Cold CEO

Cold CEO
TEN



Alice terpaku pada jalanan di depannya. Sejak Lamborghini Sesto Elemento keluar dari mansion mewah itu, belum ada percakapan sama sekali. Gadis remaja dengan gaun kuning yang melekat pas di tubuhnya hanya bisa menelan semua pertanyaan yang menari di kepalanya.


David yang sejak tadi diam kini menepikan mobilnya di pinggir jalan dan berhasil membuat Alice mengernyit penasaran.


"Apa mobilnya bermasalah?" tanyanya dengan wajah polos.


"Kita akan menggunakan mobil baru jika mobil ini bermasalah," jawab David dengan entengnya. Mana ada mobil mewah nan mahal itu mogok begitu saja. Jika itu terjadi pada mobil David, dia tak akan segan-segan untuk langsung membeli yang baru.


"Lalu, kenapa kita berhenti?"


David mendekatkan wajahnya pada wajah Alice. Tatapan mereka saling beradu tanpa ada yang berniat untuk menghentikannya.


"Bukalah dashboard dan kau akan tahu apa penyebab kita berhenti!" perintah David dengan suara sedikit santai, tetapi dapat membuat Alice merasa takut.


"Lalu diapakan?"


"Berikan jawaban padaku dan aku akan menunggunya. Jika kamu tidak kunjung menjawabnya, mobil ini tetap tidak akan berjalan."


Ucapan David berhasil membuat Alice terburu-buru untuk membuka dashboard dan tidak memedulikan seringaian David. Alice membulatkan bola mata saat melihat sebuah kotak berwarna merah dengan bentuk hati yang begitu elegan. Dibukanya dengan hati-hati kota tersebut dan terlihatlah sebuah diamond cluster ring di dalamnya.


"Ini untuk apa?" tanya Alice yang membuat David menatapnya dengan wajah datar.


"Apa kau benar-benar bodoh?" cetus David dengan menekankan kata bodoh.


Alice mencebik dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti ke depan. David langsung mengecupnya dengan secepat kilat lalu tersenyum miring. Alice membeku dibuatnya. Sebisa mungkin dirinya menahan degup jantungnya, takut David bisa mendengarnya.


"Itu cincin, Al. Gunanya untuk apa?" tanya David dengan selembut mungkin.


"Dipakai, tapi ini cincin untuk apa?"


"Alice, jadilah bagian dari hidupku," ucap David. Matanya menatap lurus nan tajam pada netra Alice yang begitu menghangatkan.


Alice merasa terkejut sekaligus gugup. Hal ini tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam kepalanya. Apa jalan takdirnya memang seperti ini?


"Tapi aku masih SMA."


"Itu masalah mudah, cepat berikan jawabanmu atau kita akan terlambat?" ancam David.


Alice meneguk ludahnya susah payah. Kenapa secepat ini? Seharusnya ia diberi waktu untuk memantapkan jawaban atas pilihannya, tetapi dirinya malah didesak untuk segera menjawab. Ia tidak ingin menjawabnya sekarang, tetapi mereka akan terlambat ke acara yang dirinya sendiri tidak tahu mau ke acara apa.


"Dua menit sudah terbuang dan kita akan terlambat. Butuh waktu berapa lama lagi untukmu berpikir?"


"Apakah aku tidak boleh menjawabnya besok? Lagipula, mana ada mobil berjalan? Manusia dan hewan itu yang berjalan. Bodoh!" balas Alice dengan senyum mengejeknya.


David menggelengkan kepalanya. Tak ingin terlambat, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Aku berharap kamu menjawabnya sebelum kita sampai ke tempatnya," ucap David dengan santai.


Alice menolehkan kepala ke arah David yang sedikit meliriknya. "Apa aku boleh menolaknya?" tanya Alice yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari David.


"Oke, artinya memang tidak ada penolakan untuk Cold CEO sepertimu. Lalu untuk apa kamu bertanya dan menunggu jawabanku?" ucap Alice yang kemudian menghempaskan tubuhnya ke jok dengan menghela napas panjang.


David meraih tangan Alice dan kotak merah tadi. Alice menolehkan kepalanya dan mendapati David yang tengah tersenyum begitu manis. Hal itu membuat Alice salah tingkah dan gugup. Apalagi David sudah melingkarkan diamond cluster tadi di jari manis kirinya.


"Kamu sekarang tunanganku, Alice. Jika nanti banyak yang bertanya, jawab saja begitu." David berkata dengan lembut. Alice menganggukkan kepalanya ragu-ragu.


David keluar dari mobilnya terlebih dahulu. Dia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Alice. Alice tersenyum kecil dan menerima uluran tangan  David. Beberapa wartawan yang masih di luar, memanfaatkan momen tersebut untuk meliput David yang tengah berjalan bersama Alice yang tengah melingkarkan tangannya di lengan kokohnya. Begitu mesra mereka terlihat, seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.


"Aku harus memanggilmu seperti apa?" bisik Alice karena tidak ingin terdengar oleh wartawan.


David menundukkan kepalanya untuk melihat Alice. Bisa dibayangkan selisih tinggi badan mereka seberapa.


David tersenyum sebelum menjawabnya. "Panggil namaku seperti kamu memanggilku saat di kamar tadi," ucapnya yang berhasil membuat pipi Alice merona.


Alice terdiam saat mereka sudah memasuki gedung megah tersebut. Ternyata David mengajaknya untuk datang ke sebuah pesta pesta pernikahan salah satu rekan bisnisnya.


Seseorang datang menghampiri mereka berdua dengan raut wajah terkejut. Apalagi alasannya kalau bukan karena kemesraan David dan Alice.


"Alice, ngapain kamu ke sini?" tanyanya dengan nada tidak suka.


Alice mendongak dan menatap David, ia bermaksud untuk meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan teman sekolahnya yang cukup mudah dijawab. David yang sebelumnya memperhatikan gadis seumuran Alice yang berdiri di hadapannya kini menoleh karena merasa diperhatikan. Dia mendapati tatapan memohon dari Alice.


"Tentu saja untuk menemaniku, dia pasanganku," jawab David dengan santainya.


Alice meneguk ludahnya susah payah, begitu pun dengan gadis yang sejak tadi terus tersenyum mengejek.


"Tuan Britama, apa Anda sedang bercanda? Mana mungkin perempuan seperti dia adalah pasangan Anda." Ia berkata dengan sedikit merendahkan Alice.


David menarik pergelangan tangan Alice yang masih melingkar di lengannya. Dia menunjukkan sebuah cincin yang sudah bertengger dengan manisnya di jari Alice.


"Lihat ini? Jika kau lihat, kau sudah tahu apa maksud dari semua ini." David menjawab dengan tidak kalah mengejek. Kemudian dia membawa Alice pergi dari tempat itu dan bergabung di pesta yang sedang berlangsung.


David memperkenalkan Alice pada rekan-rekan bisnisnya yang kebetulan juga berada di sana. Tak lama setelahnya, Anna dan Herland datang menghampiri mereka berdua dengan bahagianya.


Herland tersenyum tipis saat melihat Alice yang sudah terikat hubungan dengan David, adiknya, sedangkan Anna melambaikan tangannya dengan senyum lebar.


"Hai, Al!" sapa Anna dan berhasil mengejutkan Herland yang tengah melamun.


"Ha … hai!" balas Alice dengan sedikit gugup. Ia berusaha melepaskan tangannya yang sejak tadi digenggam oleh David. Namun sayangnya, David malah semakin mengeratkan genggamannya.


"Kak, kau harus cepat-cepat memberi tahu Mommy dan Daddy tentang ini. Mereka pasti akan senang sekali," ucap Anna dengan nada bahagianya.


Herland lebih dulu menyahut dengan sedikit bergurau. "Lalu kakak tertuamu ini akan semakin lama menyandang status single."


Anna tertawa dengan begitu kerasnya, sedangkan David hanya terkekeh kecil. Mereka berempat memutuskan untuk duduk di salah satu tempat yang tersedia.


Beberapa menit lagi, pesta dansa akan dimulai. David ingin sekali mengajak Alice berdansa. Namun, ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan akan terjadi usai ini nanti.


"Apa pun yang terjadi, semoga tidak terjadi pada Alice. Dia separuh nyawaku mulai sekarang." David membatin di dalam hatinya.


Perasaan David memang ada benarnya. Di tempat yang tidak jauh darinya, seseorang memperhatikan dengan tatapan kebencian dan amarahnya. Orang itu sudah mengucapkan sumpah untuk menghabisi siapa pun yang berada di sisi David. Di tangannya sudah terdapat sebilah pisau yang amat tajam.