Crazy'S Boyfriend

Crazy'S Boyfriend
Ekor kuda?



Kali ini dia tidak mau sampai lengah dia merasa bahwa Reyna akan mendatangi tempat itu lagi jadi sepulang sekolah dia langsung melajukan motornya lebih dulu sampai dicafe tersebut.


"Mbak...saya lagi nunggu temen nanti saya panggil lagi."


Merasa risih karena salah satu pelayan cafe itu dari tadi berdiri dihadapannya menunggu pesanan.


Sesudah pelayan itu menghilang dari hadapannya dia membaca menu itu dengan buku terangkat lebih tepatnya sedang menutupi wajahnya bersembunyi dibalik buku menu itu.


Sudah sekitar 15 menit dia duduk ditempat itu sengaja memilih tempat yang pojokan,pintu cafe terbuka dan melihat siapa yang masuk langsung terbelalak matanya sembari mengintip dari balik menu itu.


"Selamat siang pak"


sapanya ramah kepada seorang yang berpakaian jas itu mungkin itu bos di cafe ini pikirnya.


Wanita itu langsung pergi ke arah toilet,tidak lama kemudian dia langsung keluar dengan setelan hitam putih.


Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri baru dia paham ternyata Reyna ke tempat ini bukan untuk menemui seseorang atau sekedar nongkrong melainkan bekerja.


Disepanjang perjalanan menyusuri jalanan kota yang padat kendaraan dan polusi itu dia terus memikirkan Reyna entah kenapa akhir akhir ini pikirannya selalu di gentayangi dengan gadis itu.


Dia sendiri merasa heran meskipun berusaha untuk menghilangkannya,tapi tetap saja gadis itu tetap menari nari dipikirannya.


Sudah sampai dirumah


Direbahkan tubuh tinggi itu diatas kasur dengan kaki yang masih mencerca lantai kembali tenggelam dalam pikirannya,terlihat wajah Reyna kesal seperti sedang memakinya ada di langit langit kamarnya tapi dia justru malah tersenyum senyum sendiri.


Seketika senyum yang lebar tadi langsung berubah jadi raut wajah datar.


Tunggu ,kenapa gue senyum senyum ga jelas gini.


Langsung beranjak dari rebahannya menuju toilet.


***


+ 6252********


hah..nomor siapa ni 92 kali panggilan tak terjawab.


"Reyn,pulang bareng yuk?"


Pinta Jo yang sudah mengendarai memberhentikan motornya didepan Reyna.


"Eh,gausah kak Reyna pulang naik ojol aja."


"Gak papa reyn,rumah kita kan searah lagian kalo nunggu ojol jam segini agak susah kan?"


Jo memang selalu baik padanya,dia memang sering membantu Reyna apalagi pada saat jam kerja dan dia sedikit merasa tidak enak jika menolak tawaran Jo dan pikirnya tidak ada salahnya menerima tawarannya.


Akhirnya dia menerima tawaran tumpangan kak Jo kebetulan karena rumah mereka searah,kalo tadinya tidak,dia tidak akan menerima tawaran itu karena akan merasa merepotkan orang pikirnya.


"Halo Sam gimana kabar Arkan dan Refan"


"Mereka baik baik saja tuan." jawabnya dari sebrang telepon


"Baguslah,selama saya disini kamu terus pantau mereka kalo mereka bertengkar lagi segera laporkan pada saya"


"Baik pak"


Tut sambungan terputus.


Paman Samuel atau sering disapa Sam pria yang sudah cukup berumur merupakan seorang sekretaris pribadi papa Arkan dan Refan yang kali ini ditugaskan untuk memantau kedua putra mereka selama suami istri itu berada diluar kota.Meskipun dia tidak tinggal dirumah besar itu tapi jika ada sesuatu yang terjadi diantara Arkan dan Refan dia pasti langsung mengetahuinya karena ada seorang pembantu yang ditugaskan untuk menjadi mata mata dirumah itu.


Itu sebabnya kenapa disaat perkelahian mereka Tempo hari Paman Sam langsung bergegas kesana melerai perkelahian diantara keduanya.


***


"Ehm..makasih ya kak mengangguk sopan"


"Sama sama reyn


Gausah panggil kakak panggil Jo aja."


"Iya makasih Jo"


"Yaudah kalo gitu gue balik dulu ya reyn,sampai ketemu besok"


"Iya kak eh Jo hati hati."


"Eh kamu sudah pulang,?"


"Kakak terbangun rupanya kak Yuli pasti capek tidur lagi aja kak"


"Iya deh..kakak tidur duluan ya Din"


sembari beranjak dari sofa menuju pintu kamar.


Sudah tertidur pulas


Sepertinya kak Yuli sedang kelelahan hari ini.


Setelah mengganti baju,membasuh wajah dan kaki


Reyna mengeluarkan hp yang ada didalam tasnya melihat kembali nomor yang tertera disana.


"Nomor siapa ya kira kira apa bibi ganti nomor baru ya?"


Tak mau memikirkan sekarang karena dia sudah merasa ngantuk jadi langsung mencharger saja handphone itu dan bergegas tidur.


***


"Kak,bibi ganti nomor baru ya?"


sembari mengikat tali sepatunya.


"Enggak tuh,kemarin kakak ngobrol sama bibi ditelpon masih dengan nomor yang sama,emang kenapa?"


"Ehm..gak papa Yuli cuma nanya aja."


Terus itu nomor siapa dong?


Didalam angkot yang sedang melaju Reyna memperhatikan lekat nomor HP yang belum tersimpan nama disitu rasa penasarannya kali ini tidak bisa ia hilangkan jadi dia memutuskan menghubungi nomor tersebut mencari tahu siapa orang yang sudah menelfon nya sebanyak itu semalam.karena dia sedang sibuk bekerja jadi dia tidak sempat menjawab panggilan tersebut.


Lelaki tampan itu sedang mengaitkan kancing seragam sekolahnya berdiri di hadapan cermin,menata rambutnya yang sebelumnya diberi pomade.


Sudah terlihat sempurna didepan cermin tak lupa senyum yang terpoles diwajahnya mengagumi ketampanannya sendiri.


Diraihnya langsung ponsel yang berdering diatas tempat tidur dan menjawab panggilan dari seseorang.


"Halo?"


"Hah,cowok?" menatap nomor yang dia hubungi.


"Siapa sih gak ada suara"


Segera menurunkan ponsel itu dari telinganya melihat siapa yang tumben menelfonnya dipagi hari begini.


"Ooh jadi Lo ekor kuda" dengan sudut. bibir sedikit terangkat.


"Woy..Lo bisu kenapa diam aja."


Tut sambungan langsung terputus sang penelepon mengakhiri panggilan tersebut.


"Gila...dasar ekor kuda pas ketemu mulutnya kayak mercon tahun baru giliran di telefon langsung bisu Haha kaget kan lo."


"It's okay"


gua tau Lo gak ngomong ditelpon karena Lo mau ngomong langsung biar bisa lihat wajah gue yang ganteng ini kan.


Okay kalo gitu i'm coming ekor kuda.


Segera mengambil tas dan kunci motornya bergegas turun ke bawah.


"Woy fan,lo gak sarapan?"


Tanya Arkan yang sedang duduk dimeja makan dengan roti yang sedang dia lapisi selai coklat.


"Enggak,gue gak laper."


Langsung menuju pintu menyalakan motornya bergegas pergi ke sekolah.


Hubungannya dan Arkan kini sudah tampak jauh lebih baik dari sebelumnya, karena Refan tipe orang yang cuek dia menganggap bahwa permasalah yang terjadi hari ini biarlah berlalu dan tidak perlu mengingatnya lagi karena hanya akan menjadi beban pikiran saja.jadi dia bisa dengan mudah menerima maaf dari Arkan apalagi dia tau bahwa ini kakaknya sendiri dan dari yang dilihatnya Arkan sudah sedikit berubah tidak lagi seperti beberapa hari yang lalu yang kalo pulang malam biasanya sudah sempoyongan.


Sudah sampai disekolah dalam waktu 10 menit lebih cepat dari biasanya,wajar saja jika sekolah ini masih terlihat sepi karena jam pelajaran sekolah dimulai pukul 07:30 sedangkan Refan sudah sampai yang masih tersisa setengah jam lagi.


Orang yang ingin dia temui ternyata belum datang.


Ponsel Reyna berdering


Melihat nomor yang tertera disana langsung menolak panggilannya.


"Wah..gak sopan banget nih cewek"


Langsung mengetikkan sebuah pesan.


Lo dimana???


Mengirimkannya kepada ekor kuda nama yang tertulis di hp nya.


Bukan urusan lo! Balasnya


Lo sekolah kan?


Bukan urusan lo!


Cepetan dtng,jgn sampe telat.


Mau lama,mau cepat bukan urusan lo!


Knp gua telfon gak Lo angkat?


Males!!gak penting!


SMS gua Lo bls...


Tidak ada lagi pesan yang masuk dihpnya.


Woy..bls dong woy ekor kuda?


"Hah! Ekor kuda?"


terkejut.