
David menuju sebuah tempat di mana Daniel berada. Pria kepercayaannya itu mengabarkan jika ada sesuatu yang aneh atas kejadian Alice di sekolah kemarin. Orang yang mencelakai Alice tidak bisa diketahui, seolah semuanya memang sudah dipersiapkan. Namun, bukan David namanya kalau tidak bisa memecah kasus ini. Padahal masalah penusukan Alice beberapa hari yang lalu masih belum terungkap, sekarang sudah ditambah masalah baru.
Jika dibiarkan seperti ini terus, nyawa Alice bisa terancam. Gadis remaja itu benar-benar rapuh dan tidak terlihat suka melawan. David hanya bisa melindungi Alice dengan mengerahkan tangan kanannya yang sudah sangat terlatih. Mulai siang ini juga, David dan orang-orangnya akan mengawasi setiap orang yang bertemu dengan Alice bahkan yang dekat dengan Alice.
Pria berwajah tegas itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia ingin segera sampai mansionnya dan bertemu dengan Alice. Rindunya begitu besar, bahkan sangat besar.
Usai memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, David segera berlari menuju ruang utama. Kakinya tiba-tiba berhenti berlari karena melihat sosok yang tidak asing berada di rumahnya.
"Anna, kenapa kamu di sini?" tanya David.
Anna menatap kakaknya itu dengan tidak bersahabat. Sepertinya dia sedang merasa kesal. "Aku ingin bertemu Alice, tapi aku tidak menemukannya. Seluruh ruangan di sini sudah kucari, bahkan semua pelayanmu sudah membantuku."
"Shitt!" David mengacak rambutnya.
"Alice masih di kantor! Kamu tunggu sini Anna, aku akan menjemput Alice."
***
Alice merasa sangat lapar. Pintu ruangan itu tidak bisa dibuka. Bahkan David belum kembali sejak pergi tadi. Langit sudah berubah warna, membuat Alice merasa cemas. Perut laparnya semakin melilit, sehingga membuatnya ingin muntah. Apalagi dia belum minum obat sama sekali.
Alice mengambil ponselnya, tetapi sayangnya dia lupa mengisi daya baterai benda itu. "Argh, aku lapar sekali!" keluhnya sambil meremas perutnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang David dengan wajah panik dan takutnya. "Alice," lirihnya.
"David!" panggil Alice dengan suara riangnya. Rasa lapar mendadak hilang digantikan dengan kehadiran David.
"Kau baik-baik saja, Mister CEO?" tanya Alice saat mendapati raut wajah cemas David.
"Aku khawatir padamu. Aku melupakanmu yang masih berada di sini."
"Bisa-bisanya kamu melupakanku?" ucap Alice mendramatisir suasana. Tiba-tiba dia merintih pelan, membuat David kembali cemas.
"Kenapa, Al?"
"Aku lapar sejak tadi, hehe."
David langsung mengangkat tubuh Alice yang terduduk di lantai. Dia menggendongnya ala bridal style dan membawanya pergi dari ruangannya.
"Kita mau ke mana?"
"Cari restoran, Al, kamu harus makan. Maafkan aku yang tadi mengurungmu tanpa meninggalkan makanan sedikit pun."
"Tidak apa-apa, lagi pula aku masih baik-baik saja."
"Obatmu?"
"Aku bawa, tapi aku belum meminumnya karena belum makan. Dan sekarang kepalaku terasa sakit."
"Tahan, Alice, sebentar lagi kita sampai."
Beberapa menit setelahnya. Mobil sport plat khusus tersebut mulai memasuki sebuah restoran mewah bergaya klasik. Sangat cocok dengan suasana senja hari ini.
David membukakan pintu untuknya dan menggenggam tangannya begitu erat. Pria itu menggiring Alice memasuki restoran yang cukup ramai. Mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung, tentu saja bukan hal yang luar biasa lagi. Bahkan pengumuman pesta tunangan sudah menyebar ke manapun.
David meninggalkan Alice untuk memesan makanan. Terlalu lama untuknya menunggu pelayan datang menghampiri. Tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Alice dan meletakkan sebuah kertas di atas mejanya.
Alice mengernyit bingung. Apa maksud dari orang tadi? Lalu kertas apa yang ada di atas mejanya itu. Buru-buru Alice mengambil kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku. Dia takut jika David mengetahui surat itu. Sudah cukup banyak dirinya merepotkan CEO muda itu.
Tak lama kemudian, David datang dengan membawa seporsi makanan. Jelas saja itu untuk Alice, tetapi bukan itu yang menjadi permasalahannya. Kenapa dia tidak menyuruh pelayan saja yang membawakannya?
"Mister CEO, kenapa kau hanya membawa satu makanan? Lalu kenapa kamu membawanya sendiri?"
"Ini untukmu, kamu harus cepat makan untuk minum obat. Pelayan sebentar lagi datang membawakan minum dan makanan untuk kita."
Alice hanya menganggukkan kepalanya. Dia memasukkan makanan ke dalam mulut sambil berpikir bagaimana caranya membaca isi surat tadi.
"Makanmu lelet sekali, sini aku suapin," gerutu David dengan gemas. Sedari tadi dia memerhatikan Alice yang mengunyah makanannya begitu lama.
"Aku ingin ke kamar mandi," alibinya.
Alice mendadak diam tak berkutik. Jantungnya berdegup tidak karuan. Semudah itukah David berkata cium? Bagi Alice, itu hal yang besar dan sangat menegangkan. Pipinya pun mampu dibuat merona, seperti sekarang ini. Padahal David hanya bersuara saja, belum melakukannya.
"Imutnya," ucap David sambil mencubit pipi Alice yang memerah.
"A … apasih, sudah siniin makanannya, aku akan menghabiskannya sendiri."
"Baiklah."
Pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa beberapa makanan yang dipesan David. Semua makanan itu sudah dibungkus dengan rapi. Rupanya David tidak makan sekarang, dia hanya menemani Alice saja. Dan makanan-makanan itu untuk Alice dan Anna nanti di rumah.
"Beli sebanyak ini, tapi kau tidak memakannya. Buang-buang uang saja kau ini," protes Alice dengan imutnya.
"Aku tidak membuang-buang uang, Alice. Aku membantu orang agar semakin sukses, gimana?"
"Terserah."
Alice memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar David. Setelah menghabiskan makanan dan meminum obat, dia langsung diajak David pulang tanpa mengizinkan Alice ke kamar mandi. Alasannya karena Anna sudah menunggu mereka di rumah.
Alice mengunci pintu kamar mandi itu, berjaga-jaga kalau David tiba-tiba masuk ke sana. Diambilnya kertas tadi lalu dibacanya. Isi surat itu membuat Alice sedikit syok. Di dalam surat itu tertulis.
*Kamu dan ibumu adalah perusak hidupku! Kenapa kalian harus hadir di tengah-tengah kami? Kenapa kalian harus menghancurkan keluarga kami?
Kamu sudah membunuh papaku, sedangkan ibumu sudah merebut papaku. Apa kalian ini diciptakan sebagai wanita murahan? Kalian benar-benar mirip seperti ******! Dan sekarang kamu bersama pria kaya itu, apa kamu sudah tidur dengannya lalu meminta tanggung jawab darinya? Licik sekali cara mainmu, ****! Tunggu saja, permainan ini akan segera dimulai dan David Britama akan segera kembali pada pasangannya yang sebenarnya.
Sampai jumpa lagi Alice, adik tiriku.
Queen Alana Smith**
Tubuh Alice bergetar. Apa maksud dari ini semua? Apa yang sebenarnya terjadi? Hati Alice terus bertanya-tanya, dia tidak tahu maksud itu semua. Bahkan dia tidak pernah membunuh sang papa, tetapi kenapa kakak itu menuduhnya?
"Alice!" Teriakkan David dari luar menyadarkan lamunan Alice. Gadis itu buru-buru melipat kertasnya dan kembali menyimpannya ke dalam saku.
"Y … ya!" jawabnya dengan sedikit gugup.
"Kenapa lama sekali? Apa kau baik-baik saja?" tanya David dari luar pintu kamar mandi.
Cklek!
Alice membuka pintunya dan menunjukkan senyum manisnya. "Tentu saja aku baik-baik saja. Aku tadi ketiduran di dalam, hehe," ucap Alice berbohong.
"Kalau capek, langsung tidur aja di kasur, ngapain tidur di dalam kamar mandi?"
"Tadi kan mau cuci muka dulu. Ya sudah, aku mau tidur sekarang."
Alice melangkah mendahului David. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu sangat lucu menurutnya. Tidak sabar dia ingin memiliki Alice untuk selamanya.
David ikut merebahkan diri di sebelah Alice yang tidur membelakanginya. Ada yang aneh menurut David. Alice sejak di restoran tadi terlihat cemas, tetapi setelah keluar dari kamar mandi tadi dia terlihat takut. Sebenarnya apa yang terjadi?
Saat David terus memikirkan hal itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Daniel yang menghubunginya. David segera melangkah menuju balkon untuk menerima telepon Daniel, dia tidak ingin mengganggu Alice yang sudah tertidur.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Sepertinya tersangka penusukan Alice sudah menunjukkan batang hidungnya."
Punggung David langsung tegap. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui orang yang telah mencelakai tunangannya. "Siapa orangnya, katakan!"
"Seorang perempuan dengan penyamaran yang begitu ahli. Sepertinya ada rencana baru yang akan dilakukannya. Saat ini dia sedang berada di kafe bersama perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah kakak tiri Nona Alice."
"Apa?!" teriak David tak percaya.
"Secepatnya saya akan mengabari Tuan. Saya harus mengawasi dua orang itu."
David langsung memutuskan sambungannya. Dia begitu penasaran, siapa yang memiliki dendam seperti itu pada Alice. Lalu apa hubungannya dengan kakak tiri Alice? Dan sejak kapan Alice punya kakak tiri?