Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Masih miliknya



Hari ini semua guru sedang mengadakan rapat jadi para siswa diperbolehkan untuk bebas melakukan apapun asal tidak membuat keributan istilahnya free class dengan tanda kutip jangan sampai ada terjadi keributan


Kini masing masing dari mereka hanya disibukkan dengan bergosip,ketawa ketiwi,ada yang lebih memilih mendengarkan musik sendiri,sibuk dengan ponselnya sendiri sedangkan dini hanya menundukkan kepalanya menempelkan keningnya diatas meja


Tuk..tiba tiba mendarat sebuah gulungan kertas tepat di samping sepatunya,perlahan dia diambilnya sambil melirik Kanan dan kekiri berusaha mencari siapa pelakunya dan ternyata tidak ada satupun orang yang sedang melihatnya dengan cepat dia mengambil dan membuka gulungan kertas tersebut yang bertuliskan "temui gue di atap sekolah kalo Lo mau novel Lo balik"


Setelah membacanya dia langsung bisa menebak siapa pelakunya siapa lagi kalo bukan Refan si cowok aneh itu.


Kenapa dia nyuruh gue nemui dia diatap kek gak ada tempat lain aja gerutunya kesal seketika Reyna teringat akan mimpinya semalam membuat jantungnya berdebar tak karuan.


Menarik napas dalam dalam dan hufftt..menghembuskan nya perlahan


Ayolah reyna..itu cuma mimpi jangan berpikir yang macam macam turuti saja maunya dan ambil novel Lo.


Setelah mengumpulkan keyakinan dan keberanian untuk menghadapi pria yang dianggapnya setengah waras,langsung beranjak dari duduknya


"Din,mau kemana?"


Langkahnya langsung terhenti begitu mendengar suara Maya


"Mm...mau,mau ke toilet,iya toilet"


"Ooh,yaudah deh" melanjutkan aktivitasnya yang sedari tadi fokus menggambar.


Hufft...Untung Maya gak nanyak yang aneh aneh dengan cepat dia mengambil langkah seribu keluar dari kelas buru buru menuju atap gedung sekolah


Sampailah dia ditempat yang akan ditujunya sebuah hamparan luas,kosong dan hanya ada tumpukan kursi dan meja bekas dan hembusan angin yang menerpanya serta seorang pria yang sudah berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan senyum jelas diwajahnya, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ke tangan laki laki itu tapi dia tidak menemukan sesuatu yang dipegangnya


Mana?novel gue mana?dia gak ada pegang apa apa?jangan jangan di ngerjain gue lagi


Refan berjalan selangkah demi selangkah ke arah gadis itu,kini mereka sudah saling berhadapan


"Mana?" Memberikan tangannya meminta sesuatu


Apa?harusnya kan aku yang begitu meminta novelku kenapa jadi dia?apa yang dia minta?


Mengernyitkan dahi


"Lo lupa apa yang gue bilang semalam,kasih nomorlo ke gue dan gue akan balikin novel Lo"


Apa?!dasar kenapa aku harus naik tadi kesini?


"Lo gak ingat gue?" Lagi lagi kembali melontarkan pertanyaan yang justru tambah membuat Reyna bingung


Reyna hanya terdiam berusaha mengingat ngingat


"Dasar pikun! Lo yang nabrak gue di depan minimarket Minggu lalu"


Terkejut dan langsung teringat jelas kejadian itu pantasan dia merasa seperti pernah melihat Refan tapi dia tidak ingat dimana dan kini mendengar apa yang dikatakan pria itu barusan langsung teringat jelas setiap detail kejadian Minggu lalu


Oo ya ya ya gue inget Lo cowok lebay yang Minggu lalu gue temui di minimarket.cih..


"Hari itu gue kan gak sengaja nabrak Lo,gue juga udah minta maaf dan udah ganti minumanlo sekarang mana novel gue?"


"Siapa bilang gue maafin Lo!"


"Lo tuh!!...menggeram kesal


Jadi orang nyebelin banget ya,mau Lo apa sih?"


"Lo sengaja ya,ngasih pertanyaan itu berulang ulang biar Lo bisa terus dekat dekat gue?"


hah!?pede banget ni orang ternyata selain lebay,gila,aneh,ternyata kepedeannya juga tingkat tinggi.


"Eh,siapa juga yang mau dekat dekat sama orang setengah waras kaya lo!sekarang mana novel gue?"


Suasana hening,senyap,diam hanya ada hembusan angin sepoi sepoi yang menerpa pakaian dan rambut mereka dengan tatapan tajam


Refan melangkahkan kakinya maju satu persatu membuat gadis yang dihadapannya melangkah mundur sambil ketakutan yang tidak dinampakkan olehnya


Bug..langkah Reyna sudah terhenti menabrak tembok dengan punggungnya jantungnya semakin berdegup kencang ketakutan sedangkan lelaki dihadapannya tampak memandangnya dengan sudut bibirnya yang terbentuk


Apa?dia mau ngapain?kenapa mendekatkan kepalanya begini.dia gak akan berbuat yang macam macam kan?


"Gue udah ngambil novel itu dengan susah payah,jadi kalo Lo mau mendapatkannya Lo harus memberikan apa yang gue minta" berbicara pelan bukan berbisik tepat ditelinga Reyna


Gadis itu hanya terdiam mematung dengan jantung yang semakin berdebar kencang tidak tau apa yang mau dikatakannya


"Kenapa Lo pucat kekgitu?Lo pikir gue mau ngapain?" Nada bicaranya sudah seperti biasa


Karena merasa lidahnya sangat kaku untuk berbicara Reyna memilih pergi saja dari situ langsung melangkahkan kakinya dengan cepat,belum sempat menuruni tangga langkahnya terhenti.


"Tunggu..


"Duh..mau ngapain lagi sih dia"


Tak menggubris langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni anak tangga.


Berjalan melangkah mengambil sebuah buku yang terselip dibalik susunan meja dan kursi kosong itu..


"Untung dia gak ngeliat ini disini tadi..


Hah..hari ini Lo masih punya gue"


Berbicara dengan buku yang dipegangnya


"Duh...tanggal berapa sih ini,sial banget gue rasanya,kenapa gue ngikutin apa yang disuruhnya sih..duh **** **** ****"


Berjalan dengan cepat sambil memukul kepalanya sendiri menggerutu kesal memaki Refan.


Brug...menabrak seseorang didepannya yang membuatnya dirinya tersungkur di lantai "duh..aaa" berteriak kesakitan benar benar sial banget gue hari ini


"Kalo jalan pake mata dong" terdengar suara yang membuatnya menengadah ke atas


"Sorry sorry gue gak sengaja" begitu katanya karena sadar bahwa dialah yang salah karena dari tadi dia jalan tidak melihat orang didepannya


Berdiri dan menyapu seragamnya dengan tangan tanpa mendengar atau menunggu jawaban dari Jenny orang yang sudah ditabraknya langsung melanjutkan langkahnya kembali dengan cepat menuju ke kelas


Itu diakan?anak baru? Masih berdiri ditempatnya menatap punggung Reyna yang berjalan dengan cepat.


Sepertinya dia memang orang yang pas untuk pembalasan dendam gue seringai licik terlukis di wajahnya


"Chan?Refan mana?"


Bertanya kepada Chandra yang sudah ada di kursi seberang yang sedang menggombali gadis teman sekelasnya yang sudah menjadi aktivitas kesukaannya sehari hari


Menoleh,mengangkat kedua tangan dan bahunya sebentar yang mengatakan bahwa tidak tau dimana keberadaan Refan


Reza yang sedari tadi sibuk main game baru menyadari bahwa bangku yang biasa diduduki Refan dari tadi terlihat kosong.


Reyna dengan wajah yang sedikit kesal masuk kedalam kelas langsung duduk dikursinya diikuti dengan mata Maya yang terus menatapnya


"Din?kenapa kok mukanya kesal gitu?"


Langsung menggeser badannya ke arah Maya dan "aww" merintih kesakitan karena lututnya terkena kaki meja baru menyadari ternyata lututnya terluka mungkin karena terjatuh tadi pikirnya


"Yaampun Din..darah!" Maya yang berteriak keras membuat mata seisi kelas tertuju pada mereka berdua.


"Apa?apa yang berdarah?!"membuat seisi kelas panik dan buru buru bangkit dari kursi mereka ingin melihat langsung kejadian apa yang membuat Maya berteriak keras


"Ooh itu kirain apaan..."sebagian dari mereka langsung balik menuju tempat duduk masing masing karena mereka sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya.


"Lo sih may,suara Lo kencang banget,ntar guru guru ngiranya ada apaan lagi" melepaskan tangannya yang tadi mendekap mulut Maya.


"Ya iyalah din..lutut dini berdarah gitu gimana Maya gak teriak" menunjuk lutut Reyna yang berdarah


"Yaelah Lo aja yang lebay..baru juga luka kecil gitu doang"


Sambung Mona yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka


"Eh mulut mercon!coba Lo di posisi Reyna pasti Lo udah teriak teriak gak jelas kek orang kesurupan" timpal Chandra


"Diemlo!" Sahut Mona kesal


"Reyn,ayo gue temenin ke UKS buat ngobatin luka Lo" ajak chandra


"Eh,gak usah chan,gak papa kok ini kan cuma luka kecil"


"Iya,tapi kalo dibiarin kan bisa infeksi" tak mau menyerah


"Ngapain Lo yang sok sok an mau bawa Reyna ke UKS" sambung Reza dari belakang


"May,lo temenin deh Reyna ke UKS dari pada si chandra bukannya nemenin yang ada malah gombal"


"Ayo Din kita ke uks" ajak Maya yang masih terlihat khawatir


Reyna berdiri dari kursinya mengikuti langkah kaki Maya menurut saja apa yang dikatakan teman temannya dari pada membuat perdebatan yang tak habis habis


"Ngapain sih Lo za nyuruh nyuruh Maya nemenin Reyna ke uks segala,kan gue yang mau nemenin Reyna tadi"


"Alah bilang aja Lo modus mau ngambil kesempatan dalam kesempitan kan lo."


Lelaki yang tadi berada di atap gedung sekolah kini sudah kembali ke kelasnya duduk sambil mengotak ngatik ponsel yang ada ditangannya tidak menyadari Reza yang sedang memperhatikannya,ada yang sedang ingin dia tanyakan tapi mengurungkan niatnya karena yakin Refan tidak akan dengan mudah mengatakan setiap pertanyaannya


Mereka bertiga sudah sahabatan disaat pertama kali menginjakkan kaki mereka di sekolah ini,selalu menghabiskan waktu bersama baik disekolah maupun luar lingkungan sekolah akan tetapi persahabatan lelaki dan perempuan itu sangatlah berbeda


Jika perempuan yang bersahabat mereka biasanya akan mencurahkan semua masalah mereka baik masalah keluarga,percintaan dan yang lainnya berbeda dengan Refan,reza dan Chandra mereka hanya sering ngumpul bersama,hangout,menjahili satu sama lain tanpa mencampuri urusan pribadi yang lainnya.