
Disaat Reyna melangkah ke kanan pria itu juga kekanan begitu sebaliknya dia melangkah ke kiri pria itupun ke kiri yang membuatnya gusar.
"Minggir..." ujarnya setelah menghembuskan nafas dalam.
"Enggak" jawabnya tegas.
Semua mata memandangi mereka yang saling berhadapan Refan menghadang jalan gadis didepannya.
Reyna melihat sekelilingnya melirik banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Bukan,mereka sedang memperhatikan Refan,apa yang akan dilakukan cowok yang menjadi idola disekolah itu kepada Reyna.
Apasih maunya nih orang?
"Mau Lo apasih?"
Membelalakkan kedua bola matanya melotot dan giginya yang sudah rapat menahan geram.
"Gua lagi ngasih kesempatan buat Lo ngomong" Jawabnya santai dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana.
"Emang gua mau bilang apaan?" Tidak tau maksud dari pembicaraan pria dihadapannya.
"Yang tadi pagi,ditelfon."
"Gak ada yang mau gua omongin sama lo!"
Dengan cepat menghentakkan sepatunya tepat diatas sepatu pria dihadapannya
Kemudian langsung beranjak.
Meskipun kakinya sedikit kesakitan tangan panjang Refan berhasil menjangkau rambut gadis itu yang membuat kuciran rambutnya terlepas.
"Iiihhh nyebelin banget sih Lo jadi cowok!!!"
Berteriak marah tapi karena banyak mata yang melihat dia langsung beranjak dari tempat itu berlari,karena dari tadi mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Terdengar bisik bisik gosip dari mulut orang yang berada disekitarnya yang sedang berlari menyusuri lorong sekolah itu.
"Eh gue tadi gak salah lihatkan?
Cewek itu berani banget nginjek kaki Refan"
"Iya iya gue juga lihat terus dia berteriak sama Refan kalo gak salah denger tadi nyebelin katanya."
"Iya bener.dia siapa sih? kok gue kayaknya baru lihat tuh cewek disekolah ini."
Tak ketinggalan kini adik kelas pun turut bergosip.
"Ya iyalah Lo pada jarang lihat dia,dia itu anak baru kelas 12 ipa 1"
Sahut teman disebelahnya.
"Ooh...anak baru pantesan baru kelihatan." sambungnya sembari menganggukan kepala.
Sebenarnya Reyna sudah cukup lama berada disekolah ini hanya saja karena dia lebih sering menghabiskan waktu jam istirahat didalam kelas jadi tidak terlalu banyak siswa yang mengenalnya.
"Tapi dia sama kak Refan kok bisa sedekat itu ya? Mereka pacaran?
ASTAGA,Baru gue mau gebet kakak kelas yang ganteng itu eh udah diembat sama cewek lain" hiks... hiks...
kedua teman disampingnya menepuk bahunya pelan seraya berkata
"Yang sabar beb bukan Lo aja kok yang patah hati,gue juga huhuh."
Reyna berlari menuju toilet mencuci wajahnya di wastafel masih tersisa sedikit rasa jengkel disana,berusaha mengendalikannya dan meredamnya dia orang yang cukup pandai mengontrol emosi.
Berjalan dengan cepat menuju kelas rambut lurus yang terburai rapi dibiarkannya begitu saja.
"Loh kuciran rambut dini kok dilepas?"
tanya Maya heran.
"Iya,tadi karetnya putus dan gue gak punya ikat rambut lain." berbicara santai seolah tidak terjadi apapun.
"Tapi kalo dilihat lihat dini lebih cantik kayak gini."
"Apaansih may...sebenarnya reyna kegerahan tau."
Maya dan beberapa orang yang tadi dikelas tidak mengetahui perihal kejadian itu.
"Yaampun reyn..Lo baru turun dari khayangan ?"
Decak Chandra kagum seperti baru melihat bidadari turun menatap Reyna.
"Suer dah...makin cantik Lo lama lama.
Lo udah punya pacar belum?" Tersenyum lebar.
"Udah." Sambung Refan yang entah dari kapan berdiri didepan pintu kelas.
Reyna yang mendengar itu langsung kaget.
"Haha pasti Lo bilang kalo Lo pacarnya ya kan?" Haha lucu Lo fan."
"Emang gue pacarnya kenapa?"
menyilangkan tangan didepan dada bidangnya.
Semua yang mendengar dan melihat kejadian itu langsung menatap tak percaya mengangakan mulut mereka lebar
"Haha udah fan cukup Lo jangan ngelawak lagi deh...cukup kang sule aja yang jadi pelawak."
Masih tergelak seperti mendengar lelucon dari pelawak handal.
"Kalian semua yang disini dengarin gue,
gue mau ngasih pengumuman penting bahwa gue sama reyna hari ini resmi berpacaran." pidato sang Refan.
Semua mata terkejut sekaligus merasa patah hati yang kedua kali setelah Jenny yang berhasil menjadi pacarnya kini digantikan dengan Reyna yang sama sekali tidak pernah terlihat dekat dengannya.
Bahkan mereka tidak pernah melihat dua orang itu mengobrol.
Reyna pun masih dibuat terkejut dengan kata kata Refan yang ditujukan kepada seisi kelas ibarat menyampaikan sebuah pidato penting harus diketahui oleh semua orang.
Gila ya tuh orang
Tuhan...ujian apalagi ini
***
"Ayo naik cepat!."
ucapnya yang terdengar seperti perintah.
"Enggak! gue mau naik angkot."
"Lo gak bisa nolak,kalo gue suruh naik ya naik."
"Kenapa gue gak bisa nolak,lo pikir lo siapa bisa merintah orang seenak lo!!"
"Karena gue pacar lo."
"Gue gak pernah mau jadi pacarlo jadi Lo jangan maksa maksa gue!"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa Lo gak mau jadi pacar gue?"
"Karena, pertama lo cowok aneh,kedua Lo nyebelin,ketiga songong." Tegasnya berturut sambil menunjukkan jarinya seraya menghitung.
"Oke.."turun dari motornya
Tercipta keheningan di antara keduanya,reyna segera melangkah beranjak dari tempat itu.
Tapi Refan justru malah mengikutinya mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.
Gadis itu berhenti menghembuskan nafas pelan lalu memutar kepalanya kearah pria disampingnya.
"Lo kenapa ngikutin gue!"
"Gue gak ngikutin lo,gue mau pulang"
jawabnya santai.
"astaga,...motorlo kan disitu"
menunjuk kendaraan yang terparkir disana.
"Gue mau ikut naik angkot."
Astaga ini manusia otaknya terbuat dari apasih...
"Lo gila ya...Lo bawa motor ngapain Lo naik angkot?"
"Kalo gue bawa motor kenapa Lo harus naik angkot?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Reyna semakin dibuat kesal dengan tingkah aneh pria dihadapannya menatap tak percaya.
berdebat panjang lebar yang tak ada habisnya setiap pertanyaan yang dia lontarkan dengan kesal justru pria dihadapannya kembali bertanya dengan santainya.
"Cepetan naik" kembali menaiki kendaraan yang tadi ditinggalnya.
Reyna sudah merasakan kesal yang teramat,tapi dia pun tidak tau harus melakukan apa.
Menonjok pria didepannya ini sampai pingsan atau lari secepat mungkin tapi rasanya itu gak mungkin pasti dia bakal kalah telak sama laki laki ini melihat dari postur badannya dan dengar dengar dia juga jago bela diri.
Akhirnya dengan berat hati dia naik keatas motor itu duduk menyamping sementara Refan tampak sangat senang seyum lebar dibibirnya.
Semua mata memandang mereka keluar menuju gerbang sekolah dengan tatapan iri merasa bahwa Reyna gadis yang sangat beruntung bisa jadi pacar laki laki setampan Refan.
Dari kejauhan Jenny memandangi tampak cemas dan risau bukan karena Refan,justru yang menjadi masalahnya adalah sekarang Reyna ,Reyna Andini.
batinnya.
Menyusuri setiap jalanan ibukota yang dipadati kendaraan para pengendara motor ataupun mobil
Cuaca terik matahari menyengat para pengguna jalan raya Refan tampak sangat bahagia fokus mengendarai motornya sementara Reyna memasang raut wajah yang sudah sangat kesal dari sepanjang perjalanan tadi.
Berhenti disalah satu restoran yang cukup terkenal di kota itu.
Reyna memandang sekeliling bukan ini tempat yang akan ditujunya.
"Lo mau berdiri sampe kapan disitu..." ucap Refan yang sudah berjalan lebih dulu
"Gue bukan mau ketempat ini ****!"
"Perut gue minta kesini.ayo masuk"
Menarik tangan Reyna
"Enggak,gue disini aja" menepisnya
"Masuk!"
"Enggak!"
"Kalo Lo gak masuk gue cium Lo disini!"
Perkataan Refan terdengar sangat serius membuat Reyna terkejut sekaligus takut bagaimana kalo Refan benar melakukan itu.
dari pada meladeni perdebatan dengan cowok gila ini terus dia lebih memilih masuk saja mengikuti langkah Refan.
Didepan pintu mereka disambut ramah oleh para pelayan restoran.
Langsung masuk dan duduk di kursi yang masih kosong.
Membolak balik menu
"Lo mau makan apa?" Ucapnya
Menggeleng "gue gak makan."
"Gue gak punya banyak waktu cepat pesan!."
"Gue gak laper, dan gue gak mau makan."
"Mbak jam segini biasanya sudah waktunya makan siang kan?"
Bertanya kepada pelayan dihadapan mereka sembari menunjukkan jam ditangannya.
"Masa katanya dia gak laper."
"Mbak sini",ujar reyna pelan membuat pelayan itu sedikit menundukkan kepalanya.sementara Refan mengkerutnya dahinya heran.
"Cowok yang didepan saya ini memang sedikit gak waras jadi gak usah diladeni mbak,mbak bawakan pesanan dia aja kesini,ntar kalo lama lama dia bisa berubah jadi singa Lo" bisiknya serius
Pelayan restoran itu langsung terkejut mengerjakan kelopak matanya.
"Masa ada sih orang gila berpenampilan keren begini tampan lagi" gumamnya.
Pelayan itu hanya diam tapi dipikirannya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu.
Tak perlu menunggu lama pelayan restoran itu membawakan hidangan yang tadi dipesan Refan.
Sembari menyantap hidangannya dia memanggil pelayan yang tadi.
"Mbak kok pesanannya lama banget tadi dia pesan apa?"
"Maaf mas,mbaknya tadi tidak pesan apa apa."
Diliriknya jam yang ada ditangannya.
Makanan dipiringnya sisa sesuap lagi.
"A' "katanya sambil membuka mulut menyodorkan sendok yang berisi sesuap nasi dan lauk.
"Enggak, apaansih Lo."
"Buka mulut Lo siapa suruh Lo gak mesan tadi."
"Harus berapa kali gue bilang sama lo gue gak laper."
"Buka mulut Lo!"
"Enggak."
"Buka!"
"Gak!"
"Atau gue akan...
Langsung menerima suapan Refan mengunyah dengan cepat dan menelannya.
"Nih minum."
Tidak mau berdebat lagi karena pasti dia akan mengulangi kalimat yang dikatakannya saat didepan resto tadi.
"Gila...makan,minum dua duanya bekas dia bisa kena penyakit gue nih."