
Dini,begitulah panggilan namanya untuk orang yang sudah dekat dengannya dia lebih suka dipanggil dini karena orang tuanya dari kecil sudah memanggilnya begitu tapi dia tidak mempermasalahkan jika orang memanggil menggunakan nama depannya
"Ternyata kelihatan,"melepas dan melipat kembali celana yang tadi baru saja dicobanya
"Yang mana ya?" gumam gumam
Memandangi beberapa pakaian dilemari yang tidak seberapa banyak
Yang ini aja deh mengambil dan langsung memakainya kaos berlengan pendek dengan celana panjang berbahan katun sedikit longgar yang nyaman dipakai
Sengaja memilih celana panjang longgar untuk menutupi perban di lututnya
"Kalau kak Yuli ngelihat lutut ini dia bisa khawatir nanti Untung aja bisa ketutup sama celana ini"
Dilemari pakaiannya hanya ada beberapa celana panjang seperti jeans yang biasa dipakai oleh dia dan kakaknya karena ukuran badan mereka yang hampir sama,untuk dirumah saja tidak mungkin pakai celana jeans kan pikirnya
Dia sedikit bingung dengan celana apa yang akan dipakainya karena dia hanya memiliki beberapa celana pendek dan gantung yang hanya ukuran selutut bukan karena mau pergi menghadiri sebuah acara namun untuk menutupi luka yang ada di lututnya
Setelah memastikan pakaiannya pas dan tidak akan membuat kak Yuli curiga
dia keluar dari kamar mendapati kakaknya yang sedang mengutak-atik laptop dihadapannya yang mungkin sedang mengerjakan tugas kuliah.
Kedapur dan sudah kembali menghampiri kakaknya yang sudah ada sepiring makanan dan segelas air ditangannya
"Kak Yul,kakak makan dulu gih"
Meletakkan piring dan gelas yang tadi dipegangnya disampingnya laptop
"Kamu tau aja kakak lagi laper,kamu udah makan?"
"Dini udah makan kok kak."
"Habisnya dari tadi dini perhatiin kakak belum ada makan.
Kakak terlalu fokus ngerjain tugasnya sih sampai lupa makan makanya dini bawain kesini"
"Uuuh adik kakak yang baik,perhatiannya.." sambil mengelus kepala Reyna
"Kak makasih ya dini beruntung banget punya kakak seperti kak yuli,dini bangga punya kak Yuli,perhatian,baik,pinter..
Dini janji dini akan sekolah dan belajar yang rajin biar bisa kuliah nanti dapat beasiswa seperti kak Yuli "
Mencubit hidung adiknya gemas
"Kakak juga senang banget punya adik kaya kamu din.."
"Kakak mau bikin orang tua kita bangga kakak mau papa,mama,paman dan bibi bangga sama kita makanya kakak belajar berusaha mencapai apa yang kakak cita cita kan dan kamu juga harus sekolah dan belajar yang rajin untuk ngejar impian dan cita cita kamu"
"Iya kak dini janji dini gak akan ngecewain orang sangat dini sayangi dini akan berusaha mencapai apa yang dini inginkan"
Memeluk kakaknya erat dengan pelukan kasih sayang.
Kakak beradik yang begitu hangat,saling pengertian dan perhatian satu sama lain
Refan dan keluarganya sedang menikmati makan malam mereka dengan tenang dan khidmat
Disebuah rumah yang besar dan cukup terbilang mewah disalah satu perkotaan ditempati oleh Refan dan keluarganya yang hanya ada kedua orang tuanya dan kakak laki lakinya Arkan ditambah dengan Refan dan beberapa asisten rumah tangga
"Arkan,refan" menyebut nama kedua anak mereka sambil melihat wajahnya satu persatu yang sedang melahap makanannya "papa dan Mama besok akan pergi ke luar negri untuk urusan bisnis semua yang kalian butuhkan sudah mama persiapkan jika ada apa apa telfon papa atau mama Refan Mama harap kamu gak akan ngelakuin hal yang aneh aneh selama Mama dan papa pergi dan Arkan Mama harap kamu bisa menjaga adik kamu dengan baik."
"Mama sama papa tenang aja Arkan bakal ngejagain Refan dengan baik,refan sudah besar sekarang mah,dia gak akan ngelakuin hal bocah kek dulu ya gak fan?"
"Fan kamu mau kemana?"
Melihat anaknya yang langsung berdiri memundurkan kursinya langsung bertanya
"Refan udah selesai ma,refan mau kekamar ngerjain tugas sekolah"
Langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya sementara yang masih dimeja makan hanya terus melanjutkan aktivitas mereka
"Tuh kan Mama tenang aja Refan udah berubah sekarang dia tau kalau dia udah besar dan dia bisa berpikir mana yang benar dan mana yang salah"
Wanita yang dipanggil Mama itu hanya mengangguk kan kepalanya "Mama harap kamu bisa menjaga dan membimbing adik kamu."
'Iya mah,mama tenang aja"
Dikamar yang tadi katanya mau ngerjain tugas ternyata sedang mengutak-atik ponselnya dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya
Klek...pintu kamar Refan sudah terbuka dilihatnya siapa yang masuk datang mendekatinya yang sedang duduk ditempat tidur ikut duduk disampingnya
Melihat wanita itu terus menatapnya dia melepaskan benda yang terpasang di telinganya karena sudah tahu pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan mamanya
Tadi katanya mau ngerjain tugas?" bertanya sambil mengelus kepala refan
"Udah selesai ma" menjawab singkat
"Kamu sudah besar sekarang kamu pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk buat kamu Mama sama papa sangat menyayangi kalian berdua Mama tahu kenapa kamu selalu buat ulah dulu disekolah karena Mama sama papa kurang memperhatikan kamu dan sekarang Mama harap kamu ngerti kenapa mama dan papa seperti ini,semua yang papa dan Mama lakuin demi kamu dan Arkan,mama harap kamu mengerti itu fan.."
Mamanya sudah mengatakan semua apa yang ingin dia disampaikan kepada Refan sementara Refan hanya diam mendengarkan tidak tahu harus mengatakan apa karena baginya papa dan mamanya dari dulu sampai sekarang tetap sama,yang hanya mementingkan pekerjaan dan kesibukan mereka yang membuatnya merasa dirinya kurang kasih sayang itulah sebabnya dia menjadi orang yang dingin dan lebih memilih menghabiskan waktunya di luar bersama teman temannya dari pada dirumahnya sendiri
Kakaknya Arkan pun begitu didepan orang tuanya dia berkata bahwa akan menjaga adiknya tapi kenyataanya tidak sama sekali.
Arkan lebih suka clubing,ngumpul ngumpul bersama temannya hingga pulang larut malam terkadang dalam keadaan setengah sadar.
Kedua orang tuanya tidak pernah mengetahui apa yang dilakukan anaknya selain sekolah.
Melihat kakaknya begitu Refan sangat membencinya karena dia tidak pernah membuktikan apa yang diucapkannya kepada kedua orang tuanya akan tetapi dia tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya dihadapan kedua orang tuanya dengan tindakan.
"Gue jamin Lo bakal naksir sama gue!" Kalimat yang masih terngiang di ingatannya tentang kejadian di atap sekolah.
"Gak mungkin gak mungkin gak mungkin" berteriak dalam hati sambil menepuk nepuk kedua pipinya
"Atas dasar apa gue bisa naksir sama cowok aneh kekgitu!ngeliat dia tiap hari aja bikin gue enek!kalo bukan karna novel gue gak akan gue ngikutin kemauannya tadi" menggerutu kesal menumbuk dengan keras tempat tidur dengan tangannya yang sudah terkepal membuat kak Yuli disampingnya terbangun
"Eh,apa ini?gempa?"
Langsung terpelonjak kaget
"Din kamu gak ngerasa tadi tempat tidur ini bergetar getar"
melihat reaksi kak Yuli Reyna langsung gugup karna dia memukul kasur terlalu keras.
"Ng..nggak kok kak perasaan kakak aja kali"
"Masa sih,?"
"Iya kak dini dari tadi gak ada ngerasain apa apa kok,udah ah kak dini udah ngantuk dini tidur luan ya"
Langsung menjatuhkan kepalanya di atas Bantal dan menarik selimut.