Cold CEO

Cold CEO
SIXTEEN



"Aku rindu Papa."


Alice kembali mengeluarkan isakannya. Kali ini David merengkuhnya dengan lebih kuat.


"Mau ke makam?" tanya David dengan lembut.


Alice menggeleng lemah di dalam pelukan David. "Aku nggak tau di mana makam papa. Semenjak kejadian waktu itu, aku tidak pernah mendapatkan kabar apa pun soal Papa. Yang aku tahu hanya Papa sudah tiada, itu pun tidak diberitahu secara rinci," jawabnya setengah terisak.


David terus mengusap punggung Alice. Dia merasa ada yang tidak beres dengan kematian papanya Alice.


"Sttt, kamu lebih suka nangis daripada suka aku?"


Pertanyaan David berhasil membuat Alice melepas rengkuhannya. Gadis itu menatap David dengan garang, sedangkan David hanya mengeluarkan cengirannya.


"Jalan-jalan ke mall, yuk!" ajak David dengan semangat.


Alice menggelengkan kepalanya tanpa minat. Di mana pikiran pria itu? Sudah tahu kalau dirinya baru pulang dari rumah sakit, malah diajak ke mall.


"Hehe, bercanda. Sekarang kamu tidur, aku ada urusan yang benar-benar sangat penting. Okay?"


Alice menganggukkan kepalanya. Kemudian dia membaringkan tubuhnya dan David menyelimutinya hingga sebatas leher.


"Sleep tight, *S*weetheart. I love you so much." David mengecup kening Alice dengan lembut dan sedikit lama.


Alice tersenyum hingga terlelap dalam tidurnya. David baru meninggalkannya saat gadis itu sudah benar-benar terlelap.


---ooo---


Alice hari ini kembali libur. David memaksanya agar tidak bersekolah hari ini karena kondisi kesehatannya. Padahal Alice masih berstatus murid baru di sana, bisa-bisanya David sudah menyuruhnya libur. Dan sekarang ini dirinya harus terperangkap di dalam ruang kerja David yang sangat membosankan menurutnya. Pria itu sedang asyik di ruang meeting, meninggalkannya seorang diri dan menguncinya dari luar.


"Argh, aku bosan sekali!" erangnya sambil memukuli bantal sofa di sebelahnya.


"David gila, tidak waras! Kejamnya dia mengunciku dari luar. Tempat ini sangat membosankan! Tahu begini aku memilih di rumah saja tadi," gerutunya lagi.


Alice memutuskan untuk mengelilingi ruangan yang sangat terjaga privasinya. Ada sebuah pintu kaca besar yang kemungkinan menjadi pembatas menuju balkon.


Alice mencari-cari tombol untuk membuka pintu kaca itu. Ternyata tombol itu berada di balik tirai jendela, untung saja Alice tidak terlalu bodoh karena di rumahnya juga ada pintu balkon seperti ini.


Ditekannya tombol itu dan terbukalah pintu kaca dengan bergeser perlahan. Alice terdiam takjub saat melihat Kanada dari atas sini. Baru beberapa langkah kakinya melewati pintu, Alice segera mundur karena di depannya tidak ada jalan lagi. Padahal railing balkon masih sedikit jauh, lalu bagaimana caranya agar bisa menyentuh railing itu?


Alice merasa pusing, pandangannya terasa berputar. Apa mungkin efek dari fobianya? Ya, sejak kecil dia memiliki fobia ketinggian. Namun, dia merasakan tubuhnya diangkat dari belakang dan dibawa kembali ke arah jalan yang buntu tadi.


Alice memejamkan matanya kuat-kuat, dia terus berteriak karena takut. Apakah dia sudah terjatuh sekarang ini? Dan ini sudah masuk alam bawah sadarnya atau malah dia sudah mati?


"Aaaaaaa, tolong!!!! Aaaaaaa, tidak!!! Tolong aku!!! Aku belum mau mati!!! Aaaaaaa!!!" Teriakan Alice membuat sosok di belakangnya itu menggeleng kecil.


Alice merasakan tubuhnya akan dilepaskan. Buru-buru dia memegang erat tangan orang itu dan memohon agar tidak melepaskannya atau dia akan mati karena jatuh dari lantai paling atas ini.


"Alice!" panggil David yang sejak tadi berusaha mati-matian menahan tawanya.


"David, kau kah itu?"


"Iya."


"Please, kumohon jangan lepaskan aku! Aku tidak ingin mati sekarang! Tolong, masa depanku masih panjang!"


"David!!!"


"Kau tidak akan mati, Alice," jawab David sesantai mungkin.


"Tidak tidak, aku tadi melihat tidak ada jalan lagi di lantai balkon ini. Aku tahu, sekarang kita pasti sudah di ujung, kan? Jangan lepaskan aku, Dave! Tolong! Aku tidak mau mati!" racau Alice yang sudah kelewat takut dan panik.


David berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh kedua tangan Alice, tetapi gadis itu kembali berteriak dan meronta agar dirinya tidak melepaskan pegangannya.


"Berjanjilah padaku!"


"Aku janji, Sayang. Sekarang lepaskan tanganmu perlahan-lahan," titah David dan Alice menurutinya dengan hati-hati. Gadis itu melepaskan cengkeramannya, tetapi kembali memenggenggam erat tangan David karena merasa takut.


Alice merasa kakinya menyentuh lantai, tetapi tangannya masih enggan terlalu jauh dilepaskan dari tangan David.


"Sekarang buka matamu perlahan-lahan."


"David, kau berjanji akan memelukku. Kenapa kau tidak melakukannya? Apa kamu mau aku terjatuh dan mati konyol?" cicit Alice yang menahan tangisnya agar tidak pecah.


David menggelengkan kepalanya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Alice lalu berkata, "Aku sudah memelukmu. Sekarang buka matamu dengan perlahan."


Alice masih merasa takut meski David sudah memeluknya. Di dalam pikirannya bagaimana jika David nanti melepaskan pelukannya lalu dia terjatuh dan mati secara mengenaskan di bawah sana.


"Ayo, buka mata kamu."


Alice menuruti perlahan-lahan. Yang pertama kali dia lihat adalah railing balkon. Lalu dia melirik di bawahnya dan—


"Aaaaaaa!!!" Alice langsung melompat ke tubuh David.


Badannya gemetaran dan air matanya merembes keluar. Kepalanya terasa sangat pusing dan napasnya mulai tidak beraturan.


"Alice, ada apa?"


"Aku pusing, aku takut. Aku takut ketinggian dan apa yang aku lihat barusan itu membuat jantungku tidak normal."


David segera membawa Alice masuk ke dalam ruangannya, tetapi sosok perempuan berhasil mengejutkannya dan juga Alice.


"David," lirih orang itu saat melihat David yang tengah menggendong Alice di punggungnya.


"Ada keperluan apa Anda datang kemari?" tanya David dengan dingin. Wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat. Hal itu membuat Alice tersentak karena tidak biasanya mendapati David seperti itu.


"David, aku ingin—"


"Kalau tidak ada hal penting yang akan dibicarakan, silakan Anda keluar dari ruangan saya!" sela David dengan tegas.


Alice meminta diturunkan dari punggung David. Dia hanya diam sambil mengamati dua orang itu.


"David, aku mohon dengarkan penjelasanku. Aku—"


"KELUAR!" perintah David dengan marah. Matanya bahkan terlihat sangat tajam. Rahangnya juga mengeras. Benar-benar terlihat bukan seperti David.


Perempuan itu terlihat kesal. Dia melirik tidak suka ke arah Alice. Lalu matanya kembali menatap David dengan sendu. Tanpa berkata-kata lagi dia langsung meninggalkan ruangan David dengan langkah kesalnya.


David segera menuju kursi kebesarannya. Dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja lalu menekan nomor mungkin dia akan menghubungi seseorang.


Alice hanya memperhatikan gerak-gerik David tanpa suara. Meskipun tubuhnya masih gemetaran, dia berusaha untuk tidak menimbulkan kegaduhan.


"Bagaimana bisa dia masuk ke sini?!"


Suara dingin David menyadarkan lamunan Alice. Gadis itu masih berdiri di depan pintu balkon tanpa beranjak sedikit pun.


"Awasi terus dia, jangan sampai orang itu bertindak macam-macam!"


Usai mengatakan itu, David segera beranjak dan meninggalkan ruangannya lagi dan juga Alice yang masih diam tidak mengerti.


Alice meremas perutnya yang meronta. Sudah waktunya makan siang, tetapi David malah pergi meninggalkannya. Mood pria itu pasti sangat kacau, terlihat dari caranya berbicara dan raut wajahnya.


"Lebih baik aku tidur saja. Mana bisa aku makan dalam keadaan seperti ini." Dengan langkah bergetar, Alice mendekati sofa panjang yang akan digunakannya untuk tidur.


Saat matanya berusaha terpejam, bayangan perempuan yang menatapnya tadi kembali menghantui. Apa dia sudah membuat kesalahan hingga dilihat dengan tatapan kebencian seperti itu?