Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
JODI (Jomblo Abadi :v)



"Apaansih Lo lepas ga?!" Berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Refan.


"Enggak!


Semakin memperketat genggamannya. Kita sekarang pacaran dan gue sebagai pacar lo harus selalu berada disamping lo."


"Apaan sih Lo! Menatap kesal sejak kapan gue jadi pacar lo?"


"Sejak gue bilang Lo pacar gue jadi Lo harus jadi pacar gue." ucapnya


"Lo udah gila ya!"


"Mau sampe kapan kita berdiri disini melihat tangan mereka yang terus terkepal bersatu."


"Lepasin!!"


Refan tak menggubrisnya kemudian berjalan menarik tangan gadis itu yang membuat dia juga ikut berjalan.


Sepanjang lorong kelas mereka berjalan terus ditatap oleh beberapa pasang mata yang melihat hanya menatap iri dengan gadis itu.


"Aaaa mereka sosweet banget sih


Jalan kekelas aja pake gandengan gitu."


Sementara Reyna hanya menunduk merasa malu seperti menjadi sebuah bahan tontonan dan berjalan cepat mengikuti langkah Refan.


"Wah pengantin baru akhirnya datang juga tuh cieee selamat ya"


Ujar chandra tersenyum kearah Reyna.


Tangan yang masih terkepal itu ditatap terus oleh seisi kelas yang beberapa orang sudah datang.


"Lepasin tangan gue..."


Batinnya sambil melototi Refan.


Belum sampai keluar suara Refan sudah mengerti apa yang diminta gadis itu membuatnya melepaskan genggamannya.


kini Reyna sudah duduk dikursinya dan Refan berjalan kebelakang menuju kursinya yang diikuti Chandra duduk disana akan tetapi beberapa pasang mata yang berada didalam kelas itu masih terus menatap Reyna tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan yang pasti mereka sangat iri dengan gadis itu.


***


"Lo nanti pulang sendiri gak papa kan?"


Refan yang entah datang darimana


Duduk disamping Reyna mengambil kursi disebelahnya.


Menoleh sebentar "gak papa.


Siapa juga yang mau pulang bareng Lo dih geer banget."


"Bagus deh" tersenyum mengusap kepala gadis itu dan beranjak langsung dari duduknya menuju keluar kelas.


Apaan dia ngusap ngusap kepala gue kayak gue anak kecil aja yang seolah olah baru dengar nasehat orang tua.


Sementara dikantin


"Fan Lo beneran naksir sama reyna?"


Ujar Reza


"Enggak" jawabnya.


"Loh terus kalian kok pacaran,jangan bilang Lo pacaran boongan ?"sambung Chandra serius


"Apaansih Lo menggeser pelan wajah Chandra dihadapannya


Gue pacaran beneran sama tuh cewek jadi Lo jangan berpikiran untuk gebet dia lagi."


"Yeee tadi katanya ga suka sekarang malah ngaku pacaran,heran gue sama lo" balas Chandra.


"Udahlah chan capek Lo bedebat sama manusia kayak Refan gak bakal ada menangnya" sambung Reza.


"Ntar sore kita ada latihan futsal


Lo ikut ga? "


Sudah masuk topik pembicaraan yang lain.


Yang ditanya justru masih terdiam seperti sedang berpikir.


"Kalo Lo gak bisa ntar Boby yang gantiin" sambung Reza menjelaskan.


"Gue ikut."jawabnya


"Lo gak pulang bareng cewek Lo?" tanya Chandra.


"Gue tau kalo ntar sore kita latihan jadi gue udah bilang gak bisa ngantar dia pulang hari ini." jawabnya menjelaskan.


"Reyna memang benar benar cewek idaman ya bro ck ck ck pengertian banget jadi cewek coba aja gue yang nembak dia luan."sambung Chandra.


"Awas aja kalo Lo berani nikung"


Menghentakkan sikutnya ke samping perut Chandra membuatnya sedikit meringis namun kembali tertawa lagi.


***


Sepertinya hari ini Reyna pulang dengan tenang,tidak seperti semalam yang harus berdebat dahulu dengan pria gila yang bisa membuat ubannya mungkin akan tumbuh lebih cepat.


Maya yang sudah menaiki angkot lebih dulu dan menyapa sampai jumpa besok kini Reyna tengah menunggu Disebuah halte dipinggir jalan.


"Kak..sini duduk disamping aku masih kosong Lo "


Ujar anak pria yang mungkin setahun dibawahnya.


Reyna hanya melihat sebentar melihat tempat duduk yang masih kosong disebelah anak itu yang tadi ditepuk tepuknya.


"Jangan kak jangan mau duduk disamping aku aja nih.." ujar temannya yang lain.


Masih tak ada respon dari Reyna yang masih terlihat menatap jalanan menunggu angkutan yang biasa mengantarnya.


"Kak sombong banget sih.."


"Maaf ya sambil senyum dibuat buat kalian duduk aja gak papa kok."


"Wuih cewek kek kakak ini nih yang gue demen berdiri tepat disamping Reyna minta nomor kakak dong."


ujarnya "manatau kan nanti bisa saling...


"Reyn"


panggil seseorang yang membuat anak itu menghentikan kalimatnya melihat seorang pria yang berseragam sama dengan gadis disampingnya.


"Hahaha kasian deh Lo"


sambil tertawa kencang melihat temannya yang ingin menggoda tidak kesampaian


"Yang sabar ya untung aja tadi cowoknya gak denger kalo gak mungkin udah ditonjok Lo Haha "


Anak itu kembali duduk ditempatnya tadi hanya diam karena malu dengan aksinya yang gagal melihat Refan yang badannya jauh lebih tinggi dan tampan dia hanya terdiam tak berkutik lagi.


Sementara Refan yang fokus mengendarai motor tersenyum penuh kemenangan.


Tidak terasa kini mereka sudah berhenti tepat didepan cafe dimana Reyna bekerja.


"Tunggu.." ucapnya tiba tiba.


Reyna yang sudah ingin masuk kedalam menghentikan langkahnya.


"Lo gak ada mau bilang sesuatu gitu sama gue."ucapnya


Menghela nafas pelan kemudian berbalik "makasih"


Ujarnya pelan.


"Apa? Gue gak dengar."


"Makasih" masih dengan nada yang sama.


"Lo bisa ngomong kencang dikit gak,gue gak dengar tadi ada motor lewat kencang banget."


"MAKASIH..." teriaknya


Refan tersenyum


"Itu doang?"


"Terus gue harus bilang apa lagi?"


Mengernyitkan dahi.


"Yaa apa kek terserah Lo"


Menghela nafas lagi pelan


"Oke...sampai jumpa dan makasih Lo udah mau ngantar gue" menunjukkan senyum yang dibuat buat.


Semoga gue gak akan pernah jumpa sama orang seperti Lo lagi.


Segera membalikkan tubuhnya masuk kedalam cafe.


Kenapa gue ngelakuin hal ini ya...


Gumam Refan


***


"Dari mana aja sih Lo kita udah nungguin dari tadi nih..."ujar


reza yang baru saja melihat Refan tiba.


"Sorry sorry gue ada urusan sebentar tadi.." jawabnya.


"Urusan apaan?"


"Yaaa siapa lagi kalo bukan pacarnya


Haha" sambung chandra


Refan tidak mau menjawab hanya langsung memakai sepatu futsalnya. Dan memulai latihan mereka.


***


"Reyn yang tadi teman kamu ya?"


"Iya Jo itu teman sekolah gue"


"Bukannya dia yang Tempo hari nyari kamu kan?" menunjukkan ekspresi mengingat.


"Eh iya Jo"


Kembali melanjutkan pekerjaannya karena terdengar dari salah satu meja memanggilnya.


"Gue cabut luan ya bye.."


Langsung melajukan motornya


"Mau kemana tuh anak buru buru banget.."


menatap arah jalan yang barusan dilalui Refan.


"Ya mau ngapel la gitu aja pake nanya Lo makanya cari cewek sana" ujar Chandra.


"Berisik Lo sok sok an bilangin gue lagi..Lo sendiri" ketus Reza.


"Yeee cewek gue banyak Lo aja yang gak tau."


"Gimana gak banyak sana sini kerjaan Lo gombalin cewek mulu.."


"Haha itu udah jadi salah satu kelebihan gue...makanya banyak cewek cewek di luaran sana yang terpikat.


Lo mau gue ajarin"


"Idih ogah..."


"Tenang aja men gue bakal jadi senior yang baik buat junior pemula kayak Lo."


Menepuk pelan bahu lelaki disampingnya.


"Diem gak Lo gue timpuk nih"


Mengangkat kakinya bersiap membuka sepatu.


"Tenang men gue ini udah gombaler gelar master..." menepuk dadanya sendiri bangga.


"Sekali lagi lo ngomong beneran gue timpuk nih.." sudah melepaskan sepatunya dan siap melayangkannya kearah chandra.


"Yeee dasar JODI."


"Jodi? Jodi apaan?"


"Jomblo abadi Haha..." langsung berlari menghindari sepatu Reza yang melayang.


"Dasar teman laknat Lo"