
"Ada yang aneh dengan kepindahanmu."
Alice menoleh dan mendapati laki-laki tadi tengah menatap tajam dirinya. Seolah-olah dia adalah mangsanya yang akan lari. Ia mengamati tubuhnya sendiri, barangkali ada yang salah dengan pakaiannya.
"Tidak ada yang salah dengan pakaianmu." Laki-laki itu kembali mengeluarkan suara.
"Maksudmu berkata seperti tadi itu apa?"
"Setahuku … keluarga Smith sudah tidak ada. Ah, lebih tepatnya sudah hancur. Lalu bagaimana bisa kau bersekolah di tempat seperti ini?"
Alice terdiam di tempatnya. Meski David sudah menyuruhnya untuk memakai nama marga David, tetap saja Alice tidak melakukannya.
"Alice, aku sudah selesai. Ayo ke kantin!" Kimmy berhasil menyelamatkan Alice dari pertanyaan laki-laki di belakangnya itu.
"Eh, ada Eldric. Aku pinjem Alice duluan, ya. Kalian lanjut ngobrol nanti lagi aja. Bye!"
Dua gadis itu berjalan dengan sedikit terburu-buru karena waktu istirahat mereka telah terpotong 5 menit hanya untuk menyalin catatan. Padahal hanya Kimmy yang melakukan itu.
Setibanya mereka di kantin, suasana ramai tiba-tiba menjadi hening. Seluruh pandangan terpusat pada Kimmy, lebih tepatnya sosok di sebelah Kimmy. Suara bisikan semakin terdengar di telinga Alice ketika dirinya semakin melangkah mendekat menuju salah satu bangku kantin.
"Kenapa semuanya melihat ke arahku, Kimmy?" tanya Alice yang mulai merasa tidak nyaman.
Kimmy mengedarkan pandangannya dan menyetujui ucapan Alice. Mereka begitu terang-terangan menatap Alice. Biasanya, tidak terlalu seperti itu kalau ada murid baru.
"Kenapa kalian menatap Alice seperti itu?!" teriak Kimmy dengan begitu lantangnya.
Mereka hanya menjawab dengan bisikan-bisikan. Berbeda dengan beberapa orang yang mengeluarkan suaranya dengan sedikit keras.
"Dia cantik banget!"
"Murid baru, ya?"
"Aneh banget orangnya!"
"Bagi id line nya!"
Alice dan Kimmy menggeleng. Mereka segera duduk di bangku yang tersisa itu, waktu mereka akan semakin terbuang untuk menanggapi para netizen kurang kerjaan itu.
"Aku akan mengambilkan makanan untuk kita, kamu tunggu di sini!"
Alice mengeluarkan ponselnya saat Kimmy sudah meninggalkannya. Dia sedikit terkejut saat melihat banyaknya notifikasi dari aplikasi offline maupun online. Tanpa perlu bertanya pun Alice tahu siapa yang melakukan hal itu. David … tentu saja.
Cold CEO(emoticon iblis) : Hello sweetheart, sudah makan?
Cold CEO(emoticon iblis) : Nanti pulang aku jemput
Sibuk?
Cold CEO(emoticon iblis) : Punya temen baru, temen lama dilupain?
Cold CEO(emoticon iblis) : Hm.
Cold CEO(emoticon iblis) : Alice…
Cold CEO(emoticon iblis) : Al
Cold CEO(emoticon iblis) : Ice… dingin
Cold CEO(emoticon iblis) : Alice…
Cold CEO(emoticon iblis) : I love you.
Alice menggelengkan kepalanya. David si pria dingin itu bisa seperti ini? Benar-benar tidak pernah terpikirkan olehnya.
Cold CEO(emoticon iblis) : Sekarang berubah jadi sombong. Read tanpa balas. Ok.
Alice menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Jantungnya terasa berdebar meski orangnya tidak berhadapan langsung dengannya.
Alice mematikan ponselnya dan langsung menatap Kimmy yang belum duduk. "Em … ti … tidak, ak … aku itu tadi ada … pesan lucu. Ah, ya … pesan lucu," jawab Alice gugup.
Kimmy menahan tawanya saat melihat wajah Alice yang seperti tertangkap basah karena mencuri. "Ahahahahaha." Tawanya pun tak bisa dia tahan lagi. Wajah Alice benar-benar terlihat sangat lucu sekarang ini.
"Tenanglah, Al, hahaha. Aku hanya bercanda. Dari pacar pastinya, ya?" godanya yang kini mulai duduk di sebelah Alice.
"Pacar … apa?"
Kimmy menghela napas kecewa. "Ternyata bukan, ya? Biasanya kalau senyum-senyum gitu … dapat chat dari sang kekasih."
Pipi Alice bersemu saat Kimmy berkata seperti itu. "Sudah, sudah. Lebih baik kita makan dulu, sebentar lagi bel masuk bunyi."
Kimmy manggut-manggut. "Ternyata ada yang pandai mengalihkan pembicaraan."
"Kimmy," gerutu Alice yang direspons tawaan.
Alice menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Sebenarnya dia tidak menyukai makanan itu, tetapi demi absen makannya dia harus mau memakan makanan itu.
Tiba-tiba seseorang sedikit terdorong tubuhnya ke arah Alice. Jus jeruk yang dibawanya pun tumpah ke kepala Alice dan membasahi tubuhnya.
"Eh … maaf, Kak, aku tidak sengaja," ucap perempuan itu dengan sedikit panik. Dia tadi seperti didorong oleh seseorang dan membuat minuman itu menyumpahi Alice. Karena posisinya berdiri dan Alice duduk, minumannya itu tumpah ke rambut Alice.
"Gimana sih kamu itu?! Kalau jalan hati-hati dong! Lihat karena ulah cerobohmu itu!" sembur Kimmy yang sudah kembali berdiri.
Alice ikut berdiri dan menyamai tinggi perempuan yang diduga adik kelasnya. "Tidak apa-apa, kamu memang tidak sengaja," ucapnya lembut. Bahkan bibirnya membentuk senyuman yang begitu tulus.
"Al, nggak bisa gitu dong! Kalau dibiarin nanti semakin semena-mena dia ke depannya!" Kimmy tidak menyerah. Dia tetap kekeh untuk memarahi adik kelas yang sudah terlihat ketakutan itu.
Alice mengusap lengan Kimmy dengan lembut dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Kimmy, dia tidak sengaja."
Alice bergantian menatap adik kelas tersebut. "Ini uang buat ganti minuman kamu. Tidak usah takut, sekarang belilah minuman lagi sebelum bel berbunyi."
Kimmy melongo melihat Alice yang ternyata sangat kelewat baik. Sudah jatuh, malah memberi madu.
"Kimmy, aku mau ke kamar mandi dulu. Tapi aku…."
"Aku akan menemanimu."
Alice bergegas meninggalkan tempatnya. Setidaknya dia sudah makan sesuap nasi dan bisa bebas dari amarah David.
"Alice, aku baru pertama kali ini melihat perempuan yang baik sepertimu."
Alice yang sedang membuka lokernya hanya tersenyum meski tidak dilihat oleh Kimmy. "Menjadi baik bukanlah suatu pilihan, tapi keharusan. Kita harus berani berbeda selama itu dalam hal baik."
Kimmy terdiam. Ada benarnya juga ucapan Alice. Selama ini dirinya lebih memilih tak acuh dan menyendiri. Baru kali ini dia memiliki teman, bahkan dia tidak menyangka jika bisa seemosi tadi saat melihat temannya disakiti.
Kimmy menunggu Alice yang sedang membilas tubuhnya. Bel masuk baru saja berbunyi. Pelajaran setelah ini adalah kimia dengan guru yang sangat kejam.
Kimmy mendekati pintu kamar mandi yang dipakai Alice. Dia mengetuknya sedikit keras supaya Alice mendengar.
"Ada apa, Kimmy?"
"Alice, aku ke kelas dulu untuk izin. Kamu tunggu aku di sini saja!"
"Baiklah!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Alice, Kimmy segera menuju kelas. Entah mengapa dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Alice, perasaannya sangat tidak enak.
Alice mendengar suara pintu yang dibuka. Mungkin itu Kimmy yang baru saja ke luar. Dia segera memakai seragamnya dengan cepat.
Baru saja dia membuka pintunya, seseorang sudah menyambutnya dengan seringaian tajamnya. Alice terdiam di tempatnya, apa yang akan terjadi—lagi?
"Halo, Alice Zoyna Smith!"