
"Eh, bocah gendeng!! kan tadi elo yang bilang suruh hapus air mata gue terus lo juga yang buat gue emosi. Emang ya otak lo tu gesreknya enggak ketulungan!!" Ucap Valen kesal.
"Lo aja yang kayak bocah moodyan. Hahaha..."
Mei berlari menuruni anak tangga dengan cepat, disusul Valen yang sudah dibuatnya geram.
"Eh, awas aja lo ya. Kalo dapet gue sobek mulut lo itu ya, Meiii!!"
Jeritan Valen terdengar di telinga Riana, Riana tak menghiraukan suara tersebut dan kembali pada aktivitasnya. Mereka berlari menuruni anak tangga, terlihat Riana sudah terbangun dan tengah memainkan ponselnya. Valen dan Mei berhenti berlari setelah melihat Riana yang sudah terbangun itu. Mereka saling berpandangan dan berjalan mendekati Riana.
"lo pada dari mana sih?" Tanya Riana pada Valen dan Mei.
"ini nih Mei minta di temenin ke toilet atas!" Sahut Valen dengan cepat
"Hehe.. iya na." Sambung Mei.
"Lah, ngapa lo jauh-jauh ke atas kan disini juga ada." Ucap Riana meletakkan ponsel pintarnya di meja kecil depan sofa tempatnya tertidur beberapa waktu lalu.
"Kan disini enggak ada showernya na." Ucap Mei polos tanpa memikirkan jawaban selanjutnya jika Riana menaruh curiga padanya.
"oon banget si lo, kenapa jawabnya gitu." Bisik Valen kesal pada Mei.
"lo mau ngapain sebenernya Mei, pake shower segala. Mau keramas lo, tapi rambut lo aja enggak basah tu!" Ujar Riana menaruh curiga.
"Enggak gitu maksudnya...." ucapan Meu menggantung kala Valen memotong pembicaraannya.
"Gini na, si Mei ini pengen banget mainan shower. lo tau sendirikan temen lo ini jiwanya masih kayak bocah" Ujar Valen.
"Enaak aja ngomongin gue bocah. lo tu yang bocah len!!" Mei tampak kesal.
Riana mengangguk, "Bener juga sih len, Mei kan masih kayak bocah ya. hahahaha..."
"Hehe... iya kan na. Jadi dia minta temenin gue takut ada demit katanya, padahal demit juga ogah temenan sama bocah oon kaya dia kan?"
"Hahahhaa.. bener juga yang ada nanti malah dibuat bingung tu hantu sama Mei."
"iiihh, ngeselin deh kalian."
Mei kesal pada kedua temannya. Namun, kemudian Valen mengirimkan pesan pada Mei. Tak lama kemudian Mei membaca pesan dari Valen.
"Oh iya na. Bentar lagi kan ulang tahun lo, gimana kalo lo bikin party?!" Ujar Valen memberi usulan.
"Hmm.. kayaknya enggak perlu deh." Jawab Riana dengan nada malas.
"Yaaaaahh... kenapa enggak sih na. Kita kan udah lama enggak party, gue juga pengen kali pas SMA ini punya kenangan di party bareng lo pada." Ujar Mei berusaha meyakinkan Riana.
"Kalo gue bilang enggak ya enggak, peka lo pada ha!!" Bentak Riana.
"Hmm.. iya na. Tapi kan kalo elo buat party, kita bisa undang si cewek sok cantik itu." Valen masih berusaha membujuknya.
"Diih, ngapain juga ngundang tu anak. Najiss banget!!" Ucapnya kesal.
"Kan lo bisa ngerjain tu anak, sekalian balas dendam gitu na. Biar kalah malu dia tu, secara lo tadi udah di permalukan di ruang UKS gara-gara dia." Sahut Valen menambahi.
"Tapi len, masa lo tega sih kayak begitu sama dia." Ujar Mei polos merasa sedih jika Claudia akan di jahilin oleh kedua temannya.
"Diem lo!!" Sergah Valen.
"Brilian juga ide lo len. Gue setuju, oke gue bakalan ngomong sama bokap gue supaya dia mau buatin party." Ucap Riana.
"Tapi dirumah lo kan na buatnya?" Tanya Valen ragu-ragu.
"Hmm.. kenapa harus dirumah gue? Kita kan bisa nyewa hotel atau gedung, bener kan?!" Ucap Riana.
"Maksud Valen itu biar kita lebih kenal lo na. Secara lo kan orang kaya dan hits banget di sekolah, anak-anak juga enggak tau rumah lo. Pasti mereka pada penasaran lah." Jawab Mei.
"Bener tu, pasti mereka semua penasaran banger na!!" Timpal Valen.
"Hmm.. bodo amatlah sama rasa penasaran mereka, gue..."
Valen memotong ucapan Riana, "Jason kan bisa tau rumah lo na kalo partynya dibuat di rumah lo terus lo bakalan makin terkenal kalo temen-temen pada tau gimana megahnya rumah lo !!."
"Nyambung ae lo, suwek bener!!" Oceh Valen kesal pada Mei.
"Biarin, Wleee.." Ejek Mei.
"Udah, pada diem lo dua. Ntar gue coba ngomong sama bokap gue deh." Sahut Riana melerai kedua temannya yang sedari tadi adu ocehan.
"Yeeaaay,, yuhuuu..." Ucap keduanya serempak senang.
"Eh, napa lo berdua?" Tanya Riana heran.
"E-enggak na. Kita seneng aja bisa party."
"Hehe.. bener tu, akhrinya bisa ajep ajep juga. Yeaaay!!!" Ujar Mei.
"Hahahaha... gila lo Mei, apaan ajep ajep!!" Valen tertawa mendengar ucapan Mei.
"Hahaha,, iya. Dasar Mei oon."
"Itu loh ajep ajep, joget yang kaya begini !!"
(Mei memperagakan goyangannya di hadapan kedua temannya. Ia menggelengkan kepalanya lantas loncat-loncat tak tentu arah kemudian menganggukan kepalanya dan melakukan hal yang sama berulang kali)
"Hahahahahaha...." Mereka berdua tertawa bersamaan.
"Ah, aduuuh sakit perut gue. Enggak nyangka gue punya temen kayak lo." Ucap Riana memegangi perutnya.
"Koplak." Sambung Valen yang masih terkekeh.
"Hehe.. ini beneran loh, di sinetron-sinteron azab yang mati di party terus masuk peti kayak begitu goyangannya. Seru-seru gitu, musiknya jep ajep ajep ajep ajep.."
"Hahaha... udah ah Mei, beneran sakit perut gue ni." Sahut Riana.
"Haha.. iya Mei, udah cukup ngelawaknya." Sambung Valen.
"Hehe.. iya, tapi sebenernya gue enggak ngelawak lo." Ujarnya.
"Iyaa,, tapi udahaan Meii.." Ucap Valen dengan nada sedikit kesal melihat temannya yang LOLA.
"Iya deh, iya." Sahut Mei, ia duduk di sofa kecil yang berada di sebelah Riana.
"Jadi fix kan ni bener ada party?" Tanya Valen meyakinkan Riana sekali lagi.
"Fix nya si belum lah, mau buru-buru ae lo ah."
"Tau ni Valen, udah enggak sabar ya ajep ajep. Hayoo, ngaku aja dah!!" Mei menunjuk Valen.
"Apaan sih Mei. Enggak buru-buru na, cuma memastikan aja gue." Sahut Valen.
"Iya dah." Ucap Riana.
"Hmm.. betewe enewe beswe, dress code kita apaan?" Tanya Mei.
"Ha,, iya juga ya." Sambung Mei, mulai memikirkan hal yang sama dengan yang ditanyakan Mei.
"Terserah lu aja, yang penting cakep." Sahut Riana malas mengeluarkan ide.
"Oke deh." Ucap Valen.
"Jadi intinya pake baju bebas kan? Gue kayaknya mau pake baju polka yang udah lama gue beli tapi enggak di pake-pake itu deh. Cantik banget loh bajunya, terus kayaknya gue bakalan pake bando merah deh. Aduuh kiyowo banget kan ya!!"
"Enggak nanya!!!" Riana dan Valen menjawab bersamaan.
"iiih tuh kan ngeselin banget deh. Eh, lu bakalan pake apa len? Jangan terbuka banget lo, nanti bokapnya Riana naksir tau!!" Ucap Mei.
Riana melotot ke arah Mei. Mei seketika takut dan ngeri di tatap begitu.
"Eh, salah ngomong maksud gue... Sopir bokapnya Riana. Hehehe..." Ucapnya kebingungan.
"Makanya kalo ngomong di fikir dulu, kapok kan lu di pelototin gitu. Hahaha.." Ejek Valen berbisik pada Mei.