Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Perdebatan



"Dih,amit amit gue naksir sama lo,ngeliat muka Lo tiap hari aja gue enek!" tegas Reyna berdiri memangku tangan didepan dadanya.


"Terus ngapain Lo ngajak gue kesini tadi, alah bilang aja Lo naksir sama gue kan? udah biasa gue dengar cewek yang nyatain cintanya langsung ke gue."


Reyna melangkahkan kakinya selangkah menuju Refan kini mereka saling bertatapan karena tubuh Refan yang lebih tinggi sedikit darinya membuatnya harus mendongak.


"Lo pasang kuping lo,dengerin gue ngomong, gue... minta balik novel gue dan asal Lo tau gue gak pernah kepikiran untuk naksir sama cowok aneh kek lo!!." tegasnya setelah itu langsung membalikkan badan,belum sempat melangkah pergelangan tangannya sudah digenggam paksa oleh Refan.


"Lo mau kemana? gue belum selesai ngomong,dan Lo denger juga baik baik kalo Lo mau novel itu gue kembaliin syaratnya Lo harus ngasih nomor handphone lo yang ASLI ke gue,!" tegasnya dan sedikit menekankan kata asli.


Reyna berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Refan


kini sudah berhasil melepaskannya kembali memberikan sorot mata tajam kepada laki laki didepannya.


"Buat apa sih nomor gue sama lo ha?!segitu ngebetnya Lo minta nomor gue,atau jangan jangan.. lo yang naksir sama gue,? memperlihatkan sudut bibir yang sedikit terangkat.


Reyna memang gadis yang lembut dan ramah akan tetapi dia bisa bersikap sesuai dengan tempatnya sesuai dengan perilaku orang terhadapnya ya seperti sekarang ini jika orang dihadapinya orang seperti Refan yang setau dia kasar dan suka berbuat semaunya tidak mungkin baginya untuk berbicara dengan nada yang lembut bisa bisa dia malah berbuat seenaknya pikirnya.


Mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan dari mulut gadis dihadapannya dia langsung tergelak ngakak "Haha gue?" menunjuk dirinya sendiri "suka sama lo" menunjuk Reyna.berjalan mundur diperhatikannya gadis itu lekat dari atas sampai bawah sambil berkata "Haha" tergelak lagi sementara Reyna hanya mengernyitkan dahi yang merasa dirinya sedang dihadapkan dengan orang kelainan jiwa.


"Lo itu,sama sekali bukan tipe gue!!"


***


Setelah saling menatap tajam dan adu mulut panjang lebar reyna masih belum berhasil meminta novel miliknya dia sudah kehabisan cara memutar otak Gimana cara menghadapi cowok aneh seperti ini.


"Haha gak suka katanya tapi maksa banget minta nomor gue,tapi masuk akal juga sih mana mungkin dia suka sama gue,"


"Haha" terdengar tawa cekikikan dari sekumpulan Genk Jenny yang baru saja masuk kelas.


Tiga orang itu memang selalu bergosip ria tebar pesona sembari saling pamer akun Instagram miliknya yang banyak difollow dan belum lagi di-like oleh cowok cowok ganteng.


Reyna sembari memperhatikan langkah mereka bertiga yang menuju kursi masing masing.


"Aha," langsung membulatkan bola matanya kenapa gue gak kepikiran sih, Jenny pasti tau gimana cara ngadapin cowok aneh itu,dengar dari Maya sih mereka sempat pacaran lumayan lama pasti dia udah paham sifat cowok gila itukan."yes akhirnya" menggenggam tangan penuh kemenangan senyum sumringah muncul diwajahnya.


Dert...dert..bunyi pesan masuk dari ponsel di kantongnya


*Yth....


Selamat siang Reyna Andini


Anda telah diterima memasuki masa training untuk bergabung dengan kami.


Diharapkan untuk datang pukul 3 sore dini hari dengan memakai seragam hitam putih.


Sekian dan terima kasih*.


Begitu pesan yang masuk dari cafe dimana tempat dia melamar pekerjaan.


Alhamdulillah,akhirnya diterima,


Terima kasih ya Allah terpancar jelas diwajahnya sangat bahagia.


Setelah pulang sekolah Reyna sudah memutuskan untuk menemui Jenny jadi begitu semua bersiap siap pulang dia ingin menanyai sesuatu kepada Jenny perihal Refan,untuk apa lagi kalau bukan demi novelnya.


"Din,maya lagi buru buru nih,maya duluan ya" membereskan buku dan alat tulisnya dengan cepat.


"Eh,iya,gak papa kok may,hati hati ya"


Kenapa waktunya bisa pas gini,ah yaudah deh udah jam 2 gue masih punya waktu satu jam buat siap siap ke cafe. "Eh Jenny mana? kok udah gak ada perasaan tadi masih ada deh,duh..gimana nih" langsung berlari secepat kilat menuju parkiran sekolah karena siapa tahu Jenny dan teman temannya masih berada disana.


"Cepat banget, yah... kalo gitu besok aja deh" segera memutar balikkan tubuhnya dan "uwaaaa" membuatnya kaget berteriak hampir terjatuh kebelakang karena sudah ada Refan yang tepat berada dihadapannya.


Dengan sigap dia menopang punggung gadis itu dengan tangannya.


Kedua mata mereka terbelalak lebar sambil bertatapan sadar dengan tangannya yang masih menopang tubuh Reyna segera dilepaskannya gadis itu dengan cepat.


Bug terduduk di tanah seperti buah mangga yang baru saja jatuh dari pohon.melihat ekspresi gadis itu Refan langsung tertawa ngakak.


"Haha..sorry tangan udah pegel" sambil mengibaskan tangan yang tadi menopang tubuh Reyna.


Reyna yang langsung bangkit menahan kesakitan sambil mengusap usap rok belakangnya berusaha tetap terlihat biasa saja didepan Refan karena dia tidak mau laki laki ini sampai tertawa lebih ngakak melihat dia kesakitan.


"Ngapain Lo disini,? muncul dari belakang tiba tiba kek setan," berusaha tetap tegar menyembunyikan sakit yang masih terasa dibokongnya.


"Ooo Lo ngikutin gue ya?"


"Dih,geer banget lo" ,langsung berjalan ke arah motornya yang sudah duduk dan memakai helm.


Sudah menghidupkan motornya


"Minggir,mau mati Lo?"


Reyna langsung menepi dari posisinya akan tetapi laki laki itu bukan langsung melaju malah berhenti tepat disampingnya.


"Berhubung gue masih berbaik hati , gue sih gak nawarin Lo ya jangan geer,naik cepetan sebelum gue berubah pikiran."


"Haha gausah sok baik Lo gue bisa pulang sendiri." jawabnya sedikit dengan tawa yang dibuat buat.


"Siapa juga yang mau nganterin Lo sampe rumah,geer banget Lo Haha" langsung ngakak melihat ekspresi gadis dihadapannya berubah seketika "Lo gue tumpangin cuma sampe gerbang doang, kalo gamau yaudah bye.." langsung melajukan sepeda motornya meninggalkan gadis itu sendiri.


Kini sekolah sudah terlihat sepi


hanya tinggal Reyna seorang diri dan penjaga sekolah yang terlihat sedang bersih bersih lingkungan sekolah.


"Loh neng kok belum pulang?" Tanyanya yang kebetulan berpapasan dengan Reyna saat berjalan menuju gerbang.


"Eh,iya pak ehm saya..saya tadi lagi kerja kelompok iya lagi kerja kelompok" jawabnya gagap "ini baru aja selesai hehe ehm..saya duluan ya pak" sembari menunduk kan sedikit kepalanya dan langsung keluar gerbang sekolah.


Setelah keluar dari gedung sekolah tadi Reyna berjalan setengah berlari sedikit mempercepat langkah kakinya kenapa gue gagap tadi ya kayak pencuri yang tertangkap basah aja ah terserahlah toh bapak itu juga gak tanda tanda banget sama gue. karena kali ini dia sedang buru buru,sembari melirik jam dipergelangan tangannya "duh...bisa telat gue nanti nih malah hari pertama kerja lagi bisa bisa langsung dipecat gue nanti aaaa.." kini dia berlari lebih cepat melihat angkot yang baru saja berhenti dinaiki seorang penumpang.


"Eh,Bang bang bang tunggu tunggu" memukul mukul angkot yang sudah mau melaju.


Untung saja sang supir melihat spion langsung menghentikan angkotnya karena melihat gadis di samping angkotnya yang sudah ngos ngos an.


Didalam angkot dia berusaha mengatur napasnya yang hampir habis karena berlari tadi ditambah sinar matahari yang terik seluruh tubuhnya dipenuhi keringat.


Aduh..mati gue..masa ke cafe pake baju sekolah gini. baru sadar dengan isi SMS dari cafe tadi.


Epilog:


Setelah Reyna keluar dari gerbang sekolah penjaga sekolah itu menatap bingung sambil menggaruk garuk belakang lehernya.


"Perasaan tadi di setiap kelas gak ada oranglah terus neng tadi kerja kelompok sama siapa?" Bingung sendiri seketika bulu kuduknya merinding sambil menatap sekeliling sekolah "jangan jangan..yang tadi bukan manusia."


kini kakinya sudah gemetaran


"keknya sekolah ini udah angker nih" menatap sekeliling hihihi takut langsung berlari entah arah kemana membawa sapu lidi yang dipegangnya.