Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Nomor palsu



"Bang,kiri.."berteriak setengah keras membuat angkot yang dinaikinya seketika berjalan menepi dan berhenti.setelah angkot berhenti Reyna langsung turun dan memberikan ongkosnya kepada supir angkot tersebut.lalu berjalan menyusuri jalan yang udara masih terasa sejuk dan segar ditambah dengan tanaman dan pepohonan rindang yang asri yang masih berdiri kokoh yang tidak jauh dari sekolahnya.


Ngengg...sebuah motor sport melaju dengan kencang membelah jalan yang sudah dipadati dengan lalu lintas kendaraan,hanya butuh beberapa menit bagi Refan untuk sampai ke sekolah dengan menggunakan motor sport miliknya.


Melihat siapa yang berjalan di pinggir jalan dengan rambut yang terkucir rapi seperti biasanya dia langsung mengenali gadis tersebut walau hanya dari belakang,seketika mengurangi kecepatan sepeda motornya dan menghentikannya tepat dihadapan gadis itu yang membuat jalannya terhalang.


Ngapain dia berhenti disini? Menghela nafas sepertinya gue akan ketimpa sial lagi hari ini,masih pagi gue udah ketemu dia disini.


Walaupun memang biasanya setiap hari mereka bertemu tapi akan menjadi peristiwa yang sial bagi Reyna jika bertemu Refan bermula kejadian itu,kejadian dimana Refan mengambil paksa novel miliknya yang sampai saat ini masih bersama laki laki itu.


"Lo masih ingat kesepakatan kita kan,kalo Lo masih ngulur ngulur waktu,?jangan salahkan gue,gak tau nanti novel itu masih ada apa enggak."


Langsung pergi melajukan motornya memasuki gerbang sekolah sementara yang dipikiran Reyna memaki dan mengutuk Refan yang sudah berlalu darinya satu satunya yang dipikirkannya adalah gimana caranya mengambil novelnya kembali tanpa harus memberikan nomor ponselnya.


***


"Sejauh apa Lo udah deketin Reyna" tanya Reza yang sambil menyantap sepiring nasi goreng kantin dihadapannya.


Dari kejauhan terlihat Chandra yang sibuk menjahili adik kelasnya dengan ketawa khas yang terukir diwajahnya.


"Lo liat aja nanti,bakal gue taklukin tuh cewek" sembari senyum tipis diwajahnya.


"Gue suka sama sifat Lo yang percaya diri kegini fan,"menepuk bahu Refan dan mendekatkan wajahnya "tapi..Lo gak pake pelet atau semacamnya kan buat ngedeketin Reyna."


Langsung menepis tangan Reza dari bahunya


"Cih,lo pikir gue yang bakal ngemis cinta ke dia,lagian hari gini Lo masih percaya hal hal begituan,sana cuci gih otaklo biar bisa mikir yang jernih."


Kantin yang dipenuhi dengan manusia perut keroncongan membuat ruang kelas kini menjadi sepi hanya duduk sambil membolak balikan lembaran demi lembaran buku di atas meja hari ini Maya tidak masuk sekolah karena sakit beritahu salah seorang teman sekelasnya tadi dia merasa kesepian tanpa kehadiran Maya yang biasannya akan selalu bercerita hal hal lucu kepadanya Reyna berniat ingin menjenguknya tapi kembali mengurungkan niatnya karena dia tidak tahu dimana keberadaan rumah Maya ditambah dia masih belum terlalu hafal jalanan di kota ini.


Kembali terbersit di kepalanya tentang novelnya


Dipandangnya seisi ruang kelas kosong tidak ada seorang pun


Kenapa gue gak kepikiran dari tadi sih,ngapain juga gue harus minta susah payah,novel itu kan milik gue gak masalah dong kalo gue ambil sendiri.


Dengan sigap dia menuju kursi belakang mendapati tas Refan segera mencari novel miliknya


"Mana sih kok gak ada,,..." mengangkat buku buku yang hanya ada beberapa buku tulis didalamya.


"Mau jadi maling Lo sekarang?"terdengar suara dari belakang yang membuat dirinya tersentak kaget


"Enak aja Lo ngatain gue maling,lo tuh yang maling,mana novel gue?dimana Lo sembunyiin?"


"Jadi apa namanya kalo bukan maling ,membuka tas orang tanpa seizin pemiliknya?" Membalas kembali pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Reyna


"Gue nyari novel milik gue sendiri, itu bukan maling namanya karena gue nyari benda milik gue sendiri !" Merasa bahwa tindakan yang dilakukannya tidaklah salah


"Oke,kalo gitu Lo ikut gue pulang sekolah nanti,gue bakalan ngasih novel milik Lo."


Cih,rencana apalagi ini dipikirnya gue bakalan percaya dengan semudah itu apa?!


Tenang Reyna Lo gak sebodoh itu.


"Hmm...."


"Enggak.gue ga mau."


"Kalo gitu kita balik ke kesepakatan pertama."


"Kita?kesepakatan kita?kita apanya,jelas jelas dia sendiri yang buat kesepakatan kekgitu."


Diambilnya sebuah kertas dan pulpen yang masih terletak di atas mejanya menuliskan beberapa digit angka.


"Nih..puaslo!"diberikannya kertas itu kepada Refan "sekarang mana novel gue?"


"Akhirnya Lo nyerah juga" seringai tipis muncul diwajahnya.


"Novel Lo ada gue tinggal dirumah males gue bawanya yang ada malah bikin tas gue makin berat.


Apa?! Sialan nih cowok benar benar ngerjain gue, Haha untung aja ,gue gak ngasih nomor ponsel gue beneran tadi.


"Lo bawa aja besok,gampangkan ngapain gue mesti ikut kerumah Lo segala."


"Yaudah deh terserah Lo."


Memasukkan kertas yang tadi diberikan Reyna kedalam saku bajunya dan menyingkir dari hadapan gadis itu.


***


Beberapa hari yang lalu Reyna sudah memutuskan untuk melamar pekerjaan disebuah tempat untuk kerja part time


Yang sudah dia persiapkan tanpa sepengetahuan kakaknya.


Dia berniat akan mengantarkan lamarannya hari ini setelah pulang sekolah.


Sampailah dia disebuah cafe yang sedang membuka lowongan pekerjaan


Selama 30 menit sudah dia didalam cafe tersebut menyerahkan lamaran sekaligus interview yang diakhiri dengan jabat tangan oleh HRD tersebut


Kami akan menghubungi Anda nanti begitu kalimat terakhir yang disampaikannya kepada Reyna


"Terima kasih pak" sambil membungkukkan sedikit kepalanya dan langsung menuju pintu keluar cafe tersebut.


Sudah sampai dirumah membaringkan badannya di atas tempat tidur mengangkat lengannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya


udah jam 5 sore...


Langsung buru buru ganti baju dan pergi ke kamar mandi


Memang biasanya jam segini hanya ada dia dirumah karena kak Yuli selepas pulang kuliah harus bekerja.


Refan yang baru saja selesai mandi terlihat berjalan telanjang dada yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang proporsional ditambah dengan kulitnya yang putih bersih itu di kamarnya sambil menggosok gosokan handuk yang ada di kepalanya menuju sebuah meja.


Cih,Apasih istimewanya Lo mengambil dan meletakkan kembali buku yang barusan dipegangnya.


Klek..terdengar suara pintu kamarnya terbuka dilihatnya siapa yang masuk dengan seenaknya dengan menunjukkan wajah yang tentu tidak senang.


Arkan yang kini sudah duduk membantingakan dirinya diatas kasur empuk itu


Fan,ikut gue yuk?


Kita senang senang diluar


Tak menggubris langsung memasangkan earphone di kedua telinganya


Fan? Mencabut benda yang terpasang ditelinga Refan


Kalo Lo mau pergi,pergi aja sendiri! Gausah bawa bawa gue dan jangan ganggu kehidupan gue!


Lo tau kan gue yang ditugaskan sama papa Mama buat..


Buat apa? Langsung memotong kalimat yang belum diselesaikan Arkan buat ngejagain gue?


Cih,lo jaga diri Lo sendiri aja gak becus! Sok sok an mau ngejagain gue lagi.kenapa?Lo marah gue bilang kenyataanya,berhenti Lo pura pura di depan Mama sama papa yang berlagak seolah olah jadi kakak yang baik dan tanggung jawab.


Emang kenapa kalo gue ngomong kegitu sama Mama sama papa ha?!sebuah pukulan keras sudah mendarat di wajah Refan membuat sudut bibirnya sedikit berdarah


Mengusap sudut bibirnya yang terasa nyeri dan siap membalas hal yang sama seperti yang dilakukan Arkan


Terjadi perkelahian diantara kakak beradik itu dengan posisi kamar yang sudah berantakan


Berhenti!!!!terdengar suara teriakan keras membuat mereka terhenti satu sama lain.


Ntah dari kapan laki laki yang sudah terlihat lebih tua dari Arkan itu datang dengan postur tubuh yang masih terlihat gagah dengan setelan jas ditubuhnya.