Cold CEO

Cold CEO
TWELVE



Alice mendapati dirinya tengah tersenyum dengan begitu manisnya. Namun, satu hal yang membuat hatinya tercabik, yaitu ekspresi dingin dan datar dari sosok David yang dulu sudah terbiasa dilihatnya. Mengapa tangannya tidak bisa menyentuh tubuh pria dewasa itu?


Air matanya menitik perlahan. Senyuman yang sejak tadi mengembang, luntur begitu saja. Di hadapannya, terdapat batu nisan yang bertuliskan namanya sendiri. Secepat itu kah dirinya berakhir? Seperti ini kah rasanya kalah sebelum berperang?


Tubuhnya tiba-tiba terasa ditarik begitu saja. Ia bertemu dengan sosok pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah papanya, Wildan Smith.


"Papa!" pekik Alice dengan senangnya. Ia sangat merindukan pria itu. Hangatnya pelukan itu selalu menjadi pelindung bagi Alice.


"Bertahanlah, Sayang! Apa pun yang terjadi, kau akan memenangkannya," ucap Wildan seraya mengusap lembut punggung Alice.


"Alice gagal, Pa. Alice tidak bisa memenangkan pertarungan itu. Alice kalah dari penyakit itu."


"Tidak, Al, kamu belum kalah. Lihatlah di sana!" Wildan menunjuk ke arah di mana David tengah memeluk dirinya dengan begitu erat.


Alice terkejut. Tubuhnya masih di sana, di atas brankar rumah sakit itu. Lantas apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini.


Gadis itu kembali memusatkan perhatiannya pada sang papa. Seolah-olah meminta penjelasan dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Wildan hanya mengangguk, senyumnya terulas begitu manis.


"Kembalilah!" Wildan berkata untuk yang terakhir kalinya. Hanya satu kalimat itu saja yang mampu membuat Alice terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu apa maksud ucapan papanya tadi.


Sayup-sayup ia mendengar bisikan dari bibir David. Ada rasa nyaman sekaligus hangat di dalam hatinya, tapi entah kenapa dirinya merasa jauh dari sosok itu.


"Alice, bertahanlah! Aku berjanji padamu akan membalas perbuatan orang itu. Please, wake up, Al! For me, please!"


 @@@@


David merebahkan tubuhnya di atas sofa berukuran panjang dan cukup besar yang sudah tersedia di ruang rawat tersebut. Meski tubuhnya merasa lelah, matanya tak ingin memejam sedikit pun. Sejak tadi, tatapannya tak berpindah dari tubuh Alice yang masih berbaring tidak berdaya. Apakah Alice akan koma setelah ini karena tak kunjung mendapatkan kesadarannya? Dia menggeleng, berusaha mengusir jauh-jauh pikiran buruknya itu.


Baru saja matanya akan terpejam, dirinya kembali dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak di atas brankar tersebut. Adiknya sudah terlelap dan tidak mengetahui hal itu. David buru-buru berlari mendekat, di sana Alice terlihat kejang-kejang. David merasa panik dan memilih untuk menekan tombol darurat yang berada di dinding.


Anna terkejut saat ada suara berisik yang tak lain berasal dari sebuah pintu yang terbuka dengan sedikit kasar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Herland? Pria berumur 28 tahun tersebut merasa panik saat melihat Dokter Alland dan beberapa suster buru-buru mendekat ke arahnya. Ya, pria itu sejak tadi berada di luar ruangan. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya dan berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak beres.


Dokter yang telah memasuki ruang rawat Alice meminta agar David dan Anna meninggalkan ruangan tersebut agar mereka bisa konsentrasi memeriksa keadaan Alice.


"Tenang saja, Kak. Alice pasti baik-baik saja. Dia gadis kuat, kan? Kau harus tetap semangat untuk Alice." Anna mengusap lembut bahu kakaknya dan tersenyum manis.


David menarik sudut bibirnya untuk membalas senyuman adiknya. Meskipun terlihat sangat dipaksakan, Anna tidak mempermasalahkannya, ia memahami perasaan kakaknya yang pasti sangat terpukul dengan kejadian ini.


Tak lama kemudian, Dokter Alland keluar dengan memasang wajah tenangnya. Betapa bahagainya menjadi seorang dokter, mereka akan tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja padahal kenyataannya tidak semanis itu. Apalagi semanis janji-janji palsu pria buaya di luaran sana.


"Bagaimana kondisi Alice, Dok?" tanya David yang lebih dulu mendekat.


Dokter tersebut tersenyum tipis. Dia mengambil napas sejenak sebelum mengeluarkan suara. "Pasien kritis. Kemungkinan Nona Alice mengalami koma, tapi seperti yang saya ucapkan sebelumnya kalau kita akan membuktikan hal itu jika sudah lewat dari sembilan jam," jelasnya yang dibalas anggukan kepala oleh David.


Dokter Alland mempersilakan David dan yang lainnya untuk kembali masuk ke dalam. Dengan gesit David langsung memasuki ruangan tersebut, takut jika Alice kenapa-napa karena sendirian di dalam sana. Benar-benar berlebihan.


David berucap, "Alice, bertahanlah! Aku berjanji padamu akan membalas perbuatan orang itu. Please, wake up, Al! For me, please!" David mencium singkat pipi Alice dan membiarkan jantungnya yang terus berdetak tidak beraturan.


 @@@@


Suara langkah dari sepasang kaki panjang tersebut terdengar sangat tegas dan menyita beberapa perhatian orang yang berada di sana. Wajahnya terlihat begitu dingin dan sangat datar. Sekali saja dirinya diganggu, tidak segan-segan pistol yang tersembunyi di balik jasnya akan menembakkan isinya.


Langkah tersebut berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung membukanya dan membuat beberapa orang yang tengah menunggunya langsung berubah tegang.


Di ujung sofa sana, terdapat seorang gadis mungil yang terlihat tengah menahan rasa sakitnya. Hal itu membuat sosok pria tersebut kembali memperlihatkan raut wajah dinginnya.


David, pria itu langsung meninggalkan ruang meetingnya saat mendengar kabar dari orang suruhannya tentang Alice. Tanpa basa-basi dirinya langsung menghubungi pihak sekolah Alice untuk meminta penjelasan dari laporan anak buahnya tadi.


Hari ini adalah hari kedua usai Alice kembali mendapatkan kesadarannya. Gadis remaja berumur 16 tahun itu nekat untuk datang ke sekolah, ia bahkan mengancam tidak akan memakan makanannya dan meminum obatnya jika David tidak mengizinkan dirinya datang ke sekolah. Tentu saja David tidak ingin hal itu terjadi dan mau tidak mau dirinya harus mau untuk mengizinkan Alice ke sekolah, tetapi dengan syarat harus menjaga diri dan tidak melupakan jadwal makan serta minum obat.


Namun, sebuah laporan yang anak buahnya berikan, berhasil membuat emosi David tidak terkontrol. Bagaimana bisa Alice mendapat bullyan dari beberapa anak perempuan di sekolahnya. Bahkan tindakan bully tersebut sangat melewati batas, David mengetahui itu dari sebuah video yang anak buahnya berikan.


David memusatkan perhatiannya pada beberapa siswi yang diduga menjadi ketua geng yang melakukan pembullyan kepada Alice. Jika saja David tidak memiliki rasa manusiawi, sudah dipastikan 5 orang siswi yang duduk dengan santainya—tanpa merasa berdosa sedikit pun— akan mati di tangannya saat ini juga.


"Kalian semua ini disekolahkan untuk apa?" tanya David dengan nada dinginnya. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasa takut.


Kelima siswi perempuan tersebut langsung menundukkan kepalanya dengan takut-takut. Sikap mereka yang tadinya kelewat santai, sudah menguap begitu saja. Tidak ada lagi yang berani menunjukkan wajahnya.


"Tuan Britama, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketelodoran kami," ucap seorang pria paruh baya yang sejak tadi diam karena belum menemukan kalimat yang sesuai untuk diutarakan.


David menatap tajam pria paruh baya yang tak lain adalah seorang kepala sekolah dari OHS. "Sekalinya kesalahan, tetaplah kesalahan! Jika sudah begini kalian baru menyadarinya. Apa harus ada siswa yang mati terlebih dahulu sebelum kalian bertindak lebih jauh lagi?" geram David.


Kepala sekolah yang bernama Leone Bill tersebut masih berusaha untuk membujuk David, tetapi David sudah tidak peduli. "Saya akan mengurus surat kepindahan Alice saat ini juga!" ucapnya tajam.


David kembali melirik pada 5 siswi tadi. Dia memberikan tatapan nyalangnya seraya berkata, "Saya mengenal siapa orang tua kalian. Dan setelah kepulangan saya dari sini, kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal!"


Pria itu menghampiri Alice yang masih merasa ketakutan. Usai menerima surat kepindahan Alice, dia segera membawa Alice pergi dari sekolah itu. Meski sang kepala sekolah merasa berat hati menerima permintaan David yang memutuskan untuk memindahkan sekolah Alice.


"Apa ada yang sakit?" tanya David dengan suaranya yang lembut.


Alice menggelengkan kepalanya. Ia masih merasa trauma atas tindakan perempuan-perempuan tadi yang seenaknya sendiri. Bahkan luka di punggungnya yang belum mengering, menjadi sasaran kejahatan mereka.


"Kau akan mendapatkan sekolah yang lebih baik daripada sekolah itu."


 @@@@


Part sebelumnya itu David cuma bermimpi. Maaf tidak dijelaskan.