Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Berangkat bersama



Walaupun matahari belum muncul dengan sempurna akan tetapi situasi seperti itu sudah bisa dikatakan pagi lebih tepatnya subuh.


Pagi ini Refan sudah bangun lebih cepat dari biasanya mengingat dengan sms yang sudah dijanjikan kepada seseorang.


Mulai dari bangun tidur sampai semua sudah terlihat rapi dengan rambutnya yang sudah terpoles pomade harum dia tampak tampan,rapi dan wangi seperti biasanya.


Bukan,hari malah terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya,mungkin karena ditambah dengan bibir yang terus terlihat melengkung itu berjalan menuruni tangga dengan jaket kulit berwarna hitam yang menempel ditubuhnya tak lupa menggendong tas ransel yang hanya dipasang sebelah di lengannya.


Suasana dirumah masih terlihat sepi mengingat papa mamanya yang masih diluar kota dan pembantu yang mungkin sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing sedangkan Arkan kakaknya pasti masih terlelap dalam mimpi di atas kasurnya.


Keluar berjalan dari pintu utama menuju garasi yang terparkir beberapa kendaraan disana langsung membawa keluar motor sport yang biasa dikendarainya melaju menuju pintu gerbang yang dibuka dan disapa oleh penjaga itu dengan sopan ramah.


"Tumben den Refan pagi pagi sekali sudah berangkat" sapanya ramah sudah membuka gerbang.


"Iya pak ntar telat" jawabnya sopan.


Satpam itu masih menatap samar punggung Refan yang sudah melaju cukup jauh dari rumahnya.


"Syukurlah den Refan sudah berubah ternyata,dia jadi lebih rajin sekarang..


***


Ranjang itu bergoyang goyang bukan karena gempa,tapi karena sedang membangunkan orang yang tidur sangat nyenyaknya.


"Din banguuun buruan,nih anak kok susah banget sih dibangunin udah kayak kebo aja." gerutu Yuli sembari membangunkan Reyna adiknya.


"Nggmmh bentar lagi kak dini masih ngantuk" makin bersingkut menarik selimutnya yang kini sudah menutup seluruh tubuhnya.


"Kamu gak sekolah ?"


"Sekolah kak,bentar lagi ka..ini masih pagi banget tau kak"


Suaranya yang terdengar samar namun cukup jelas dari dalam selimut bisa menebak waktu dengan pas.


"Yakin masih gak mau bangun? udah ditungguin itu didepan"


"Kak Yuli jangan becanda ah siapa sih yang datang pagi pagi begini.


Maya? Mana mungkin."


Berbicara datar dengan mata yang masih tertutup.


"Yaudah deh kalo gak mau bangun.."


Menyerah membangunkan yang Reyna yang tak percaya dengan ucapannya dan langsung membuka pintu bergegas keluar kamar.


"Siapa sih yang datang selain Maya"


Akhirnya turun dari tempat tidur dengan mata yang masih setengah terbuka berjalan berjalan sembari mengumpulkan tenaga yang masih setengah nyawa.


Mengucek ngucek kedua matanya sembari menguap.


"Siapa sih kak yang datang awas aja kakak bohongin dini ya..."


Dilihatnya siapa yang duduk di sofa,mata mereka saling terbelalak menatap tak percaya Reyna sangat dibuat terkejut dengan laki laki yang duduk disitu.


"Lo baru bangun ?"


Kata laki laki itu terkejut.


Sementara Reyna langsung lari dengan langkah seribu menuju kamar mandi mendapati kak Yuli yang sedang didapur.


Sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar mandi


"Kak...aduh kakak kok gak bilang sih yang datang dia?"


"Kakak udah bilang yang datang laki laki kamunya aja yang ngeyel."


"Aaaa" berjalan langsung menuju kamar mandi tidak tau harus mengatakan apa karena benar adanya apa yang dikatakan kak Yuli.


"Sebentar ya dini baru aja mandi dia memang gak pernah bangun sepagi ini."


Dini? Oooh jadi dirumah dia dipanggil dini.


"Gak papa kak saya kok yang jemputnya kepagian."


"Oh iya kalian teman satu kelas?"


"Iya kak,oh iya perkenalkan kak saya Refan."berdiri menjabat sopan tangan Yuli.


"Ooh Refan saya Yuli kakaknya Reyna panggil aja kak Yuli"


"Din,cepetan....teriaknya mengarah belakang rumah.


"Kak Yuli apaansih pake teriak teriak segala tuh orang juga ngapain pake datang kesini sih darimana dia tau gue tinggal disini?" sembari mengucir rambutnya didepan cermin kamar.


Sudah selesai bersiap siap dini langsung keluar dengan senyum wajah yang dibuat buat.


"Udah selesai...fan,yuk berangkat" berjalan mendekati laki laki itu tapi saat sudah mendekat dan mata mereka bertemu Reyna melototkan kedua bola matanya menggeram.


Berjalan keluar pamit kepada kak Yuli.


"Kak,dini berangkat duluan ya ntar telat hehe"


Berhenti tepat didepan motor Refan terparkir langsung merubah raut wajahnya menatap tajam.


"Dari mana Lo tau gue tinggal disini?!!


Siapa yang suruh Lo datang kesini?!!"


"Lo gak perlu tau dari mana gue tau tempat tinggal Lo.


Dan kemarin juga gue udah SMS kalo gue mau jemput Lo dan karena lo gak bales yaaa gue anggap Lo setuju." jawabnya santai sambil memangku kedua tangannya didepan dada.


"Siapa bilang gue setuju Lo datang kesini.


Pagi pagi buta lagi!."


"Jadi gue datangnya kepagian?"


"Enggak,lo gak boleh datang kesini lagi sana pergi cepat,gue gak mau berangkat sekolah sama lo."


"Loh..kalian belum berangkat,"


Kak Yuli yang baru keluar rumah menutup pintu melihat keduanya yang masih berdiri disitu.


Melihat kak Yuli yang tiba tiba muncul membuat pertengkaran mulut keduanya berhenti.


"Eh,ini mau berangkat kok kak tadi manasin motornya dulu yakan fan?"


Menyikut perut Refan dengan sikutnya.


Sedangkan Refan terlihat biasa saja.


"Fan,cepetan...ntar kita telat loh.."


Tatapnya dengan tajam kearah pria disampingnya.


Refan langsung menyalakan motornya dan Reyna bergegas naik dibelakang ini pertama kalinya dia menaiki motor itu,walaupun dengan rasa terpaksa.


Kak Yuli masih menatap motor yang sudah bergerak menjauh dihadapannya.


Anak itu seperti mirip seseorang...tapi siapa ya..batin Yuli.


Melaju dengan kecepatan sedang sembari merasakan hembusan angin pagi yang sejuk menghirup udara yang masih segar.


Pria yang sedang mengendarai motor itu mengendarai fokus menatap jalanan.


Sepertinya udara yang dirasakan refan berbeda dengan gadis yang ada dibelakangnya pasalnya gadis itu terlihat seperti merasa sangat kesal dan jengkel yang bercampur aduk seperti mengumpat dalam hati yang sesekali ditangkap Refan melalui kaca spionnya tapi dia hanya acuh mengendarai motornya.


Dasar!!! Cowok gila,ga waras,kenapa gue bisa bertemu dengan orang seperti ini...


Bisa mati darah tinggi gue kalo orang ini masih muncul seenak jidatnya aja.


Gue tau Lo pasti kesel kan?


Ini trik gue supaya Lo bisa terpikat..kita lihat aja nanti akhirnya siapa yang bakalan menang,mungkin sekarang Lo bisa pasang muka cemberut gitu ke gue,ngoceh ngoceh gak jelas palingan bentar lagi Lo juga terpikat dan gak mau jauh jauh dari gue dan sekarang yang gue lakuin terlihat keren kan...Haha batin Refan.


Berjalan menyusuri jalanan yang dengan bergumam dalam hati mereka masing masing bahkan satu katapun tidak terucap oleh kedua sepanjang perjalanan tadi.


Sudah memasuki gerbang sekolah menuju area parkir semua mata yang berjalan menuju arah mereka menatap tak percaya.


"Kak Refan cowok yang romantis ya...aaaaa pengen deh gue dapet cowok kekgitu.


Pergi sekolah bareng,disekolahnya belajar bareng pulang sekolah pun bareng uuu beruntung banget sih tuh cewek."


Ucap salah seorang adik kelas yang memandang mereka sedangkan teman yang disebelahnya hanya menatap penuh harap memikirkan hal yang sama.


"Eh tunggu" ucap Refan setelah membuka helmnya dan menaruh di setang motor.


sedang diparkiran sekolah Reyna yang tadi sudah turun dan langsung ingin buru buru beranjak


Gadis itupun berhenti dan kini Refan sudah menarik genggam tangannya.