CLAUDIA

CLAUDIA
RUANGAN RAHASIA



Mei mematung di depan pintu menyaksikan Valen yang sedang berdiri menatap sesuatu di dinding ruangan tersebut. Valen seperti menyadari ada seseorang dibelakangnya, ia menoleh kebelakang. Mei bingung melihat Valen yang menangis tersedu-sedu, ia berjalan menghampiri Valen dan tak lupa pula menutup pintu ruangan tersebut agar tak di curigai oleh Riana saat nanti ia terbangun dari tidurnya.


"Len, lo kenapa? Ngapain lo masuk kesini, kan kita udah di peringati sama Riana enggak boleh kesini len!!"


Valen mengedarkan pandangannya ke sekeliling dinding yang banyak coretan keluh kesah serta makian, isi hati Riana yang dituangkannya di dinding putih ruangan itu. Mei sontak kaget dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia juga melihat sebuah tirai putih yang menutup salah satu dinding ruangan tersebut. Mei memicingkan matanya, namun Valen justru memeluknya sambil menangis tersedu.


"Aduuh, lo kenapa sih len? ini kan cuma tulisan aja." Ujar Mei yang masih belum bisa mencerna semua hal yang ada dalam ruangan tersebut.


"Gue sedih Mei."


"Sedih kenapa sih len?" Tanya Mei lagi.


"Lo bego banget sih, kesel gue!! lo liat ni!!" Bentak Mei di sela-seka tangisannya sambil menunjukkan foto mereka bertiga dan membaca tulisan yang dirangkai oleh Riana.


"Terus apa yang salah len? sedihnya dimana, kan bagus kalo kita bisa jadi rumah buat dia dan makin bagus juga kalo dia sayang sama kita." Ucap Mei.


"Lola banget sih lo Meeiiii.... semua tulisan ini pasti punya arti Mei, Riana pasti selama ini depresi dan punya masalah besar sampe-sampe dia enggak bisa cerita dan cuma luapin pake tulisan di dinding ruangan ini. lo liat kan banyak juga barang-barang berantakan disini, itu artinya dia lagi kacau Meii!!" Jelas Valen pada Mei.


Mei melihat sekeliling ruangan yang memang banyak sekali barang yang berserakkan terutama baju-baju milik Riana. Mei menghembuskan nafas berat, rasanya ia mulai mengerti dengan yang di ucapkan Valen.


"Iya, gue ngerti sekarang. artinya Kita harus tetep selalu ada untuk dia kan len." Ujar Mei.


"Nah itu pinter lo"


Mei tersenyum, "Udah, lo jangan nangis lagi dong!! hapus tu air mata lo ntar Riana liat bis curiga."


Valen menyeka air matanya, "Oh iya Riana belum bangun kan?"


"Hmm.. tadi sih keliatannya belum, kalo udah kan suaranya kedengeran pasti jerit-jerit manggilin kita."


"Iya juga sih, udah yuk kita keluar. Kita harus cari tau lebih dalam tentang Riana dan harus bisa bujuk dia supaya mau bikin party dirumahnya. gue juga penasaran sama nyokapnya Riana." Ujar Valen mengenggam tangan Mei dan mengajaknya keluar.


"Iya, sebenernya gue juga kangen banget sama nyokapnya Riana soalnya dia tu baik benget len sama gue. lo kalo ketemu nyokapnya pasti langsung suka deh." Ujarnya.


"Hmm.. semoga aja rencana kita berhasil."


"Aamin, amin, amin." Ucap Mei penuh yakin.


Mereka pun berjalan menuju pintu luar, belum sampai di depan pintu Mei berhenti berjalan tepat di depan tirai putih yang dicurigainya tadi.


"Kenapa lo?" Tanya Valen penasaran.


"Lo enggak penasaran sama tirai ini?" Tanya Mei.


Valen terdiam sejenak, sedari tadi ia tak ada menaruh curiga dan rasa penasaran pada tirai putih yang menggantung disana.


"Gue enggak begitu penasaran sih, emang napa? lo penasaran?


Mei mengangguk cepat.


"Gimana kalo kita intip aja?" Tanya Valen pada Mei yang sangat penasaran dengan sesuatu di balik tirai putih tersebut.


"Enggak usah macem-macem deh len, kita disini aja udah ngelanggar aturan Riana gimana dengan ini coba!! " Mei tak menerima saran Valen, ia takut Riana akan mengamum dan marah pada mereka.


Saran Valen membuat Mei menjadi gunda gulana. Dengan langkah berat ia mendekati tirai tersebut dan tangannya mulai menyentuh tirai itu. Diintipnya sesuatu dibalik tirai tersebut, dengan mata terbelalak spontan Mei menjatuhkan tirai tersebut.


Valen dan Mei terkejut bukan main kala ia melihat foto ayahnya Riana yang berlumuran noda merah dan di coret-coret dengan huruf kapital bertuliskan kata -MATI-. Mereka tak tahu pasti entah itu darah, cat atau cairan lainnya yang jelas foto itu menambah kesan horor dan mengerikan untuk dilihat. Valen dan Mei bergidik ngeri, tak percaya Riana menyimpan foto seperti itu.


"Ini kan foto bokapnya Riana!" Ujar Mei spontan.


"Kenapa sampe kayak begini, itu merah-merah apaan tu." Sambungnya lagi sambil terus menatap foto yang terkesan seram tersebut.


"Waaah.. Riana bener-bener kacau ni Mei. Kita harus cepet cari tau kenapa dia kayak gini."


"Bener len, gue setuju. Gue juga enggak mau punya temen kayak begini, kacau bener ini namanya."


"Terus gimana kita nutup ini?" Tanya Valen yang mulai bingung melihat tirai putih yang terjatuh di bawah.


Mei menepuk dahinya kuat, "Aduuh, sakit juga ya."


"Dasar oon!! Gimana ni Mei? lo juga sih kan gue bilang intip aja, malah dijatuhin segala sih." Racau Valen dengan cerewetnya.


"iiih, ya gimana dong len. Habisnya gue kaget terus jatuh deh, mana gue tahu kalo bakalan sampe kayak begini." Mei memenyunkan bibirnya.


"Yaudah, lo naik ke bahu gue biar bisa nyampe masang tirai ini lagi !!"


Tirai putih itu hanya di gantung di sebuah tali putih yang ada di dinding tersebut, jelas saja mudah membuatnya jatuh. Di dalam ruangan tersebut terdapat kursi dan meja namun keadaannya sudah tak layak jika harus di naiki mereka untuk memasang kembali tirai tersebut, dengan terpaksa Mei harus naik ke pundak Valen untuk memasangnya kembali.


"Haaah... akhirnya selesai juga!!" Ucap Mei setelah turun dari pundak Valen.


"Aduuh,, gila banget badan lu berat juga." Keluh Valen yang terlihat kesakitan memegangi kedua pundaknya.


"Hehehe... maklumlah." Sahut Mei cengar cengir tak menentu.


"Maklum apaan, badan lo kecil tapi berasa kaya di naikin gajah tau gak!!" Oceh Valen.


Mereka berbicara sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Ah, lebay banget lo kayak gajah segala!! Kan berat badan cewek suka bohong, keliatannya aja gue kecil tapi gue ini montox loh len hehehe.." Jelas Mei diselingi gelak tawa.


"Apaan montox, tepos gitu."


"iiih ngirii ya, ngiri yaaa."


"Idiih, enggaklah. Ngiri sama cewek lola, tepos kaya ko. Dih, engga banget deh Mei, mendingan juga gue kemana-mana." Sahut Valen


"Iya deh iya."


"Eh, btw. Lo lucu juga ya len." Sambung Mei.


"Lucu? Lucu apaan sih?" Tanya Mei.


"Tadi lo nangis-nangis kayak bocah, lah sekarang emosian."