Cold CEO

Cold CEO
NINE



Alice memilih kembali ke perusahaan usai tidur singkatnya. Waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Ia masih berada di sebuah kantin bersama seorang pria yang terlihat ramah dan humoris.


"Oh ya, terima kasih buat jaketnya dulu. Maaf, aku belum sempat membawanya. Lain kali aku bawa, ya?"


"Iya, tidak masalah. Kan kita satu perusahaan sekarang. Bisa bertemu kapanpun."


"Oh ya, namaku Alice. Alice Smith," ucapnya memperkenalkan diri.


"Arnold Fabriano," balas pria itu.


Arnold adalah pria yang dulu datang dan memberikan sebuah jaket usai Daniel datang menemuinya di dekat sekolah. Alice tidak menyangka jika dirinya bisa satu perusahaan dengan pria humoris seperti Arnold.


"Alice, sebenarnya sudah lama aku mengenalmu."


"Oh, ya?" tanyanya dengan sedikit terkejut. Pemuda 21 tahun itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Dan aku menyukaimu," ucapnya dengan langsung tanpa basa-basi.


Alice terdiam di tempatnya. Ia tidak pernah berpikiran akan terjadi hal semacam ini. Gadis itu berusaha untuk menampilkan senyumnya, tetapi tidak berhasil. Di kepalanya, muncul bayangan David yang tadi mengajaknya bicara. Di mana pria itu berada? Alice tidak tahu jika David ada, dia sedang mengawasi dirinya dari tempat lain dengan ekspresi yang tak bisa lagi dibaca.


"Maaf, apa kau tidak bercanda?"


"Aku serius Alice. Apa pun yang menyangkut tentangmu, aku tidak pernah bercanda," jawabnya dengan tegas.


Arnold membawa kedua tangan Alice ke dalam genggamannya. Dia bersiap untuk mencium punggung tangan mungil itu kalau—


"Ini sudah jam bekerja. Kembalilah bekerja!" —David tidak mengganggu momennya.


Alice buru-buru menarik tangannya. Arnold segera beranjak dari tempatnya usai berpamitan dengan Alice.


Gadis itu bersiap untuk kembali menuju ruangannya, tetapi tangan David berhasil mencekal tangannya.


"Kau tidak usah bekerja!" perintahnya dengan tegas. Alice merasa takut dengan suara David yang begitu datar.


Ia hanya bisa menurut dan mengikuti langkah lebar David dari belakang. Pasrah saja apa yang akan pria itu perintahkan untuknya.


🔷🔸🔸🔷


David mengusap lembut pipi Alice. Gadis itu masih setia memejamkan mata usai mandi tadi. Padahal langit sudah berubah menjadi gelap dan sang rembulan telah menggantikan sang mentari.


"Wake up, Girl!" ucapnya setengah berbisik.


Bibir mungil merah muda Alice sangat menyita perhatian kedua bola matanya. Ditatapnya lama benda kenyal tersebut dan semakin lama, wajahnya semakin dekat.


"David!" panggil Alice dengan suara serak khas bangun tidur. Tubuh David menegang saat mendengar suara Alice, lebih tepatnya namanya dipanggil tanpa embel-embel di depannya.


Tak menunggu lama, David langsung mengecup bibir itu dengan lembut. Alice yang masih mengumpulkan kesadarannya pun terkejut atas tindakan David yang tiba-tiba.


Alice masih membulatkan kedua matanya, tetapi ia mendapati David tengah memejamkan kedua matanya, terlihat sangat menikmati aktivitasnya tersebut. Pipi Alice memanas, jantungnya berdegup begitu kencang, apa David dapat mendengarnya?


Kecupan itu berubah menjadi ******* tipis-tipis. Alice ikut memejamkan matanya untuk menikmati bibir David yang mencecap bibirnya. Perutnya terasa dihinggapi ribuan kupu-kupu.


Tangan kanan David mengusap rambut panjang Alice. Dia menggigit kecil bagian bawah bibir Alice agar gadis itu membuka mulutnya.


Lidah panjang itu menerobos masuk. Menari bersama lidah Alice. Saling mencecap dan menghisap. Tak lupa untuk mengabsen setiap gigi yang berbaris rapi di sana.


"Mmhh," erangnya pelan. Alice tak sanggup menahan sensasi nikmat dari lidah David yang terus menari di dalam mulutnya.


Alice memukul dada bidang David karena ia tidak lagi bisa bernapas. Ia membuka matanya dan tatapannya bertemu dengan sorot sendu dari kedua mata David.


"Kṣamisi." (Maaf)


Alice menarik tubuhnya agar bisa duduk dengan baik. Tangannya memegang dadanya yang terasa berdebar.


Gadis itu menatap David dengan pandangan yang sulit diartikan. "Untuk apa kau menciumku? Mencuri ciuman pertamaku?"


"Karena aku mencintaimu, Al. You're mine, Alice!" ucap David dengan serius.


Alice kembali merasa jantungnya berdetak kencang. Saat Arnold mengungkapkan perasaannya tadi siang, ia tidak merasa seperti ini. Berbeda dengan David yang mengungkapkannya.


Belum sempat Alice menyelesaikan kalimatnya, David kembali menyerangnya. Dia mencium bibir Alice begitu dalam dan bergairah.


"Mmhh, berhenti … Mister CEO," pinta Alice dengan menahan erangannya. Tubuhnya seperti dialiri listrik. Membuat sesuatu di dalamnya terbangun.


"Kau tidak bisa menolakku, Alice. Kau adalah milikku. Kau milikku sejak dulu, Zoyna," ucap David. Ia melepas pagutannya dan beralih ke leher jenjang Alice.


Diciuminya leher itu hingga belakang telinga Alice. David sudah menindih tubuh Alice, membuatnya mudah untuk melakukan apa pun. Tangan Alice meremas rambut David untuk meredam rasa nikmatnya. Bibirnya sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan desahan-desahan nikmatnya.


David tak henti-hentinya mencecap leher Alice dan meninggalkan tanda yang tidak begitu terlihat agar tidak menyusahkan Alice nantinya.


"Argh," erangnya saat David mencium begitu dalam. "Dave, henti … kargh." Alice tidak dapat menahan gejolak nikmatnya.


David menghentikan aktivitasnya, ditatapnya dalam-dalam kedua netra Alice. Ada cinta dan rasa ingin memiliki yang tersirat di dalam matanya.


"I love you, Alice. I love you so much."


Alice masih diam. Ia tidak ingin salah menjawab. Ia harus bisa membedakan antara cinta dan nafsu. "Maaf, tapi aku hanya seorang budakmu. Aku tidak sebanding denganmu. Aku hanya seorang anak kecil."


David memejamkan matanya. Dia menghirup dalam-dalam aroma apel dari rambut Alice. Jantungnya kembali berdetak begitu kencang.


"Kau tidak akan bisa menolakku, Alice," ucapnya pelan.


Tangan kanannya membelai rambut Alice dari puncak kepala dan semakin turun ke bawah. Setelahnya, dia menyusupkan tangannya ke bagian perut Alice melalui kaos tipis yang dipakainya.


"Aku tidak akan melakukan lebih dari ini jika belum menikahimu," bisik David tepat di belakang tubuh Alice. Akibatnya, tubuh Alice meremang dan jantungnya kembali meronta.


Ditambah tangan David yang semakin naik dan berada tepat di atas bukit kenyalnya. Alice menahan napasnya saat tangan David dengan sigap melepas pengaitnya.


"Promise?" tanya Alice meyakinkan. Suaranya begitu berat dan berbeda dari yang tadi.


"I'm promise," jawab David dengan suara seraknya.


Tangan David menangkup sesuatu yang terasa sedikit pas di telapak tangannya. Alice memejamkan kedua matanya karena merasakan sesuatu yang asing. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan.


"Lampiaskan dengan cara apa pun. Jangan ditahan!" ucap David sebelum melanjutkan aktivitasnya.


Alice mencengkram lengan kekar David yang sibuk melakukan sesuatu. "Ahh … Dave, hentikan."


David tidak menggubrisnya. Saat Alice memanggil namanya, dia semakin bersemangat untuk melakukannya. Dia meremas pelan bukit tersebut dan memainkannya.


"Katakan sesuatu, Al."


"David … hentikan. Please, aku tidak ingin seperti ini."


"Salah."


David semakin gencar mempermainkan kesadaran Alice. Dia hanya ingin Alice berkata jujur dan tidak membohongi hatinya sendiri.


"Ahh… Dave. Mmmm, aku juga mencintaimu. I love you too. I love you so much, Dave," ucap Alice yang terengah-engah. David menghentikan aktivitasnya dan tersenyum begitu dalam untuk Alice.


Dia mengecup kening Alice begitu lembut dan dalam. "Ganti pakaianmu dan kita akan datang ke suatu tempat."


David mengubah posisinya menjadi berbaring di sebelah Alice yang masih terdiam. Pipi Alice terlihat seperti tomat sekarang ini.


Pria itu memiringkan tubuhnya. Tangannya mengusap lembut pipi yang merona itu dan membuatnya semakin memerah.


"Kamu milikku sekarang, Alice. Jauhi pria tadi dan jangan membuatku cemburu," ucapnya dan kemudian meninggalkan Alice menuju kamar mandi dan bersiap-siap.


Alice kembali duduk di kasur dan merasakan degup jantungnya yang menggila. "Apa yang dia katakan tadi itu serius?" tanyanya sendiri.


"Cepatlah bersiap-siap, Al! Pakai baju yang sudah aku siapkan!" teriak David dari kamar mandi.


Alice segera melompat dan berlari menuju walk in closet di dalam kamar David. Begitu elegan dan tenang efek dari warna ruangan yang cukup luas itu. Alice mendapati sebuah gaun berwarna kuning dan sebuah jas formal berwarna biru gelap di atas sofa putih tersebut.


"Bagus sekali. Memangnya ada acara apa?" gumam Alice sembari berkaca dengan gaun berwarna kuning itu.


Pipinya kembali memanas saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya tadi.