
"Halo Jen gue sama mona otw kerumah Lo nih.."
Terdengar suara dari hp Jenny
"Gak usah... jawabnya Lo bedua pergi aja gue gak ikut ada urusan"
"Loh...kemarin Lo kan bilang ikut."
"Gak jadi gue ada urusan mendadak udah ya bye" langsung memutuskan sambungan telepon.
***
Merebahkan dirinya diatas kasur cukup lama kemudian mengambil handphonenya mengetikkan sesuatu disana.
***
Ting..
Bunyi pesan masuk
"Hari ini gue mau ketemu di cafe xx jam 12 ada yang mau gue omongin."
Melihat pesan yang masuk laki laki itu langsung bersiap siap tak butuh waktu lama sudah terlihat rapi dan segera mengambil mobil yang ada di garasi menuju cafe yang ada di tulisan chat tadi.
Sampailah ditempat tujuannya sudah duduk disalah satu kursi dan meja yang bernomor itu dengan segelas jus jeruk dihadapannya yang dari tadi belum dia sentuh sama sekali sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali melirik jam tangan beberapa menit dia menunggu datanglah seorang wanita dengan setelan skinny jeans dan atasan off shoulder blouse yang sangat cocok dengan tubuh rampingnya ditambah sneakers yang berwarna cerah datang mendekati arah meja dan duduk disebuah kursi kosong tepat dihadapan Reza
"Sorry ya Lo udah lama nunggu?"
Ucapnya
"Belum lama kok" jawabnya
"Oke gue mau omongin apa rencana gue selanjutnya karena sepertinya Lo gak bisa nanganin ini sendiri tapi Lo tenang aja gue bakalan tetap nepatin janji gue kalo rencana ini berhasil."
Terjadi percakapan panjang lebar serius diantara keduanya sampai akhirnya Reza yang mengatakan
"Lo tenang aja Jen gue bakalan pastiin rencana ini berhasil gue yakin."
***
Suara ketukan pintu yang terdengar membuat pintu itu terbuka
"eh Refan"
"Iya kak Reyna nya ada?"
"Ada mari masuk"
"Siapa kak?" Ucap Reyna
"Refan" jawabnya
"Ha?" Langsung menghampiri menarik tangan laki laki itu keluar rumah
"Ngapain ko kesini lagi gue kan udah bilang Lo jangan pernah datang kesini lagi."
Melirik kedalam rumah "kak saya boleh datang kesini kan?"
Kak Yuli yang dibuat heran dengan pertanyaan Refan "ya,boleh dong.."
"Tuh gue udah dapat restu dari kakak Lo"
"What? Restu? Restu apasih yang lo bilang,gue gak mau tau pokoknya Lo cepetan pergi dari sini sekarang." mendorong tubuh Refan namun dia menahan keras
"Lo gak ada sopan sopannya ya sama tamu masa orang datang Lo usir"
"Gue gak perlu kedatangan tamu kayak Lo."
"Kenapa?" Ujarnya
"Kenapa apanya ?" heran
"Kenapa Lo gak masuk sekolah?"
"Lo sakit ya ini kan hari minggu,mana ada orang sekolah hari gini"
"Nah...justru itu makanya gue kesini siapa suruh Lo gak datang ke sekolah.."
"Eh manusia gila Lo aja yang datang ke sekolah sana!"
"Tadi gue udah datang sekolahnya tutup makanya gue kesini" menjawab datar.
"Oh jadi tadi Lo ke sekolah Haha" memangku tangannya meladeni ucapan Refan barusan tau bahwa apa yang dikatakan laki laki ini barusan hanyalah omong kosong belaka
"Mmm" angguk angguk "gue kasih saran sama lo kalo hari Minggu dilarang bertamu karena semalam tetangga gue ngelakuin kayak gitu eh besoknya udah gak ada."
"Seriusan Lo?" kaget.
"Iya makanya Lo pulang sekarang"
Meyakinkan
"Kak Yul?" teriaknya kedalam rumah namun mulutnya langsung ditutup Reyna
"Apaan sih Lo ngapain manggil kak Yuli"
Menurunkan tangan Reyna
"Lo pikir gue **** mana ada tahayul begituan."
"Oke kalo gitu gue mau nanya sama lo ada tujuan apa Lo datang kesini?"
"Mmm ngapain ya" melangkahkan kaki berjalan keliling melihat kanan kiri tampak seperti orang yang sedang berpikir "mau nemuin Lo mungkin" menatap bola mata Reyna.
"Haha kurang kerjaan banget hidup Lo mendingan Lo pergi deh gue gak ada waktu buat ketemuan sama lo" tertawa puas.
"Eh Lo jangan sembarangan ngomong ya enak aja Lo bilang gue kurang kerjaan"
Gue sendiri pun gatau kenapa gue bisa datang kesini
"Kalo Lo gak mau pergi yaudah deh terserah..." langsung membalikkan badan masuk kedalam rumah sementara Refan malah duduk di kursi yang terletak di teras rumah itu.
Beberapa menit kemudian
"Kak dini berangkat dulu ya dah.."
"Iya hati hati"
"Loh...Lo kok masih disini?"
"Emang gue kemana?"
"Ah terserah Lo deh capek gue ngeladenin Lo" berjalan meninggalkan Refan
Dengan sigap dia menyalakan motornya dan mengejar Reyna sebelum dia langsung naik angkot
"Naik cepetan" ucapnya
"Enggak!"
"Enggak! Gue gak mau naik motor Lo!"
"Eh dengar ya Lo itu sekarang pacar gue jadi kalo mau kemana mana Lo harus sama gue!"
"Gue gak mau! Dan Lo dengar sekali lagi kalo gue bukan pacar lo!!" jawabnya tegas.
"Semua orang udah tau kalo Lo pacar gue."
"Siapa yang nyuruh Lo ngasih tau semua orang yang jelas gue gak mau titik."
"Kenapa sih Lo susah banget disuruh naik motor doang"...
"Lo kenapa sih maksa banget buat naik motor Lo kalo Lo pengen ada orang yang dibonceng kenapa gak jadi tukang ojek aja sekalian biar Lo ada kerjaan selain gangguin orang."
"Yaudah Lo anggap aja Lo lagi naik ojek cepetan naik" ucapnya
"Gue lagi gak mau naik ojek tuh
Gue mau naik angkot."
"Jangan bilang kalo Lo mau gue supaya narik angkot."
"Boleh juga kalo Lo mau Haha..." tertawa puas dengan apa yang diucapkannya sendiri barusan.
"Gue hitung sampe tiga kalo Lo gak naik juga gue bakalan...
"Bakalan apa? Nyium gue ? Iya coba aja kalo berani gue bakalan teriak kalo Lo tukang cabul dasar mesum!!"
"Gue bakalan gendong Lo naik keatas motor gue."
"Coba aja kalo berani haha..."
Satu........ mulai menghitung dua......... ti...dua setengah....... sementara Reyna masih diam tak menghiraukannya. Tiga.
Dan Refan langsung turun dari motornya dengan sigap dia menggendong Reyna meletakkannnya di jok belakang motor tersebut
Reyna yang tampak terkejut melihat apa yang dilakukan laki laki itu hanya diam kemudian refan duduk dan menyalakan motornya kembali.
Sementara Reyna masih dengan jantung yang berdegup kencang mengingat kejadian tadi tak percaya dengan apa yang terjadi barusan ternyata laki laki ini tidak main main dengan apa yang diucapkannya.
Karena masih dalam masa training Reyna belum mendapatkan jadwal cutinya jadi dia harus tetap bekerja walau akhir pekan sekalipun.
Sudah sampai didepan cafe dia langsung turun dan masih berdiri menatap pria itu.
"Gue mohon sama lo ini terakhir kalinya Lo jangan pernah datang lagi kerumah gue dan jangan pernah kesini lagi dengar dan makasih karena lo udah mau ngantar gue" sudah mau beranjak pergi segera membalikkan badannya lagi
"Oh iya tadi Lo bilang Lo tukang ojek nih ongkos gue"
memberikan uang kepada Refan.
Pria itu menatap uang yang ada ditangan gadis itu seraya mengatakan
"Kurang"
"Ha? Eh ini udah lebih kali biasanya gue naik ojek gak segini tau."
"Lo gak inget, tadi kan lo gue gendong itu jasa service nya aja mahal."
"gue kan gak minta digendong...
Yaudah deh...emang berapa?"
"Serius Lo mau bayar?"
Tersenyum tipis.
"Lo jangan mikir yang aneh aneh ya" sedikit mundur.
Menarik tangan Reyna maju satu langkah "emang gue mikir apaan?"
"Yaudah gini aja deh nanti pas gue gajian pasti gue bayar Lo tenang aja."
Malah bernegosiasi.
"Gue mau bayarannya sekarang."
"Ya gu, gue gak ada uang."
"Lo bayarnya gak usah pake uang."
"Jadi pake apaan?" Mundur selangkah
Refan pun melangkah kan kakinya maju kehadapan Reyna selangkah
"Lo jangan protes apapun lagi sama gue,lo harus ngelakuin apapun yang gue mau APAPUN" tegasnya.
Terlihat Reyna berpikir sejenak
pasti ini cowok banyak maunya nih gue harus cari akal nih supaya gue gak di kerjain sama dia.
"Oke,selagi itu masih hal yang masuk akal dan masih bisa gue lakuin gue bakal nurutin apapun."
kemudian segera membalikkan badan.
"Eh tunggu,"
"Apaan?" membalikkan badan malas
"Bilang sesuatu dulu"
"Bilang apaan?"
"Ya terserah Lo"
"Yaudah gue masuk dulu dah..."
"Tunggu,belum lengkap."
"Belum lengkap? Belum lengkap gimana maksud Lo?"
"Ck ck ck berdecak kayaknya Lo harus banyak belajar dari gue
bilang sayang,dah sayang gitu."
"Ha?" Kaget
"Cepat,oh jadi Lo gak mau?"
Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan "dah sayang" ucapnya datar.
"Senyum dong sayang" ucap Refan
Segera menuruti dengan senyum lebar yang dibuat buat karena malas berdebat panjang lebar lagi.
Segera melangkah dengan cepat kedalam cafe.
"Haha dasar cewek batu.."