Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 10



Sudah cukup lama mereka berdua duduk di kursi taman itu, namun Naura tak kunjung bicara. Gadis itu justru hanya diam sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai.


"Sampai kapan kau akan diam? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa ingin bicara denganku?"


Naura menoleh pada Scarlett, lalu tersenyum dan menampakkan giginya yang rata.


"Maaf.."


"Tidak masalah. Cepat katakan!"


"Eugh.." Naura menggaruk kepalanya yang tak gatal, pasalnya dia bingung harus mulai darimana.


"Apa yang kau lakukan di butik tadi?" Hanya pertanyaan itu yang muncul di otaknya.


"Tentu saja untuk membeli pakaian dan sejenisnya."


Mulut Naura langsung membentuk huruf O. Lalu gadis tersebut merutuki dirinya yang bertanya aneh. Memangnya apa lagi yang orang lakukan di butik, jika bukan berbelanja?


"Emm Naura?"


"Ya?"


"Aku tidak tahu kapan kita akan berjumpa lagi." Ujar Scarlett sedih.


"Apa maksudmu?" Sahut Naura pelan.


Scarlett mengulas senyumnya, "Sore ini aku akan kembali ke negaraku."


Naura yang mendengarnya, langsung mendadak lesu.


"Tapi kenapa secepat itu?"


"Kau tahu? Tujuanku datang kemari karena ingin menemui Cintaku. Jika dia tidak ada disini, lalu untuk apa aku masih berada di tempat ini?"


"Memangnya dimana cintamu saat ini?"


"Dia sedang kembali ke negaranya."


"Ooowh, jadi kau ingin menyusulnya?"


Scarlett terkekeh lalu menggeleng, "Tidak."


"Kenapa? Bukankah kau tadi bilang ingin kembali ke negaramu?"


"Memang benar. Tapi negaraku berbeda dengannya. I'am Swiss, and he is New York."


'New York? Berarti dia dekat dengan Dave.' Timpal Naura dalam hati.


Naura memanyunkan bibirnya sedih, lalu..


"Scarlett, jangan tinggalkan aku.." Pekiknya sambil menerjang Scarlett.


Hampir saja Scarlett terjungkal ke belakang, jika saja dia tidak menahan keseimbangannya. Apalagi kursi yang mereka duduki terbuat dari keramik, dan tidak memiliki sandaran.


"Naura..." Panggil Scarlett pelan, sembari berusaha melepaskan pelukan Naura.


Bukannya melepaskannya, Naura justru semakin mempererat pelukannya. Bahkan gadis itu sudah menangis tersedu-sedu di dada Scarlett.


"Jangan pergi. Nanti, jika aku kesepian dan butuh teman bicara, siapa yang akan menemani dan menjadi pendengarku?"


Ingin sekali Scarlett tertawa karena melihat tingkah Naura yang sangat kekanakan. Namun tidak baik rasanya, bila tertawa ketika ada seseorang yang tengah bersedih di dekat kita.


Scarlett berdehem pelan, kemudian mengelus surai panjang Naura.


"Benarkah?" Tanya Naura sambil mendongakkan kepalanya.


"Tentu saja, sweet girl."


"Baiklah, kalau begitu." Naura melepaskan pelukannya, lalu gadis itu menyeka air matanya.


"Boleh aku pergi sekarang?"


Naura mengangguk dan air matanya kembali turun. Scarlert yang melihat itu menjadi tidak tega.


"Bagaimana bisa aku pergi jika kau terus menangis seperti ini?" Scarlett menghapus air mata Naura, senbari memberikan senyum terbaiknya.


"Aku pasti akan merindukanmu.." Lirih Naura.


"Aku juga."


"Bagaimana caraku menghubungimu?"


Seketika Scarlett ingat. Dia lupa untuk memberikan nomor ponselnya pada Naura. Lalu Scarlett mengeluarkan kartu namanya di tas miliknya, kemudian memberikannya kepada Naura.


"Aku masih bisa menjadi pendengarmu walaupun dari jarak yang jauh." Kata Scarlett, wanita itu kemudian mencium kening Naura.


"Sampai jumpa, sweet girl." Dengan pelan namun pasti, Scarlett mulai menjauh dari sana dan meninggalkan Naura yang hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam.


...* * *...


Selepas kepergian Scarlett, Naura memutuskan untuk pulang. Dan disinilah dirinya berada sekarang, Mansion Wilson.


"Mommy..." Gumam Naura tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dengan berlari kecil, Naura menghampiri Mommy-nya dan langsung memeluknya, hingga membuat Angel terkejut. Karena saat ini posisi Angel membelakangi Naura.


"Ehh, anak Mommy sudah pulang rupanya." Angel berbalik dan membalas pelukan anaknya tak kalah erat.


"Mommy bilang, besok akan pulang. Tapi kenapa pulangnya sekarang?" Ujar Naura dengan suara terbenam.


"Apa maksudmu? Apakah Mommy tidak boleh pulang?"


"Bukan begitu, Moms. Maksudku, kenapa bilangnya besok, tapi datangnya sekarang?"


Angel terkekeh, "Ini mau-nya Daddymu."


"Oh iya, dimana Daddy?" Naura melepaskan pelukannya, lalu matanya mencari keberadaan sang Daddy.


"Dia di kamar. Mungkin sedang istirahat."


"Ooh, oke. Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku."


"Tunggu sebentar."


"Ada apa, Moms?"


"Bagaimana dengan sekolah dan ujianmu?"


"Semuanya baik-baik saja. Tinggal tunggu kelulusanku." Setelah mengatakan itu, Naura pergi dan berlalu dari hadapan Angel.


Dan Angel menatap kepergian gadis itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Kapan kau akan menjadi dewasa, nak?"