
"Claudia,bangun sayang"
Claudi memgerjabkan matanya dan menyesuaikan pencahayaan di rentina matanya
"Mam"
"Yes honey"
"What's the time?"
"Pukul 17.30"
"Bangun lah lalu mandi"
"Yes mam"
Mama Liza keluar dari kamar saat sudah memastikan Claudia bangun,Claudia langsung memasuki kamar mandi dan melakukan ritual.
.
.
.
Tap
Tap
Tap
"Claudia kemari sayang" Mama Liza menepuk kursi di sebelah kirinya dan langsung di turuti Claudia
"Lihat mama masaki khusus untuk kamu,ada chiken dan rendang kesukaan kamu oh jangan lupa ini ada sambal ijo favorit mu" Mama Liza pun langsung menyiapkan makanan untuk Liza dengan semangat
"Claudia punya tangan ma,untuk apa di siapin gitu" celetuk Cassy
"Nyokap nyokap gue kok situ yang sibuk,iri gak di perhatiin,emang nasib anak kucel pungut" balas Claudia sinis,tampak mata Cassy berkaca kaca untuk memulai drama menjijikkan
'Mulai lagi dramanya' batin Claudia malas
"Claudia jangan begitu" tegur Hansa lembut sambil mengusap punggung Cassy,berusaha menenangkan
"Gak papa hiks e-emang hiks be-bener aku hiks cu-"
"Ssstt,don't cry" Hansa mmencoba menenangkan Cassy yang masih menangis sesugukkan
"Cengeng" cetus Claudia menatap malas drama di depannya sambil memakan makanannya
"Claudia" desis papa Prans penuh peringatan
"Apa?Mau marah?" tanya Claudia tanpa takut
"Minta maaf" suruh papa Prans penuh penekanan dan dingin
"Lah emang kenyataannya dia anak punggut" balas Claudia acuh
"Minta maaf sekarang" ucap Langit
"Minta maaf ya sayang" ucap Mama Liza sambil mengelus tangan putrinya
"Mama juga belain dia?" tanya Claudia tak percaya
"Cassy saudara kamu Claudia Anatasya Emerald" ucap kepala keluarga Emerald pelan
"Heh,gini ya rasanya punya keluarga tapi berasa asing"
"Sayang--"
"No,mom" Claudia mengeleng kepalanya dan menarik tangannya dari ngenggaman sang ibu
"Sampai kapan pun aku gak bakal minta maaf kalau gak salah"
"MINTA MAAF SEKARANG CLAUDIA" bentak papa Prans dan hal itu menyebabkan semuanya terkejut
"Hahahaha" asmosfer di ruang makan makin panas mendengar tawa Claudia yang mengema
"Papa bentak aku cuman gara gara ucapan aku yang sesuai kenyataan" desis Claudia marah
"TAPI PAPA GAK MARAH SAMA ****** INI SAAT DIA BUAT AKU KEHILANGAN CLAUSIA DAN MENJAUHKAN KENZO DARI KITA" bentak Claudia menatap papanya dengan amarah meluap luap dan....terluka
"Kenzo pergi dan gak mau balik ke sini gegara ****** ini,tapi papa diam" lanjut Caludia pelan tapi penuh penekanan
"Clausia mati tapi papa gak mau cari kebenarannya dan menyalahkan Kenzo yang gak tau apa apa" Claudia memejamkan matanya sejenak guna meredakan amarahnya
"Dan aku bakal pergi dari keluarga Emerald bersama Kenzo kalau papa berani melampaui batas" Claudia menatap papa Prans tajam yang juga menatapnya terkejut dan sedu
"Alasan utama aku ke sini itu karna Kenzo yang menyuruhku dan aku juga ingin kalian tetap sadar bahwa ada tiga anak kalian yang sakit karna kelakuan anak kesayangan kalian" ucap Claudia menujuk Cassy marah
"Aku,Clausia,dan Kenzo benci sama kalian" ucapan Claudia membuat semua terperangak apalagi mama Liza yang menangis saat putrinya yang sudah meninggal,Clausia di sebut sebut
"Dan lo gue pastiin apa yang di rasakan gue,Clausia,dan Kenzo karna ulah lo bakal gue balikin" Claudia menatap penuh intimidasi ke arah Cassy yang kini bersembunyi di belakang Hansa
"Gue bakal kasih tau di mana posisi lo sebenarnya ******" Claudia pun pergi dan bergegas memasukki kamarnya
Brak
"Claudia" lirih papa Prans merasa bersalah telah membentak darah dangingnya sendiri
"Aku kecewa sama kamu pa,kalau aku kehilangan anak aku untuk ke 3 kalinya aku pastikan kita bercerai" mama Liza pun bergegas pergi ke kamar tamu karna tak ingin tidur sekamar dengan suaminya,papa Prans yang mendengarnya merasa sesak
"Maafi a -aku pa in---" Cassy tak melanjutkan ucapannya saat papa Prans pergi bergitu saja,tak mengubriknya
"Lebih baik kamu jangan omongan di depan Claudia mengerti?" peringat Langit lalu ikut pergi di susul Hansa
Mendengar peringatan Langit membuat ke dua tanggan Cassy terkepal
'Lihat saja Claudia,bakal gue singkirin lo dari sini' batin Cassy yang sedang menyusun berbagai rencana