
"Woy fan..fan gawat Jenny ditembak sama anak kelas 12 ips 3."
ujar Chandra sambil ngos ngos an.
"Apa Lo bilang??"
Reza yang mendengarnya langsung terkejut.
"Iya,dilapangan sekolah noh disaksikan sama semua orang gila ya tuh anak gentle banget dia jadi cowok."
Mereka bertiga bergegas menuju lapangan sekolah ingin menyaksikan sendiri apa yang disampaikan temannya barusan.
"Jen,gua mohon jangan Lo terima please..." Reza yang menatap dengan tatapan nanar yang tertangkap dengan ekor matanya Jenny memahami tatapan itu.
Pria yang sedang bertekuk lutut sambil menyodorkan sebucket bunga yang ditangannya kehadapan Jenny sedang menunggu jawaban dari wanita tersebut.
Dengan paras cantiknya ditambah senyuman diraihnya bucket itu sedikit menundukkan kepala
"sorry ya gue gak bisa nerima cinta Lo."
Kata kata itu terdengar cukup jelas ditelinga siswa yang berada di sekeliling mereka dan langsung bereaksi yaaaa malu banget pasti dia.
Setelah kejadian itu banyak siswa yang membicarakan mereka bahkan sampai ada yang merekamnya menonton berulang ulang kejadian yang memalukan bagi pria tersebut yang ditolak mentah mentah oleh Jenny .
Mungkin akan menjadi kenangan yang paling memalukan suatu saat nanti bagi pria tersebut.
Ini bukan suatu kejadian baru bagi Jenny ditembak oleh pria namun ini kedua kalinya dia ditembak di depan banyak orang setelah Refan namun tetap saja dia tidak akan mudah menerima orang yang tidak benar benar dia cintai.
Sementara Reza disisi lain merasa sangat senang setelah melihat kejadian itu.
Sembari mereka menjalani lorong menuju kelas tersebut.
"Gila ya tuh orang berani banget dia nyatain perasaannya langsung kekgitu didepan banyak orang lagi"
Ck ck ck berdecak kagum sekaligus mengejek.
"Mungkin dia merasa udah paling ganteng disekolah ini Haha"
sahut Reza dengan penuh kebahagiaan.
Sementara Refan yang disamping mereka tidak tidak mau tahu sedikitpun dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dan kedua teman disampingnya tidak merasa heran lagi karena sudah berulang kali dia mengatakan bahwa sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada mantannya Jenny.
***
Celingak-celinguk sambil melihat nomor angkutan umum yang sudah berlalu.
Tiba tiba datang sebuah motor sport berhenti tepat didepannya.
"Naik!."
tanpa basi basi mengatakannya sementara gadis yang dihadapannya hanya mengernyitkan dahi sekilas dihadapannya.
"Lo gak dengar gue apa yang gue bilang barusan." sudah dengan nada kesal.
"Sekarang Lo mau bilang ngantar gue sampe depan gerbang lagi,gak perlu dan makasih gue udah keluar gerbang.!"
tukas Reyna.
"cepetan naik gue gak punya banyak waktu"
"Maaf sudah membuang waktunya mas tapi saya gak pesan ojek online tuh" sedikit senyum yang dibuat buat dan kembali menatap jalanan.
"Lo lagi nungguin siapa? pacarlo?" memerhatikan Reyna yang sedari tadi seperti sedang menunggu orang.
"Bukan urusan Lo!."
tegasnya.
"Oh iya mana ada cowok yang mau sama cewek judes kayak Lo"
"Terserah...bodo amat!"
Tak lama kemudian Reyna mengarahkan tangannya ke jalanan berhentilah sebuah angkot dengan nomor yang biasa dia tumpangi didepannya.
Melihat Reyna yang sudah naik angkot dan berlalu dia membuka helmnya menatap tak percaya bahwa gadis itu akan menolak tawarannya.
Tanpa sepengetahuan Reyna,dia mengikuti angkot yang dinaik gadis itu tadi,dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya sangat bersikeras ingin dekat dengan gadis itu,dia hanya merasa sedikit penasaran dengan sikap cuek gadis itu.
Angkot berhenti,motornya pun berhenti melihat Reyna yang langsung masuk kedalam sebuah cafe.
"Pasti dia janjian sama orang nih disini"
Langsung masuk kedalam mencari cari dimana keberadaan gadis itu tapi siapa sangka tiba tiba orang yang dicari tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.
"Kemana tuh cewek,kok gak ada"
Celingak-celinguk.
"Maaf mas cari siapa?"
seorang pegawai cafe menghampiri
"Mbak,tadi ada lihat cewek masuk kedalam cafe ini gak ?"
"Rambutnya dikucir terus pake seragam kayak gini"
menunjuk lambang sekolah yang ada di bajunya.
"Ooh Reyna" jawab pegawai itu santai.
"Iya benar namanya Reyna,dimana ya mbak?"
"Rasti"
suara dari belakang memanggil nama wanita yang memakai seragam cafe tersebut.
"Iya Jo ada apa?"
"Kamu dipanggil sama pak Ferdi"
"Maaf mas saya permisi dulu"
Menundukkan kepala sopan dan berlalu
"Ada yang bisa saya bantu mas?" Tanya pria yang baru saja muncul didepannya.
"Oh Gak ada."
Langsung keluar dari cafe itu.
setelah memastikan Refan meninggalkan cafe itu.
"Makasih ya kak Jo " kata Reyna yang baru keluar dari balik tembok ruangan.
"Sama sama reyn."
Jelas jelas tadi gua lihat dia masuk dalam cafe ini.
***
Tersenyum "gue kira tadi Lo bakal nerima si cowok itu tadi."
"mungkin." jawabnya santai.
"Lo becanda kan Jen ?"
"Gue serius... kalo lo masih belum bisa buat Refan jatuh cinta sama anak baru itu dan jangan sampe dia juga suka sama Refan."
"Loh kok jadi gitu rencananya emang kalo misalkan Reyna juga suka sama Refan kenapa?"
"Emang itu rencana yang gue maksud dari awal,
Yaampun za ternyata lo belum ngerti maunya gue?
Kalo sampe mereka saling suka gue gagal dong balas dendam ke Refan."
"Jen...please Lo jangan balas dendam ke Refan karena dia..."
"Temen Lo ? Iya? Ooh jadi Lo lebih mentingin temen Lo dari pada gue!"
cih "gimana gue bisa nerima Lo jadi pacar gue.
Belum pacaran aja Lo lebih mentingin dia."
"Bukan gitu maksud gue Jen.."
menutup matanya menghembuskan nafas pelan.
"Jadi Lo gak mau?"
"Oke deh demi Lo Jen,gue bakal ngelakuin apapun."
Fan..maafin gue kali ini.
***
"Hei fan,baru pulang?"
Tak menggubris Arkan menyapanya yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tv,berlalu begitu saja langsung menaiki tangga.
"Woy bocah,kalo orang lagi ngomong tuh jawab?"
Masuk kedalam kamar membanting pintu itu dengan keras.
Melemparkan tas yang disandangnya langsung ke atas tempat tidur,begitupun tubuhnya langsung dibaringkan begitu saja.
Klek,..
mendengar suara pintu terbuka dia menoleh.
Arkan yang sudah berdiri didepan pintu menghampiri Refan .
Laki laki yang tengah berbaring itu dengan sigap langsung duduk jaga jaga,bisa saja kakaknya langsung memukulnya tiba tiba.
Duduk dibibir tempat tidur menatap Refan.
"Maafin gue"
Mendengar kalimat itu alis sebelah kanannya spontan naik heran.
"Gue minta maaf untuk kejadian Tempo hari."
melanjutkan kalimatnya.
"Lo tenang aja gue bukan anak kecil yang suka ngadu jadi Lo gak perlu sok sok minta maaf."
"Gue minta maaf tulus karena gue salah."
Refan hanya terdiam tak biasanya Arkan meminta maaf mengakui kesalahannya begini karena walaupun dia tidak melakukan hal itu Refan tidak pernah berniat mengadu kepada orang tuanya tentang perbuatan Arkan selama ini.
"Gue sadar selama ini gue belum bisa jadi kakak yang baik buat lo,jadi gue sekarang mau berubah."
"Bagus kalo Lo udah sadar"
jawabnya cuek menatap jendela kamarnya.
"Jadi Lo mau maafin gue kan"
Langsung melompat merangkul bahu adiknya.
Refan hanya diam dia biarkan tangan Arkan dibahunya.
Beberapa detik...
"Fan..tolongin gue dong."
langsung kearah topik pembicaraan.
"Apaan?" Jawabnya malas.
"PDKT an sama cewek."
"Kenapa mesti gue?"
"Yeee,karena Lo adik gue lah."
Kalo gue minta bantuan sama temen kampus gue pasti diejekin sama mereka huh!
"Ah malas gue kalo itu."
Tolaknya.
"Ayo dong..."
"Kenapa Lo gak deketin sendiri aja"
"Masalahnya dia itu beda dari cewek cewek lainnya.
Sikapnya kalo sama cowok dingin banget."
***
"*Eh woi tunggu,"
menarik tangan wanita itu yang dikejarnya gue suka sama lo."
"Sorry gue gak suka sama lo."
Sudah ingin beranjak tapi Arkan menghadangnya.
"Yaudah,kalo gitu kita pacaran aja dulu kalo Lo masih gak suka Lo bisa putusin gue."
"Sorry gue gak ada waktu*."
Rasanya mengingat kejadian itu hanya mempermalukan dirinya sendiri saja dan untungnya teman temannya tidak mengetahui kejadian itu jika mereka sampai tau dia bisa diejek habis habisan karena ditolak mentah mentah oleh seorang wanita.
Tapi dia sudah menyatakan perasaanya walaupun belum dibalas dia akan mencobanya lagi.
Begitulah seharusnya dalam kehidupan jika gagal jangan stop dengan kata menyerah tapi cobalah lanjut dengan kalimat coba lagi.