
Mentari sudah bersinar pagi ini,menyinari seluruh penduduk bumi di kota ini tersenyum cerah seperti kakak beradik yang saling menyayangi ini.Mereka sedang bersiap siap melaksanakan aktivitas sehari hari biasanya.
Buku,pulpen,dan alat tulis lainnya pasti sudah tentu tidak ketinggalan di dalam tas mereka karena karena kakak beradik ini masih menempuh dunia pendidikan tapi ada tambahan dalam tas milik Reyna.
"Din,itu bajunya tadi udah kakak setrika ada diatas meja." ujar kak Yuli yang sedang merapikan rambutnya didepan cermin.
"Oh iya hampir aja ketinggalan,
Makasih ya kak"
Diambilnya lipatan baju dan celana hitam putih itu dimasukkannya kedalam tas dengan rapi.
"Udah selesai semua?"
"Udah kak"
"Yakin gak ada yang ketinggalan?"
"Mmm...keknya ga ada" geleng geleng.
"Hmm...dasar pikun,"
berjalan kebelakang Reyna mengucir rambut yang hitam dan lurus itu.
Pikun,aku seperti pernah mendengar kata kata itu tapi dimana ya ah udahlah ga penting palingan juga dibuku buku yang sering aku baca.
"Nah...beginikan jadi lebih rapi dan tambah cantik" keduanya tersenyum bersamaan "hehe makasih kak."
Melangkahkan kaki mereka bersamaan menunggu angkutan umum yang akan mengantarkan ke tempat tujuan mereka masing masing.
Sekolah yang lama kelamaan mulai ramai diisi dengan siswa yang satu persatu mulai berdatangan masuk kekelas masing masing dan duduk dibangku mereka sepertinya sudah menjadi tradisi turun temurun bergosip ria sambil cekikikan setiap harinya walaupun setiap hari rakyat sekolah itu bertemu.
Reyna yang tengah asyik mengobrol dengan Maya tiba tiba dikejutkan dengan Refan yang baru saja datang langsung menghampirinya sembari menyodorkan buku yang ada ditangannya.
"Nih..buku Lo gue kembaliin."
Tanpa pikir panjang diraihnya buku itu tanpa mengatakan sepatah katapun hanya terlihat jelas dari tatapan matanya yang penuh tanda tanya.
Beberapa siswa yang sudah berada dikelas juga melihat kejadian itu tapi mereka tidak begitu jelas mendengar pembicaraan keduanya yang mereka tau hanya sebuah buku yang diberikan refan dan tidak melihat reaksi apapun dari Reyna kini sebagian siswa perempuan di kelas itu bertanya tanya kepada teman disebelah mereka tapi tidak ada yang tau karena memang mereka sendiri tidak mengetahuinya dan rasanya ini pertama kali mereka lihat Refan duluan menghampiri seorang gadis setelah dia putus dari Jenny.
Sementara Maya yang berada di samping Reyna mendengar dan melihat cukup jelas tapi begitu dia mau menanyakan sesuatu bel masuk sekolah berbunyi.
"Ada apa dengan cowok aneh itu? Enggak seperti biasanya? Kok dia tiba tiba kembaliin novel gue,padahal dari kemarin kemarin udah gue minta gak dikasih kasih terus kenapa hari ini...ah udahla Reyna Lo mikirin apa sih,emang itu penting buatlo yang penting sekarang kan novel Lo udah balik."
gumamnya.
Masih berperang dengan kalimat yang ada dipikirannya sendiri,menoleh kebelakang sebentar lalu memutar lagi kepalanya kedepan menghadap papan tulis.
"Lo tadi ngasih apaan sama Reyna" bisik Reza.
"Buku".jawabnya singkat
Reza merasakan sudah ada ketertarikan kepada reyna dalam diri Refan karena melihat perubahan sikap dari temannya melihat yang biasanya jika ditanya dia malas menjawab kini tetap dijawab walaupun cuma satu kata.
"Lo beliin Reyna buku" bisiknya lagi.
"Berisik Lo" sambungnya berbisik juga
"Kalian ngomongin apaan sih"
bisik chandra dari belakang membuat keduanya tersentak kaget.
"Sssttt diem" sembari mendekatkan jari telunjuknya ke bibir "ntar Lo disuruh kedepan sama Bu Novi ****."
"Yee gue kan juga mau tau apa yang lo pada bicarain."
Ting...masuk notifikasi pesan dari hp milik mona yang membuat beberapa pasangan mata tertuju padanya.
langsung panik
Aduh mati gue,lupa gue silent tadi.
"Suara handphone siapa itu..?"
Bu Novi yang sedang menerangkan pelajaran didepan kelas langsung membalikkan tubuhnya mencari cari.
"Mona letakkan hp kamu di atas meja saya." Instingnya benar karna melihat ekspresi Mona yang panik tadi.
"I.iya buk"
"maju ke depan sini jelasin apa yang tadi sudah saya terangkan."
"Haha rasain Lo makanya jangan asik Instagraman mulu." suara Chandra dari belakang membuat kedua temannya terkejut.
dasar ****,terbuat dari apasih mulut Lo! gumam reza
"Chandra,kamu juga kedepan."
Langsung terbungkam seperti habis tertembak peluru tepat menembus dijantungnya.
Seisi kelas rasanya ingin tertawa lepas namun melihat situasi yang tidak memungkinkan mereka langsung terdiam seolah tidak ada kejadian apa apa.
Chandra yang tidak bisa membantah hanya pasrah maju kedepan.
"Mulut Lo ga bisa direm sih Haha"
ejek reza yang sedikit merendahkan suaranya membuatnya tambah kesal akan tetapi tidak bisa melakukan apa apa selain menuruti perintah dari guru yang sedang berdiri didepan kelas.
"Sekarang kalian berdua jelasin kembali apa yang tadi sudah saya terangkan di papan tulis."
Keduanya hanya terdiam saling tatap.
"Aduuuuh malah panas banget lagi harinya,kulit gue huhuhu" Mona
"Yang sabar ya mon." salsa yang seolah sedang bertelepati turut merasakan kesedihan temannya.
"Atau kalian mau hukuman yang lain."
melihat mereka berdua masih berdiri
"Nggak..gak bu." langsung melangkah keluar dengan cepat kearah lapangan seperti yang diperintahkan Bu Novi.
"Gara gara Lo gue juga dihukum nih.." Chandra
"enak aja nyalahin gue,emang gue yang nyuruh Lo cekikikan dibelakang"
protes Mona
"Haha rasain lo,itu namanya kurma eh karma."
tak bisa membantah karena memang jelas jelas dia dihukum karena kebodohannya sendiri
Waktu jam istirahat memang moment yang paling pas Untung merilekskan otak dan pikiran sejenak.
Kini Refan yang sedang bersembunyi dibalik tembok salah satu ruangan kelas sembari mengintip menanti seseorang yang sedang diintainya.
"Eiits...tunggu" langsung menghadap tepat didepan Maya yang sedang membawa beberapa cemilan dan minuman yang baru dia beli dikantin.
Melihat siapa yang didepannya Maya langsung terbelalak kaget dengan senyum malu malu yang sudah tersipu di raut wajahnya.
"Refan,ada apa?"
tanyanya dengan mata berbinar tak ketinggalan senyum yang sudah melengkung dibibirnya.
"Gue boleh pinjem hp Lo gak?"
pintanya tanpa basa basi.
"Bo,boleh kok" ingin segera mengambil ponsel yang berada di sakunya tetapi melihat kedua tangannya yang terisi menatap kembali Refan yang sudah bisa dia artikan arti dari tatapan itu langsung diraihnya bungkusan cemilan tersebut.
"Oh iya sini gue bantuin"
Tanpa ragu maya langsung menyodorkan ponsel miliknya kepada Refan segera meraihnya membalikkan badan dan mengeluarkan sebuah ponsel juga dari saku miliknya sendiri.
Sedangkan Maya yang dari belakang sedang menghayalkan sesuatu yang indah yang membuat matanya semakin tampak berbinar.
"Pasti Refan minjem hp Maya mau..mau apa ya duh Maya kok jadi deg degan gini aaaa.."
"Nih..makasih ya may.." sudah berbalik sambil tersenyum yang semakin memperlihatkan ketampanannya,mungkin jika Refan mengedipkan mata dia bisa jatuh pingsan.
Maya berlari kekelas dengan wajah yang sangat bahagia...
"Dini.." sudah ngos ngos an tapi wajahnya terlihat sangat senang berlari menghampiri Reyna segera diletakkannya cemilan dan minuman itu diatas meja.
"Lo kenapa may..tarik napas dulu
Tarik nafas....hufft...hembuskan."
Kalimat yang diucapkan seirama dilakukan keduanya dengan gerakan tangan keatas kebawah dan hembusan nafas.
"Udah,udah tenang baru cerita Lo kenapa?"
Menatap Maya memegang pelan lengannya.
"Refan...Refan pinjem hp Maya.."
Dengan mata yang terbelalak senang mengatakannya.
Yaampun may begitu kata hatinya
Sedangkan mulutnya berbicara
"Oooh" manggut-manggut biasa seolah itu bukan hal yang harus membuatnya juga ikut senang, Melepaskan tangannya dan kembali duduk di kursi.
"Dini tau gak setelah itu dia ngapain?"
"Ngapain," jawabnya santai
"Dia senyum ke maya sambil ngucapin terima kasih..."
"Hah gak salah dengar gue seorang Refan cowok aneh tersenyum dan bilang terima kasih" tak bisa menahan gelak tawanya.
"Iiiiiih kok diketawain sih" langsung manyun seketika
"Sorry sorry may gue gak habis pikir aja dia bisa ngelakuin hal kek gitu juga rupanya."
"Ya bisalah din,refan kan manusia"
Ujarnya seperti membantah perkataan dini.
"Gue curiga keknya Lo deh target selanjutnya"
ujarnya dengan tatapan serius
Maya mengernyitkan dahi tak paham maksud perkataan temannya itu
Maksudnya??
Reyna langsung terbelalak kaget menyadari kalimat yang baru diucapkannya.