
"Apa tujuan lo deketin reyna ha !" Sudah mencengkram kuat kerah baju laki laki itu.
"Eits...eits santai dong men.." ucapnya melihat tangan yang menarik kerah bajunya.
"Awalnya sih gue suka sama reyna tapi...ck keknya gak jadi deh"
"Sepertinya lo juga suka sama gadis itu...kalo gitu semoga lo bisa dapetin dia bro" memukul bahu refan.
Refan yang melihat itu langsung bereaksi menepis
"semoga lo bisa dapetin hati tuh cewek good luck"
menepuk bahu refan lagi sembari berlalu dari lorong ruangan itu.
"Lo gak kenapa napa?"
ucap refan yang langsung menghampiri meja yang dibalik kursi itu duduk seorang gadis.
"Eh...gu gue gak papa" jawabnya terbata bata dengan rasa bersalah.
"Din...itu wajahnya refan memar loh..." ucap maya pelan yang berada disampingnya sembari melirik laki laki yang sudah berjalan kearah kursi belakang.
"Ya terus gue harus apa?"
Ucapnya basa basi padahal dia tahu maksud dari perkataan maya.
"Obatin,temani ke uks atau apa kek..." ucap maya menjelaskan
Belum sempat reyna menjawab sudah terdengar bunyi bel sekolah siswa yang tadinya berada dikantin kini segera masuk ke kelas mereka masing masing.
Sepulang sekolah reyna menatap refan nanar entah kenapa dia merasa sangat bersalah atas peristiwa semalam ditambah dengan kejadian hari ini yang mengharuskan dia dipanggil ke ruang BK.
Refan menepati ucapannya semalam bahwa dia tidak akan pernah mengganggu gadis itu lagi.
Sepulang sekolah tadi dia langsung pulang kerumah dan segera mengompres luka memar disudut bibirnya sendiri dikamar sembari memegang hp yang sudah ada di telinganya.
"Jadi Lo diskors ?" Suara kaget dari seorang pria yang ada ditelfon
"Iya" jawabnya
"Berapa lama seminggu? Dua Minggu ?
Yaa gak seru dong kalo Lo gak masuk"
"Tiga hari doang" jawabnya yang sembari meletakkan handuk kecil itu baskom berisi air es.
"Sialan tuh orang dia yang cari gara gara malah Lo yang di skors"
ucap pria itu kesal.
"Oh iya terus Reyna gimana?.."
"Lo jangan coba coba dekatin dia selama gue gak sekolah awas aja Lo Chan kalo Lo berani.."
"Santai bro gue gak hobi nikung teman Lo tenang aja gue bakal jagain dia Haha" ucap Chandra dari telfon
"Lo gak usah ketawa ketawa awas aja kalo Lo sampe berani."
"Yul...Yuli tunggu" ujar pria yang setengah berlari mengejar gadis yang sedang berjalan keluar area kampus.
Yuli berhenti membalikkan badan melihat pria itu yang sudah ngos ngos an kehabisan napas
Yuli hanya diam memperhatikan laki laki itu mengatur napasnya
Setelah mengatur napas menarik napas dan menghembuskan perlahan
"Ntar malam jalan yuk" ucapnya to the point
Yuli yang mendengar kalimat itu langsung pergi seperti sia sia sudah mendengarnya
"Yul..yuli tunggu dulu"
sembari menarik tangan itu.
Langsung ditepis oleh Yuli "sorry,gue gak bisa" ucapnya.
"Yul..ini bukan seperti yang lo pikirkan gue,gue cuma mau temenan doang itu aja kok." Ucap Arkan
"ha?" Mengernyitkan dahi
"Maksud gue...gue mau temenan lebih dekat... tapi serius cuma teman suer deh" ucapnya sembari menunjukkan dua jarinya
Kita kan emang temenan...ucapnya.
Eh iya ya gue sama Yuli kan satu kelas itu artinya kita udah temenan dong...
duh **** banget sih gue
Mengernyitkan dahi
"Lo gak kenapa napa kan?" ucapnya
Melihat Arkan yang langsung senyum senyum gak jelas.
Kenapa nih orang.....
"Kalo gitu berarti Lo mau dong gue ajak nonton"
"Mmm keknya kali ini gue gak bisa banyak tugas kuliah numpuk soalnya"
"Gue pergi dulu yah dah..."
"Eh eh tunggu Lo mau kemana? Gue antar ya?"
"Gak usah gue bisa pergi sendiri."
Sudah berbalik arah melihat angkot yang akan dia naiki.
"Asik....akhirnya gue bisa temenan sama Yuli" ucapnya sambil mengepalkan tangan penuh kemenangan.
Semenjak dia melihat Yuli yang selalu menjawab pertanyaan yang diajukan dosen dikelas, Arkan memiliki rasa adanya ketertarikan dengan gadis itu bukan karena dia pintar tapi Yuli memiliki sisi berbeda yang tidak dimiliki perempuan kebanyakan.
Dia berusaha keras mendekati gadis itu namun selalu gagal,meminta bantuan adiknya pun percuma setelah mendengar saran dari Refan sepertinya tidak akan bisa mendapatkan hati Yuli dengan cara seperti itu.
"Menembak di depan umum... "jawabnya antusias
Mana mungkin gadis seperti Yuli langsung terkesima menerima pernyataan cinta dengan tawaran sebuah bucket bunga seperti remaja remaja di drama televisi.
Alhasil Yuli pasti akan mengatakan sorry...gue lagi buru buru dan langsung pergi meninggalkan pria yang sedang berlutut dihadapannya.
"Ah.." kembali sadar akan khayal pikirannya "ide Lo sama sekali gak bagus keknya fan...