
Alice dan Kimmy saat ini tengah berkutat dengan tugas yang diberikan oleh guru yang baru saja pergi meninggalkan kelas. Awalnya, dua gadis itu mengerjakan dengan tenang, tetapi saat seorang temannya baru saja kembali dari kamar mandi, suasana kelas menjadi gaduh. Kimmy mengedarkan pandangannya ke arah siswi yang tengah bergerombol di tengah kelas, mereka berbicara sambil mengawasi tempat duduknya, tetapi pandangan mereka terlihat lebih ke arah teman sebangkunya, Alice.
Kimmy merasakan ada perubahan dari raut wajah mereka semua. Ada tatapan benci, jijik, dan juga merendahkan. Sebenarnya apa yang terjadi? Gadis itu kembali memfokuskan pikirannya. Dia menoleh sejenak, memperhatikan Alice yang masih terpaku dengan tugasnya.
"Alice!" panggilnya.
Alice menoleh cepat. "Ya, ada apa, Kimmy?"
"Aku rasa teman perempuan satu kelas kita tengah membicarakanmu di tengah ruangan sana," ucapnya memberitahu.
Alice melirik kecil dari balik punggung Kimmy dan benar saja, orang yang masih asyik merupakan itu sedang menatapnya dengan sorotan penuh kebencian.
"Apa kamu berbuat salah dengan mereka, Alice?" tanya Kimmy yang mendapatkan gelengan kepala dari Alice.
Brak!
Mereka berdua tersentak kaget saat meja yang mereka gunakan digebrak dengan tiba-tiba oleh salah satu teman sekelasnya yang bernama Felli.
"Ada apa, Fel?" tanya Kimmy mendahului Alice.
"Teman sebangku kamu itu ternyata *****, ya?" sengitnya.
Alice membelalakkan mata. Jantungnya berdegup tak beraturan. Bagaimana bisa Felli menyebutnya seperti itu?
"Jaga cara bicaramu, Felli! Kalau kamu tidak bisa berkata yang baik, lebih baik diam!" gertak Kimmy emosi. Dia tidak terima jika teman barunya dikatai seperti itu.
"Kimmy, Kimmy, kenapa sih kamu mau temenan sama dia? Kurang baik apalagi kalau temenan sama kita? Lebih baik temenan sama kita yang nggak pernah rebut calon suami orang!" Felli kembali menjadi provokator agar Kimmy terhasut.
"Maksud kamu apa sih, Felli?! Cukup berkata yang tidak-tidak!" Kimmy mulai tersulut emosi. Dia langsung menarik pergelangan tangan Alice dan menggiringnya pergi dari kelas.
Di sinilah mereka berdua sekarang berada. Rooftop sekolah memang tempat yang cukup menenangkan, bahkan berhasil membuat suasana hati menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Kimmy!" Alice mengulurkan sebotol air mineral padanya agar perempuan itu sedikit merasa tenang.
"Kamu tidak perlu semarah itu. Aku tidak apa-apa kok."
"Tapi mereka sudah keterlaluan mengataimu seperti itu, Alice!"
"Ingin kuceritakan sesuatu tidak? Aku hanya tidak ingin terjadi salah paham sebelum mereka bercerita hal yang tidak-tidak tentangku."
Kimmy menganggukkan kepalanya begitu mantap. Tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan Alice. Dia ingin menyalurkan semangat pada perempuan yang sudah dia anggap sahabat.
πππ
Pasangan suami istri itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Raut wajahnya menggambarkan betapa sedang gelisahnya hati mereka saat ini.
"Alice ikut saja denganmu, biarkan aku pergi dan bertanggung jawab atas semua perbuatanku!"
Seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai itu mulai berderai air mata. Dalam hatinya dia berat untuk meninggalkan suami dan putri semata wayangnya yang sangat dia sayangi.
Alice kecil hanya bisa diam melihat itu semua. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti kejadian yang terjadi saat itu.
"Tidak, Vanka! Kau tetap istriku! Kau istri sahku! Selama aku masih bernapas, sedikit pun aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
"Wildan, aku tau ini berat, tapi aku tidak bisa hidup bersamamu lagi. Wanita itu lebih membutuhkanmu. Jangan lupakan anaknya yang juga anakmu!" Usai mengatakan hal itu, Vankaβmama Alice berlari begitu saja. Dia benar-benar pergi dan memutuskan semua hubungan yang menyangkut Wildan Smith dan Alice Zoyna Smith.
Alice yang waktu itu masih berusia 8 tahun, hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Dia mendekati sang papa lalu memeluk erat kaki pria itu.
Wildan menunduk, menatap sendu putri satu-satunya itu. Dia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan tinggi badan Alice. "Kenapa menangis?" tanyanya berusaha terlihat baik-baik saja.
"Alice nakal ya, Pa? Mama pergi karena Alice nakal kan, Pa?" ucapnya dengan suara bergetar, menahan isakan.
Wildan menggelengkan kepala. "Mama cuma pergi sebentar kok, nanti juga pulang lagi. Jangan benci sama Mama, ya? Mama adalah malaikat yang sudah berjiwa besar mengandung dan melahirkan Alice," papar Wildan dengan suara lembutnya. Dia mengusap rambut Alice yang sudah sepunggung panjangnya.
Wildan meminta Alice masuk rumah terlebih dahulu. Dia sibuk memandangi jalanan rumahnya yang terlihat sepi. Bayangan Vanka yang baru saja pergi kembali memenuhi pikirannya. Vanka pergi karena dirinya. Wanita itu rela disebut ****** hanya untuk menutupi aib suaminya. Entah bagaimana hidup Vanka nanti di luar sana. Istrinya itu bahkan tidak pernah pergi jauh-jauh dari rumahnya, tetapi sekarang dia memilih untuk pergi selama-lamanya.
Pria itu dengan terburu-buru mengemudikan mobilnya bersama Alice yang duduk manis di sebelah bangku kemudinya. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Tidak masalah untuknya jika Vanka pergi jauh, asalkan dia masih berada di bumi ini. Namun, yang menjadi masalah jika Vanka memilih pergi untuk selamanya dan tidak berpijak di atas bumi ini.
Wildan menangis pilu sambil memeluk jasad istrinya yang telah kaku. Dia terus mengucap kata maaf untuk istrinya. Dia akan melakukan segala cara asalkan wanita itu mau membuka matanya kembali.
Alice diam membisu. Dia tahu jika sang mama telah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Gadis kecil itu terisak kecil. Berada di sebelah brankar yang tidak terdapat papanya, dia menangis sambil memegang tangan sang mama.
"Mama, maafkan Alice," bisiknya pelan.
"Akhirnya wanita ****** itu pergi juga! Memalukan saja punya menantu seperti dia!" Seorang wanita yang terlihat sudah berumur, berkata sengit sambil mendekati Wildan. Alice masih terdiam di tempatnya sambil terus menangis dan tetap mendengarkan ucapan wanita itu.
"Hentikan, Ma! Dia bukan wanita seperti itu!" bantah Wildan yang tidak terima jika istrinya masih tidak mendapatkan ketenangan usai pergi meninggalkan dunia.
"Bawa anak itu ke panti asuhan, Wildan! Dia bukan anak kamu! Dia itu anak haram!"
"Tidak, Ma! Dia anak Wildan! Dia anak kandung Wildan!"
"Kamu itu sudah lama menikah dengan Vanka dan kalian tidak segera diberi anak! Sekarang kalian mendapat anak dengan tiba-tiba. Apa namanya kalau bukan anak haram?!"
Wildan tidak membalas ucapan mamanya karena dia tahu betul jika dirinya yang salah bukan Vanka. Dia memilih untuk pergi sambil membawa Alice ke dalam gendongannya.
"Pa, anak haram itu apa?" tanya Alice dengan polosnya.
Wildan mengusap air matanya dengan kasar. Dia menggelengkan kepalanya pelan seraya berkata, "Tidak, Sayang, jangan dengarkan ucapan itu. Alice anak Papa sama Mama. Jangan pedulikan ucapan itu, ya?"
Alice dan Wildan hidup berdua saja usai kepergian Vanka. Mereka memilih untuk pindah ke Kanada dan membangun hidup baru di sana. Wildan dengan memulai usaha baru dan terus berkembang. Hingga musibah datang di tahun pertama. Alice divonis mengidap penyakit kanker otak stadium dua. Demi kesembuhan Alice, Wildan rela berhutang ke sana sini untuk biaya operasi Alice.
Kebetulan sekali dia bersahabat dengan William. Pria terkaya nomor 1 di dunia. Sayangnya, waktu itu mereka belum bisa bertemu dan Wildan terpaksa meminjam uang pada perusahaan cabang William yang ternyata tengah dipegang oleh anak keduanya, yaitu David.
David awalnya enggan memberikan pinjaman, tetapi karena Wildan yang terlihat begitu menyedihkan di matanya, dia memutuskan untuk memberikan pinjaman dengan syarat dirinya diizinkan bertemu langsung dengan anak Wildan yang tengah sakit.
Pria itu David, David Lozyo Britama, anak dari William Britama. David yang saat itu masih remaja, menyatakan ketertarikannya dengan Alice. Wildan hanya tersenyum menanggapinya. Dia hanya berpikir jika itu hanyalah cinta monyet anak remaja.
Hingga 6 bulan setelahnya, Wildan mendapatkan kabar jika David mengalami kecelakaan. Remaja laki-laki itu mengalami hilang ingatan total, bahkan dia tidak mengingat siapa namanya. Alice yang saat itu mulai merasa nyaman dengan David, terus saja mencari laki-laki itu, tetapi Wildan enggan memberitahu sedikit pun tentang David.
Wildan yang kembali dipusingkan dengan keadaan Alice, memilih untuk meminjam uang pada seorang rekan bisnisnya. Sayangnya, dia tidak tahu jika mereka berusaha menjebak dirinya. Hingga malam itu tiba, Wildan dan Alice sedang menikmati makan malam dengan begitu damainya di ruang makan.
Suara dobrakan pintu dan juga tembakan, membuat ayah dan anak itu terkejut. Mereka segera berlari menuju ruang tamu. Tidak disangka di sana sudah ada orang berpakaian serba hitam khas seorang penjahat dengan seorang pria di depannya, kemungkinan dia adalah bosnya.
Tanpa basa-basi mereka menembak Wildan dan membuat pria itu jatuh tersungkur.
"PAPA!!" Alice berteriak begitu kencang saat melihat sang papa jatuh di atas lantai.
"Jatuhkan bomnya!" suruh orang yang berdiri di tengah-tengah laki-laki berpakaian hitam.
Tak lama kemudian, sebuah bom yang seperti petasan jatuh di sebelah Alice. Hitungan yang tersisa hanyalah 45 detik. Alice hanya bisa menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa. Papanya sudah terlihat lemas tidak berdaya, sedangkan dirinya tidak akan kuat untuk membawa sang papa pergi menjauh.
Tiba-tiba sebuah asap mengepul di ruang itu membuat Alice kesulitan melihat. Dia terus meneriaki sang papa hingga dia merasa tubuhnya diangkat dan dibawa ke dalam gendongan. Alice dibawa keluar dengan menembus pekatnya asap. Tak berselang lama, suara ledakan begitu memekakkan telinganya.
"PAPA!!!!" Alice berteriak semakin histeris. Dia masih berada dalam gendongan orang yang tidak dikenalnya.
Alice terus meronta dan menangis hingga kesadarannya habis. Gadis kecil berusia 12 tahun itu pingsan di dalam gendongan seorang pria yang sudah menyelamatkannya. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Seorang dokter mengatakan jika papanya tidak berhasil diselamatkan. Hal itu membuat Alice terus menyalahkan dirinya sendiri. Tidak cukup sampai di situ saja, dia bahkan tidak diberitahu di mana tempat papanya disemayamkan.
πππ
Kimmy memeluk Alice begitu erat. Dia ikut menangis mendengar cerita pilu dari sosok Alice yang dilihatnya selalu tersenyum.
"Alice, aku tidak tahu bagaimana rasanya jadi kamu, tapi aku yakin kamu kuat. Kamu pasti mampu melewati ini semua. Apalagi sekarang ada Tuan Triliuner itu yang selalu menjagamu," ucap Kimmy berusaha menyuntikkan energi positifnya.
Alice juga sudah bercerita tentang David yang menjadi tunangannya. Hal itu membuat Kimmy terkejut, tetapi dia jadi mengerti apa alasan teman sekelasnya itu menggosip tentang Alice. Mungkin ada orang yang tidak menyukai Alice dan ingin menghancurkan kebahagiaan Alice.
Mereka terus bercerita dan tidak tahu jika ada Daniel yang terus mendengarkan pembicaraan mereka. Pria itu ditugaskan untuk mencari tahu apa pun tentang Alice. Dan kali ini dia mendapat awal dari informasi kehidupan Alice. Dia perlu mencari tahu alasan kenapa Alice tidak diberitahu tentang pemakaman Wildan, papanya.