Cold CEO

Cold CEO
TWENTY ONE — END?



Gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya, mulai membuka kelopak mata yang terpejam. Dia menggerakkan tubuhnya, tetapi terasa susah seperti ada yang mengikat tubuhnya. Mulutnya juga ditutup isolasi hitam yang cukup panjang.


Ruangan itu sedikit remang-remang. Hanya rembulan yang meneranginya lewat celah jendela. Tempat itu benar-benar pengap membuat dirinya sedikit sesak napas.


"Tuhan, aku di mana?" tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba suara pintu yang dibuka membuatnya mengalihkan pandangannya. Sosok bayangan hitam mulai terlihat mendekat. Alice memejamkan matanya rapat-rapat, dia tidak berani melihat siapa yang mendatanginya itu.


"Kau sudah bangun Adik Kecil?" bisiknya tepat di belakang telinga Alice. Hal itu membuat jantung Alice berdegup tak beraturan.


"Masih ingat denganku? Coba buka matamu!" suruh orang itu dengan sedikit kasar.


Alice meneguk ludahnya susah payah. Kemudian dia memaksakan kelopak matanya agar terbuka meski tidak sepenuhnya. Seketika indra perabanya meremang saat mengetahui siapa orang di sebelah tubuh lemahnya.


"Mmm mmm." Alice mencoba berteriak, tetapi orang itu hanya menyeringai senang.


"Kamu takut? Tenang saja, di sini kita hanya akan bermain-main dan waktumu hanya sampai tiga hari saja. Harapanmu hanya trilyuner itu dan aku yakin dia tidak akan bisa menemukanmu. Mmm, mungkin dia juga akan membiarkanmu mati sia-sia di sini, hahaha!" ucapnya kejam bak seorang iblis.


Alice terus meronta dan berusaha berteriak, tetapi karena tubuhnya terikat dan mulutnya yang tertutupi itu membuatnya kesulitan. Tiba-tiba saja tangan orang itu terulur dan menarik isolasi—yang menutupi mulutnya—dengan kasar.


"Arghhh!" Alice menjerit kesakitan. Bibirnya terasa perih, mungkin sekarang sudah memerah.


"Kak Queen, apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa kamu menculikku?" tanya Alice kemudian.


Ya, orang yang sedari tadi bersama Alice adalah Queen—kakak tirinya. Saat ini Queen tersenyum miring menunjukkan sisi iblisnya.


"Balas dendam. Maybe." Queen berkata dengan begitu entengnya.


"Kak, tolong lepaskan aku. Aku tidak tahu apa pun masalah ini."


Tangan Queen kembali terulur, kali ini ke arah rambut Alice kemudian menjambaknya ke belakang dengan begitu kasar.


Suara teriakan kesakitan Alice memecah keheningan malam itu. Queen tersenyum senang melihat penderitaan Alice.


"Ini belum seberapa, Al, kamu akan membayar semua rasa sakit dan kehancuran kami!"


Queen menyentakkan kepala Alice hingga terdorong ke depan sampai jambakannya terlepas. Alice hanya bisa menahan air matanya, rasa sakit di kepalanya memang terasa, tetapi itu tidak mengalahkan rasa sakit di dalam hatinya.


Alice mengira Queen sudah selesai dengan aktivitasnya, tetapi ternyata tidak. Perempuan itu mengambil sesuatu di saku celana jeans yang dipakainya. Sebuah pisau lipat terulur di depan wajah Alice dan Queen menunjukkan senyum iblisnya.


"Ma … mau apa kamu, Kak?" tanyanya takut-takut.


"Aku akan mengukir sesuatu yang indah di bagian tubuhmu."


Perkataan Queen membuat tubuh Alice membeku. Dia takut kalau Queen akan berbuat yang tidak tidak.


"Kak, jangan lakukan ini. Aku mohon, please!"


Terlambat, pisau itu menggores panjang kening Alice hingga darah segar merembes keluar dan membasahi sebagian wajah Alice.


Alice hanya bisa berteriak kesakitan dan menangis dalam diam. Tuhan, tolong aku! David, datanglah! Tolong selamatkan aku! Seperti itulah teriakan hati Alice.


(◞‸◟ㆀ)


David meremas railing balkonnya. Hatinya terasa tidak tenang saat ini. Sejak tadi yang dilakukannya hanyalah memandangi langit yang terlihat mendung bahkan sang rembulan pun terlihat kesepian karena tidak ada bintang yang muncul.


Lamunan David buyar karena suara dering ponselnya yang berada di meja. Pria itu langsung meraih ponselnya yang mendapat telepon dari Daniel—tangan kanannya.


"Katakan sesuatu yang kamu dapatkan, Dan!" suruh David setelah menyambungkan panggilannya.


Daniel menjelaskan sesuatu dari seberang sana. Apa pun yang dikatakannya sepertinya terlihat begitu mengejutkan karena raut wajah David saat ini menunjukkan emosi yang luar biasa. Apa yang sebenarnya dikatakan Daniel?


Tanpa sabar menunggu, David langsung mematikan teleponnya. Dia segera meraih jaket abu-abu miliknya dan bergegas keluar dari kamar.


"Oh, shit!" David mengumpat karena terkejut dengan Herland yang tiba-tiba muncul di depan pintunya.


"Kita harus temui laki-laki itu dan memintanya untuk mengumpulkan informasi itu," ucap Herland. Dia tahu masalah ini karena sejak sore tadi dia ikut membantu mengorek informasi tentang hilangnya Alice.


David hanya mengangguk sekilas lalu berlari mendahului Herland. Apa pun yang menyangkut Alice dan keselamatannya, David akan bergerak cepat meskipun itu berbahaya.


"Biar aku yang nyetir, Dave, bahaya nanti."


David yang sudah hampir membuka pintu kemudi pun mengurungkan niatnya. Betul juga apa yang dikatakan kakaknya itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, David segera menyerahkan kunci mobilnya pada Herland dan dia berlari memutari mobilnya.


"Kamu tau rumah laki-laki itu?" tanya David setelah mobil itu melaju meninggalkan mansion mewahnya.


Herland mengangguk singkat. Dia bahkan sudah memastikan kalau orang itu sedang berada di rumah sekarang.


"Aku gagal, Kak, aku gagal menjaganya."


Herland tidak berkata apa pun untuk beberapa detik. Setelahnya dia bersuara, "Anggap saja ini ujian hubungan kalian. Jangan sampai kamu salah memilih, Dave. Nyawa Alice ada padamu dan Tuhan yang mengatur segalanya."


Jalanan malam itu tidak begitu ramai. Herland merasa keberuntungan sedang memihak David kali ini. Mobilnya melaju dengan kencang menuju sebuah komplek perumahan di pinggiran kota.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit yang seharusnya 30 menit, akhirnya mereka berdua telah sampai di sebuah rumah yang terlihat mewah dengan bangunan khas Eropa. Di sisi jalan yang sedikit jauh dari gerbang, terdapat beberapa mobil yang berisi bawahan David dan juga Herland. Mereka bertugas untuk menjaga sekitar rumah itu.


David segera keluar dari mobilnya dan berlari mendekati gerbang itu. Terlihat seorang satpam yang sedikit terkejut saat melihat kedatangannya, jelas saja satpam itu mengenalinya bahkan seluruh dunia pun mengenalnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanyanya sopan.


"Saya ingin bertemu orang yang tinggal di sini."


Satpam itu mengangguk lalu membukakan pintu gerbang selebar mungkin agar mobil David dapat ikut masuk ke dalam.


Setelah Herland memarkirkan mobil David dengan benar, mereka berdua segera menuju pintu dan mengetuknya tidak sabaran. Padahal sudah disediakan bel di sisi pintu.


"Bodoh! Mereka tidak akan mendengar ketukan kita!" umpat David. Dia langsung menekan bel itu.


Herland menepuk keningnya dengan keras hingga membuat keduanya meringis.


"Kita bodoh!" ucap mereka bersamaan.


Setelahnya pintu kayu yang tertutup rapat itu mulai terbuka dari dalam dan muncullah seorang wanita yang belum terlalu tua dan terlihat masih cantik. Ekspresi wajah wanita itu tidak jauh berbeda dengan satpam yang berharga di gerbang tadi.


"Puji Tuhan, apa yang membuat Anda berkenan mengunjungi rumah kami, Tuan Britama?" tanyanya sopan.


David hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia tidak suka berbasa-basi, tetapi demi menghormati orang tua yang seperti orang tuanya sendiri, dia berusaha untuk menahan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada di kepalanya.


"Kami berdua ingin bertemu dengan Eldric Adamson."