Cold CEO

Cold CEO
THIRTEEN



**Sebelum membaca, saya ingatkan untuk memahami terlebih dahulu sebelum berkomentar. Update lebih cepat dari perkiraan karena pengetikan telah selesai.


Bagi yang tidak menyukai cerita ini, bisa untuk segera meninggalkan. Terima kasih dan tetap semangat!


Happy reading❤️**


@@@


Alice menyeruput jus mangga favoritnya. Matanya yang sudah bosan menatap ruangan yang dominan berwarna hitam putih tersebut. Setelah pulang dari sekolah tadi, David meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar mewah milik pria itu.


Pria itu bisa-bisanya bertindak sesuka hati seperti ini, padahal lusa dia akan mengikuti perkemahan tahunan. Namun, apa yang terjadi? Pria dingin itu malah memindahkannya ke sekolah baru. Pasti akan sangat sulit untuknya beradaptasi dengan siswa yang berada di sana, meski ini baru 3 bulan lamanya memasuki semester baru, tetapi tetap saja menyusahkan dirinya.


Ini tidak masuk akal, bagaimana jika di sekolah barunya nanti dirinya akan tambah dibully, bahkan dengan begitu kejamnya. Membayangkannya saja sudah membuat Alice bernapas gusar.


"Apa yang kau pikirkan? Dokter sudah mengatakan jika kau tidak boleh banyak pikiran!" seru seseorang yang baru saja memasuki kamarnya. Orang itu tidak lain adalah David.


Alice mengerjapkan matanya, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyatanya. Ditatapnya David dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Alice memilih untuk mengembuskan napasnya, seolah-olah sedang melepaskan beban yang begitu berat.


"Ada apa?" tanya David lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Alice. "Masalah sekolah baru, right?" tebaknya yang tepat sasaran.


Alice menganggukkan kepalanya pasrah. David memang pandai menebak, apa karena ekspresinya begitu terlihat?


"Itu semua demi kebaikanmu, Alice." David berkata lembut. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Alice.


"Tapi itu menyusahkanku. Aku … aku harus beradaptasi lagi dengan mereka, terlebih lagi aku tak memiliki orang yang aku kenali di sana. Bagaimana jika nanti di sana aku dibully, bahkan lebih parah?" tanya Alice yang menyuarakan segala kerisauannya.


David merengkuh pinggang Alice dan merapatkan tubuhnya, berusaha meyakinkan pada gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja. "Tenang saja, sekolah itu sudah terjamin keamanannya. Jika ada yang melukaimu, aku tidak akan segan-segan mengeluarkan orang itu tanpa memindahkanmu ke sekolah baru."


Alice mengangguk. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Saat ini, hanya David lah tempat dirinya bergantung. Namun sayangnya, ada rasa sedikit mengganjal di dalam sana … di dalam hatinya.


"Kau terlihat ragu, ada masalah?" tanya David yang menyadari kegelisahan Alice.


Alice menatap David lekat-lekat. Bola matanya menelisik lensa berwarna abu-abu tersebut, merasakan begitu dalamnya tatapan tajam itu dan menghanyutkan dirinya. "Apa kau bisa menunggu perasaanku? Percayalah, aku belum merasakan getaran-getaran itu nyata adanya. Aku hanya tidak ingin membuatmu terluka, David," lirihnya pelan.


David melonggarkan tangannya yang melilit pinggang Alice. Pria itu menatap tajam lensa biru yang meneduhkan milik Alice. Alice menatap was-was, ia takut jika pria itu marah dan meninggalkannya.


"You're mine, Alice. Aku akan tetap menunggumu. Acara pertunangan yang resmi akan dilakukan beberapa hari lagi. Setelahnya … aku akan menunggumu sampai siap, tidak peduli sampai aku tua sekalipun." Jawaban David membuat Alice melebarkan kelopak matanya. Ia tidak percaya jika David akan melakukannya.


"Tapi bukankah kau sudah tua saat ini, Mister Ceo?" ucap Alice dengan wajah polosnya.


David berdecak dan menggeser tubuhnya menjauhi Alice. "Ah, tipemu pasti pria muda seperti Arnold, right?" tanya David datar.


Alice terkekeh, ia senang melihat David yang terlihat kesal seperti itu. Gadis itu mengecup singkat pipi pria itu dari samping karena posisi David yang tengah memalingkan wajahnya. Buru-buru ia menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dan berbaring memunggungi David.


Pria itu merasa tegang beberapa saat karena tindakan tiba-tiba dari Alice. Dia memperhatikan Alice yang sudah bersembunyi di balik selimut. Ingin sekali dirinya membalas perbuatan Alice, tetapi sepertinya gadis itu sudah mengantuk jadilah David menahan keinginannya dan ikut merebahkan diri di belakang tubuh Alice. Tidak lupa tangannya memeluk erat-erat pinggang ramping Alice dan meletakkan dagunya di atas puncak kepala gadis itu.


@@@


Alice mengunyah sandwich di tangannya dengan sedikit terburu. Ia terlambat bangun tadi pagi, jadilah dirinya harus sarapan di dalam mobil. David terlihat santai, tidak seheboh dirinya yang takut dihukum.


David berdecak kecil. Apa gadis di sebelahnya itu sudah melupakan sesuatu? Apa dia benar-benar gadis bodoh?


"Al—"


"Tidak … tidak! Aku tidak ingin terlambat. Aku bisa dihukum nanti." Alice masih berteriak heboh. Memotong ucapan David seenaknya.


"Aku belum pernah terlambat. Ah bahkan jangan sampai pernah sekalipun. Apa sekarang aku akan menjadi murid yang buruk karena terlambat? Tidak … tidak, David hentikan mobilnya!"


David menghela napasnya. "Sudah belum ngomelnya, dasar cerewet!"


Alice membulatkan matanya tak percaya. Ia panik, wajar. Tapi malah dikatai cerewet? Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Apa kau lupa kalau kau pindah sekolah?" ucap David yang memotong ucapan Alice terlebih dahulu.


Alice tersedak ludahnya sendiri. Ah, kalau sudah begini jadi semakin terlihat kebodohannya. Gadis itu tersenyum kikuk ke arah David yang sudah terlebih dulu menatapnya dengan kesal. Ia memaksa diri untuk terkekeh, tetapi malah terdengar begitu garing saat mendengarnya.


"Kita sudah sampai, aku akan mengantarkanmu sampai ruang kepala sekolah," ucap David yang sudah bersiap melepas sealtbet nya.


Alice mengangguk dan mengikuti pergerakan David. Ia mengikuti langkah kaki David yang mulai memasuki lorong sekolah megah tesebut. Dalam hati, Alice bertanya-tanya tentang seberapa besar biaya yang David keluarkan untuk menyekolahkannya di sini.


***


Alice mengikuti langkah kaki Mrs. Rowly dari belakang. Kepalanya masih tertunduk, menatap lantai yang tengah menjadi pijakannya. Ia sudah mendapatkan kelasnya, kelas 11A, tempat kelas atas yang sesuai dengan kemampuannya. David benar-benar memberikan yang terbaik untuknya.


Alice memperhatikan seisi kelas barunya. Benar-benar terasa tenang, tidak banyak suara di sini sesuai dengan keinginannya. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang menatapnya. Mendadak Alice merasa gugup. Suara Mrs. Rowly menyadarkannya dan membuat dirinya berdehem pelan.


Mrs. Rowly menuyuruhnya untuk memperkenalkan diri sebelum duduk di tempatnya. Alice mengangguk pelan dan menetralkan degup jantungnya.


"Hai, semuanya!" sapanya dengan gugup. "Namaku Alice Zoyna Smith. Panggil saja Alice. Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa tanyakan langsung padaku nanti. Senang menjadi bagian dari kalian," lanjutnya yang masih merasa gugup. Tidak banyak yang memberi tanggapan sehingga membuat Mrs. Rowly mempersilakan Alice untuk menuju bangkunya.


Alice duduk tepat di depan laki-laki yang menatapnya tadi. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Seorang gadis yang duduk di depannya, menolehkan kepala ke arah Alice dengan tersenyum senang.


"Hai, Alice! Aku Kimberly Jordania, panggil saja Kimmy. Kita ke kantin bersama ya nanti!" ajak perempuan itu dengan ramahnya. Alice hanya menganggukkan kepalanya saja pertanda setuju.


Alice merasa dirinya terus diperhatikan sejak tadi. Dia yakin jika laki-laki di belakangnya yang melakukan itu dan Alice berusaha untuk tidak menanggapinya. Alice berusaha memperhatikan Mrs. Rowly yang tengah menerangkan materi tentang struktur tanaman.


Bel istirahat berbunyi dengan nyaringnya. Beberapa siswa yang sudah merasa lapar pun sedikit menghela napas lega bahkan ada yang bersorak denga hebohnya. Alice hanya membereskan alat tulisnya dengan santai sambil menunggu Kimmy yang belum selesai mencatat.


"Alice, tunggu aku! Sebentar lagi aku akan selesai," ucap Kimmy terburu-buru.


Alice terkekeh pelan, ia menopang dagunya dengan kedua sikunya yang menjadi penyangga. "Tenang saja, Kimmy. Aku belum terlalu lapar, tidak usah terburu-buru!"


Terlihat Kimmy menganggukkan kepalanya. Alice kembali fokus menatap papan tulis hingga sebuah suara berhasil mengalihkan perhatiannya.


"Ada yang aneh dengan kepindahanmu."