Cold CEO

Cold CEO
NINETEEN



Gemerlap lampu yang berkilauan menandakan sedang ada pesta kebahagiaan di sana. Hari yang dinanti telah tiba. Apalagi kalau bukan pesta pertunangan trilluner dari Kanada, David Lozyo Britama.


Pria itu terlihat sangat tampan dengan tuxedo black white yang melekat di tubuhnya. Para wanita yang dulu mengejar David kini hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Pria dingin itu tidak bisa tersentuh sedikit pun. Kabar pertunangannya pun membuat hati mereka terasa patah.


Pria berumur 24 tahun itu berjalan dengan tegas. Bahunya yang lebar menambah kesan gagah pada tubuhnya. Banyak yang mulai berhalusinasi jika merekalah yang berada di sisi pria kaya tersebut.


Sayangnya, sosok gadis remaja dengan gaun putih panjang yang begitu elegan mulai mendekati pria idaman banyak wanita itu. Mereka iri, sangat iri. Mengapa tambatan hatinya memilih perempuan yang bahkan begitu terlihat polos dan tidak berpengalaman seperti mereka.


Alice berjalan dengan senyum manis yang terus menghiasi wajahnya. Kedua tangannya mengangkat sedikit gaun panjang yang dikenakannya agar jalannya tidak begitu terganggu.


David yang sebelumnya berbicara dengan Herland, kakaknya. Kini mulai mengalihkan tatapannya pada sosok yang membuat hampir semua pasang mata memandangnya. Lensa abu-abunya berhenti tepat di mana sosok Alice Zoyna Smith berdiri.


"Hi, Baby! You are so beautifull to night. Very very beautifull," puji David setelah berdiri di hadapan Alice.


Alice menunduk malu-malu. Sebenarnya dia tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini, tetapi bagaimanapun juga ini pestanya dengan David. Bukankah dia harus bahagia malam ini karena akan diklaim menjadi milik sosok David, sosok dingin yang begitu anti pada wanita?


David mengulurkan tangannya dan Alice menyambutnya dengan baik. Pria itu membawa gadisnya ke tempat bagian atas dan tempat itu telah didekorasi sedemikian rupa yang hampir mirip dengan altar pernikahan.


David memberi isyarat pada Herland jika pertunangannya akan segera dimulai. Pria yang berstatus kakak dari David itu mengangguk dan menuju ke arah dekat altar. Para tamu undangan pun mulai mendekat dan menyaksikan proses penyematan mahkota dan juga cincin simbol ikatan hubungan dua insan Tuhan yang akan menuju jenjang selanjutnya.


David mengambil sebuah mahkota yang berhiaskan berlian mahal dari kotak yang diserahkan Anna, adiknya. Pria itu memakaikannya di atas kepala Alice lalu mengecup kening Alice begitu lembut.


Tema pertunangan yang diambil David malam ini adalah King with Queen. Hal itu dilukiskan pada kedua cincin pertunangan mereka. Lihat, bagaimana tidak menyenangkan dan beruntung bisa menjadi milik seorang David?


Anna tersenyum haru saat melihat kakaknya menyematkan cincin bermotif mahkota itu ke jari manis Alice. Dia tidak menyangka jika kakaknya yang dingin itu bisa jatuh cinta dan sekarang sedang bertunangan dengan seorang gadis yang bahkan lebih muda sedikit darinya.


David mencium punggung tangan Alice setelah menyematkan cincin tersebut. Hal itu membuat wajah Alice memerah. David tersenyum manis saat melihat ekspresi Alice yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Ayo, Al, sekarang giliranmu untuk memakaikan cincin ini padi kakakku," pinta Anna dengan bahagianya. Bibirnya sejak tadi terus terangkat naik. Apa dia tidak merasa pegal? Itulah yang ada dalam otak David saat ini.


Alice mengambil cincin yang tersisa. Sebuah cincin berbentuk mahkota raja berwarna hitam yang akan dipakai David hingga saatnya tiba nanti untuk cincin ini terlepas dan berganti dengan cincin yang lain.


David melepaskan pelukannya dan mengambil pengeras suara yang sudah tersedia di sana. Salah satu lengan pria itu tetap merengkuh posesif pinggang Alice. Dia seakan-akan memberitahu jika Alice adalah miliknya dan selamanya akan seperti itu. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut yang datang menghampiri.


"Malam ini aku sangat bahagia," ucap David. Lensanya menjelajah seisi ruangan dan menemukan bahwa semua tamunya ikut merasakan kebahagiannya.


"Sekarang, gadis di sebelahku ini sudah menjadi milikku. Alice Zoyna Smith, sekarang menjadi milikku. Dia adalah Alice Zoyna Britama sekarang," ucapnya lagi. Kali ini dia menatap wajah Alice yang begitu cantik.


David kembali mengedarkan pandangannya hingga jatuh pada satu titik di mana seseorang tengah berdiri di sana dengan senyuman mautnya.


"Dan siapa pun yang berani mengganggunya, maka orang itu tak segan-segan akan berurusan denganku. Tak segan-segan kupatahkan tulangnya meski dia hanya merontokkan satu helai rambut Alice."


***


Prang!


Semua barang yang ada di atas meja rias itu jatuh dengan sangat mengenaskan. Pelakunya saat ini tengah meremas rambutnya dengan frustrasi. Wajahnya terlihat berantakan karena beberapa make up yang digunakannya mulai luntur karena air mata yang terus merembes keluar.


"Dasar, *****! Wanita murahan! ******!" maki orang itu dengan emosi yang membuncah.


Dia adalah Clara Edward, mantan kekasih David yang beberapa hari lalu datang menemui langsung di kantor perusahaan milik David. Tentu saja saat pria itu tengah bersama Alice.


"Kamu tidak akan bahagia bersamanya, David. Sejak dulu hanya akulah kebahagiaanmu. Semua ini hanya butuh waktu. Aku akan membantumu terbebas dari gadis licik seperti Alice itu. Aku akan menyelamatkanmu dari ****** cilik seperti dia, Dave," lirihnya penuh kebencian.


Malam itu dia menyusun sebuah rencana dengan seseorang yang juga sangat tidak menyukai Alice. Mereka bertemu di malam hari yang cukup dingin ini. Seharusnya, Clara masih berada di pesta David saat ini, tetapi karena ucapan pria itu tadi, dia memilih untuk segera meninggalkan pesta itu sebelum hatinya semakin merasa hancur.


Dua perempuan itu terlihat begitu serius membicarakan sesuatu. Mereka sepakat akan menjalankan rencana ini dengan mudahnya di waktu yang tepat. Senyum licik terlukis di bibir mereka. Ada sebuah kepuasan tersendiri jika rencana yang mereka susun itu akan membuahkan hasil yang sempurna dan sesuai ekspektasi.


"Alice, aku ingin tahu seberapa besar kemampuanmu melawanku. Jika David tidak menjadi milikku, siapa pun juga tidak akan bisa memilikinya."


"Adik kecil yang malang. Andai saja kau tidak macam-macam dengan keluargaku, pasti hidupmu tidak akan sesulit ini. Tenang saja, kematianmu sudah dekat dan aku akan membantu mempercepatnya."