
Alice tersenyum lega. Hari ini dia bersekolah dengan tenang tanpa ada gangguan sedikit pun. Kimmy sudah pulang terlebih dahulu dan tinggallah dia sendirian di pinggir jalan. Orang-orang suruhan David yang menjaganya dari jauh juga sudah pergi, mereka mengira mungkin tuannya akan segera datang. Padahal Alice sama sekali tidak menghubungi pria itu untuk menjemputnya.
Gadis dengan blazzer hitam yang masih melekat rapi di tubuhnya, mulai berjalan menyusuri trotoar. Awalnya, dia berpikir jika akan lebih baik kalau dia menyendiri dulu untuk saat ini. Sayangnya, itu bukan hal yang tepat untuknya. Tentu saja ada hal yang tidak baik untuk Alice sebentar lagi karena ada seseorang yang diam-diam mengikuti Alice.
"Papa, aku sangat merindukanmu." Alice menggumam lirih.
Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang. Alice refleks meronta dan berteriak, tetapi itu semua sia-sia karena tenaga orang yang berada di belakangnya sangat tidak sebanding dengannya.
Alice masih mencoba berteriak, tetapi kesadarannya langsung hilang karena obat bius yang ada pada kain tersebut.
"Tidak begitu merepotkan," gumam orang itu lalu membopong tubuh Alice dengan mudahnya.
David terus memandangi ponselnya. Sejak tadi dia menunggu kabar dari tunangannya, tetapi sampai sekarang perempuan itu belum menghubunginya. Perasaannya tiba-tiba berubah gelisah setelah memikirkan Alice. Jari tangannya menekan layar ponsel dan menghubungi orang kepercayaannya yang mengawasi Alice di sekolah.
"Arnon, apa kau masih di sekolah Alice?" tanya David to the point setelah sambungannya terhubung.
"Saya sudah tidak di lokasi, Tuan. Saya mengira Tuan sudah di sekolah Nona Alice karena dia sudah mengeluarkan ponselnya tadi waktu di depan gerbang."
"Oh, shit!" umpatnya keras yang berhasil membuat jantung Arnon berdegup kencang karena takut.
"A … ada masalah, Tuan?" tanya Arnon takut-takut.
"Dia tidak menghubungiku sejak tadi!" David langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berlari terburu-buru meninggalkan kantornya.
David mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia tidak peduli jika ada yang memakinya karena hal itu sangatlah tidak penting. Baginya, Alice yang sangat terpenting setelah urusan keluarganya.
Mobil sport hitam yang dikemudikan David, berhenti tepat di depan gerbang sekolah Alice yang sudah hampir ditutup. David segera keluar dari mobilnya dan berjalan cepat menuju satpam yang berjaga.
"Ada yang bisa saya bantu, Sir?" tanya satpam itu ramah.
"Sekolahan sudah bubar, Pak?"
"Masih ada murid di dalam, Sir, yang ada kegiatan ekstrakurikuler."
"Saya ingin mengecek ke dalam boleh?"
"Tentu saja."
Setelah satpam itu mengizinkannya masuk, David langsung bergegas menuju kelas Alice, siapa tahu gadis itu ada di sana dan memberikannya kejutan. Namun sayangnya, sesampainya di kelas Alice, ruangan kosong dan hampir gelap saja yang ada. Tidak ada penghuni sama sekali di sana.
David menjambak rambutnya kasar. Seharusnya dia tahu kalau Alice sudah pulang, kenapa dia masih saja mau dibohongi gadis itu. Jelas saja, pasti ada maksud tertentu buat Alice kalau dia meminta agar dijemput setelah dirinya menghubungi David.
"Argh! Kau di mana, Al?" erang David frustrasi.
"Dia dibawa sebuah mobil berplat khusus. Aku tadi melihatnya," ucap seseorang yang berdiri di belakang David.
David menoleh ke belakang dan mendapati seorang lelaki seumuran Alice. Dia menyipitkan matanya karena merasa asing dengan anak muda itu.
David segera mendekat. Kedua tangannya mencengkram erat kerah seragam pemuda tersebut. "Kenapa kamu tidak menolongnya?" ucap David tajam.
Eldric terlihat tenang seperti tidak ada rasa takut sedikit pun. "Aku bukan orang tandingan mereka. Sama saja aku menyerahkan diri untuk mati." Pemuda itu mengambil napas sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Tapi sepertinya aku tau pemilik mobil itu."
"Cepat katakan!" desis David tajam sembari mengeratkan cengkramannya.
°°°°°°°
"Clara!! Keluar kau!" teriak David setelah berhasil mendobrak pintu rumah yang tidak sebanding dengan mansionnya.
Seorang perempuan dengan gaun berwarna merah yang cukup seksi, terlihat terburu-buru menuruni anak tangga. Ada senyum licik yang terulas di bibirnya, tetapi David tidak menyadari hal itu.
"David, ada apa?" tanyanya pura-pura panik.
"Kembalikan Alice!"
"A … apa maksudmu, Dav?"
"Kukatakan kembalikan Alice!"
"Tapi, Dav—"
"Kembalikan Alice sekarang juga atau kau akan mati di tanganku, Clara!" bentak David. Dia tidak bisa dipermainkan saat ini. "Jangan pura-pura tidak tahu masalah ini! Kau benar-benar ****** yang licik!"
Clara tersenyum. Dia bertepuk tangan sembari terkekeh pelan. Cukup sudah akting tadi karena dia tidak bisa lagi untuk berpura-pura. "Dave, kenapa kamu repot-repot mencari perempuan murahan seperti Alice itu?" ucapnya dibuat selirih mungkin.
Dia mendekatkan tubuhnya pada tubuh David. Telunjuknya terulur untuk menyentuh dada David yang tertutupi kemeja kantornya. "Kamu tidak akan bisa bahagia dengannya, Dave, akulah kebahagianmu. Selamanya akan begitu."
"Berhentilah ber-omong kosong, Clara! Cepat kembalikan Alice!"
"Tidak semudah itu, David. Kamu menjadi milikku, Alice akan kukembalikan!"
"Dengarkan aku, Cla! Cinta tidak bisa dipaksa. Cinta yang ada padamu itu hanyalah obsesi! Kau tidak benar-benar mencintaiku! Ke mana perginya para lelaki yang selalu kau puja itu?"
Clara tersenyum kecut. Dia tidak terima jika direndahkan seperti ini. Tangannya mengepal erat kemudian terbuka lagi. "Itu terserah padamu, Dave. Aku memberimu waktu tiga hari untuk memikirkan jawaban ini. Jika dalam tiga hari kamu tak memberiku jawaban, kuanggap kamu menyerahkan Alice agar mati saat itu juga."
"Shit!" David mengumpat tajam. Mulutnya terus memaki Clara, sedangkan perempuan itu hanya diam dan tersenyum.
David memilih untuk pergi dari sana dan menggunakan waktu yang tersisa itu untuk menyelamatkan Alice. Saat dia berada di ambang pintu, David mendengar teriakan dari Clara.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, siapa pun juga tidak akan pernah bisa memilikimu David!"