CLAUDIA

CLAUDIA
RENCANA VALEN DAN MEI



Di kediaman Genk Riana CS / The Girls.....


"Gue enggak bakalan biarin anak baru sok kecantikan itu ngerebut Jason dari gue, awas aja nanti !!" Oceh Riana membanting tubuhnya ke sofa panjang berlist emas milik orangtuanya.


Riana merebahkan tubuhnya di sofa tersebut. Matanya terpejam, mengistirahatkan fikiran dan hatinya yang sedang di landa emosi. Sejurus kemudian tanpa sadar dirinya sudah terlelap karena lelah yang mengerubungi fikirannya.


"Claudia kan emang cantik Na, lagian juga kan lo enggak pernah bisa deket sama Jason." Sahut Mei polos sambil membuka bungkus snack kentang kesukaannya.


"Diem lo Mei !!" Bentak Valen geram langsung menutup mulut Mei.


Mei kebingungan, ia merasa perkataannya tidak ada yang salah semuanya benar sesuai fakta yang terpampang nyata di depan mata. Mei melepaskan tangan Valen yang menutup mulutnya.


"Apaan sih Len, gue ngomong bener kan? Lagian percuma juga kan len kalo Riana berusaha mati-matian deketin Jason sementara Jason aja enggak suka sama dia." Ujarnya tanpa rasa salah sambil kemudian mengunyah snack favoritenya.


"iiiiih,, kalo enggak inget lo itu sahabat gue, udah gue tampar mulut lo Mei. Ngomong sembarangan lagi gue tampar beneran lo!! Jangan sampe Riana denger sendiri atau lo yang bakalan di tampar langsung sama dia. Lo enggak liat tadi dia gimana pas di UKS?!" Ucap Valen meluapkan emosinya pada Mei yang lugu dan sangat lola itu.


"Tapi..." Sambung Mei, namun ucapannya langsung dihentikan oleh gerak tubuh Riana.


Riana menggeliat, ia memutar tubuhnya membelakangi mereka dan melanjutkan tidurnya. Valen dan Mei menarik nafas panjang, lega rasanya karena Riana tidak terbangun dan belum sempat mendengar ucapan Mei yang mungkin akan membahayakan bagi mereka berdua.


"Lain kali lo diem aja deh Mei, mau lo Riana ngamuk lagi?" Valen bertanya pada Mei.


Mei bergidik ngeri, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Hmm.. tapi menurut lo Mei, Riana tadi kenapa ya? Kok kayak lain banget dari Riana yang gue kenal selama ini. Terus, lo ingat kan di kelas tadi dia ngeluarin rokok? kok bisa-bisanya sih Riana nyimpen rokok."


Valen sangat bingung dan bertanya-tanya, akhirnya ia mengeluarkan rasa penasarannya itu pada Mei.


Tampak Mei menghembuskan nafas panjang, ia harus menceritakan kejadian tragis yang membuat Riana berubah seperti itu dan hal yang enggak akan pernah Mei lupakan seumur hidupnya.


"Hmmm... Sebenernya gue udah sering liat Riana gitu." Ujar Mei jujur.


"Whaat???! Lo kenapa enggak pernah ngomong sama gue Mei!!!" Valen terlonjak kaget dan tak percaya ternyata Mei sudah lebih dulu mengetahui tingkah aneh Riana.


"Yaa, menurut gue ini enggak perlu di publikasi len. Riana kan enggak mau viral." Jawab Mei polos.


"Aduuh,, bukan gitu maksudnya Mei. Kita ini kan temen bahkan sahabat pula, masa iya lo enggak cerita sama gue sih!!"


"Ooh, gitu. Riana enggak mau orang lain sampe tahu tentang ini."


"Iya Mei gue paham, tapi kan gue sahabat kalian."


"Ya kalo Riana bilang enggak usah di ceritain, ya gue enggak berani cerita dong Valen." Sahut Mei masih dengan polosnya.


Mei menggelengkan kepalanya sambil terus mengunyah snack kentang tersebut.


"Parah banget sih lu pada!!"


Valen sedikit marah dan kecewa ada dua sahabatnya terutama Riana yang selama ini menjadi ketua Genk The Girls. Valen mengedarkan pandangan malas ke arah Riana yang sedang tertidur pulas.


"Mei, gue mau nanya lagi ni."


"Nanya apaan len? lo kaya wartawan deh, banyak tanya." Sahut Mei


"Lo pernah enggak ke rumah Riana?"


Valen mengalihkan pertanyaannya yang semula bertanya tentang keanehan Riana beralih bertanya tentang dirinya yang tak pernah di ajak kerumah Riana. Valen benar-benar merasa banyak keanehan pada Riana yang selama ini tak di sadarinya. Valen mulai menyelidikinya satu persatu.


Mei bingung harus menjawab apa, sebenarnya dulu ia sering sekali bermain dirumah Mei. Namun, sejak lulus SMP Riana sama sekali tak pernah memperbolehkannya masuk dan bermain di rumahnya. Sesekali saja Mei ke rumah Riana itupun hanya mengantarkannya sampai di depan rumah. Riana yang sekarang sedang bersama mereka berdua lebih tertutup dari Riana yang dulu Mei kenal. Mei juga tak tahu harus berkata apa pada Valen, namun dengan polosnya ia menjawab pertanyaan Valen jujur.


"Hmm.. gimana ya len. Dulu banget sebelum kenal kamu, aku sering main kerumahnya. Tapi, sekarang-sekarang ini udah enggak pernah."


"Rumah Riana gimana Mei? Pasti besar banget ya terus mewah-mewah semua barangnya,markas kita ini aja mewah dan keren banget gimana rumah Riana. Gue jadi pengen main kerumahnya, gimana nanti pas ulang tahun Riana kita usul aja ke dia supaya buat party dirumahnya!!"


Valen membayangkan semegah apa rumah yang di tempati Riana. Valen mengusulkan ide kepada Mei agar membujum Riana untuk mengadakan party birthday dirumahnya. Mei mengangguk setuju, ia jug penasaran dengan Riana yang sekarang sangat tertutup padanya. Ia juga sudah lama tak bertemu dengan ibunya Riana yang sangat baik dan cantik.


"Gue setuju !! nanti gue coba ngomong sama Riana." Ujar Mei menyetujui usulan dari Valen.


"Oke deh. Eh, btw.." Ucap Valen terputus.


"Apaan?" Tanya Mei heran.


"Bagi dong!!! Makan ndiri ae lo!!" Ucap Valen sambil merebut snack milik Mei dan berlari membawanya.


"Eeh,, Valen itu punya gue. Wah arah ni bocah, Woyy!!!!" Jerit Mei sambil berlari mengejar Valen menaiki anak tangga di ruangan tersebut.


Di lantai atas terdapat ruangan yang sama sekali tak boleh di masuki oleh Valen dan Mei. Valen yang lupa akan hal itu justru bersembunyi disana, ia menutup pintu ruangan tersebut.


"Leen,,, jangan bercanda deh!! gue masih laper ni, itu snack favorite gue!! aah elu mah gak seru mainnya." Rengek Mei yang sedang berjalan mencari Valen.


Valen mengatur nafasnya yang lelah berlarian dengan Mei. Ia tersadar dan beberapa detik kemudian mengedarkan pandangannya di dalam ruangan yang sedang di singgahinya. Ruangan bernuansa putih dengan banyak coretan keluh kesah di dinding tersebut. Valen berjalan mengelilingi ruangan itu dan memperhatikan tiap tulisan yang berada disana. Hatinya terenyuh saat ia menemukan foto mereka bertiga yang di tempel di dinding dengan bingkai pink warna kesukaannya, disana tertulis -Kalian Adalah Rumah Kedua Gue, Gue sayang sama Kalian Guys-.


"Sebenernya lo punya masalah apa si na?! Sampe-sampe lo kayak gini dan ternyata lo sayang banget sama kita. Gue juga sayang sama lo na!"