
Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam, akhirnya Eldric sampai di kota Calgary. Tidak masalah dia kehilangan jejak sang kakak karena ponselnya telah terhubung dengan GPS yang berada di kalung perempuan itu.
Eldric membaca panggilan tak terjawab yang cukup banyak dari Daniel, orang kepercayaan David. Dia memutuskan untuk menghubungi kembali pria itu agar mereka segera menuju ke kota ini dan dapat mencegah hal buruk yang akan terjadi pada Alice.
"Daniel, aku sedang berada di Calgary sekarang. Secepatnya kalian datang ke sini dan aku akan melacak di mana Clara berada." Eldric langsung berkata to the point tanpa basa-basi terlebih dahulu. Setelah mendapat balasan dari Daniel, Eldric segera memutuskan sambungan teleponnya lalu mulai melacak tempat kakaknya berada.
Kebetulan sekali ada taksi yang tidak berpenumpang di bandara tersebut. Eldric segera meminta sang pengemudi untuk mengantarnya sesuai dengan petunjuk di maps.
"Tuan, apa Anda yakin ingin menuju tempat ini?" tanya sang pengemudi yang memang sudah hafal jalanan kota Calgary.
"Di dalam petunjuk arah ini benar lokasinya lewat jalan sini."
"Tapi, Tuan, ini jalan menuju hutan. Tidak ada hal menarik di sana. Apa Anda yakin ini tempat yang benar?" tanya sang pengemudi itu lagi.
Eldric menjadi bimbang, ia melirik ponselnya yang menandakan dia berada di jalan yang benar dan sudah hampir dekat dengan letak kakaknya. Namun, saat melihat jalanan di sekelilingnya yang hanya ada sebuah pohon besar nan lebat, membuat tubuhnya merinding ngeri.
"Antara yakin dan tidak yakin, tapi saya harus benar-benar mengikuti arah ini." Eldric menunjukkan ponselnya.
Pengemudi itu menoleh lalu bertanya, "Bolehkah saya memeriksa arahnya sepertinya saya tahu ke mana arah ini akan berakhir."
"Tentu saja," jawab Eldric seraya menyerahkan ponselnya.
Pengemudi itu kembali menyerahkan ponselnya. "Lokasinya sudah tidak jauh, mungkin sekitaran lima ratus meter dari sini. Setahu saya, di ujung sana ada sebuah danau di pinggiran hutan. Ada juga bekas bangunan menara tua di sana. Mungkin lokasi itu yang Tuan maksud," paparnya.
Eldric diam sejenak. Jika jaraknya hanya tinggal 500 meter, lebih baik dia turun di sini. Siapa tahu ada bahaya di sana nanti kalau sampai tahu ada mobil yang berhenti di dekat sana.
"Kalau begitu saya turun di sini saja. Saya akan berjalan kaki menuju tempat itu. Terima kasih sudah mengantarkan saya," ucap Eldric lalu mengulurkan beberapa lembar uang.
"Uang ini terlalu banyak lebihnya, Tuan," ucap sang pengemudi. Tangannya mengacak tas untuk mencari uang kembalian.
"Tidak apa, bonus untukmu karena sudah mau membantu saya sampai di sini."
"Saya yang sangat berterima kasih padamu, Tuan. Semoga apa pun yang membawa Anda ke sini, tidak akan terjadi bahaya. Tuhan memberkatimu."
Eldric mengangguk lalu membuka pintu mobil itu. Dia segera berlari dengan sedikit terburu-buru mengikuti arah jalan. Tujuannya hanya satu kali ini, memastikan Alice tetap baik-baik saja dan tidak ada yang namanya waktu terlambat.
Setelah berlari yang tidak memakan waktu cukup lama, Eldric menemukan sebuah danau. Di sebelah kirinya terdapat permadani hijau yang cukup luas terbentang. Melirik sebentar ponselnya, ternyata Eldric harus melewati permadani hijau itu untuk menuju lokasi kakaknya berada.
Alice menangis dalam diam. Sudah dua hari lamanya dia dikurung di tempat yang begitu gelap dan kotor ini. Tubuhnya terlihat tak terurus. Rambut yang berantakan, wajah yang kotor dengan bekas darah beberapa hari yang lalu, seragam sekolah yang mulai lusuh karena tubuhnya sering terjatuh dari kursi.
"Waktumu hanya tersisa satu hari, Alice. Sepertinya tunanganmu memilih untuk meninggalkanmu," desis Queen dengan tajam. Perempuan itu yang menjaga di sini ditemani beberapa pengawal untuk keamanan.
"Aku tidak yakin itu akan terjadi," gertak Alice tak kalah tajam. Disisa-sisa tenaganya sekarang ini, dia hanya berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya.
Alice merintih pelan. Pipinya terasa panas karena tamparan itu. "Berani sekali kau menggertakku!" cecarnya.
"Hei, Alana! Jangan sering-sering mengasarinya. Dia akan mati nanti dan aku akan gagal mendapatkan David," ucap Clara yang sudah berdiri di belakang Alana.
"Aku hanya melampiaskan kekesalanku selama ini. Kapan lagi aku bisa menghukumnya. Seharusnya ****** itu tidak mati dan aku bisa menghukum dua orang sekaligus!"
"Mamaku bukan ****** asal kamu tahu!" Alice kembali mengeluarkan suaranya. Dia tidak terima jika mamanya dibawa-bawa dalam masalah ini.
"Clara, setelah urusanmu selesai dengan David. Aku minta untuk memberikan Alice padaku dan aku akan membunuhnya." Queen berkata tegas. Bola matanya berkilat marah penuh kebencian. Dia bahkan sudah terlihat siap untuk menerkam perempuan itu saat ini juga.
Clara berdecak kagum. "Ide bagus, Alana, lagi pula dia tidak ada gunanya lagi untuk hidup karena David akan menjadi milikku."
"Kalau aku membunuhnya sekarang sepertinya juga bukan masalah, David akan tetap menjadi milikmu," ucap Alana datar.
"Baiklah, aku mengalah. Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu saja dengan perempuan ini sebelum ajal menjemputnya?"
Alice mendesis tajam. "Kalian benar-benar keterlaluan! Apa kalian ini psikopat, huh?!"
"Ya! Kami adalah psikopat!" gertak Alana.
"Psikopat yang akan membunuhmu!" lanjut Clara dengan tatapan tajamnya.
Keberanian Alice mulai pudar. Dia tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Punggungnya melemas dan bersandar di kursi kayu itu. Kepalanya menengadah menatap langit-langit yang sudah gelap.
Air matanya lolos begitu saja setelah dua perempuan tadi meninggalkannya. Isakannya mulai terdengar, memecah kesunyian malam itu. Apakah hidupnya akan berakhir di sini? Apa dia tidak bisa menikmati hidup lagi meskipun David telah menjadi milik Clara? Tidak bisakah ia berbahagia sebentar meskipun tanpa ada pria itu lagi?
Alice ingin sekali mengusap air matanya dengan kasar, tetapi ikatan itu menahan tangannya agar selalu tertahan di belakang.
"Aaaaa!" Alice berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa tekanan di hatinya.
Dadanya sudah cukup sesak menahan ini semua. Tidak bisakah keajaiban datang untuk menyelamatkannya? Atau haruskah dia menyerah sekarang?
"David, jika kamu merasakan deru napasku pada angin yang berembus. Ketahuilah, aku menitipkan rindu di sana. Aku membisikkan kata bahwa aku mencintaimu, selamanya aku mencintaimu dan akan terus begitu. I love you, My Dave," bisik Alice seolah angin dapat menyampaikan salamnya.
Di sisi lain
David masih menunggu keberangkatan pesawat yang mengalami delay cukup lama. Sudah dua jam lamanya dia terjebak di bandara ini dan sekarang langit telah berubah senja. Waktunya semakin mepet untuk bertemu Alice dan menyelamatkannya.
"Tenanglah, Tuan, aku yakin Alice baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Putriku itu selama ini mampu bertahan sendirian di rumah. Masalah seperti ini pasti dia bisa melaluinya," ucap Wildan menenangkan.
David beranjak. Angin tiba-tiba berembus menerpa wajahnya. Terlintas bayangan Alice yang tengah berada dalam gelapnya malam dan menangis menyuarakan sakit hatinya.
"I love you too, Sweetheart."