CLAUDIA

CLAUDIA
RIANA - RANA (2)



Bugh... Bughh... Bughh...


Suara pukulan terdengar keras dari luar ruang UKS. Para siswa berkerumun disana, melihat aksi yang terjadi di dalamnya. Nora dengan wajah yang memerah dan rambut yang acak-acakan memukul Riana yang hampir saja membunuh temannya Claudia. Sesil memeluk erat Claudia yang baru saja tersadar saat Riana yang tiba-tiba ingin menikamnya dengan vas bunga kaca yang ada di meja dokter.


Tampak Valen yang membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Valen melihat Riana dalam sosok yang berbeda. Mei belum juga tersadar dari pingsannya masih terbaring di ranjang UKS, Valen duduk tepat di sebelah Mei. Mata Riana merah, gayanya berubah bak seorang laki-laki dengan lengan baju yang di naikkan ke atas bahu.


Untuk pertama kalinya bagi Valen melihat sikap Riana yang seperti ini, Valen juga tak mengetahui kejadian setahun lalu yang telah di lakukan temannya itu terhadap seorang siswa perempuan bernama Liana. Siswa perempuan yang di renggut nyawanya oleh Riana adalah saudaranya sendiri.


"Ciih, males banget gue pake baju cewek gini !" Ujar Riana sambil meludah sembarang.


Sosoknya terlihat lain dan sangat berbeda dari biasanya.


Nora merasa sangat emosi melihat Riana yang belagak keren, " Maksud lo apa anjir !!!" Seru Nora dengan suara keras yang memenuhi seisi ruangan.


Saat itu para guru sedang mengajar, tidak ada satupun yang mengetahui kejadian tersebut. Dokter di ruang UKS tersebut pun tidak ada, entah kemana perginya beliau.


Sesil berdiri dan melerai mereka berdua, "Stoopp!!!! Udah deh, ngapain si kalian berantem kaya gini ! lo juga Nor, udahlah gak usah di ladeni cewek gila ini." Ucap Sesil sambil jarinya menunjuk ke arah Riana.


Riana terlihat sangat emosi pada Sesil yang berkata dirinya gila.


"Mati lo !!" Bentak Riana sambil mengarahkan tangannya ingin menonjok wajah Sesil.


Dengan sigap Nora menghentikan aksi Riana. Dia menangkis tangan Riana dari wajah Sesil. Sesil tak melakukan perlawanan, ia justru hanya berdiam diri sambil memejamkan matanya.


"Minggir Sil, lo mau kena tonjok !!" Tegas Nora pada Sesil.


Sesil membuka matanya, "Eh, iya gak mau lah." Sesil berlalu dan kembali duduk di sebelah Claudia.


"Riana kenapa Sil? " Tanya Claudia ketakutan, air matanya menetes membasahi pipi.


"Lagi kumat gilanya Clau, udah jangan kamu liat, kalau gak kita keluar aja yuk! " Ajak Sesil.


"Ayuk Sil, aku takut disini." Sahut Claudia, tangisnya menjadi pecah.


"Yaudah ayok! " Sesil merangkul Claudia. Mereka pun berjalan menunu pintu UKS.


...----------------...


Sesampainya disana, terlihat masih ramai. Ada beberapa siswa dari kelas lain juga yang melihat ke arah UKS. Suara perkelahian terdengar oleh Jason, seketika Jason berlari menerobros kerumunan para siswa. Firasatnya tak enak, pasti telah terjadi sesuatu dengan teman-temannya.


"Hei ****** !! Diem lo disitu !!" Bentak Riana menunjuk ke arah Claudia dan Sesil yang sedang berjalan menuju pintu UKS, tepat di depan mereka ada Jason yang baru saja masuk.


Claudia dan Sesil berhenti berjalan. Riana berusaha menghampiri mereka, Nora menghalanginya.


"Keluar Sil !! " Perintah Jason pada Sesil.


Sesil dengan ketakutan pun berjalan keluar bersama Claudia yang juga sangat takut dan terus saja menangis. Akhirnya mereka pun sampai di luar UKS.


"Clau, kita ke kelas aja yuk! " Ajaknya. Claudia hanya mengangguk.


"Anjir lo semua, musuh gue itu dia. ****** sialan!!! " Ujar Riana keras.


"Maksud lo apa? "Tanya Jason sambil mendekat ke arah Riana.


"Otak lo dimana? Riana suka sama lo, tapi lo lebih milih ****** itu!! "Sahut Riana membentak Jason.


"Gue gak suka sama Riana dan gue juga gak suka sama lo !! Paham lo !! Sosok lo sama Riana gak ada bedanya, sampah!!! ." Jawab Jason tak kalah membentak.


"Sialan lo bangs*t !!!" Ucapnya. Riana tampak ingin mukul Jason.


Valen mendekati Riana yang terjatuh di lantai UKS., "Naaa.." Panggilnya.


"Rasain lo !!" Ujar Nora.


"Bubar semua !!!" Perintah Jason pada semua murid yang tengah menonton perkelahian mereka.


Para murid pun bubar, kembali ke kelas masing-masing. Sebagian berasal dari kelas mereka sendiri. Jason melirik ke arah Valen yang berusaha menggendong Riana namun tak bisa. Dengan rasa kasihan Jason membantu Valen, ia menggendong Riana dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ngapain si, lo bantu nenek sihir itu ?" Tanya Nora saat mereka berdua keluar dari ruang uks, berjalan menuju kelas.


"Manusia harus saling tolong menolong kan, bos!! " Ujarnya santai.


"Heleeh, tai lu!! " Jawab Nora sedikit tak percaya dengan ucapan Jason.


"Bener kan?" Tanya Jason


"Iya-iya."


"Ngomong-ngomong hebat juga lo bisa lawan si Rana." Ucap Jason memuji Nora, namun Jason tidam sadar telah menyebut nama Rana.


"Apa? lo gak salah nama? Riana kale bukan Rana! " Sahut Nora heran.


"Rana, yang lo lawan tadi itu namanya Rana." Jelas Jason.


"Ah, apa sih maksud lo!" Seru Nora tak percaya.


"Jadi Riana itu punya kelainan. Apa tu namanya, lupa gue!" Sambung Jason.


"Apaan?" Tanya Nora semakin dibuat bingung oleh Jason.


"Dua karakter, apa namanya tu? " Tanya Jason lagi.


"Oh, Kepribadian ganda maksud lo? kaya di drakor aja si, zaman sekarang percaya gituan. Aneh lu!! " Ejek Nora tak percaya pada Jason.


"Beneran !! Kalo lo gak percaya terserah, tapi gue tahu ini karena gue lihat pake mata kepala gue sendiri nenek sihir itu tingkahnya aneh. Sampe akhirnya gue lihat dia lagi berantem diluar sekolah dan nyebut namanya Rana." Jelas Jason meyakinkan Nora bahwa ucapannya bukanlah sebuah omong kosong belaka.


"Bener juga ya, tadi lo juga jawab kalo lo gak suka sama Riana dan sosok bernama Rana tadi. Hmm,, kata-kata lo bisa gue pegang." Sahut Nora.


"Jelaslah, mana mungkin gue bohong sama lo !" Seru Jason.


"Oh iya, gue baru inget !!" Ucap Nora sambil menjentikkan jarinya mengingat akan suatu hal yang pernah di lihatnya


"Apaan? " Tanya Jason malas.


"Kali ini gue beneran percaya sama omongan lo. Gue sama Claudia pernah liat Riana pingsan juga di perpus, terus gue liat ada sepuntung rokok di deket dia. Bisa jadi saat itu dia berubah jadi Rana kan !!" Jelas Nora.


"Jelas pasti dia Nor. Eh, tunggu! lo liat itu sama Claudia, dia gak penasaran? " Selidik Jason.


"Hmm... kayaknya gak si Jes. Soalnya gue langsung ajak dia keluar, ada kemungkinan dia gak liat sepuntung rokok yang ada di deket Riana kampret itu." Sahutnya


"Hhhhh... Syukurlah. Gue takut aja dia nanti jdi parno." Ucap Jason, perduli pada Claudia.


"Eh buseet,, sejak kapan lo jadi respect banget ama cewek? " Selidik Nora setelah mendengar ucapan Jason.


Jason menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung mau merespon apa lagi.