
Lampu yang sebelumnya menyala dengan terangnya, perlahan-lahan mulai padam dan digantikan dengan cahaya remang-remang dari sebuah lampu disko.
David mengulurkan sebuah topeng yang begitu elegan kepada Alice. Dua topeng tersebut sudah dipersiapkan dengan matang dari segi bentuk maupun warna.
Alice menerima topeng tersebut dengan senang hati. Ia merasa gugup sekaligus senang. Tak lama setelah ia memakai topeng tersebut, David mengulurkan tangannya bak seorang pangeran yang ingin mengajak sang putri berdansa.
David menggenggam tangan Alice begitu erat seakan-akan takut jika Alice pergi jauh meninggalkannya. Dia menatap lekat-lekat netra Alice yang terlihat dari balik topengnya.
Alunan musik telah mengalun dengan indahnya, memberi hiasan pada suasana yang sangat romantis itu. David berdansa dengan Alice, sedangkan Herland bersama Anna, adiknya.
Alice sebetulnya merasa gugup saat tangan kokoh David melingkari pinggangnya. Ia belum pernah dansa seperti ini dan dirinya hanya sekadar tahu dari beberapa film yang pernah ditontonnya dulu—sebelum hidupnya yang berubah menjadi kacau.
David meraih kedua tangan Alice dan melingkarkannya ke leher miliknya. Tatapannya saling beradu. Dia merasakan degup jantungnya yang meronta.
Mereka berdua hanyut dalam perasaan masing-masing. David mendekatkan wajahnya ke belakang telinga Alice dan berkata, "Nānu ninnannu prītisuttēne." (aku mencintaimu)
Alice merasakan tubuhnya tiba-tiba meremang. Ia menolehkan kepalanya ke arah David yang masih belum berpindah posisi. Namun, Alice malah mendapati sesuatu yang tidak mengenakkan dari jauh sana. Seseorang tengah berdiri menghadap David dengan sebuah pisau dengan ujung yang begitu runcing.
"David, awas!" teriaknya saat pisau itu sudah dilesatkan dengan kecepatan yang sesuai dengan jaraknya.
Alice memutarkan tubuhnya dan membuat dirinya berada di depan tubuh David. Ia tidak tahu saja jika itu memang rencana yang akan digunakan oleh si perempuan licik tersebut. Sasarannya memang Alice, bukan David.
David yang tadinya memejamkan mata, merasa terkejut dengan teriakkan Alice tadi. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tubuhnya dipeluk dengan begitu erat oleh gadis remaja itu.
"Al!" panggilnya saat pelukan di tubuhnya itu mulai melemah.
Tak ada respons sedikit pun dari Alice. David mendengar banyak orang yang mulai histeris dan dia mendapati gaun bagian Alice yang sudah ternodai darah yang berasal dari sebuah pisau di punggungnya. Pria itu terkejut dan mendongakkan wajah Alice sehingga tatapan mereka saling bertemu.
David masih mendapati sorot mata teduh Alice yang tertutupi topeng. Dilepasnya topeng tersebut dan dilemparnya ke sembarang arah. Alice tersenyum begitu manis membuat David semakin merasa panik sekaligus takut.
Herland dan Anna datang menghampiri mereka dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.
"Alice, apa yang terjadi?" tanya David dengan tidak tenang. Lagi-lagi Alice hanya tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya dengan begitu lemah.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" perintah Herland yang langsung disetujui David.
"Dave, pisaunya," lirih Anna yang melihat dengan begitu jelas sebuah pisau yang masih menancap di punggung Alice.
David mengarahkan tangannya ke sebuah pisau itu, tetapi tangan Alice menghalangi usahanya.
"Ja … ngan sa … kit," lirihnya.
"Tahan sebentar, ini demi keselamatan kamu. Aku yakin kamu bisa, Al."
David langsung mencabut pisau itu bersamaan dengan suara pekikan Alice yang memilukan. Dia melepaskan tuxedonya untuk menekan luka Alice. Dia menyuruh Anna menggantikan tangannya agar dirinya bisa membawa Alice ke dalam gendongannya.
"Bertahanlah, Alice! Kau pasti kuat," ucapnya saat mendapati Alice yang masih setengah menjaga kesadarannya.
Suasana pesta begitu ricuh malam itu. Mereka tidak mengira jika kejadian seperti itu akan terjadi. Apalagi yang menjadi korban adalah tunangan dari seorang CEO muda terkaya di dunia.
Mobil yang dikemudikan oleh Herland, melesat dengan begitu cepatnya. Di belakang mobilnya, ada Anna yang mengendarai mobil milik David dan diikuti oleh beberapa pengawal yang sudah siaga.
Sesampainya di rumah sakit, David berlari dengan terburu-buru sambil menggendong tubuh Alice yang sudah berlumuran darah. Perawat yang melihat itu, buru-buru mengambil brankar rumah sakit untuk Alice.
Para perawat laki-laki maupun perempuan tersebut membawa Alice ke ruang ICU dengan begitu cekatan. Seorang dokter pria memasuki ruangan tersebut dengan terburu-buru.
Dokter itu tahu siapa pasien yang akan ditanganinya. Namun sayangnya, David tidak mengetahui hal itu. Pikirannya masih kalut dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Dokter tadi keluar bersama para perawat yang membawa Alice di atas brankar. Dokter pria yang bernama Aland tersebut mengatakan pada David jika Alice harus segera dioperasi.
▪️▫️▫️▪️
David menggenggam tangan yang tidak bertenaga tersebut dengan erat. Meski dia mengantuk, tetapi tak sedikit pun matanya bisa terpejam. Sudah lima jam lamanya usai operasi berlangsung, Alice tak sadarkan diri.
David tahu semuanya, dokter tadi sudah menjelaskan jika penyakit Alice juga kambuh. Jika dalam waktu 9 jam Alice tak kunjung sadarkan diri, ia akan mengalami koma karena luka yang didapatinya tadi. Ternyata pisau tadi mengandung racun yang cukup berbahaya, untung saja pisau tadi langsung dicabut oleh David.
William dan Sarah Britama masih dalam perjalanan menuju Kanada. Mereka mendapatkan kabar tersebut dari Anna karena Herland tidak sanggup untuk mengatakannya.
David masih mengeratkan genggamannya. Diciuminya tangan yang terbebas dari infus tersebut.
"Alice, sadarlah! Kalau kamu tidak sadar juga, aku akan menciummu nanti. Aku akan menghukummu nanti," bisiknya dan berharap Alice dapat mendengar suaranya di bawah alam sadarnya.
Dia hanya berharap agar Alice tidak koma dan segera melewati masa kritisnya. Hanya itu yang diinginkannya saat ini.
"Kalau gitu, kita tukeran aja. Biar aku yang tidur dan kamu yang bangun." David bersuara dengan suara setengah seraknya.
Anna yang mendengarnya pun tak kalah sedih. Baru kali ini kakaknya begitu tulus mencintai seseorang. Selama ini, kakaknya hanya selalu dipermainkan oleh sebuah cinta. Cinta yang selalu datang untuk memanfaatkannya saja.
Anna menghampiri kakaknya. Ia mengusap lembut bahu kokoh milik kakaknya, tempat yang sering dirinya jadikan sandaran ketika sedang sedih maupun kalut.
"Kakak yang sabar. Alice pasti sadar, kok. Dia tidak akan mungkin meninggalkan Kakak. Alice gadis yang kuat. Kakak tidak boleh sedih kalau kakak sedih … tidak ada yang memberi semangat untuk Alice agar cepat sadar dan lekas pulih. Kakak istirahat, ya? Kalau sampai Kakak sakit, siapa yang akan jagain Alice nanti?" ucapanya panjang lebar.
David hanya mengangguk. Masih ada waktu 4 jam untuk Alice mendapatkan kesadarannya. Dia memutuskan untuk terlelap sejenak, merilekskan otot tubuhnya yang sudah lelah.
Anna menangis dalam rengkuhan Herland. David hanya menatap datar tanpa ekspresi sedikit pun. Matanya memerah, tetapi air mata tak kunjung keluar juga. Hatinya begitu hancur saat melihat nama yang sudah tertuliskan di tempat itu.
"Seperti inikah akhirnya? Kenapa kau pergi secepat ini? Apa aku menyakitimu? Apa kau sangat membenciku hingga memilih jauh dariku?" lirihnya yang masih dapat didengarkan oleh empat manusia yang berdiri di belakangnya.
Tangannya mengusap batu nisan yang telah terukir indah di atas tanah tersebut. Di bawah sana, Alice telah beristirahat dengan tenang. Tidak akan ada rasa sakit lagi yang menimpanya.
"Kuatkan dirimu, Dave," ujar Herland yang menyembunyikan kesedihannya dari balik kacamata hitamnya.
William mendekat dan menepuk bahu kiri putra keduanya. Dia juga ikut merasakan kesedihan yang mendalam meski wajahnya terlihat tenang. Tidak jauh berbeda dari David.
David menganggukkan kepalanya. Dia memutuskan untuk berdiri usai menaburkan beberapa bunga yang sudah dibawanya.
"Aku pergi, Al. Jika ada yang menyakitimu di sana, beritahu aku!"