Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Ketahuan



Ketiganya sudah berada duduk di sofa ruang tamu Refan yang duduk di samping Arkan sedikit berjarak dengannya sementara laki laki yang tadi datang duduk sambil menatap keduanya dengan serius.


"Apa aku perlu memberitahukan hal ini kepada tuan besar?"


Gumamnya sambil menatap kedua kakak beradik itu.


"Apa yang kalian lakukan?"


Bertanya dengan nada datar,tapi terlihat jelas dari raut wajahnya menunjukkan


tidak senang.


Keduanya sadar pertanyaan itu ditujukan kepada mereka namun mereka hanya diam tak bergeming sedikitpun.


Laki laki itu segera mengeluarkan hp di saku jasnya.


"Jangan",dengan cepat Arkan menjawab seperti sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan laki laki tersebut.


"Jangan beritahukan hal ini sama papa,kami tidak akan mengulanginya." sambil melihat sebentar kearah Refan.


Menarik napas kemudian menghembuskan perlahan.


"Kalian berdua bukan lagi anak kecil,saya harap kalian tidak mengulangi kejadian seperti ini lagi."


Segera berdiri dan keluar dari rumah besar itu langsung mengemudikan mobilnya yang tadi terparkir di halaman rumah itu menuju keluar pintu gerbang utama.


Refan yang melihat laki laki itu sudah pergi langsung berdiri dari duduknya berjalan menaiki tangga menuju pintu kamarnya.


Melihat wajahnya didepan cermin sambil mengumpat "dasar kakak tidak berguna!"


Tok tok tok permisi den terdengar suara dari luar pintu setelah mendengar suara samar samar dari dalam salah satu asisten rumah tangga itu masuk membawakan sebuah nampan yang berisi handuk kecil dan air es meletakkannya di atas meja dan keluar meninggalkan kamar itu.


Sesudah memastikan wanita yang masuk tadi keluar dari kamarnya refan langsung memasukkan handuk kecil itu kedalam air es dan memerasnya sampai setengah kering dirabanya luka memar yang ada disudut bibirnya sambil menekan nekan nya perlahan.


Setelah beberapa menit memastikan memarnya sedikit mereda dia langsung merogoh saku seragam sekolahnya yang tadi dia gantungkan selepas pulang sekolah.


'Ini dia," langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan angka yang sama yang tertera di kertas itu.


Mendekatkan benda kecil itu di telinganya dan terdengar suara


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi,mohon periksa kembali nomor tujuan anda


Berulang kali dia melakukan hal tersebut dan berulang kali juga suara yang sama terdengar dilihat lagi kertas yang masih dipegangnya menyamakan angka yang ada di hpnya.


Sial,, diremasnya kertas yang tadi ditangannya langsung dicampakkan kedalam kotak yang berbalut kantong plastik kresek itu dengan kesal.


Ternyata Lo gadis pintar ya..


Gumamnya kesal


***


Uhuk uhuk dengan cepat langsung menyambar gelas yang berisi air bening dihadapannya


Kak Yuli yang melihat Reyna terbatuk batuk langsung meletakkan piring ditangannya ke atas meja dan menepuk nepukkan pelan punggung Reyna seraya mengatakan "pelan pelan Din.."


Setelah batuknya perlahan mereda mengatur napasnya perlahan, "iya kak.."spontan langsung menjawab


Padahal akukan makannya gak buru buru kok bisa tersedak gini sih


Dengan sigap kak Yuli menoleh kamu "kenapa din?" Dengan wajah sedikit khawatir karena sudah melihat sedikit bercak darah disana


"Lutut kamu kok bisa berdarah gitu"


panik dengan cepat langsung digulungnya kaki celana Reyna keatas dan mengambil kotak p3k yang berada dikamar secepat kilat sudah kembali ke ruang tamu.dibiarkannya kak Yuli yang sedang mengobati lukanya


"Dini gak kenapa napa kok kak,dini cuma terjatuh dikit tadi disekolah" katanya berusaha meredakan kekhawatiran kak Yuli.


"Apanya yang gak papa,lutut kamu terluka dan kalo dibiarkan ini bisa infeksi" marah sekaligus khawatir tapi tak menghentikan aktivitasnya yang masih fokus mengobati lutut Reyna.


Reyna hanya terdiam sambil menatap kakaknya,memang dari dulu Yuli selalu bersikap seperti itu disaat Reyna terluka sedikit saja padahal ini bukan pertama kalinya Reyna mengalami hal ini dan kak Yuli selalu melakukan hal yang sama karena dia tidak mau adiknya sampai kenapa napa.


"Sudah selesai kamu jangan terlalu banyak gerak....bla...bla...bla supaya lukamu cepat sembuh" menasehati setelah mengobati bersikap seolah dokter yang baru saja mengobati pasiennya.


"Kak ini cuma luka kecil kok,bentar lagi juga sembuh,kak Yuli jangan terlalu cemas ya.."


"Reyna,apa sih yang kamu lakukan sampai lutut kamu seperti itu? lain kalo mau melakukan sesuatu itu harus hati hati kakak gamau kamu sampai sakit,.."nada cemas.


"Kakak terlalu berlebihan..ini cuma..


Belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya melihat raut wajah kak Yuli yang sudah berubah tidak jadi meneruskannya .


"Iya deh kak..lain kali dini hati hati."sedikit menunduk merasa bersalah karena sudah membuat kak Yuli khawatir.


"Din..kalo kakak melihat kamu terluka sedikit saja kakak merasa gagal menjaga kamu." berbicara dengan nada sedikit tenang ditengah suasana yang senyap diantara mereka.


Mendengar kalimat itu dini hanya terdiam karena semenjak orang tua mereka meninggal kak Yuli menjadi orang yang sangat protektif terhadap adiknya karena cuma Reyna satu satunya keluarga yang dia miliki selain Paman dan bibinya.dia hanya ingin adiknya tidak merasa terlalu kehilangan perhatian disaat orang tua mereka sudah tiada karena disaat keduanya masih hidup pun sangat memperhatikan dengan penuh perhatian dan kasih sayang kepada kedua putrinya, itu sebabnya Yuli tidak mau membuat orang tuanya disana cemas walaupun dia tidak tau bagaimana orang tuanya disana yang dia tau pasti mereka sedang berada di surga sekarang.


Setelah menceritakan semua cerita yang siapapun dihadapannya pasti terharu mendengar rasa perhatian yang besar dari seorang kakak kepada adiknya kini mereka tengah terlelap masing masing didalam mimpi yang tidak tau entah mimpi apa yang pasti malam yang sudah larut ini bulan purnama bersinar sangat terang dihiasi dengan taburan bintang yang hanya terlihat setitik cahaya yang indah jika dilihat oleh penduduk bumi.


***


Setiap kali ingin berbicara kepada Refan,reyna memang selalu memantau situasi disekelilingnya tidak mau jika sampai ada mata yang memperhatikan atau sampai mendengar pembicaraan mereka karena kalau sampai itu terjadi pasti akan mengundang gosip yang bukan bukan karena cowok yang satu ini merupakan seseorang yang sangat populer disekolah ini karena ketampanannya bukan hal yang diragukan lagi, banyak wanita yang menggandrungi nya dan sering nge like foto foto dan memberikan komentar manis memuji di akun sosmed nya.begitu juga Refan yang tidak mau sampai siswa lain mengetahui karena dia menganggap pendekatannya dengan Reyna hanyalah sebuah ambisi untuk menyelesaikan tantangan.


"Fan,muka Lo kenapa memar gitu?" tanya Chandra yang serius menatap wajah Refan kanan kiri.


"Biasa,anak kesayangan bokap nyokap gue."


"Fan..mau gue ambilin plester gak?" sambung gadis yang duduk disebelahnya yang merupakan salah satu pengagum wajah gantengnya juga.


"Gausah,gue bisa sendiri" jawabnya.langsung berlalu begitu saja tanpa menghiraukan orang orang dihadapannya.


***


"Kenapa sih Lo sok jual mahal banget sama gue,." katanya yang ditujukan kepada gadis dihadapannya,kini mereka berdua sedang berada di lorong belakang sekolah yang dijam segini tidak mungkin ada orang disana karena semua manusia itu sedang dikantin sekarang.


"Dih,jual mahal?Lo pikir gue cewek apaan yang bisa ngasih nomor ke sembarang orang," jawabnya judes.


"Ooh jadi bener dugaan gue,.. selain maling ternyata lo juga penipu ya,ck ck ck" mendecak sambil menggeleng 'gue bisa laporin Lo kepolisi nih keknya..."


"Dasar cowok gila,aneh..kembaliin novel gue" tatap Reyna tajam seperti menyulutkan api kemarahan kepada Refan.


"Lo kalo ngomong hati hati ntar yang ada Lo naksir sama gue.haha" tergelak sendiri melihat ekspresi Reyna yang sudah kesal.


"Nih orang kepedean banget ya."


"Ya tuhan..tolong sadarkan makhlukmu yang satu ini."