DALLAS

DALLAS
CHAPTER 9



"Permisi, aku tak sengaja menjatuhkan botol minuman wanita tadi yang membeli beberapa minuman disini. Aku ingin menggantinya dengan yang baru bisakah kamu memberikan itu?" seruku pada seorang lelaki yang melayani Bar.


"Oh perempuan tadi, Dara maksudnya?"


Aku sangat terkejut setelah pria itu mengatakan nama Dara.


"Bagaimana kamu tahu nama dia Dara?"


"Aku tahu karena setiap hari dia selalu datang kesini untuk membeli minuman. Tapi dia tak pernah meminumnya disini, dia selalu membawanya kerumah." Jelas pria itu sembari memasukan beberapa botol minuman yang selalu Dara beli kedalam plastik yang berukuran cukup besar.


"Terima kasih." Ucapku sembari menggesekan kartu creditku, lalu aku pulang dengan membawa semua botol minuman itu.


Ketika berada di dalam mobil aku terus bertanya-tanya kenapa Dara membeli minuman sebanyak itu.


"Apa dia seorang peminum? Ah tidak, tidak mungkin. Aku bahkan tak pernah mencium bau alkohol ketika dekat dengannya. Tapi jika di lihat-lihat Dara selalu banyak pikiran, apa dia minum agar beban pikirannya hilang?" tanya batinku.


Ketika di perjalanan aku mendapatkan pesan dari Coach Bimo jika minggu depan akan ada pertandingan MMA.


Dalam pesan itu Coach Bimo berkata.


Dallas, minggu depan akan ada pertandingan MMA Pak Harris memberitahuku tadi. Jadi mulai besok kamu harus fokus berlatih.


Setelah pesan yang di kirimkan Coach Bimo itu. Jadinya akhir-akhir ini aku selalu sibuk berlatih. Bahkan ketika di sekolah aku tak memikirkan apapun bahkan Dara. Aku terlalu menyukai MMA hingga aku melupakan segalanya.


Di sekolah aku terus menonton trik dari pertandingan MMA di laptopku. Bahkan siang dan malam aku selalu pergi ketempat Coach Bimo untuk berlatih dengan keras. Aku sangat bersemangat karena ini adalah pertarungan MMA pertama untuk-ku.


Ketika aku menonton pertarungan MMA dilaptopku dikantin, Abiyan menghampiriku.


"Dallas!" teriak Abi di depanku


"Abiyan! Ada apa?" Tanyaku marah sembari membuka earphone yang terpasang di telingaku.


"Ada apa lo bilang! Las gue pengen ngobrol sama lo. Akhir-akhir ini lo terus fokus mulu sama laptop lo, emang lo lagi nonton apa'an si? Awas aja kalo lo nonton video yang ada buletan merah di sekolah, gue laporin lo sama guru BK biar laptop lu di sita." Abi terus mengoceh hingga membuatku risih.


Lalu aku menunjukan padanya bahwa aku tengah menonton pertarungan MMA di laptopku.


"Lihat! Gue lagi nonton pertarungan MMA, sebentar lagi gue bakalan bertarung diatas ring!"


"Apa lo mau tarung ilegal lagi dengan Jonathan?" tanya Abi dengan kening yang di kerutkan.


"Bukan! Gue bakalan bertarung secara legal. Gue udah tanda tangani kontrak dengan Pak Harris. Dan sekarang gue ada dalam naungannya pak Harris."


"Pak Harris? Pak Harris kepala sekolah kita?"


"Iya, gue udah tanda tangan kontrak sama dia. Oh ya lo udah nulis esay belum? Buruan kekelas."


****


Pertandingan MMA pun sudah sangat dekat. Sebelum pertandingan itu aku ingin memberitahu Yasmin dan juga Abiyan agar mereka juga ikut menonton pertandingannya.


Tapi sebelum aku memberitahu mereka coach Bimo menelponku dan memberitahuku, jika aku tak boleh membawa siapapun ke arena pertandingan karena tempat pertandingan MMA yang akan di laksanakan, akan di adakan secara privat tanpa penonton hanya ada kamera dan wartawan saja untuk menayangkannya secara langsung di televisi.


"Ingat kamu harus mematuhi peraturan pertandingan jika tidak, kamu akan di eliminasi." Kata coach Bimo di telepon.


"Baiklah coach aku mengerti." Jawabku patuh.


Satu hari sebelum pertandingan.


Sore itu aku tengah berlatih di rumah sendirian, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku.


"Siapa itu? Ah mungkin Yasmin." Ucapku dengan yakin bahwa itu Yasmin, jadi aku sengaja tak membukanya ataupun menyautinya, Karena Yasmin pasti akan langsung masuk karena pintu rumah tak dikunci.


Tapi orang itu terus mengetuk pintu hingga tiga kali. Dan saat itu barulah aku tersadar jika itu bukan Yasmin. "Siapa itu?" tanyaku.


Ketika aku akan keluar, aku melepaskan hand wrapku dengan cepat terlebih dulu. Ketika aku membuka pintu ternyata itu Dara.


Dara...


Perasaanku saat itu benar-benar terkejut. Sudah satu minggu lamanya aku tak berbicara dengan Dara. Bahkan dibsekolah aku tak bertemu dengannya karena aku terlalu fokus dengan pertandingan MMA.


"Dallas kenapa kamu berkeringat?" tanya Dara. Seketika aku tiba-tiba gugup. Aku tak ingin Dara tahu jika aku tengah berlatih untuk pertandingan MMA. Karena Dara tak menyukainya, jadi aku berbohong padanya.


"Oh t-tadi aku. A-aku baru selesai jogging." Jawabku gugup.


"Dara ada apa? Kenapa kamu kemari? Oh iya masuklah tak baik mengobrol di dekat pintu."


Lalu aku menyuruh Dara masuk ke dalam. Dan memberikan Dara segelas coklat panas.


"Dallas aku ingin berteman denganmu." Dara mengatakan hal yang membuatku begitu terkejut. "Kenapa Dara mengatakan hal itu? Padahal kita sudah berteman sejak kelas 10." ucap batinku.


"Dara kenapa kamu mengatakan itu? Aku adalah temanmu kita berteman."Jawabku.


"M-maksudku bukan itu." tiba-tiba Dara berbicara tergagap-gagap. Dan mengalihkan pembicaraannya.


"Oh iya Las aku ingin bertanya, apa perkataanmu itu benar atau tidak?"


"Perkataan,Perkataan apa Dara? apa aku pernah mengatakan sesuatu padamu?" tanyaku bingung.


"Perkataan saat kamu mengembalikan sapu tanganku tempo hari." Jawab Dara dengan wajah polosnya.


Aku sempat lupa apa perkataanku, tapi setelah aku mengingatnya kembali, aku baru tersadar perkataan yang aku lontarkan pada Dara saat itu adalah, aku mengatakan padanya di hadapan Jonathan bahwa aku menyukai dirinya.


"Oh perkataan itu, i-itu... " aku sempat gugup menjawabnya, dan juga bingung kenapa Dara menanyakan itu.


"Perkataan itu memang benar. Aku menyukaimu Dara" jawabku santai.


Setelah aku mengatakannya suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.


Aku tak bisa merubah suasana canggung itu, kami bahkan saling diam, namun Dara mengalihkan percakapaan itu dengan percakapaan lain.


"Dallas akhir-akhir ini kelihatannya kamu sibuk?" tanya Dara mengalihkan pembicaraan lagi.


"Iya Dara, aku sangat sibuk dengan tugas sekolah, jadi aku jarang menyapamu ketika bertemu." jawabku bohong.


Ya. Dara pasti bertanya soal itu. Memang betul selama beberapa hari ini aku sibuk, sibuk untuk pertandingan MMA jadi aku tak ingat dengan orang-orang di sekitarku, bahkan Dara. Karena ini adalah untuk pertama kalinya aku ikut pertandingan MMA.


Keadaan semakin canggung bahkan aku tidak tahu tujuan Dara datang ke rumahku untuk apa. Apa Dara datang kepadaku hanya untuk menanyakan perkataanku saat itu, benar atau tidaknya. Jika benar berarti Dara peka terhadap perkataanku saat itu, bahwa itu bukan lelucon. Aku memang menyukainya.


"Oh iya Dallas, aku datang kesini untuk mengembalikan hoodie merahmu, aku lupa hoodienya tertinggal di dalam mobil, aku akan mengambilnya dulu." seru Dara sembari berjalan keluar untuk mengambil hoodie merahku yang tertinggal didalam mobil.


Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.


"Ah baru saja aku berfikir Dara juga suka padaku, karena dia datang tiba-tiba dan menanyakan perkataanku saat itu. Tapi ternyata dia kesini untuk mengembalikan hoodie merahku." gumamku.


Dara pun masuk dengan membawa hoodie merah itu dalam sebuah tas kecil.


"Ini aku mengembalikannya padamu, terima kasih kamu mau meminjamkannya padaku."


"Seharusnya kamu simpan saja Dara"


"Tidak. Itu bukan milik-ku ini milik-mu. Oh ya ini aku pulang dulu ya. Terima kasih Dallas."


Ketika Dara akan pergi aku memegang tangannya.


"Dara." panggilku sembari memegang tangannya.


"I-iya Dallas ada apa?"


"Tadi kamu berkata kepadaku, bahwa kamu ingin menjadi temanku. Apakah maksudnya lebih dari teman?" tanyaku yang berusaha tetap stay cool di luar walaupun gugup di dalam.


Mungkin Dara masih terkejut dengan perkataanku, karena Dara masih tak menjawab apa yang ku tanyakan. Dara terus diam tanpa berucap sedikitpun.


"D-dallas, a-aku~"


"Dara perkataanku saat itu benar. Aku memang menyukaimu sejak kelas 10 tapi aku tak berani mengatakannya, karena kamu masih kekasihnya Jonathan."


"Dallas.. " ketika Dara akan berbicara aku langsung memotongnya.


Aku memegang kedua tangan Dara di depan rumahku dan menatap matanya dengan serius. Lalu aku berkata kepadanya.


"Dara apa kamu mau menjadi kekasihku?"


"Kekasihmu?"


"Ya, Kekasihku. kamu hanya perlu menjawab Ya atau tidak."


Sebelum Dara menjawab, Dara menatapku lebih dulu. Mungkin Dara ingin melihat apakah perkataanku ini benar atau hanya sekedar lelucon.


"Y-ya Aku mau, dan aku harap kamu berbeda dengan Jonathan."


Ketika Dara mengatkan YA aku tersenyum lebar saat itu, karena penantianku selama ini akhirnya terjadi juga. Aku langsung memeluk erat Dara saat itu. Namun aku masih ragu apakah nanti setelah aku menjalin hubungan dengannya, apa semuanya akan baik-baik saja, apakah aku akan menjadi seorang lelaki yang baik untuk Dara.


Atau mungkin nanti, kami berdua terjebak dalam labirin cinta. Karena saat itu aku berfikir jalani saja dulu hubungan ini, tanpa tahu apakah hubungan ini akan sehangat musim panas atau sedingin musim dingin.