Cold CEO

Cold CEO
FIVETEEN



"Halo, Alice Zoyna Smith!"


Alice meneguk ludahnya. Bagaimana orang itu bisa tahu namanya? Bahkan dia bukan teman sekelasnya. Kalau dilihat dari logo seragamnya, dia adalah kakak tingkat. Namun, bagaimana bisa namanya cepat menyebar hingga ke kakak tingkat.


Dengan memberanikan diri Alice bertanya, "I … iya, Kakak siapa, ya?"


Perempuan itu semakin menyeringai, membuat perasaan Alice tiba-tiba tidak enak. "Aku … Queen Alana Smith!" ucapnya dengan menekankan kata 'Smith'.


Alice menegang dan merasakan degup jantungnya yang menggila. Tenggorokannya terasa tercekat, sepertinya dia tidak akan mampu mengeluarkan suaranya. Otot-ototnya terasa kaku dan enggan digerakkan. Ia tidak tahu bagaimana wajahnya saat ini terlihat. Apa terlihat seperti orang bodoh? Mungkin saja.


"Kenapa? Kamu terkejut?" tanya Queen dengan raut wajah mengejeknya.


Raut wajah Queen berubah menjadi menyeramkan. Dia terlihat seperti memendam dendam yang begitu besar. Apa kesalahan yang sudah dibuat Alice? Apa yang akan kakak kelasnya lakukan padanya.


Queen tiba-tiba mencengkeram dagu Alice dengan kuat. Matanya mengilatkan amarah dan juga kebencian. "Kamu kenapa nggak mati seperti ****** itu, hah?" desisnya.


Alice mencoba melepaskan cengkeraman tangan Queen, tetapi sama sekali tidak bisa dan semakin perih dagunya. "Kenapa? Sakit, iya? Ini nggak seberapa sama apa yang aku dan mamaku rasakan!" bentaknya.


"Kak, aku tidak tahu apa pun masalah ini. Kenapa kamu melakukan ini padaku?"


"Karena aku membencimu dan juga mamamu! Mamamu telah merebut Papaku! Mamamu sudah berhasil kubunuh, sekarang giliranmu Alice!"


Alice membelalakkan matanya. Dia menggeleng kuat dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Queen. Terlepas. Alice mengambil napas dalam-dalam, tetapi setelahnya Queen kembali mendekatkan tangannya. Tanpa persiapan sedikit pun, Alice tidak bisa menghindar. Tangan Queen sudah melingkar di lehernya dan mulai mencekiknya.


"Le … pas … in, Kak!"


"Tidak, sebelum aku berhasil membunuhmu, Alice!" Queen menyeringai.


Tiba-tiba Queen mengangkat tubuh Alice dan melemparkannya ke dinding. Terdengar suara rintihan Alice yang tengah tengkurap di lantai. Punggungnya terasa sangat nyeri, mungkin jahitannya kembali membuka.


Queen sedikit terkejut saat melihat darah yang membasahi seragam bagian belakang Alice. Dia merasa senang sekaligus panik. "Rasain!" gumamnya dan setelah itu meninggalkan Alice yang masih kesakitan.


"Akh, sakit sekali punggungku," lirih Alice. Dia masih berusaha untuk memposisikan diri agar bisa menopang tubuhnya.


"Mister CEO, Kimmy … tolong aku," gumam Alice sebelum kegelapan mulai merenggut kesadarannya.


 


David merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Saat ini, dia sedang mengikuti meeting perusahaan yang wajib dia hadiri. Matanya terus menerus bergerak tidak tenang, sangat menunjukkan kegelisahannya.


"Ada apa, Tuan Britama? Anda terlihat sangat gelisah," tanya salah satu rekan bisnisnya.


David menoleh ke arahnya. Raut wajahnya benar-benar terlihat cemas saat ini. Dia mendesah pelan sebelum menjawab. "Tidak apa, kita lanjutkan saja meetingnya agar cepat selesai."


Baru saja David membuka suaranya untuk melanjutkan presentasinya, Daniel melangkah mendekatinya. "Tuan, Nona Alice berada di rumah sakit."


Deg-deg!


"Tolong gantikan rapat ini, aku akan menyusulnya."


"Baik, Tuan. Nona Alice di rumah sakit dekat sekolah."


David hanya mengangguk dan segera meninggalkan ruangan itu. Dia tetap berusaha untuk berpikir dengan jernih agar tidak membahayakan dirinya sendiri karena Alice sangat membutuhkannya.


Mobil sport hitam milik David mulai membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Para pengendara yang sudah mengenali plat khusus miliknya, mulai menyingkir dan memberikannya akses jalan dengan mudah. Mereka semua tahu dan sudah hafal jika David dalam hal mendesak saat mengendarai secara brutal.


David memarkirkan mobilnya secara acak dan memberikan kuncinya pada petugas keamanan. Langkah tegasnya mulai menapaki lantai rumah sakit yang tidak terlalu besar. Dia menghampiri meja resepsionis.


"Permisi, Sus, pasien dengan nama Alice Zoyna Smith ada di ruang mana?"


"Tuan Britama ada hubungan keluarga dengannya?" tanya resepsionis itu.


"Saya tunangannya."


"Baik, sebentar saya carikan."


David mengetukkan jarinya di atas meja kaca. Lama sekali resepsionis itu mencari datanya.


 


Alice menelan suapan terakhir nasi gorengnya. Sejak pulang dari rumah sakit tadi, David terus menerus memberinya tatapan tajam. Pria itu tidak henti-hentinya bertanya tentang apa yang sudah terjadi.


"Makananmu sudah habis dan kamu masih tetap tidak mau menjawabku?" tanya David lagi.


Alice diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng. Tatapannya lurus ke depan dengan ekspresi wajah yang begitu datar. Benar-benar terlihat bukan seperti Alice.


"Baiklah kalau kamu masih tetap tidak menjawab. Ini sangat mudah untukku mencari tahu sendiri."


Gadis itu mengerjapkan matanya saat merasakan pergerakan di atas kasur. David benar-benar akan melakukan itu. Pikirannya kembali runyam, apakah tidak bisa untuk dirinya tenang sehari saja?


"Apa tidak bisa untukku tenang sehari saja? Aku sedang tidak ingin membahasnya, Tuan David," tuturnya yang langsung membuat David terdiam.


Pria itu kembali menuju tempat tidur dan mendekat pada Alice yang membuang muka ke arah jendela besar. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Alice lalu menciumnya.


"It's okay, tenangkan pikiranmu dulu. Kamu mau apa?"


"Aku tidak mau apa pun, kecuali…."


David menaikkan alisnya karena penasaran dengan ucapan Alice selanjutnya. "Kecuali aku, benar?"


"Kamu sangat percaya diri, Tuan. Lebih tepatnya … aku ingin sendirian."


"Tidak aku izinkan, Sayang."


"Tolonglah, biarkan aku sendirian untuk malam ini!"


"Tidak!"


"Sekali ini."


"Tidak!"


"David!"


"Alice!"


"Pemaksa!"


"Baiklah, baiklah. Nanti malam Mama sama Papa datang ke sini. Kuharap kamu mau menemui mereka," ucap David yang sebenarnya tidak ingin mengalah. Dia hanya sedikit merasa tidak tega pada Alice yang sepertinya terlihat sangat tertekan.


Alice membaringkan tubuhnya dengan membelakangi David. Perasaannya sangat kacau sekarang ini, tetapi dia juga harus menemui orang tua David yang mungkin jelas kedatangannya untuk membahas pertunangan itu.


"Alice, kalau kamu—"


"Aku baik-baik saja. Aku juga akan menemui orang tuamu nanti, tenang saja. Kau pasti ada urusan sekarang ini, lebih baik kau segera menyelesaikannya, David."


David mengembuskan napasnya dengan kasar. Alice sepertinya memang sedang tidak baik. Dia memutuskan untuk segera meninggalkan kamarnya dan segera membereskan semuanya.


"Kalau sampai aku mendapatkan kabar bahwa kamu tidak baik-baik saja, aku tidak akan segan-segan bertindak, Alice."


Alice tidak mendengar apa pun lagi usai perkataan itu. Sebenarnya dia sangat ingin bersama David kali ini. Dia ingin sekali merengkuh tubuh kekar itu. Sekarang apakah dia menyesal? Mungkin saja. Namun, Alice sadar diri, dia tidak bisa terus-menerus mengandalkan David. Pria itu masih punya dunianya sendiri dan dia belum tentu akan menjadi pendamping hidupnya.


Di balik pintu sana, David tidak benar-benar pergi. Dia melihat Alice yang menangis sesenggukan sambil merengkuh lututnya. Dengan hati-hati dia membuka pintu kamarnya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi apa pun.


"Aku tahu kalau kamu ingin memelukku. Tidak usah merasa tidak enak, Sayang. I'm yours and you are mine."


Alice merasa terkejut saat tubuhnya direngkuh dari dekat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Dipeluknya dengan erat tubuh David dan dia mulai terisak begitu keras.


"Katakan sesuatu padaku," suruh David dengan suara lirihnya. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat Alice seperti ini.


"Aku rindu Papa."