
Malam ini jalanan ibukota cukup ramai yang banyak dilalui oleh kalangan muda mudi yang menghabiskan waktu mereka diakhir pekan.
Sementara pria yang sudah berpakaian rapi tak tinggal dengan jaketnya yang ia kenakan kini tengah duduk diatas motornya melihat jalanan yang sesekali menatap sebuah tempat dari balik kaca tembus pandang itu.
Sudah cukup lama dia duduk dan berdiri ditempatnya akhirnya pintu cafe itu terbuka yang mengeluarkan semua karyawan pekerja disana melihat gadis yang sedari tadi ditunggunya tapi gadis itu tidak menyadari keberadaannya sama sekali.
Melihat motor itu sudah mau melaju refan segera menghadang dengan motornya "turun!"
Ucapnya segera.
Sementara Reyna dibuat kaget dengan keberadaan refan yang tiba tiba muncul dihadapannya dan Jo
"Reyn turun gue bilang!"
Terdengar pelan tapi ditekan.
Reyna yang mendengarnya langsung turun tanpa pikir panjang dia sendiri tidak tau kenapa dia menuruti perkataan pria itu.
"Lo siapa?" Ucap Jo
"Harusnya gue yang nanya, Lo siapa? Seenaknya bonceng bonceng pacar gue." Bentaknya
"Pacar?" Sembari menatap ke arah Reyna.
Gadis itu hanya terdiam tidak tau apa yang harus dikatakannya karena Jo tidak akan memahami situasinya pikirnya.
"Cepetan naik" ujar Refan lagi menggerakkan kepala kearah kursi belakang.
"Kak Jo duluan ya" ucap Reyna merasa bersalah.
"Iya reyn, kamu hati hati ya" jawabnya.
Mengangguk kemudian menaiki motor itu dan duduk dibelakang Refan.
"Lo gak perlu bilang hati hati ke pacar orang harusnya Lo yang hati hati" menunjuk wajah Jo dengan telunjuknya
"kalo Lo berani dekati pacar gue lagi....awas lo!"
Menyalakan motor dan langsung meninggalkan Jo disana.
Cih Reyna gak pantes sama orang kayak Lo...
***
"Lo udah makan?"
Memecah keheningan diantara keduanya Refan yang lebih dulu membuka bicara sambil fokus mengendarai motornya.
Reyna hanya diam.
"Woy..Lo ga denger gue ngomong?..."
Motor yang berjalan meminggir dan tiba tiba berhenti mendadak membuat Reyna tak sengaja menggenggam bahu Refan erat.
Seketika langsung sadar dengan posisi tangannya dan buru buru menjatuhkan tangan itu dari bahu pria didepannya.
Masih duduk di posisinya Refan yang setengah memiringkan tubuhnya kebelakang menghadap gadis itu.
"Gue laper kita makan dulu."
"Terus..." jawabnya
"Terus,lo maunya makan dimana?"
"Yang mau makan Lo kenapa nanya gue? Terserah Lo mau makan dimana?"
Masih mengumpat memaki dalam hati sementara Refan masih menatap datar yang sebenarnya suka dengan ekspresi gadis itu.
"Beneran nih terserah gue?"
Tersenyum tipis
Reyna hanya menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Oke kalo gitu hmm kayaknya gue mau makan dirumah aja deh"
Langsung berbalik arah.
"Eh eh eh Lo mau kemana? Pulang?" Memukul bahu Refan yang sudah mau menjalankannya motor
"Iya"
"Terus gue?"
"Ya gatau" mengangkat bahu
"Ih!! Lo bener bener ya" memukul bahu Refan keras membuatnya sedikit meringis
Langsung turun dari motor tersebut berjalan cepat meninggalkan nya.
Refan mensejajarkan motornya dengan Reyna yang sedang berjalan cepat tak memperdulikannya
"Eh eh tunggu woy... reyn,reyna?"
"Yaudah pulang sana ngapain Lo ngikutin gue!" ucapnya sambil berjalan cepat.
"Terus Lo gimana? Mau jalan kaki?"
"Itu bukan urusan lo"
Masih melangkah cepat.
Dengan sigap Refan menghadang kini sudah berhadapan dengan gadis itu
"Naik cepetan!"
"Lo pikir orang diluaran sini baik semua Lo liat di ujung sana"
Menunjuk beberapa pemuda berwajah sangar dengan berpakaian serba hitam dan sebagian ada yang bertato dan tindik.
Kemudian Reyna menatap arah yang ditunjuk Refan terdapat beberapa preman yang biasanya mangkal disitu
Membuat bulu kuduknya merinding sedikit ketakutan sudah tau maksud dari perkataan Refan.
Rasanya dia sudah tidak punya pilihan lain selain naik keatas motor itu.
Motor melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang sudah gelap gulita namun masih diterangi dengan cahaya lampu jalan.
Selang beberapa menit kemudian memberhentikan motornya sampailah disalah satu tempat makanan pinggir jalan tempat yang ditunjuk Reyna karena sedari tadi pria itu masih sibuk menanyakan akan makan dimana walaupun berkali kali dia mengatakan tidak mau pria didepannya ini tetap memaksa.
"Mas baksonya 2 mangkok ya"
Ucapnya kepada si pedagang bakso dan langsung duduk di kursi yang masih kosong bersebelahan dengan Refan.
Pria itu melihat sekeliling suasana yang cukup ramai di warung makan pinggir jalan pikirnya mungkin saja karna enak jadi tempat ini cukup ramai.
"Mau berapa lama lagi Lo liat liatin sekeliling kekgitu,itu baksonya udah dateng" melihat semangkok bakso yang sudah terhidang di atas meja.
Langsung mengambil sendok dan garpu mencicipi cukup enak pikirnya.
Reyna menatapnya sebentar kemudian langsung mengambil botol saus yang ada diatas meja menuangkan ke mangkoknya.
"Eh Lo gila!!"
Refan yang melihat itu disampingnya langsung mengambil botol saus itu dengan cepat dan menjauhkannya.
"Apaansih.." mengernyitkan dahi
"Sini gak" berusaha mengambil botol saus yang sudah dijauhkan Refan darinya.
"Enggak,itu udah kebanyakan dan Lo mau tambah lagi,lo mau makan bakso apa makan saos?!"
"Suka suka gue dong yang mau makan gue terserah gue mau makan bakso apa saos kok Lo yang sewot!" ucapnya
Berdiri membawa botol saus itu
"Mas,simpen aja" diberikannya botol itu kepada pedagang bakso dan langsung balik duduk dikursinya.
"Tambah saos mas?" ucap pedagang bakso
"Enggak" jawabnya
Reyna yang melihat apa yang dilakukan pria itu hanya diam mengalah langsung menyantap makanan yang dihadapannya itu jika dia lanjut berdebat pasti tidak akan ada habisnya.
Dasar cowok aneh,gila apa urusannya dia ngatur ngatur makan gue terserah gue dong mau makan saus sebanyak apa kan bukan dia juga yang rugi dasar huh jadi gak ada rasanya nih bakso.
Selama menghabiskan makanan nya hanya terus mengumpat kesal dalam hati seraya memaki pria disampingnya itu.
Refan yang sudah selesai membayar dan kembali menyalakan motornya sementara Reyna masih menunggu berdiri ditempat bakso itu.
Selang beberapa menit segera menghampiri Refan membawa kantong plastik bungkusan ditangannya.
"Gak nyangka gue badan kurus kayaklo sekali makan dua porsi."
"Enak aja,lo pikir gue apaan makan dua porsi sekaligus."
"Terus itu apaan?" melihat kantong plastik yang menggantung itu.
"Ini buat kakak gue tau." mengangkat sedikit bungkusan yang ditangannya.
"Ooh" jawabnya.
***
"Kak Yul nih baksonya sesuai janji dini kemarin." segera memberikan kantong plastik yang tadi
"Wah kamu inget ya,makasih ya Din dan Jo, Eh..."
"Jo?" Ucap Refan bingung.
"Eh kamu Refan yang tadi pagi kan?"
"Iya kak mengangguk sopan dan Jo siapa ya?" melihat kearah Reyna.
"Fan udah malem Lo gak pulang,pulang Sono gih" mendorong tubuh pria itu.
"Dah... melambaikan tangan cepat sampai jumpa besok" dengan senyum tipis yang dibuat buat.
Segera pria itu menghidupkan motornya setelah pamit dan beranjak dari sana.
***
"Tunggu dulu kenapa hari ini kamu pulangnya gak bareng Jo bukannya biasanya kalian seperti itu karena searah?"
"Enggak kak." jawabnya.
"Din...Kakak mencium bau bau...." menghirup udara sekitar.
"Bau apaan sih kak??"
"Kamu pacaran sama yang mana sih ?"
"Ih kakak apaansih kan dini udah bilang Jo temen kerja dan Refan teman satu sekolah udah itu aja gak lebih tau,udah ah kak Dini ngantuk." langsung masuk kamar.
"Aku kan cuma nanya kok dia jadi marah gitu" melanjutkan makan baksonya.
"Tapi si Refan itu benar benar mirip sama siapa ya??"