
"Oh... Jadi kalian sudah sadar..." Jonathan berseru sembari mendekatiku dan juga Dara.
"Hah! D-dallas... Wa-wajahmu terluka, ada banyak darah di wajahmu!" tiba-tiba Dara terkejut setelah lampu ruangan dinyalakan. Karena melihat wajahku yang penuh dengan Darah.
Jonathan tiba-tiba mendekati Dara dan memegang mulutnya dengan begitu keras.
"Tutup mulut lo, jangan banyak omomg. Kalo lo ngomong lagi gue bakalan sumpel mulut lo!" kata Jonathan dengan bengisnya di hadapan wajah Dara.
"...Hemm! Brengsek lo Jonathan!" cetusku sembari tertawa palsu agar mengalihkan tangannya dari Dara. Dan benar saja Jonathan langsung marah dan langsung memukulku dengan begitu keras.
Bluk!
"Aaa! Dallas!" Dara berteriak karena melihatku di pukul dengan begitu keras oleh Jonathan.
Ketika Jonathan akan memukulku lagi, tiba-tiba handphonenya berdering.
"Akh! Tunggu ya lo Dallas, gue bakal habisin lo!" tegasnya sambil mengangkat panggilan dari seseorang.
Dara mendekatiku dengan tangan yang terikat. Dara bisa mendekatiku karena tangannya tak di ikat di kaki meja sedangkan tanganku di ikat ke sebuah kaki meja hingga tak bisa bergerak.
"D-Dallas kamu tak apa kan?" tanya Dara sembari mendekatiku dengan mulut yang bergetar ketakutan.
"Tak apa, aku baik-baik saja." jawabku dengan senyuman agar Dara tak merasa cemas padaku.
Malam itu aku dan Dara ada disebuah ruangan seperti sebuah gudang, kami berdua diikat didalam gudang itu oleh Jonathan dan beberapa pria bertudung hitam suruhannya.
Dara ada di sampingku tertidur dengan posisi kepalanya menempel pada pundakku. Aku tidak tahu apakah hari masih malam atau hari sudah siang, karena dalam ruangan yang terlihat seperti gudang itu, tak ada sedikitpun cela agar aku bisa melihat keluar.
Brak!
Suara pintu terbuka dengan begitu keras sehingga membangunkanku dan Dara. Jonathan masuk dengan membuka pintunya begitu keras.
"BANGUN! Siapa yang suruh kalian berdua tidur Hah?!" teriak Jonathan dengan matanya yang terbelalak. Aku terus menatapnya tajam, karena aku tak takut padanya.
Lalu Dara tiba-tiba berdiri dengan tangan yang terikat sambil berkata pada Jonathan dengan suara yang lantang.
"YA! Jonathan! Apa yang kamu mau dari kami? Katakan?!" kata Dara penuh dengan kemarahan.
Jonathan pun mendekati Dara lalu memegang dagungnya, namun Dara berusaha membuang muka agar tangan Jonathan lepas dari dagunya, namun tangan Jonathan tetap memegang dagu Dara.
"Yang gue mau? Gue mau lo balikin abang gue... Balikin Andrew abang gue! Apa lo bisa hah?!" jawab Jonathan dengan suara pelan dan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu pikir aku juga tak sedih Jo? Aku juga Kehilangan kakakku, sadarlah Jo," kata Dara dengan air mata yang berlinang.
"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan kakaku." kata Dara lagi sembari menempelkan kedua tangannya di hadapan Jonathan.
Tiba-tiba Handphone Jonathan berbunyi lalu Jonathan mengangkatnya.
"Apa, s-serius? malam ini?"
Entah apa yang tengah di bicarakan Jonathan dengan seorang di telepon itu. Tapi Jonathan terlihat begitu serius, Setelah ia menutup panggilan itu dia mendekatiku.
"Oke. Gue bakalan lepasin kalian berdua tapi dengan satu syarat. Dallas lo harus ikut tarung MMA malam ini," ucap Jonathan dihadapan wajahku.
"Apa?!" Timpal Dara terkejut.
"Kalo lo menang, gue ga bakalan ganggu Dara lagi. Tapi kalo lo kalah, gue bakalan lakuin sesuatu sama Dara."
"Hadiahnya 900jt tapi lawannya dengan seseorang yang beratnya lebih berat 20 pound dari lo!" seketika aku terkejut setelah mendengar perkataan Jonathan.
"Apa? Lo gila Jonathan?"
"Gimana lo terima atau engga?"
Aku bingung saat itu, jika aku tak menerimanya aku takut sesuatu terjadi pada Dara. Tapi jika aku menerimanya aku tak punya keyakinan apakah aku akan menang atau kalah. Karena jika lawanku lebih berat dariku hingga 20 pound, itu benar-benar tak adil kemungkinan besar aku pasti kalah. Apalagi wajah dan badanku masih terluka karena semalam Jonathan memukuliku habis-habisan.
Aku terus menatap Dara sebelum memberi jawaban. Ketika aku menatapnya Dara terus menangis sembari menggelengkan kepalanya. Ia mencoba membuatku agar tak menerima tawaran Jonathan.
Tapi aku terlalu menyayangi Dara. Tak ada lagi orang yang ku cintai di dunia ini selain Dara, karena orang-orang yang ku cintai telah berada di alam baru mereka. Satu-satunya orang yang membuatku kuat adalah Dara. Jadi aku tak ingin sesuatu mencelakai Dara.
"Oke. Gue terima tawaran lo. Tapi lo harus tepatin janji lo. Lo ga bakalan gangguin Dara lagi." jawabku.
"Oke gue janji, malam ini pertandingannya. Sekarang gue mau lo isi tenanga lo dulu." ucap Jonathan.
Lalu Jonathan membuka tali yang mengikat tanganku dan juga Dara.
"Kalian tunggu disini, gue bakalan bawain makanan buat ngisi tenaga lo Dallas." ucap Jonathan sembari keluar dari ruangan ini. Namun langkahnya terhenti ketika Dara memanggil namanya.
"Jo! Bisakah kamu membawakan P3K juga untuk membersihkan darah dan luka Dallas?" sahut Dara.
Jonathan pun menganggukan kepalanya, dari situ aku tahu bahwa Dara selalu peduli dan perhatian padaku. Dara hanya tak ingin aku terluka.
"Dara..." gumamku.
"Dallas, kenapa kamu menerimanya? Kamu tahu a-aku... Aku sangat takut jika kamu bertarung diatas ring, aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku takut kamu berakhir seperti kakaknya Jonathan."
"Tenanglah, aku berbeda dengannya, kamu tak perlu khawatir."
Tak lama Jonathan pun datang dan memberikan beberapa makanan dan juga alat P3K yang Dara minta.
"Ini makanlah, ingat lo harus isi tenaga lo, malam ini lo bakal tarung di atas ring!" seru Jonathan sembari menyimpan makanan cepat saji yang ia bawa.
Lalu Jonathan kembali keluar dari ruangan ini dan menguncinya dari luar. Sebenarnya kami bisa saja melarikan diri darinya namun diluar pintu itu ada 2 penjaga yang terus menjaga agar kami tak bisa lepas.
"Dara... Makanlah lebih dulu!" suruhku pada Dara. Namun Dara tak mau ia malah mengambil kotak P3K dan mengobati luka di wajahku.
"Tunggu sebentar biar aku obati lukamu dulu." Jawab Dara sembari membersihkan darah yang ada di wajahku.
Setelah itu kami makan berdua, lalu kami saling berbicara.
"Dallas, aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan, apa maksud dari 20 pound lebih berat darimu?"
tiba-tiba Dara bertanya akan hal itu. Aku sempat bingung apakah aku harus menjawabnya atau tidak. Karena jika aku mengatakannya Dara pasti akan khawatir.
"D-dua puluh found itu artinya lawanku lebih besar badannya dariku. Dan itu tidak adil, seharusnya aku bertarung dengan orang yang berat badannya sama. Jika berbeda maka yang berbadan kecil kemungkinan besar akan kalah." jelasku pada Dara.
"Dallas, apa kamu yakin?"
"Aku yakin dan... Dara untuk kali ini tolong dukung aku ketika aku diatas ring. Aku tahu kamu tak pernah menyukainya, aku berjanji setelah semua ini berakhir aku akan menjauh darimu. Agar kamu tak perlu cemas lagi padaku."
"Menjauh d-dariku...?" Dara bergumam dengan wajah yang tampak sedih karena aku mengatakan aku akan menjauh darinya.
Aku sengaja melakukan itu karena aku tak bisa melihat Dara terus cemas dan mengkhawatirkanku. Karena aku tak bisa keluar dari Zona MMA ini. Jika aku keluar maka aku tak bisa mendapatkan uang.