Cold CEO

Cold CEO
Twenty Four



Eldric sudah bersiap masuk ke dalam menara tua itu. Namun, tangannya dicekal oleh seseorang dan itu membuat tubuhnya menegang. Apakah dia sudah ketahuan? Bagaimana nasibnya setelah ini?


"Jangan gegabah, El, anak buah Clara ada di dalam semua," bisik orang itu, memperingatkan Eldric.


Eldric menoleh dan mengernyit bingung. "Bukankah kau anak buah Clara juga?" tanyanya.


"Penyusup."


"Bisakah kamu menolongku untuk menyelamatkan Alice?"


"Tentu saja. Hanya menunggu waktuku berjaga dan kita akan menolong Alice."


"Lalu, di mana aku harus bersembunyi?"


Pria itu tersenyum kemudian mengulurkan pakaian serba hitam pada Eldric. Laki-laki itu lagi-lagi mengernyit bingung. "Penyamaran. Kau tidak perlu masuk, tetap di sini bersamaku dan kau akan aman. Ada beberapa temanku juga yang di sini. Aku tidak sendirian."


***


"Alice."


Alice yang terpejam lantas membuka mata dengan cepat. Tidak ada siapa pun di sini, lantas siapa yang memanggilnya?


"Siapa di sana?" tanyanya lirih. Tenaganya habis tidak bersisa. Tubuhnya sudah terasa begitu sakit semuanya. Kapan semua ini akan berakhir?


"Alice."


Alice kembali menoleh saat suara panggilan itu kembali terdengar. "Siapa?"


"Pejamkan mata dan kamu akan meninggalkan tempat ini. Kamu akan bahagia, Sayang."


Alice menggeleng. "Apa kau mau menipuku? Siapa kau?" tanyanya yang tidak tahu pada siapa.


"Lakukan sekarang sebelum semuanya terlambat."


"Tapi aku ingin bertemu David."


"Kalian akan kembali bertemu nanti."


"Siapa kamu agar aku bisa percaya."


"Mama, Al. Ini Mama."


"Ma … ma?"


"Pejamkan matamu, Sayang, semua akan baik-baik saja. Yang bersalah yang akan mendapatkan hukuman."


Alice menurut. Dia segera memejam dan beberapa saat kemudian suara menjadi hening. Entah apa yang terjadi, dia tidak diperbolehkan untuk membuka mata sampai semuanya selesai.


***


Pagi harinya, David, Herland, Daniel, dan Wildan sudah tiba di Calgary. Herland memilih untuk ikut datang ke sana untuk membantu menyelamatkan Alice.


David menelepon anak buahnya yang berada di sini untuk menjemput dan membawa mereka semua ke lokasi di mana Clara menyembunyikan Alice.


Ternyata perjalanan tersebut cukup lama karena lokasinya yang begitu jauh dari kota dan berada di tengah hutan. David bersumpah akan membalas perbuatan keji Clara dan Queen atas apa yang sudah dilakukan mereka pada tunangannya.


Mereka semua turun di tempat Eldric dulu juga turun. Ini juga untuk mengantisipasi bahaya yang akan datang menghampiri mereka. Usai melewati permadani hijau yang terbentang luas, mereka melihat sebuah menara tua yang terlihat menyeramkan, padahal ini masih siang hari. Lalu bagaimana Alice yang disekap di dalam tempat mengerikan itu? Apakah dia masih baik-baik saja untuk bertahan?


Anak buah Clara yang melihat kedatangan mereka pun mulai menyerang. Bukan David namanya kalau tidak ada persiapan sama sekali. Semua ini sudah diprediksinya. Meski anak buah Clara cukup banyak, mereka tidak kewalahan sama sekali karena ada anak buah David yang ikut membantu. Mereka semua terlatih, tentu saja. Anak buah Clara bahkan tidak ada bandingannya.


BRAK!


David mendobrak pintu menara yang tertutup. Herland yang menyuruhnya untuk pergi ke sana sebelum semuanya terlambat. Urusan anak buah Clara, diambil alih oleh Herland dan Daniel.


"CLARA! KEMBALIKAN TUNANGANKU!" teriak David memecah keheningan.


"Hai, Sayang! Aku menunggu keputusanmu, tapi kamu malah repot-repot menyusulku. Kamu masih ingat kan kesepakatan kami tiga hari yang lalu?" ucap Clara dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Lepaskan Alice!" gertak David tajam yang membuat Clara dan Queen ketakutan, tetapi mereka berusaha terlihat tenang.


"Keputusanmu terlebih dahulu, Sayang."


"Dengar! Saya tidak akan pernah mau menjadi milikmu! Alice hanya milik saya dan Anda bukan siapa-siapa saya!" tukas David dengan nada dinginnya.


Clara tersenyum kecut. "Sesuai kesepakatan. Jika aku bukan milikmu, siapa pun tidak akan menjadi milikmu juga." Perempuan itu membuang muka ke arah Queen. "Alana, lakukan tugasmu!" perintahnya.


"Jangan berani menyentuh Alice, ******!" David berlari, tetapi terlambat. Alana sudah menusukkan pisau yang berada di tangannya tepat di dada orang yang masih tertutup kain itu.


David menggeram marah. Dia mendorong Queen dengan begitu kuat hingga gadis itu terdorong cukup jauh.


Herland dan lainnya yang sudah menghajar anak buah Clara sampai tidak bersisa langsung masuk ke menara tua itu. Mereka melihat Queen yang tengah menusuk seseorang di balik kain putih.


Wildan langsung menghampiri Queen yang tadi didorong oleh David. Pria itu mencengkeraman erat dagu perempuan itu.


"Papa … Papa masih hidup? Papa ke mana saja. Kenapa Papa pergi dan memilih ****** itu," ucap Queen dengan nada tidak bersalah.


"Ibumu yang ******! Dia yang menjebakku! Vanka adalah istri sahku, sedangkan Kyra hanya wanita malam yang tiba-tiba meminta tanggung jawab padaku atas janin yang berada di perutnya. Asal kau tau, kau itu bukan anakku! Anakku hanya Alice! Kau hanyalah anak dari perbuatan dosa ibumu dan ******** lain yang menyewa ibumu! Bahkan sifatmu pun sama seperti ibumu yang suka menjual tubuh!" papar Wildan panjang lebar. Semua yang mendengar itu pun terkejut. Queen lebih terkejut usai mendengar penjelasan itu.


"Tidak mungkin, itu tidak mungkin! Mama bukan orang yang seperti itu!"


David langsung menarik tubuh Queen. "Dan kau sudah menusuk tunanganku! Jalan tidak tahu diri!" desisnya. David langsung melempar tubuh Queen hingga terjatuh di lantai yang sedikit jauh dari posisinya.


CEO muda itu langsung mendekat pada seseorang yang mungkin sudah tidak bernyawa di balik kain itu.


"Tuan, yang duduk di sana bukan Alice."


David yang hendak membuka kain itu langsung menoleh dan mendapati Eldric bersama anak buah David yang menyamar di sini.


Clara menatap nyalang adiknya. "Eldric, untuk apa kamu di sini?!" tanyanya penuh emosi.


"Tentu saja menyelamatkan Alice!"


David langsung membuka kain itu dan berapa terkejutnya mereka semua, kecuali Eldric dan orang di sebelahnya.


"Siapa wanita ini?!" tanya David penuh emosi. Wildan segera mendekat, Queen juga sama meski dengan langkah tertatih.


"Ma … ma," lirih Queen. Perempuan itu berlari kesusahan menghampiri orang yang sudah tidak bernyawa itu. "Mama, Mama kenapa bisa di sini? Mamaa, jangan tinggalin Queen. Maafkan Queen, Mama. Mama, bangun!"


"Bagaimana bisa dia di sini, di mana Alice?!" teriak David pada Clara yang kini sudah ketakutan.


"A … aku tidak tahu. Sejak aku datang bersama Queen, kain ini sudah menutupi tubuh yang kami kira tubuh Alice."


David menatap Eldric dan anak buahnya. "Kami datang juga sudah seperti itu keadaannya dan kami mengintip dari bawah ternyata itu bukan Nona Alice," jelas bawahan David.


Clara menghampiri David kemudian bergelayut manja di lengan laki-laki itu. "Alice sudah tidak ada. Jadi, apakah kamu milikku sekarang?"


David mengambil pistol dari balik tuxedonya lalu mengarahkan pada dada perempuan tidak tahu malu itu. "Dalam mimpimu!"


DOR!


Tubuh itu terjatuh dan nyawanya langsung hilang tanpa mengucapkan suara untuk yang terakhir kalinya.


David menatap Queen yang masih meratapi kematian ibunya. "Kau juga harus mati!" ucapnya tajam dan kembali mengarahkan pistolnya pada perempuan itu.


DOR!


Tubuh itu langsung bersimpuh di lantai. David hanya menatap dingin. Meski sudah membunuh pelakunya, dia masih merasa tidak puas karena belum menemukan di mana Alice.


"Kita akan mencari Alice di sekitar sini, Dave." Herland berkata sembari menepuk pelan bahu adiknya.