
Karena keharusan memakai seragam hitam putih yang sudah menjadi persyaratan dicafe dimana tempat dia akan bekerja mau tidak mau Reyna harus pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk mengganti seragam sekolahnya.
"Kalo naik angkot gak bakalan sempat nih kayaknya" melirik jam tangan.
Reyna sudah memperkirakan jarak dan berapa kira kira waktu yang akan dia kejar menuju cafe tersebut jadi dia memutuskan untuk naik ojek online agar lebih cepat.
"Bang..bisa agak ngebut dikit gak bang,soalnya saya lagi buru buru" teriaknya dari belakang ke telinga pengemudi ojek online tersebut walaupun sedang pakai helm sang pengemudi bisa mendengarnya dengan jelas.
"Iya iya mbak" sahutnya menuruti saja sambil melajukan sepeda motornya lebih cepat.
Sepertinya waktu yang diperkirakan Reyna tidak jauh dari sasarannya kini dia sudah tiba didepan cafe tujuannya yang masih tersisa 5 menit lagi.
"Untung aja gue naik ojol coba tadi angkot pasti belum nyampek nih." sembari melirik jam yang ada ditangannya.
Masuk kedalam cafe dan langsung menemui atasan yang bertugas mengelola cafe ini.
"Selamat siang pak saya Reyna Andini yang tadi menerima SMS dari cafe ini bahwa saya diterima bekerja disini."
"Oh iya iya selamat bergabung" berjabat tangan "mari ikut saya" berjalan didepan Reyna lebih dulu.
reyna segera mengikuti langkah atasannya tersebut.
Setelah mendengar arahan dan penjelasan apa saja yang harus dilakukannya selama masa training.
Kini dia sudah bisa langsung bekerja yang tentu saja masih dibantu dan diawasi oleh para atasan atasannya agar tidak melakukan kesalahan kepada customer.
***
"Halo fan Lo udah dimana? kita semua udah ngumpul disini tinggal Lo aja yang belum" terdengar suara dari ponsel Refan.
"Ini gue lagi dijalan, iya iya bentar lagi nyampe" Tut langsung mematikan ponselnya.
"Nih anak kebiasaan orang belum selesai ngomong udah main tutup aja." Chandra
"Udah dimana katanya?" Tanya Reza yang baru saja latihan dan meneguk air minum dalam botol yang dia pegang.
"Lagi dijalan" jawab chandra sembari duduk di samping nya
"Ngambil sepatu futsal aja lama banget."
Selain hangout,ngumpul di cafe atau sekedar ngumpul ngumpul biasa,mereka bertiga biasanya tiap sekali seminggu selalu latihan futsal di salah satu tempat yang biasanya memang tempat berkumpulnya para anak anak muda yang hobi main sepak bola.
"Tuh dia" Chandra yang menunjuk dengan mulutnya yang membuat Reza langsung menoleh
Tampak dari jarak yang tidak seberapa jauh Refan yang sedikit berlari sambil menenteng tas yang berisi sepatu dan botol air minumnya.
"Lama banget sih Lo udah mau pulang kita nih"
"Lebih cepat lagi ibu ibu yang mau lahiran" oceh chandra
"Iya iya sorry tadi dijalan macet makanya gue agak lama" jawabnya santai.
"Lo sih pake acara ketinggalan sepatu segala ga biasanya lo lupa kekgini"
"Bawel amat sih Lo jadi latihan gak nih"
Sudah selesai memasang sepatu futsal nya.
Kini masing masing regu futsal tersebut sudah bersiap untuk latihan dan sudah mengatur formasi dan posisi mereka masing masing dalam latihan.
***
Setelah mengeluarkan banyak keringat dan juga sudah cukup lelah mereka menyudahi latihan hari ini langsung mengambil minuman yang sudah dibawanya masing masing menenggaknya beberapa kali.
Menutup botol minumannya
"Fan,gimana Lo sama Reyna udah ada tanda tanda belum?"
"Lo nerima tantangan Reza fan?" sambung Chandra dengan mata terbelalak.
"Lo bedua liat aja nanti,bentar lagi juga dia bakalan ngejar ngejar gue."
***
"Nih bang,makasih ya bng"
Setelah melepaskan helm di kepalanya langsung masuk kedalam rumah dibuat kaget oleh kak Yuli yang sudah menatapnya seperti tatapan kecewa.
Reyna mematung melihat kakaknya.
Sebelumnya dia sudah mempersiapkan akan situasi seperti ini karena dari awal kak Yuli sudah melarangnya bekerja dan hanya fokus sekolahnya saja.
Sudah mandi dan mengganti baju kak Yuli masih tidak berbicara sepatah kata pun dari tadi.
"Kak...udah dong mau sampai kapan kakak diemin dini kaya gini."
"Kak Yul..." rengeknya sambil menggenggam tangan kakaknya.
Sepulang Reyna tadi dia sudah menjelaskan panjang lebar alasan dia bekerja dan dia juga mengatakan itu tidak akan menggangu sekolahnya sama sekali.
"Kenapa sih Din? Kenapa kamu ga pernah mau dengerin omongan kakak?
Kakak gak mau kamu sekolah sambil kerja, kakak mau kamu fokus sekolah aja dulu yang bener.."
tanpa disadari kak Yuli sudah menjatuhkan air mata.
"Kak..." langsung memeluk kakaknya "dini gak mau jadi beban buat kakak,dini cuma mau bantu kakak,dan pekerjaan ini juga sama sekali gak mengganggu sekolah dini kak."
"Kak Yul...pliss...kali ini aja"
mengatup kedua telapak tangannya didepan dadanya dengan tatapan nanar.
Dini janji dini akan mempertahankan nilai nilai dini.
"Din..kakak gak pernah nganggap kamu beban,kakak cuma ngelakuin apa yang harus dilakuin seorang kakak disaat orang tuanya sudah tiada."
"Dini ngerti kak..dini tau perasaan kakak,dini tau,kakak sangat menyayangi dini tapi dini juga sayang sama kakak.dini mohon kak.."
Sambil terisak,air mata yang tadi bercucuran sudah mereda masih terdengar Isak tangis yang sesegukan
"Kakak inget gak dulu waktu masih ada papa sama Mama kita selalu ngelakuin semua hal bareng bareng,apa yang diberikan papa atau mama sama kakak pasti juga diberikan sama dini,kalopun itu cuma ada satu kita disuruh berbagi kata Mama itu harus dirasakan dalam keluarga," hiks hiks melanjutkan kalimatnya "biar kondisi bagaimanapun mau senang ataupun susah karena dari situlah kebahagiaan tercipta."
"Jadi dini mohon kak untuk kali ini dini juga mau kita ngelakuin ini sama sama."
Mendengar itu kak Yuli langsung memeluk dini erat,sudah bercucuran air mata yang tidak bisa dibendungnya lagi walaupun tadi dia merasa sangat kecewa tapi entah kenapa setelah mendengar perkataan dini,dihatinya terasa sedikit luluh.
"Kakak sangat menyayangimu Din.."masih dengan air mata yang terus mengalir dini juga sayang sama kakak membalas pelukan kakaknya.
***
Di kediaman lain
Terbaring di kasur empuknya memandangi langit langit kamar.
Kira kira dia bakalan naksir gak ya sama gue gumamnya.
Beberapa menit berbaring sambil tengelam dalam pikirannya sendiri yang entah sedang memikirkan apa mungkin hanya dia dan Tuhan yang tau,berjalan ke arah meja disamping tempat tidurnya ditempat dimana terletak laptop dan sederet cd dan beberapa barang kesukaannya bahkan beberapa miniatur robot miliknya sejak kecil masih tersusun rapi disana sampai sekarang posisi benda itu tidak berubah hanya saja tempatnya yang kini sudah mulai tidak terdapat ruang lagi.
Diambilnya buku yang sudah beberapa hari tergeletak disitu.
Dibukanya lembar demi lembar membaca beberapa kalimat yang tertulis disana.
"Cih,apa enaknya baca semua tulisan ini,melihatnya aja udah membosankan." ditutupnya lagi buku itu masih menatap lekat "apa gue kembaliin aja ya..keknya buku ini sangat berharga sama dia, tapi kenapa susah kali.." langsung mengernyitkan dahi "kalo memang buku ini penting apa susahnya sih digantiin dengan nomor telfon,gak mungkin juga gue nelfon dia tiap hari.
Ting..dentingan notifikasi Instagram masuk di handphonenya.
Diana mayasa liked your post. dibacanya sekilas
Senyum simpul muncul diwajahnya kembali ditatapnya buku yang masih dipegangnya
"Oke deh...lo gua adopsi sampe malam ini aja besok Lo bakal gua kasih ke Mama Lo yang cerewet itu."