
Claudia melangkah masuk ke Emerald High School setelah men-konfirmasi ke datangannya dengan satpam yang sempat bertanya dengan keperluannya.
Claudia melewati setiap lorong yang sepi,tentu saja sepi karena sudah masuk jam belajar.Tampak wajah Claudia berbinar menatap interior Emerald High School yang mengikuti gaya campuran agama.
Karena sekolah Emerald High School menerima semua murid tanpa pandang agama,kasta atau pun yang lain kecuali sifat sopan santun yang di junjung tinggi.
Di Emerald High School menerapkan sistem belajar sekolah Eropa,yakni setiap pergantian belajar mereka menuju ke kelas khusus pelajaran itu.
Jadi bukan guru yang menghampiri murid tapi murid yang menghampiri guru,sistem itu di gunakan untuk mendidik murid untuk menghormati guru entah tua atau muda.
Claidia terus melangkah kan kalinya walau dia baru pertama kali menginjak kakinya di sini bukan berarti dia tidak setiap sisi sekolah miliknya.
Ya miliknya karena sekolah ini hadiah dari grandpa dari pihak ayah,Kenan untuk ulang tahunnya yang ke 15 beberapa bulan lalu.
Itu lah alasan Claudia memilih masuk sini karena Claudia ingin memeriksa secara langsung yang tarjadi di sekolah ini,dia harus memastikan sendiri sekolah yang sekarang ada di tangganya sesuai dengan yang di beritakan.
Tok tok tok
"Masuk"
Ceklek
"Ada ap--Nona sudah datang maaf tidak menyambut nona" ucap seorang pria paru baya yakni kepala sekolah Emerald High School,Rian Dewarta
"Tak perlu sungkan pak,jalan kan saja tugas bapak dengan baik" ucap Claudia sopan
Pak Rian tersenyum,dia mengagumi Claudia karena tampak sekali Claudia gadis yang berpegang teguh akan etika dan sopan santun.Bahkan gadis ini mau melakukan tes di sekolahnya sendiri bahkan dirinya sempat menawarkan agar Claudia tidak perlu melakukan tes dan di jawab dengan Claudia penuh ke-ketegasan
"Saya pemilik sekolah ini,seharusnya jadi contoh bila saya tidak melakukan tes dan masuk dengan sesuka hati saya itu bukankah sangat tak adil untuk siswa lain?Bukannya sekolah ini memegang prinsip beretika,adil,dan ber-prestasi.Jadi saya harap pak Rian tak perlu meng-istimewakan saya karena saya bersekolah bukan untuk mencari ke-istimewaan dari siapa pun"
Mendengar ucapan Claudia tantu membuat pak Rian langsung mengambil gambaran akan sifat Claudia.Coba saja pak Rian memiliki anak yang penuh dengan etika dan ketegasan seperti Claudia berapa beruntungnya dia
Sayangnya anak tunggal pak Rian sangatlah meresahkan untuk teman sebayanya,memang kalau pada orang yang lebih tua dia akan hormat dan pada yang muda dia akan menghargai
Tapi ssayang seribu sayang anak tunggalnya sangat emosian,dia berharap semoga Claidia mau jadi teman anaknya agar bisa merubah sifat jelek anaknya.
"Bisa lakukan tes sekarang pak?" tanya Claudia membuyarkan lamunan pak Rian
"Tentu nona" jawab pak Rian
"Jangan panggil saya nona,panggil saja nama"
"Baik lah nak Claudia,mari kita mulai tes"
Caludia pun mulai melakukan tes yang sedikit tapi sangat rumit,Claudia semakin senang akan sekolah miliknya ini.Dia harus membalas hadiah dari kakek Kenan,kira kira apa ya yang bagus untuk pak tua yang dingin itu?Bantu Claudia di kolom komentar ya!.