DALLAS

DALLAS
CHAPTER 29 END



Siang itu aku ada ditoko roti milik Lea.


"Ini... minumlah cuaca sangat dingin pasti kamu membutuhkan coklat hangat, aku membuatkannya untukmu minumlah." ucap Lea sembari menghidangkan secangkir coklat hangat untukku.


"Terima kasih." jawabku sembari memegang cangkir coklat panas itu dengan kedua tanganku.


"Ada apa Dallas? Kelihatannya kamu sedang banyak pikiran." tanya Lea yang duduk di depanku.


Tiba-tiba saja seorang pelanggan masuk untuk membeli roti. Ketika aku melihatnya itu adalah  Dara, seketika aku terkejut. Kami saling menatap saat itu namun tak lama kami saling membuang muka lagi.


"Oh kamu pelukis yang kemarin kan?" tanya Lea sembari melayani Dara yang tengah membeli beberapa roti.


"I-iya" jawab Dara gugup.


Setelah Dara membeli rotinya dia pergi begitu saja. Seakan-akan kami ini orang asing yang tak pernah bertemu.


"Aku sudah membuat keputusan dan sudah memutuskan apa yang akan kupilih. Jadi aku harus bergerak dari sekarang!" ucap batinku.


Ya aku sudah memutuskan untuk memilih Dara dan meninggalkan profesiku sebagai seorang petarung MMA.


Aku senang menjadi seorang petarung MMA dan terkenal dimana-mana, tapi aku tak bahagia karena itu. Aku malah semakin merasa kesepian tak ada yang mendengarkan segala keluh kesahku, dulu ada Yasmin tapi sekarang Yasmin sudah memiliki kekasih dan tak mungkin aku terus-terusan merepotkannya.


Jadi aku memutuskan untuk memilih Dara, aku tahu Dara egois tak bisa menerima peranku sebagai seorang petarung MMA. Tapi di balik ke egoisannya Dara ingin aku tak terluka.


Aku berlari keluar mengejar Dara untuk mengatakan padanya keputusanku.


DARA!


Aku memanggil namanya dengan keras. Dara pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan, setelah ia membalikan badannya aku berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.


"Dara... Aku sudah memutuskan, aku akan meninggalkan dunia MMA-ku. Aku lebih memilih dirimu Dara, kamu cinta pertamaku dan aku juga mau kamu menjadi cinta terakhirku." ucapku dihadapan Dara sembari memegang kedua tangannya.


Namun Dara melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Dallas... Apa kamu sudah lupa perkataanku? Aku sudah memiliki pria. Kamu sudah terlambat Dallas."


Jawaban Dara membuatku teringat perkataanya malam itu bahwa ia sudah memiliki seseorang. Tiba-tiba saja seorang pria memanggil nama Dara.


"Dara! Cepat kemari apa kamu sudah membeli rotinya?!" teriak pria itu dari kejauhan.


"Dallas... Maafkan aku." ucap Dara lalu ia pergi menghampiri pria itu. Dan aku rasa pria itu adalah kekasihnya.


Hatiku benar-benar sakit dan rasanya semakin hancur. Apakah takdir baik tak pernah datang padaku? Karena segala usahaku selalu sia-sia dan selalu gagal.


Ketika malam tiba, aku pergi ke bandara seorang diri untuk kembali ke Indonesia. Karena coach Bimo akan berlibur di London beberapa hari lagi bersama anaknya yaitu Lea.


Ketika aku masuk kedalam bandara aku duduk diruang tunggu untuk menunggu waktu penerbangan. Tiba-tiba seseorang berdiri di depanku, saat itu aku tengah menundukan kepalaku karena aku tengah patah hati.


Ketika aku mengangkat kepalaku ternyata itu Dara.


"Dara..." gumamku yang tak percaya Dara berdiri di hadapanku. Dara pun duduk di sebelahku.


"Maksudnya?"


"Aku akan kembali padamu!" setelah Dara mengatakan hal itu seketika aku terkejut dan terus menatap tajam Dara.


Lalu Dara tersenyum dan memelukku.


"Dallas maafkan aku, aku telah pergi tanpa memberitahmu selama 2 tahun ini karena aku tak mau Jonathan menggangumu lagi. Dan maafkan aku karena menolakmu beberapa kali siang tadi dan kemarin malam."


Dara terus meminta maaf dalam pelukanku sembari menangis. Aku melepaskan pelukannya dan bertanya padanya.


"Dara... Kenapa kamu tahu aku akan pergi malam ini?" tanyakku yang bingung kenapa Dara tahu aku ada di Bandara.


"Tadi aku bertanya pada Lea pemilik toko roti itu, disana aku juga bertemu dengan pelatihmu. Dia bilang kamu sudah benar-benar mengakhiri profesimu sebagai seorang petarung MMA dan dia juga bilang kamu pergi kebandara jadi aku langsung berlari kesini." jelas Dara.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu Dara? Kamu bilang kamu sudah punya pacar."


"Masalah itu, aku minta maaf Dallas. Aku berbohong padamu. Aku cemburu melihatmu dengan Lea jadi aku berbohong, kamu tahu aku belum pernah pacaran lagi. Karena aku tak bisa melupakanmu."


"Dan sekarang kamu tahu kan aku dan Lea bukan siapa-siapa. Dia anak coach Bimo pelatihku."


Dara pun tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Lalu siapa pria yang memanggilmu pagi tadi? Jika kamu tak pernah pacaran lagi."


"Pria itu adalah sepupuku dia sedang berlibur di London dan menginap di rumahku."


Waktu penerbangan pun 10 menit lagi. Dan selama 10menit itu akan segera meninggalkan Dara dari kota London ini.


"Waktunya sebentar lagi, dan aku akan segera kembali ke Indonesia, tapi aku berjanji Dara aku akan kembali kesini untuk menjemputmu lalu kamu tinggal bersamaku." ucapku sembari mengelus wajah Dara.


"Dallas... Maafkan aku, karena aku kamu rela meninggalkan profesimu sebagai petarung MMA. Maafkan aku karena aku egois, tapi kamu tahu kan alasan kenapa aku melarangmu menjadi seorang petarung MMA? Aku takut kehilanganmu Dallas."


Perkataan Dara membuatku tak bisa berkata-kata lagi, aku hanya memeluknya erat sebelum ke pergianku ke Indonesia.


"Ingat aku akan kembali menjemputmu Dara. Tapi untuk sekarang aku harus kembali dulu ke Indonesia. Aku akan mencari pekerjaan baru disana. Setelah aku mendapatkannya aku akan kembali kesini. Ingat aku akan kembali!" tegasku pada Dara.


Lalu aku pergi meninggalkan Dara untuk kembali ke Indonesia. Selama satu tahun lamanya aku ada di Indonesia dengan pekerjaanku yang baru, aku dan Dara menjalin hubungan jarak jauh. Kami saling mengabari walau hanya lewat telepon.


Pekerjaanku kali ini adalah, aku kembali memegang perusahaan ayahku yang pernah bangkrut karena hutang. Tapi sekarang aku bisa memilikinya kembali dari hasil pertarungan MMA-ku yang cukup besar.


Suatu hari aku pergi ke London untuk menemuinya dan melamarnya. Aku datang ke London tak sendiri aku mengajak Yasmin, Abiyan dan juga Grey.


Ya, aku melamar Dara di London hari itu dengan disaksisan sahabatku dan juga keluarga Dara. Setelah lamaran aku menikahi Dara di kota London, lalu membawanya kembali ke Indonesia dan tinggal bersamaku.


Setelah rasa sakit yang kulalui itu telah berlalu, akhirnya kini aku merasa bahagia yang tiada taranya. Walaupun aku kehilangan Profesiku aku tak berkecil hati karena Tuhan tahu aku tak bahagia dengan profesiku itu. Dan Tuhan tahu aku hanya bahagia ketika bersama dengan orang yang kusayangi.


...The end......