Cold CEO

Cold CEO
TWENTY TWO



Hari ini adalah hari kedua di mana Alice menghilang. David, Herland, dan orang-orang kepercayaan mereka telah mencari ke mana saja tempat yang mencurigakan.


Di sisi lain, Eldric tengah berada di rumah yang David kunjungi kemarin. Ya, kediaman seorang Clara. Ketika Eldric sampai di sana, perempuan itu akan pergi dengan menggunakan mobilnya.


"Kakak, mau ke mana?" tanyanya. Eldric adalah adik sepupu Clara dan karena itulah David datang ke rumahnya tadi malam.


"Hai, Boy! Kenapa kamu datang mendadak?"


"Kejutan, mungkin," jawabnya cuek.


"Maafkan aku, El, aku ada urusan penting sekarang. Kau boleh masuk ke rumahku kalau ingin dan tunggu aku pulang. Aku janji tidak akan lama."


Eldric diam. Dia tidak menggeleng ataupun mengangguk. Setelah mobil milik kakaknya berlalu, dia segera memasuki mobilnya dan mengikuti ke mana perginya sang kakak. Siapa tahu dia mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Alice. Tersisa besok untuk David menentukan keputusannya, secepat mungkin dia harus menemukan Alice terlebih dahulu sebelum kakaknya berbuat macam-macam.


David yang tengah fokus pada jalanan di depannya mulai terusik dengan suara dering ponselnya. Daniel menelponnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia beritahukan.


David buru-buru mengangkat telepon itu dan suara panik Daniel membuat detak jantung pria itu tidak normal. Ada apa? Apa yang terjadi?


"Tuan, kita tidak punya banyak waktu lagi untuk Nona Alice. Kita harus segera menemukannya hari ini juga," ucap Daniel dari seberang sana.


"Ada apa, Dan? Apa yang terjadi dengannya?"


"Tunggu, tunggu. Aku melihat seseorang. Nanti aku hubungi lagi."


Telepon itu dimatikan sepihak membuat David merasa penasaran. Dia mengecek keberadaan Daniel, tetapi tidak terdeteksi. Daniel benar-benar pandai untuk masalah mencari jejak seperti ini.


Tiba-tiba notifikasi chat masuk di ponsel David. Tertera nama Daniel di sana. Sepertinya ini hal yang begitu penting.


Daniel : Wildan Smith bersamaku.


Kedua mata David membelalak terkejut. "Apa-apaan ini? Bukannya dia sudah lama mati?"


David : Jangan bermain-main denganku!


David tidak percaya akan hal itu. Dan Daniel langsung membalas chatnya begitu cepat.


Daniel : Kafe dekat Montreal.


Satu balasan singkat dari Daniel membuat David langsung mematikan ponselnya dan menuju tempat yang cukup jauh dari tempatnya saat ini. Jika sudah seperti ini, Daniel tidak bermain-main.


***


Daniel tengah menelepon tuannya saat ini setelah mendapatkan pesan singkat jika keadaan Alice tidak baik-baik saja. Mungkin gadis itu akan segera mati sebelum hari penentuan tiba.


Tiba-tiba ada seorang pria yang berjalan menuju arahnya. Dia mengenal pria itu bahkan sangat mengingatnya. Dia adalah Wildan Smith, ayah kandung Alice—yang saat ini tengah terancam nyawanya.


Daniel segera memutuskan sambungan teleponnya. Dan berjalan cepat mendekati pria itu.


"Halo, Tuan Wildan! Saya terkejut melihatmu," sapa Daniel dengan wajah benar-benar tidak percaya.


"Tuan Daniel!" Pria itu terlihat takut ketika melihatnya. Mengingat hutangnya yang cukup besar pada bos pria itu.


"Jangan takut padaku, Wildan! Ikut aku!" Daniel membawa pria itu ke sebuah kafe terdekat. Dia ingin tahu banyak mengenai pria yang dikabarkan sudah meninggal itu.


"Aku belum mati. Selama ini aku masih hidup dengan baik-baik saja."


"Bagaimana bisa? Kau terkena bom saat itu!"


"Tidak. Seseorang menyelamatkanku sebelum bom itu benar-benar meledak. Aku memilih bersembunyi di kota ini agar tidak ada yang menyakiti Alice lagi termasuk mamaku sendiri," paparnya. "Apa kau tau keadaan putriku? Kau pasti menagih hutang itu padanya, bukan?" tanyanya kemudian dengan sedih.


"Ya, aku menagih hutang itu padanya. Keadaan dia baik-baik saja," ucapnya yang membuat Wildan tersenyum. "Tapi itu dulu. Sekarang ini, dia tengah diculik orang yang bosnya adalah mantan kekasih David dan juga seorang gadis bernama Queen Alana Smith."


Wildan menyurutkan senyumannya setelah mendengar itu. Queen Alana Smith? Anak dari ****** tidak tahu diri itu?


"Apa yang terjadi? Kenapa Alice bisa bertemu Queen?"


"Mereka satu sekolah. Sudah banyak yang terjadi tanpa kamu ketahui, Wildan. Putrimu itu sudah menjadi tunangannya David. Dan pria itu sedang dalam perjalanan kemari." Daniel mengetahui kalau David sudah bergerak dari lokasinya.


"Oh, God! Lalu ada masalah apa dengan Queen?"


"Queen mengatakan Alice itu anak pembawa sial. Anak ****** yang sudah menghancurkan keluarganya. Queen merasa sejak ada kehadiran Alice dalam hidupmu, kau melupakannya. Bahkan dia mengatakan kalau kau berselingkuh dengan Vanka, istri sahmu yang telah tiada itu."


Daniel tahu semuanya. Dia sudah mengusut semua perkara ini dengan detail. Namun sayangnya, dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang sudah sebenarnya terjadi.


Ponsel Daniel berdenting. Sebuah foto masuk ke Whatsapp nya. Daniel tahu siapa yang mengirim foto itu, siapa lagi kalau bukan orang suruhan Clara dan Queen.


Pria itu terkejut melihat foto yang dikirim. Di sana adalah Alice yang wajahnya penuh luka dan darah yang terus mengalir keluar.


"Shit! Bagaimana kalau David melihat ini?!" geramnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Wildan was-was. Pria itu sejak tadi diam menahan amarah pada Queen. Queen tidak tahu yang sebenarnya, dia dulu masih sangat kecil saat mengenal Wildan dan pantas saja dia berani mengatakan itu.


Daniel menyerahkan ponselnya pada Wildan dan membuat pria itu terkejut sekaligus marah besar saat melihat putrinya diperlakukan seperti itu. "Queen! Saya tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" geramnya.


"Apa yang terjadi, Wildan?" tanya Daniel tidak mengerti.


"Cari Alice sekarang juga sebelum semuanya terlambat!"


David yang baru saja datang itu terkejut melihat Wildan yang terlihat begitu marah. "Ada apa ini?" tanya David datar.


Wildan terkejut melihat David yang sudah lama tidak dilihatnya. Pria yang menjadi tunangan putri semata wayangnya. Dengan tangan gemetar karena amarah, Wildan menyerahkan ponsel Daniel dan menunjukkan foto Alice yang masih terpampang jelas di sana.


"Sial! Daniel, hubungi Eldric sekarang juga, kita harus segera mencari Alice!"


Daniel menerima ponselnya yang diulurkan oleh David dan segera menghubungi laki-laki yang bernama Eldric itu. Sayangnya ponsel lelaki itu tidak aktif, membuat David semakin uring-uringan.


 


Eldric yang sudah berjam-jam mengikuti mobil kakaknya itu akhirnya menghentikan mobilnya. Mobil kakaknya berhenti tepat di bandara yang membuatnya bingung. Ke mana tujuan kakaknya itu pergi sampai sampai harus menggunakan pesawat.


Eldric sedikit tertinggal jauh dari Clara. Lelaki itu berusaha secepat mungkin untuk menemukan jejak sang kakak, jangan sampai dia tertinggal. Eldric terus mencari hingga dia berlari-lari kecil. Tak lama setelahnya, dia menemukan Clara tengah mengantre pembelian tiket. Dia memutuskan untuk berdiri sedikit jauh dari kakaknya agar tidak ketahuan. Urusan kakaknya mau pergi ke mana, akan dia urus nanti yang terpenting dia harus mengetahui tempat itu terlebih dahulu.


Setelah Clara pergi dari tempatnya, Eldric segera mendekat ke loket tadi dan menanyakan ke mana tujuan wanita yang baru saja membeli tiket tersebut. Untung saja pesawatnya masih akan berangkat 15 menit lagi, Eldric memutuskan untuk membeli tiket yang sama dan mengikuti ke mana kakaknya itu akan pergi. Tujuannya adalah ke Kota Calgary, kota terbesar di Kanada.


Eldric mematikan ponselnya untuk perjalanan 5 jam ke depan. Tidak peduli akan ada telepon penting, yang terpenting dia tengah mengikuti ke mana perginya sang kakak itu. Dan dia tidak tahu jika 15 menit awal pesawat mulai berangkat, Daniel menelponnya. Benar-benar bukan sebuah keberuntungan untuk David.