
Angin sepoi dari jendela angkutan umum yang terbuka menerpa lembut anak anak rambut yang terselip di telinganya.
Membayangkan sekelebat kejadian disekolah tadi.
"Din,kenapa novel ini bisa ada sama Refan ?" Tanyanya menunjuk buku sedikit tebal yang masih diatas meja itu.
"Gue harus bilang apaya gak mungkin kan gue bilang dia ngambil paksa novel ini dari tangan gue dan minta nomor gue sebagai gantinya."
"Ooh ini,kemarin dia pinjam katanya buat.." duh buat apa ya??
"Oh iya buat nyari kata baku
Iya kata baku"
Duh..semoga aja Reyna percaya.
sudah panik sendiri
"Hmm..masa sih.."
Sedikit merendahkan suaranya "iya emang sih semenjak dia putus dari nenek sihir itu Refan jadi sedikit berubah,beda banget sama yang dulu."
Loh kok jadi nyeritain yang dulu sih bingung sendiri
Maya kekantin dulu yah Din,laper,mau beli cemilan dini ikut gak?
Gausah deh may gue disini aja.
dia percaya kan? hufft..untung aja
may...Lo itu temen paling polos dan unik yang gue punya.
***
Kenapa dia ngasih novel gue ya?
Kenapa dia minjem hp Maya?
Kenapa dia bilang kalo gue bakal naksir sama dia?
Terus kenapa dia gak maksa minta nomor HP gue lagi?
Masih didalam angkot Reyna berkecamuk dengan pikirannya yang banyak pertanyaan seperti tak ada habisnya.
Akan tetapi seperti biasanya dia tidak mau terlalu ambil pusing dan menurutnya pertanyaan pertanyaan itu tidaklah penting sama sekali yang harus dia ketahui jawabannya karena berhadapan dengan cowok aneh seperti Refan akan menjadi hari yang penuh beban baginya.
Jadi dia bersikeras bahwa semua pertanyaan yang bermunculan dikepalanya itu harus dibuang jauh jauh.
dan sekarang dia akan kembali fokus sekolah dan bekerja di salah satu cafe karena setelah kejadian malam itu dia sudah mendapat izin dari kak Yuli.
***
"Nah..kalo ini gak mungkin palsu lagi Haha dia pikir gue bodoh gak bisa cari cara lain."
sudah menyimpan nomor Reyna yang diambilnya dari hp maya tadi.
Ditekannya layar yang berlogo telepon itu menunggu sambungan.
"Nah tersambung nih, ayo angkat buruan gue mau lihat ekspresi lo
Haha"
Sementara dari dalam cafe
"Silahkan mbak mau pesan apa?'
Memberikan menu dan menunggu sambil memegang buku kecil dan pulpen.
"Orange juice dan chicken steaknya satu ya mbak"
Jawab salah seorang costumer yang sedang duduk dikursinya
"Mohon ditunggu ya mbak"
sesudah menuliskan menu yang dipesan tadi langsung mengundurkan diri dengan sopan dan ramah.
Sementara Refan yang sudah menelfon entah berapa kali terlihat sudah gusar karena belum menunggu jawaban dari dari yang dihubungi.
Ditariknya hp yang berada di telinganya sedikit kesal
"Kemana sih dia?"
"Kok gak diangkat angkat?"
"Ngapain sih tu cewek?"
Karena lelah entah sudah mengulang berapa kali dia pun berhenti dan memilih merebahkan dirinya di atas ranjang.
***
Cafe tempat dimana Reyna bekerja terlihat beberapa karyawan termasuk dirinya sedang beres beres karena sudah tidak ada lagi pelanggan yang masuk dan tempat itu sebentar lagi akan tutup.
Sesudah memastikan semua kegiatan mereka selesai segera keluar dari tempat itu bersamaan.
Ternyata cuaca memang selalu berubah ubah sama seperti halnya hati.
Yang tadinya cerah kini semua penduduk bumi yang masih dijalankan dibuat kocar kacir berlarian mencari tempat berteduh karena hujan turun sangat deras sementara beberapa karyawan itu sudah pulang karena sudah dijemput teman,pacar,orang tua ataupun kerabat dekat mereka masing masing.
Ditatapnya air yang mengalir membasahi bumi itu seraya mengatakan "kak Yuli pasti sedang khawatir."
"Reyn kamu gak pulang ?"
Tanya Jo seorang pemuda yang juga menjadi salah satu karyawan disitu.
"Eh,iya kak tapi tunggu hujan agak reda"
"Kamu lagi nungguin jemputan?"
"Enggak,nanti kalo udah agak reda saya naik ojek online."
"Eh gausah kak."
"Gak papa reyn udah malem nih dan jam segini biasanya ojol udah pada sepi,
Gak papa kok sekalian kan arah rumah kita searah."
Memang waktu sepulang dari cafe semalam dia memang agak lama mendapatkan driver ojol dan melihat situasi sepertinya Reyna tidak mempunyai pilihan lain.
Hujan masih turun dengan derasnya membasahi bumi Reyna yang tak mau sampai kak Yuli khawatir jadi dia memilih langsung tancap gas sedangkan Jo mengikuti saja karena tidak masalah baginya pulang walaupun harus kehujanan.
"Reyn..kamu gak kenapa napa pulang hujan hujan begini?"
Teriaknya disela sela hujan yang membasahinya masih mengendarai sepeda motor dan Reyna dibelakangnya.
"Gak papa kak."
"Gausah panggil kakak panggil gue Jo aja."
"Eh,iya Jo."
Sudah sampai didepan rumah Reyna dan benar dugaannya kak Yuli sudah mondar mandir di teras rumah dengan raut wajah cemas.
"Din,kenapa hujan hujanan begini sih.."
Segera merangkul dini masuk kedalam rumah sementara Jo masih berdiri di teras.
Belum memasuki pintu segera membalikkan tubuhnya
"Sebentar kak,"
"Kak Jo mari silahkan masuk"
Ujarnya sembari memberikan ruang pintu.
"Gak usah reyn gue mau langsung pulang aja"
"Tapi masih hujan kak"
"Iya gak papa,soalnya gue buru buru."
"Kak saya pamit ya kak"
sedikit menundukkan kepala.
"Iya makasih ya udah nganterin adik saya dan hati hati."
"Iya kak"
"Kak Jo makasih ya" sahut Reyna
"Iya reyn sama sama."
Ditengah hujan yang masih deras Jo menyalakan motornya dan beranjak dari sana sementara Reyna dan kakaknya sudah masuk kedalam.
Setelah mengganti pakaian yang basah tadi Reyna mengeringkan rambutnya dengan handuk dan kak Yuli sudah membawa teh lemon hangat untuk dia dan Reyna.
Padahal ini sudah malam tapi rasa cemas yang teramat sudah menghilangkan rasa kantuknya
"Nih...minum dulu biar badan kamu merasa hangat"
menyodorkan gelas yang berisi minuman hangat itu kepada Reyna
"Makasih kak" diambilnya segera menyeruput sedikit demi sedikit.
"Kenapa kamu pulang hujan hujanan kenapa gak nunggu reda dulu kalo kamu sakit gimana.."
"Dini tau pasti kakak sudah cemas dirumah makanya dini langsung pulang tadi Untung aja ada kak Jo."
"Kak Jo ? Ooh jadi yang tadi namanya Jo ...Kalian pacaran?"
"Ih apaansih kak kenapa senyum senyum gitu,kakak jangan mikir yang aneh aneh ya kak Jo itu senior di tempat kerjaan dini."
Sudah langsung menjelaskan agar kak Yuli tidak salah paham karena dia tau apa maksud senyum kakaknya.
"Iya iya udah malem,ayok tidur besok sekolah."
Keduanya langsung beranjak dari sofa dan sebelum tidur biasanya dini mencharger hp terlebih dahulu.
Diambilnya benda kecil itu dari dalam tasnya tanpa pikir panjang langsung dicolokkan ke lubang pengisian baterai.
Kak Yuli memandang wajah Reyna yang sudah tertidur pulas mungkin dia hari ini sangat lelah.
Mah,pah,adik Yuli sudah besar sekarang Mama sama papa disana pasti sangat senang kan,yuli janji bakal ngejagain dini
Mengelus kepala adiknya lembut.
tanpa sadar dirinya juga sudah terlelap.
***
Kembali menatap ponsel miliknya
"Kenapa dia gak angkat telfon gue?"
"Apa sengaja ga diangkat ya karena tau gue yang nelfon? Tapi dari mana?
Aaah Maya,kenapa lo jujur banget sih sama temen Lo."
Hai readers semuanya....🤗🤗
Terimakasih ya yang sudah mau membaca dan mensupport sampai chapter ini...😊😊
jangan lupa tinggalin jejak juga ya
hehehe..