
"Terus gimana pak, Nora sebenarnya kenapa? " Tanya Jason penasaran.
"Hmm.. kalo menurut saya yo mas, mbak Nora iku cemburu sama perempuan yang mas suka!! pasti mbak Nora juga suka sama mas, cuma mungkin dia bingung juga mas!! " Jelas pak Joko.
Jason mengerutkan alisnya, " Sejak kapan dia suka sama saya pak? terus bingung kenapa? "
"akeh tenan pertanyaannya mas. Kalo soal kapan mbak Nora suka sama mas, yo iku cuma dia yang tau mas ! bapak yo ndak tau. Kalo urusan bingung, menurut bapak mbak Nora juga ndak tau kalo selama ini dia suka sama mas Jason. Mungkin selama ini dia anggap biasa aja karena mas Jason juga cuek aja ke cewek lain. Nah!!! setelah mas Jason curhat gini, baru mbak Nora itu ngerasain perasaan di hatinya mas. Ngono!! " Ujar pak Joko panjang lebar.
Jason mengangguk mengerti, dia terdiam memikirkan situasi saat itu.
"Huss... Ojo ngelamun mas!! nanti jadi hobi loh. " Tegur pak Joko menyadarkan lamunan Jason.
"Hehe.. iya pak. Hobi saya masak kok pak bukan ngelamun." Jawabnya.
"Yasudah, bentar lagi jam pelajaran selesai loh mas. iki mie ayam e wes medok, kok podo ora di pangan toh? sayang banget iki."
"Maaf ya pak. Saya tadi jadi gak selera makan, terus itu mie ayamnya Nora juga gak di makan. Malah di tinggal gitu aja, tapi tetep saya bayar kok pak. Aman, hehe.. " Ujar Jason mengungkapkan maafnya.
"Yoweslah, men tak pangan wae. Mubazir mas, ojo buang-buang makanan bukan masalah uang iki tapi masalah rezki." Sahut pak Joko menasehati Jason.
"Iya pak, maaf ya pak. Lain kali saya gak buat gini lagi pak. Yaudah pak, saya permisi dulu ya pak. Ini pak bayarannya." Ucap Jason sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
"Loh, iki kembaliannya mas! "
"Gakusah pak buat bapak aja.Makasih banyak pak udah bantu saya dan dengeri curhat saya." Ujarnya, Jason berjalan meninggalkan pak Joko.
"Owalah. Yowes, suwon tenan yo mas." Jawabnya.
"Ya pak, sama-sama."
...----------------...
"Apa gue suka ya sama Jason? " Gumam Nora sendirian di sudut ruang perpustakaan.
Suasana hening menambah kesan galau dalam dirinya. Nora memasang wajah murung disana, ia tak tahu apa yang sebenarnya dirasakan dalam hatinya. Denyut jantugnya berdetak tak karuan kala mata mereka berdua bertemu pandang. Nora juga sedikit merasa cemburu karena Jason menyukai Claudia.
"Arghhh... kok jadi gue yang gila si?! kan harusnya Jason bukan gue!! " Racaunya sambil mengacak-acak rambutnya.
Kriiinggg....... Kriiinggg......
Suara bel berbunyi tanda jam pelajaran telah usai. Nora masih ingin tetap berada di dalam perpustakaan, rasanya malas sekali keluar dan bertemu pandang dengan Jason. Hatinya belum siap untuk bersikap seperti biasa.
"Apa gue pura-pura gak tau aja ya soal kejadian tadi. Soal Jason cerita kalo dia suka sama Claudia, dengan begitu kan gue bisa temenan sama dia kaya biasa!! " Ujarnya menemukan ide.
"Aaahh,, tapi sama aja. Jantung dodol gue ini dag dig dug mulu!! kampret emang!! " Sambungnya lagi kesal.
...----------------...
"Loh, Nora kemana Jes?" Tanya Sesil saat Jason memasuki ruang kelas mereka.
Dengan raut wajah bingung Jason pun menjawab, "Bukannya dia udah balik dari tadi? "
Raut wajah Sesil terpampang panik, dia menggeleng tanda bahwa Nora sama sekali belum kembali ke dalam kelas.
"Nora belum balik-balik dari tadi Jes." Sahut Claudia.
"Kamu gak kenapa-napa kan tadi? " Tanya Jasoj khawatir.
Claudia bingung dengan sikap Jason, ia menggeleng.
"Aku gak kenapa-napa."
"Helooww, kita lagi bahas Nora. Sekarang dia dimana? dan satu lagi ni Jes, sejak kapan lo ngomong ke Claudia pake bahasa kamu-kamu segala? Haa!!?" Ujar cerewetnya Sesil.
Para murid di kelas sudah pada berhamburan keluar, pulang kerumah masing-masing. Tinggallah mereka bertiga di dalamnya. Jason diam seribu bahasa, tak menjawab pertanyaan Sesil.
"Udah sil, sekarang kita cari aja ya Nora ada dimana." Ajak Claudia mengalihkan suasana yang ricuh itu.
Sesil mengangguk mengerti, "Yaudah ayok!! lo mau ikut gak? " Tanya Sesil pada Jason yang sedang membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
"Ikut." Jawabnya singkat.
Di otaknya berfikir Nora akan melakukan hal aneh. Jason sangat takut jika sampai persahabatan mereka rusak hanya karena curhatan hatinya.
"Yaudah, aku beresin buku-buku Nora ya." Ujar Claudia berjalan ke arah meja milik Nora dan membereskan buku-buku serta alat tulis milik temannya itu.
"Udah siap? " Tanya Sesil singkat pada kedua temannya.
Claudia tersenyum tipis, "Udah, ayok kita cari."
Mereka bertiga pun keluar kelas. Di depan kelas Claudia mendapat ide.
"Gimana, kalau kita mencar aja carinya. Sesil ke toilet dan ruang lab komputer dan laboratorium ipa, Jason ke lapangan atau kolam renang. Siapa tau Nora ada disana. Aku biar cari ke ruang seni dan perpus, oke?! " Ujar Claudia.
"Ide bagus, gue setuju!! " Jawab Jason menyetujui ide brilian Claudia.
"Oke." Sahut Sesil.
Mereka bertiga pun pencar sesuai arah masing-masing. Jason ke Lapangan dan kolam renang, Sesil ke toilet dan lab sedangkan Claudia ke ruang seni dan perpustakaan.
"Aduuh ra, kamu kemana? Ada masalah apa kamu, apa karena ngebelain aku tadi kamu jadi dapat masalah di sekolah?!" Gumam Claudia mengkhawatirkan Nora.
Dia berjalan menyusuri lorong kelas. Dari jauh dia melihat seorang penjaga perpustakaan berjalan membawa kunci perpustakaan berniat ingin mengunci pintunya. Dengan berlari Claudia menghampiri penjaga tersebut.
"Permisi pak, jangan di kunci dulu. Saya mau pinjam buku di dalam, boleh ya pak. Please!! " Pinta Claudia sedikit merengek agar di setujui.
"Hmm.. kamu ini ada-ada aja deh!! kenapa gak dari tadi si ciin? bikin repot ekeh aja deh!!" Ujar penjaga itu kesal pada Claudia.
"Boleh ya pak!! Penting banget soalnya pak!!" Mohon Claudia pada sang penjaga perpustakaan.
"Yaudah boleh, saya kasih waktu 10 menit. Kalo lama saya kunci kamu di dalam !! Lagian anak sekarang kerjaannya main haapeeee muluu, aktif sosmed di utamain belajar di duain. hheeeehhh.... pusing kepala eke." Ujarnya.
Sepertinya penjaga tersebut terlihat lunglai dan centil, terlihat juga dia sangat cerewet sekali seperti ibu kos yang belum terima setoran perbulan.
"Terima kasih ya pak, bapak cantik banget deh!! " Pujinya.
"Aawww,,maaci yang lebih cantik!! buruan masuk!! " Jawabnya. Awalnya suara penjaga tersebut terdengar centil namun setelah memerintah Claudia suaranya berubah menjadi berat dan tegas.
"Eh, iya pak iyaa.." Claudia berjalan masuk ke dalam perpustakaan.