DALLAS

DALLAS
CHAPTER 18



Lalu aku berjalan memasuki arena dalam ruangan yang besar namun sangat tertutup tanpa ada kamera. Dengan jubah merahku.


Aku naik keatas ring dengan percaya diri dan langsung bertatapan dengan Jonathan.


"Hai Dallas, apa lo ga kaget liat gue?" cetus Jonathan dengan senyum smirknya.


"Gue bakalan habisin lo kali ini, hadiahnya cukup besar dan gue harus bener-bener dapetin uang itu." cetusnya lagi.


"Setelah kalian mendengar lonceng, pertandingan dimulai, bersalaman!" Kata wasit.


Kami berdua bersalaman dengan mengepalkan tangan, lalu lonceng pun berbunyi dan pertarungan pun dimulai.


Baru dironde pertama namun Jonathan berhasil memojokanku ditali. Dia terus mengincar tubuhku. Terdengar suara coach Bimo dan juga Pak Harris yang menyuruhku untuk tidak terus didekat tali.


Pada akhirnya Jonathan mengungguli 5 ronde pertama pertarungan. Sesudah pertarungan berlangsung aku duduk disudutku untuk beristirahat.


"Dallas! Kenapa kamu bisa kalah dari Jonathan! Menjauhlah dari tali! Ingat kamu harus menang, kamu butuh uangkan untuk hidupmu!" Ucap pak Harris meyakinkanku agar aku menang melawan Jonathan.


"Ya Dallas, akhir-akhir ini hidupmu sedang kacau. Kamu sedang marah dengan semua keadaan yang menimpamu, semuanya! Keluarkan semua kemarahanmu disini!" sambung Coach Bimo.


Karena ucapan mereka berdua yang mencoba meyakinkanku agar aku menang. Akhirnya aku berhasil mengalahkan Jonathan dengan memukul bagian ginjalnya seketika dia tersungkur diatas ring.


Setelah pertandingan usai, aku mengahmpiri Jonathan yang ada diarea parkir.


"Jonathan!" panggilku. Sembari berjalan mendekatinya.


"Apa? Lo mau ngata-ngatain gue. Karna gue kalah?" cetusnya.


"Bukan. Gue mau tanya kenapa lo tau tempat ini? Dan lo kan yang bongkar semua foto gue di sekolah tempo hari?"


"Ding dong! Ya itu semua benar, hari itu sebelum gue mau tanding disini. Orang yang ada disudut gue, bawa gue kesini buat nonton apa itu pertarungan MMA ilegal."


Dan setelah itu aku tersadar orang yang menggunakan hoodie hitam dan masker saat dipertandingan tempo hari adalah Jonathan. Jonathanlah yang membongkar semuanya.


"Tapi kenapa lo cuman bongkar siapa gue disekolah. Kenapa pak Harris ga lo bongkar siapa dia yang sebenarnya?"


"Karna kalo gue bongkar siapa pak Harris, gue bakalan dikeluarin dari sekolah. Bahkan hari ini juga gue liat pak Harris ada disudut lo. Tapi lebih baik gue diem tutup mulut."


Lalu Jonathan pun pergi dengan mobilnya setelah menjawab pertanyaanku. Keesokan harinya aku pergi kesekolah setelah tiga hari discord.


"Dallas! Dimana mobilmu, dan motor siapa itu?" teriak Yasmin yang keluar dari garasi mobilnya.


Yasmin pun berlari mengahampiriku.


"Aku menjualnya." jawabku.


"Dallas, kenapa kamu menjualnya?"


"Aku harus membayar uang sekolah, sebentar lagi kita akan naik kelas, jadi aku harus segera membayarnya."


"Dallas, bukannya ayah dan ibumu meninggalkanmu banyak warisan?"


"Ya itu benar. Tapi semuanya sudah habis dalam sekejap untuk membayar hutang perusahaan dan kini aku harus lebih hemat, sudah kita berangkat sekolah sekarang!"


Yasmin tiba-tiba memelukku.


"Dallas, kalo kamu butuh bantuan apapun, aku pasti akan bantu oke. Ingat aku ini sahabatmu jadi jangan pernah malu untuk meminta bantuan padaku!"


"Oh dan satu lagi, ada apa dengan wajahmu? Apa semalam kamu bertarung MMA ilegal lagi?" tanya Yasmin khawatir.


"Ya, aku terpaksa melakukannya karena aku membutuhkan uang Yas." jawabku putus asa.


"Baiklah, aku akan merahasikan semuanya. Tapi ingat jaga dirimu baik-baik!"


Setibanya aku disekolah, aku langsung membayar SPP dan tak sengaja Dara juga ada disana untuk membayar SPP. Aku duduk bersebelahan dengan Dara, tanpa senyuman, tanpa sapaan ketika kami bertemu. Hanya saling diam membuang muka.


Tapi tiba-tiba Dara melihat ke arahku lalu ia berkata "Apa kamu sudah bertarung lagi?"


Lalu aku menjawabnya dengan dingin.


"Ya, bertarung dengan Jonathan demi mendapatkan hadiah."


Entah kenapa aku mengatakan hal seperti itu begitu saja. Mungkin setelah aku mengatakan itu, Dara pasti akan teringat lagi soal pertarunganku dan Jonathan diatas ring demi mendapatkan dirinya, pertarungan taruhan.


Mulai hari itu, aku berubah menjadi seorang yang pendiam dan dingin lagi. Aku bahkan selalu sendirian disekolah. Abiyan tak mau berteman denganku lagi, sebenarnya Yasmin selalu mengajakku ke kantin bersama dengan Nayyala, tapi aku selalu tak mau ikut dengan mereka.


Entah mengapa aku ingin mengasingkan diriku akhir-akhir ini. Bahkan didalam kelas, aku duduk sendiran Abiyan tak mau lagi duduk denganku.


Suara pengeras sekolah tiba-tiba berbunyi, dan memerintahkan kepada semua murid untuk berkumpul diaula. Ketika semua murid berada di aula, Pak Harris sebagai kepala sekolah memberikan pengumuman untuk ujian kenaikan kelas.


Aku duduk didekat para osis, bahkan aku duduk sangat dekat dengan Crystal. Dan tanpa ku sadari Dara duduk dibelakangku bersama dengan Barbara. Aku masih marah pada Dara karena dia telah memutuskannku. Aku bahkan tak bisa melupakan itu.


"Hei Dallas, aku dengar kamu sudah putus dengan Dara? Apakah itu benar?" Bisik Crystal.


"Ya, itu benar." jawabku dingin tanpa menatapnya.


"Dara itu sejak kelas 10 selalu mendekati cowok-cowok. Pertama Jonathan sekarang kamu Dallas, ah dia ini benar-benar." Oceh Crystal.


Dan tiba-tiba saja rambut Crystal dijambak oleh Barbara.


"AKH!" teriak Crystal.


"BRENGSEK! Berani-beraninya lo ngatain Dara kaya gitu. Lagi pula Dara cantik, pantaslah kalo cowok-cowok deketin dia. Oh ya dan tak hanya cantik dia juga berbakat ga kaya lo!" Cetus Barbara sembari menjambak rambut Crystal.


"Akh! Lepasin rambut gue!" teriak crystal lagi dengan keras, sembari bangun dari tempat duduknya. Sehingga membuat seluruh mata murid yang ada di aula tertuju padanya. Lalu aku memegang tangannya dan menyuruhnya duduk dengan tatapanku.


Ketika aku memegang tangan Crystal aku mencuri-curi pandang kebelakang, ketika aku melihat kebelakang Dara melihatnya dan Dara langsung membuang muka.


"Crystal duduklah..." gumamku.


Ya mungkin hampir 30 menit lamanya aku berada diaula mendengar pidato dari pak kepala sekolah yang tak lain ia adalah pak Harris. Pak Harris mengatakan bahwa ujian kenaikan kelas akan segera berlangsung. Itu artinya aku dan semua murid disekolah ini harus bersiap-siap berhadapan dengan ujian.


Hari itu disekolah aku tengah duduk ditaman dengan earphone ditelingaku. Aku tengah asik menonton pertandingan MMA. Lalu tiba-tiba seseorang memegang pundakku dengan pelan. Seketika aku terkejut dan membuka earphoneku, ketika aku berbalik badan ternyata ia Dara.


"Dallas, ini. Aku kembalikan Liontinmu ini." serunya sambil memberikan Liontin berbandul bunga Smeraldo yang kuberikan padanya tempo hari.


"Tapi itu sudah kuberikan untukkmu, itu milikmu." tolakku.


"Sekarang aku bukan siapa-siapa kamu lagi, aku tak pantas menggunakannya, jadi lebih baik aku mengembalikannya padamu."


Entah kenapa hatiku terasa sakit, ketika Dara mengembalikan Liontin Smeraldo yang kuberikan padanya setulus hatiku.


Lalu aku merebut Liontin yang ada di tangan Dara dengan sikap yang dingin dan juga marah. Tanpa berkata-kata lagi aku pergi meninggalkannya.