo!" teriak Jonathan dengan lantang. "Apa maksud lo Jo?" tanyaku yang masih bingung.


"Lo ingat kejadian di Bar itu, gara-gara Abiyan memotret gue lagi ngisep nark*ba, dan gue ngehajar dia. Banyak orang disana yang merekamnya dan menyebarkannya melalui sosial media, dan video itu sampai pada guru-guru di sekolah dan malamnya gue langsung di keluarin dari sekolah sama Pak Harris. Beruntung pak Harris ga laporin gue ke polisi."


Penjelasan Jonathan membuatku sedikit terkejut. Dan aku tersadar kenapa hari ini dia tak datang ke sekolah. Karena Jonathan sudah di keluarkan.


Kami berdua sama-sama terdiam setelah Jonathan mengatakan hal itu.


"Terus kenapa lo malah ganggu Dara? Apa hubungan semua ini dengan Dara? Seharusnya lo balas dendam sama gue bukan Dara."


"Karena pertama-tama gue bakalan sakitin dan ilangin dulu orang yang lo cintai. Karena gue rasa lo bakalan sedih dan sakit jika orang yang lo sayang terus terluka. Setelah gue habisin Dara, barulah gue habisin lo!" cetus Jonathan dengan mata yang terbelalak.


"BRENGSEK!"


Tentu saja aku begitu marah pada ucapan Jonathan dan malam itu kami memulai lagi pertengakaran besar. Ketiga pria yang masih duduk dan memakai helm itu turun dari motornya dan mencoba membantu Jonathan. Bahkan mereka bertiga memukuliku.


Ketika aku di pukuli oleh ketiga pria berbadan besar itu, aku tak melihat wajah mereka.


Ketika aku melihatnya mereka menggunakan tudung hitam seketika aku teringat akan trauma masa kecilku. Ketika nenekku ditembak oleh orang-orang bertudung hitam dan rumahku yang hancur berantakan karena di rampok oleh mereka.


Entah kenapa aku terasa lemah, kepalaku begitu sakit ketika mengingat hal itu. Aku tergeletak di aspal dan mereka berempat memukuliku habis-habisan. Aku tak sadarkan diri, mulutku dan hidungku mengeluarkan banyak Darah.


Tetapi ketika aku tak sadarakan diri. Aku mendengar suara klakson mobil begitu keras yang mencoba mendekat ke arahku yang tengah dipukuli habis-habisan oleh Jonathan dan ketiga orang bertudung hitam.


Ketika aku melihatnya, ternyata itu mobil milik Dara. Dara malah kembali untuk menolongku. Aku mencoba berdiri dan bebricara namun tiba-tiba pandanganku gelap perlahan, lalu aku tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi kepada Dara saat aku tak sadarkan diri.


Aku membuka mataku dalam ruangan yang gelap. Mungkin saat itu hari masih gelap atau mungkin ruangan itu terlalu gelap karena tak ada sedikit pun cahaya yang masuk. Aku hanya mendengar suara rintihan yang terdengar di depanku.


"Siapa itu?" aku berseru pelan. Lalu seseorang yang terus merintih di depanku dalam kegelapan itu menjawabnya dan memanggil namaku.


"D-dallas..." tanpa berfikir lagi aku tahu siapa dari pemilik suara itu.


"Dara. Dara... Kamu baik-baik saja kan? Akh!" aku mencoba mendekatinya namun tanganku terikat dengan sangat erat begitu pula kakiku. Hingga aku sulit untuk bergerak.


"Dallas... Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Aku tadi mencoba menyelamatkanmu, tapi Jonathan dan ketiga pria bertudung hitam itu membawaku dan juga dirimu kesini. Entah dimana tempat ini."


Kata Dara dengan nada suara yang penuh ketakutan.


Lalu tiba-tiba seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang dimana hanya ada aku dan Dara di dalamnya. Seketika ruangan itu menjadi amat sangat terang ketika seseorang itu menyalakan lampunya, seseorang itu ternyata Jonathan.