CLAUDIA

CLAUDIA
LAMUNAN MALAM



Rambut Jason dibelai lembut oleh Claudia, senyum manis terpancar dari bibir mungilnya. Jason membalas senyuman Claudia sambil meraih tangan berkulit putih mulus miliknya, lalu mencium lembut tangan itu. Keduanya tampak mesra dan serasi, angin sepoi-sepoi serta bunga sakura yang berguguran menambah kesan romantis mereka berdua. Setetes cairan jatuh di kening Jason yang sedang duduk bersantai di taman kota. rabanya kening itu


"Hei !!" Kejut Dian pada anaknya yang tengah melamun di teras rumahnya menatap rembulan malam yang sedang bersinar terang kala itu.


Jason tersadar dari lamunannya, menoleh ke arah sang ayah dengan gagap. Papanya tertawa kecil melihat anaknya yang terkejut.


"Kenapa sih pa, ketawa mulu ?" Tanya Jason kesal pada sang ayah.


Ternyata sedari tadi, Jason sedang melamun. Entah kenapa, sejak pertama jumpa dengan Claudia jantung Jason merasa berdegup tak karuan. Otaknya terus memikirkan Claudia dan ingin bertemu dengan teman barunya itu.


Jason selalu merasa gugup dan canggung bila berada di dekat Claudia. Terutama saat ia melihat kedekatan antara Claudia dan ibunya dirumah Nora, membuat Jason semakin terkesima pada Claudia yang terlihat sangat menyayangi sang ibu.


"Aaarrgghh...." Ucapnya kesal sambil mengacak-acak rambutnya yang sedikit gondrong itu.


Papanya heran melihat tingkah aneh sang anak.


"Kamu kenapa si Jes? " Tanya Dian, papanya.


"Gak, gak kenapa-napa kok pa." Sahutnya gugup.


"Hayoo,, ngelamunin apa kamu? jangan bilang lagi ngelamuni cewek, kamu ni! " Tanya papanya dengan penasaran sambil merayu sang putra.


"Ah, apa sih pa. Gak kok, hehe... Jason gak ngelamunin cewek kok." Ucapnya dengan gugup dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Alaah,, gak usah ngeles kamu !" Timpal papanya.


"Bener pa." Jawabnya penuh penekanan berusaha meyakinkan papanya.


"Papa itu pernah muda Jes, jadi tau kalo kamu lagi bohong. Kamu lagi naksir sama cewek kan? " Ujar papanya, bertanya pada sang putra.


"Ah, ngaco papa. Jason gak ada naksir cewek pa !" Jawabnya sedikit kesal, sebab Jason pun tak tahu tentang perasaan yang di alaminya saat ini.


"Eehh... dikasih tau juga. Mana mungkin papa ngaco, dulu tu papa juga kaya kamu gini loh." Ucap papanya.


"Huffttt,,, Gimana jelasinnya ya pa. Jason juga gak tau, gak ngerti juga Jason ini kenapa. " Sahutnya.


"Coba sini ngobrol pelan sama papa. Siapa tau papa bisa bantu jelasin." Ujar papa Jason sambil menepuk pundaknya.


"Jadi gini pa, Jason tu ketemu cewek. Dia murid baru di sekolah Jason, awalnya dia dibully sama si Riana CS pa." Jelas Jason pada papanya.


"Si Riana CS itu masih berulah Jes?" Tanya om Dian pada Jason, tampangnya sedikit kesal kala mendengar nama Riana CS.


Jason menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan papanya.


"Dia makin menjadi aja ya. Emang gak ada yang bisa kasih dia hukuman Jes? " Tanya papanya lagi, ia sedikit geram pada Riana.


Jason menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan papanya.


"Kamu kenapa si, di tanya kok jawabnya angguk-angguk, geleng-geleng aja? " Tanya papanya kesal pada Jason yang merespon dengan biasa sambil memperagakan kepalanya yang mengangguk dan menggeleng.


"Karena kita niatnya mau membahas dan memecahkan kegundaan Jason pa bukannya Riana CS!" Sahutnya menjelaskan.


"Hehe... oiya, bener kamu. Terus gimana? " Ucap papanya sambil bertanya pada Jason.


"Terus cewek itu jatuh dan pingsan pa, untung ada Nora yang bantuin kalo gak mungkin kepala cewek itu kena vas bunga batu besar yang ada disana. Tru.... ss.." Belum selesai Jason bercerita, papanya sudah memotonh pembicaraan Jason.


"Waah,, makin salut papa sama Nora. Udah cantik, jago berantem, pinter jaga adik-adiknya." Ucapnya sambil menepuk tangan karena bangga dengan Nora, sahabat anaknya itu.


"Paa !!!!" Suara Jason terdengar kesal pada papanya.


"Oh, hehe... oke, lanjut! " Sahut papanya.


Sontak papanya yang sedang serius mendengarkan ceritanya langsung kaget dan terlonjak, sambil mengelus dada dia berkata : "Buset, kaget papa!" Ujar papanya, lalu menepuk pundak sang anak.


"Hehehe.... Viisss damai-damai." Sahutnya sambil membentuk jarinya seperti huruf V.


"Hee... kamu ini! " Ujar papanya.


"Maaf pa. "


"Ok, sans ae. Lanjutkan ceritamu besti !" Ucap ayahnya meniru gaya anak zaman now.


"Widiih,, orang tua. Gaya-gayaan jadi anak gaul." Ujar Jason menanggapi perangai papanya yang meniru anak gaul.


"Hehehe... Iya dong, yaudah lanjut ceritanya Jes !" Ucap papanya.


"Nah, pas Jason lagi mau bantuin. Jason kan gendong cewek itu pa, Jason liat mukanya cantik banget pa. Bersinar banget, vibesnya positif. Trus tiba-tiba gatau entah dari kapan, jantung Jason dag dig dug pa. Itu kenapa pa?" Jelas Jason pada papanya sambil mengajukan sebuah pertanyaan mengenai hal yang terjadi ada dirinya.


"Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama Jes." Jawab papanya.


"Ah udahlah, ngaco terus papa ni. Jason masuk ya pa." Ujar Jason pada papanya. Dia malas melanjutkan percakapan itu karena mengarah ada cinta-cintaan.


Jason berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan papanya yang masih duduk di kursi teras rumah milik mereka.


"Aelaah,, anak sekarang dikasih tau gak percayaan banget si." Ucap papanya.


"Papa yang aneh, masa gitu dibilang jatuh cinta si. Emangnya jatuh cinta bisa secepet itu !" Sahutnya dari dalam rumah.


"Ya bisa. Itu namanya cinta pertama, wajar dong apalagi kamu itu gak pernah ngerasain suka sama cewek !" Sahut papanya dari teras rumah.


"Sekolah dulu pa yang bener, itukan yang selalu papa bilang." Ujar Jason lagi.


"Pinter juga anak gue." Ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.


Entah sejak kapan, Jason nongol dari balik pintu rumah. Wajah Jason menatap ke arah papanya dan tersenyum puas.


"Hehe... " Kekeh papanya.


"Jason pinter kan pa? " Tanya Jason meyakinkan ucapan papanya barusan.


"Hehe... iya anak papa pinter buanget loh" Jawabnya.


"Oke. Terima kasih pa." Sahut Jason dan berlalu meninggalkan papanya sendirian diluar.


...****************...


Om Dian mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka galeri foto disana. Di tatapkan foto seorang wanita berambut panjang dengan senyum manis dan mata yang teduh berkulit sawo matang serta hidungnya yang mancung, om Dian teersenyum melihat foto tersebut. Matanya sedikit berkaca, ia sangat merindukan sosok yang ada dalam foto tersebut.


"Ma, anakmu udah ngerasain yang namanya jatuh cinta." Ujarnya


"Anakmu sudah tumbuh menjadi remaja yang baik ma, kamu pasti bangga melahirkan anak seperti Jason. Aku sayang kamu, ma." Sambungnya lagi kemudian mengecup foto yang ada di dalam ponsel pintarnya tersebut.


"Pa.. papa udah makan?" Tanya Jason sedikit menjerit dari dalam rumahnya.


"Belum, gaslah kita makan! " Sahut papanya.


"Oke. "


Om Dian pun masuk ke dalam rumah menuju dapur untuk makan bersama sang putra.


...----------------...