CLAUDIA

CLAUDIA
Kemarahan Claudia



Tepat pukul 05.30,Claudia sarapan pagi terlebih dahulu tanpa menunggu ke dua orang tuanya dan kakaknya


"Bi Yaya saya pergi ya"


"Non mau kemana?"


"Ke perusahaan"


"Tapi masih pagi non"


"Males di rumah sama keluarga jahanam" setelah mengatakan itu Claudia pergi tanpa mendengar ucapan bibi Yaya sedangkan bibi Yaya menyanyangkan sikap nona mudanya yang berubah dratis saat pulang dari AS,atau lebih tepatnya saat kematian Clausia dan kepergian Kenzo


'Semoga keluarga ini tepat baik baik saja' do'a bi Yaya dalam hatinya


.


.


.


Pukul 06.30 seluruh keluarga telah berkumpul di meja makan minus Claudia


"Bi tolong panggilin Claudia?"


"Nona Claudia sudah pergi nyonya"


"Pergi kemana bi?" tanya mama Liza panik,dia tak mau lagi kehilangan anaknya


"Katanya nona mau ke kantor"


"Kapan bi Claudia pergi?"kali ini Langit yang bertanya


"Sekitar jam 05.30 an tuan"


"Itu masih sangat pagi untuk apa dia ke kantor" lirih Langit saat mendengar penjelasan bi Yaya.Caludia memiliki perusahaan di ibu kota yang bernama A.Y Compay


"Claudia ada ada aja,suka bikin orang panik" celah Cassy


"Cassy lebih baik kamu diam dan sarapan" desis Hansa melirik tajam Cassy,hal itu membuat nyali Cassy ciut


"Sudah sudah sekarang kita sarapan"


Mereka pun sarapan sambil bergelud dengan pikiran masing masing,lalu mereka kembali beraktifitas seperti biasanya.Cassy dan Langit berangkat sekolah.Hansa berkuliah,papa Prans yang pergi ke perusahaan keluarga Emerald dan mama Liza yang lebih memilih pergi ke spa guna menenangkan dirinya


.


.


.


"Dua jam lagi anda akan metting dengan klien dari Jepang"


"Hanya itu?"


"Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan tanda tangani" lanjut seorang gadis berumur 20 tahun,Emily sekretaris Claudia yang bertanggung jawab atas perusahaan di sini saat dia sedang pergi


"Baik nona"


Claudia pun masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kebesaran lalu mulai berkutap dengan semau berkas yang penuh di mejanya


Tok tok


"Masuk"


"Ini nona"


"Hmm terima kasih kau boleh pergi" Emily pun membungkukkan badannya sedikit dan langsung pergi sedangkan Claudia tatap sibuk dengan berkas berkasnya.


.


.


.


"Hai bro,masih pagi tapi kok lesu" sindir teman Langit,Arthur Berli


"Yoi muka lo kayak kaset lecet" timpal seorang pria berkulit coklat gelap,Arkana Jondio


Langit hanya mengedikkan bahunya acuh dan memilih tak meladeni ke dua teman sintingnya.Kana dan Arthur langsung menatap Langit heran


'Tumben nih bocil diam' sekiranya itu lah batin mereka ber dua


"Napa tuh bocil?"tanya Kana


"Entah,kerasukkan setan diem kali"bals Arthur acuh


"Gila lo kawan sendiri lo katain"


"Udah lah ,ke kelas nanti takut tuh bocil bikin masalah karna lagi mode senggol ntar di bacot"


"Kuy lah"


"Napa sih lo bro cerita kalo mo cerita" celetuk Arthur


"Gue gak papa"


"Kayak cewek lo di tanyai kenapa jawab gak papa" ledek Kana


"Ck,nyebelin lo pada"decak Langit kesal,pagi ini dia hanya ingin ke heningan yang damai malah dua curut ini menganggunya


"Yaudah cerita makanya"


"Ho'oh gak usah kode kode pasang muka jelek lo" ledek Kana lagi


"Lo mau gue becek"sentak Langit kesal,tampak ke dua matanya melotot tapi yang di pelototi hanya mengedikkan bahunya acuh


"Gak usah nganggu" usir halus Langit